Menolak Perjodohan!
Di ruangan yang hening, hanya terdengar suara gemerisik dedaunan di luar jendela. Cahaya matahari yang lembut menembus tirai tipis, membentuk bayangan-bayangan samar di dinding.
Raisha, perempuan muda dengan wajah penuh rasa ingin tahu, duduk bersama yang diyakini sebagai orang tuanya, sambil menatap seorang pemuda tampan di seberang ruangan.
"Jadi ini, yang namanya Adrian. Ganteng," gumam Raisha, matanya mengamati Adrian dengan penuh perhatian.
Adrian, yang tengah berdiri di hadapan keluarganya, merasa suasana di ruangan itu semakin tegang. Dia menatap ayahnya, Wisnu, yang duduk di kursi roda dengan pandangan lelah.
"Ada apa, Pa?" tanya Adrian dengan pelan pada sang papa, suaranya hampir berbisik.
Wisnu menghela napasnya dengan pelan, lalu menoleh pada istrinya, Sita, yang berdiri di sampingnya. Dengan isyarat pelan, Wisnu mengangguk lemah.
Adrian merasa hatinya mencelos. Dia menoleh pada mamanya, berharap ada penjelasan yang bisa meredakan kegelisahannya.
"Ada apa sih, Ma?" tanya Adrian ingin tahu, suaranya bergetar sedikit.
Sita mengeluarkan sepucuk surat dari dalam saku jaketnya dan menyerahkannya kepada Adrian.
"Ini dari papa kamu. Kamu tahu kan, kalau papa kamu sudah tidak bisa bicara. Hanya bisa menulis. Itu juga sangat berantakan."
Adrian meraih surat itu dengan tangan yang agak gemetar. Ia membuka lipatan kertas tersebut dengan penuh keraguan.
Setiap detik yang berlalu terasa begitu lambat, seakan-akan waktu sendiri berhenti untuk menyaksikan momen ini.
Isi pesan yang akan ia baca adalah sesuatu yang sangat ia takutkan, hal-hal yang mungkin akan membuatnya merasa tidak karuan.
Namun, Adrian tahu ia harus membacanya. Ini adalah keinginan terakhir Wisnu, sesuatu yang harus ia ketahui.
Dengan hati-hati, ia mulai membaca tulisan tangan ayahnya yang berantakan namun penuh makna. Dalam benaknya, Adrian membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi setelah ini.
Mungkin Wisnu akan memintanya untuk segera menikah. Setelah itu, ia bisa mengenalkan Winda, wanita yang sangat ia cintai, pada keluarganya dan akhirnya menikah dengannya.
Isi dari surat Wisnu.
'Adrian. Usiamu sudah dewasa. Waktunya kamu membina rumah tangga. Papa tidak pernah tahu kenapa kamu tidak pernah mau menikah. Kamu masih normal, kan? Papa ingin melihat kamu menikah sebelum Papa pulang untuk selamanya.
'Wanita yang ada di sana. Bersama kedua orang tuanya, akan menjadi istrimu. Jangan menolak! Papa ingin kamu bahagia. Menikahlah dengan wanita pilihan Papa. Papa yakin, pilihan orang tua tidak pernah salah.'
Adrian menoleh dengan cepat ke arah Wisnu. Matanya membola, mulutnya sedikit terbuka. Ternyata Wisnu sudah menyiapkan wanita yang akan menjadi masa depannya kelak.
Di sebuah ruangan yang sunyi, hanya terdengar suara detak jam dinding yang menggema. Adrian berdiri di tengah ruangan dengan wajah penuh keraguan, surat di tangannya terasa berat. Matanya bertemu dengan pandangan tajam keluarganya yang berkumpul di sekelilingnya.
"Pa! Ini serius?" tanya Adrian dengan mimik wajah tak bisa diartikan, matanya mencari jawaban pada sang ayah.
Wisnu mengangguk dengan pelan. Air matanya berlinang, namun tak mampu berkata apa-apa. Hanya isyarat bisu yang tersisa, penuh dengan permohonan dan harapan.
Adrian menggeleng dengan tegas. "Nggak, Pa. Aku menolak perjodohan ini!" suaranya mantap, memecah keheningan di depan keluarga serta keluarga dari wanita yang akan menjadi istrinya.
"Adrian! Hargai keputusan papa kamu! Kamu mau melihat papa kamu tersiksa karena penolakan ini? Jangan bandel, Adrian. Kamu sudah dewasa. Apa lagi yang kamu cari? Pekerjaan sudah ada, usia sudah matang, dan calon juga sudah ada," kata Sita dengan suara penuh emosi, wajahnya memerah karena marah.
Adrian mengembuskan napasnya dengan kasar, meraup wajahnya dengan frustrasi. "Kenapa nggak rundingkan dulu sama aku, sih? Kenapa harus dadakan? Aku menolak! Bersikeras menolaknya!" tegas Adrian kembali, matanya menatap ibunya dengan penuh kekecewaan.
Plak!
Sita menampar keras pipi Adrian. "Jangan buat malu di depan calon mertua kamu, Adrian!"
Adrian menatap ibunya dengan tatapan penuh kemarahan dan kekecewaan. "Calon mertua? Mana? Telinga Mama masih normal, kan? Aku menolak perjodohan ini!"
Napas Wisnu tersengal, tubuhnya bergetar. Adrian panik, menggoyangkan tubuh ayahnya. "Papa! Papa kenapa, Pa?" teriaknya, panik melihat kondisi Wisnu yang semakin memburuk.
"Ini semua gara-gara kamu, Adrian! Panggil dokter!" perintah Sita dengan suara penuh kepanikan.
Adrian berlari keluar, memanggil dokter untuk menangani Wisnu yang napasnya tiba-tiba tercekat. Sementara itu, Raisha yang duduk di sudut ruangan merasa lemas.
"Ma, Pa. Gimana ini? Mas Adrian nggak mau nikah sama aku," kata Raisha dengan suara lemah.
Sita menghampiri Raisha, mencoba menenangkan gadis muda itu. "Kamu jangan khawatir ya, Vit. Perjodohan ini akan tetap berjalan. Kamu dan Adrian akan tetap menikah. Tante akan bicara lagi dengan Adrian."
Raisha mengulas senyumnya dengan tipis, namun kegelisahan masih nampak jelas di matanya. "Terima kasih, Tante. Aku takut, kalau Mas Adrian tetap kekeuh nggak mau menikah denganku."
Sita mengusap lengan Raisha dengan lembut, memberikan sedikit kenyamanan. "Dia nggak punya alasan untuk menolak menikah dengan kamu."
Kemudian, Dokter Didi dan Adrian masuk kembali ke dalam ruangan. Adrian fokus pada sang papa yang sudah tidak sadarkan diri, hatinya berdoa agar sang papa kembali siuman.
"Papa pasti sembuh. Aku mohon, bertahanlah," lirih Adrian dengan pelan, air mata menggenang di pelupuk matanya.
Sita menoleh pada Adrian, matanya memicing tajam. "Jika ingin melihat papamu sembuh, turuti permintaannya. Menikah dengan pilihan kami."
Adrian menunduk, memejamkan matanya. Menarik napas panjang, lalu menatap Sita dengan wajah sendu. "Ma... aku udah punya pacar. Aku akan menikahinya setelah Papa sembuh."