Keesokan harinya, di sebuah apartemen yang sepi, Adrian termenung sendiri. Pandangannya kosong, menatap jendela yang memantulkan cahaya matahari pagi.
Kata-kata Sita yang bersikeras menjodohkannya dengan Raisha masih terngiang di telinganya.
Adrian menghela napas panjang, mencoba meredakan kekacauan di dalam pikirannya. "Aku harus bagaimana? Jika aku menolak perjodohan ini, Papa pasti kecewa padaku. Tapi, jika aku menerima perjodohan itu, Winda pasti kecewa berat padaku," gumamnya pelan, seperti bicara pada dirinya sendiri.
Dalam dilema yang mendalam, Adrian menjambak rambutnya dengan frustasi. Kedua pilihan itu sulit.
Menerima atau menolak, keduanya akan membawa petaka yang akan menghancurkannya perlahan-lahan.
"Papa sangat bersikeras ingin aku menikah dengan wanita itu. Sedangkan aku sama sekali tidak mencintainya. Aku hanya mencintai Winda. Hanya dia yang ingin kujadikan istri," bisiknya dengan suara serak.
Pilihan yang dihadapinya terlalu berat, membuat pikirannya tak mampu berpikir jernih. Rasa tertekan menguasai dirinya sepenuhnya.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah apartemennya. Pintu terbuka, membuat Adrian terkejut bukan main.
"Mama!" ucapnya dengan mata membola, melihat Sita berdiri di depan pintu.
"Bagaimana bisa, Mama tahu sandi pintu apartemenku?" tanyanya dengan nada tak percaya.
Sita tersenyum miring, memandang Adrian dengan tatapan penuh arti. "Ini kan, kekasihmu? Memangnya Mama tidak tahu. Mama tahu sedari dulu. Kamu menjalin hubungan dengan sekretaris kamu sendiri." Sita mengeluarkan foto Winda dari dalam tasnya dan menunjukkannya pada Adrian.
Adrian memijat keningnya, merasa pusing dengan situasi ini. "Kalau Mama sudah tahu, kenapa Mama dan Papa malah menjodohkan aku dengan wanita lain?"
"Karena Mama dan Papa tidak setuju jika kamu menikah dengan wanita ini," jawab Sita dengan suara tenang namun tajam.
"Tapi kenapa? Apa salah dia? Bahkan, Mama dan Papa tidak kenal sama dia," protes Adrian dengan suara yang mulai meninggi.
"Karena kami sudah berniat untuk menjodohkan kamu dengan Raisha sebelum dia hadir di hidup kamu! Patuhi perintah orang tua kamu. Atau ... perempuan ini akan dalam bahaya!" Sita mengancam dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk Adrian meremang.
Adrian menatap ibunya dengan wajah penuh ketidakpercayaan dan ketakutan. "Tinggal dipilih saja. Mau menikah dengan wanita pilihan Mama dan Papa, atau melihat mayat kekasih kamu di depan matamu!" tambah Sita dengan senyum miring yang mengerikan.
Setelah berhasil membuat Adrian semakin kacau, Sita berbalik dan berlalu pergi, meninggalkan Adrian yang kini berdiri di tengah ruangan dengan perasaan hancur.
Rasa putus asa dan ketidakberdayaan membanjiri hatinya, menyadari bahwa pilihan yang dihadapinya bukan hanya tentang dirinya, tetapi juga tentang keselamatan orang yang dicintainya.
"Arrggghhh!! Kenapa Mama jahat sekali padaku? Apa istimewanya perempuan itu di mata kalian!" Adrian berteriak dalam keputusasaan di apartemennya yang sunyi.
"Hhhh ... lihat saja. Jika Mama dan keluarga si ... siapa ya, namanya. Aah iya. Raisha. Jika nanti aku menerima perjodohan itu, dan mereka tetap melukai Winda, aku tidak akan segan-segan untuk menyusulnya."
Adrian mengusap wajahnya dengan kasar. "Ini hanya pernikahan. Aku tetap menjadi milik Winda. Pernikahan ini hanya untuk menyelamatkan Winda dari ancaman Mama!" pikirnya dalam hati, merasa putus asa.
Dengan berat hati, ia menghubungi Winda untuk memberi tahu bahwa dia akan menikah dengan wanita lain. Keputusan ini harus ia ambil demi menyelamatkan Winda dari ancaman bahaya mamanya.
Setelah perjalanan yang terasa sangat berat, Adrian tiba di apartemen Winda. Dengan langkah yang lemas, ia bergegas masuk ke dalam.
Winda yang baru selesai mandi menghampirinya, heran melihat Adrian yang berdiri di ambang pintu utama.
"Sayang? Kok ke sini? Tumben, nggak bilang dulu kalau mau ke sini. Urusan sama orang tua kamu sudah selesai, hem?" tanya Winda dengan senyum manis menghampiri Adrian.
Adrian menatap wajah kekasihnya dengan sayu, lalu memeluknya erat, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Winda. Perempuan itu mengerutkan keningnya, heran dengan sikap Adrian yang tak biasa.
"Mas, ada apa sih?" tanya Winda lembut, merasa ada sesuatu yang sangat berat di pikiran Adrian.
Adrian melepaskan pelukannya, menarik tangan Winda menuju sofa. Mereka duduk di sana, dan Adrian menatap Winda dengan penuh kesedihan.
"Aku... udah ketemu sama Mama dan Papa," ucapnya lesu.
"Ya. Lalu? Kenapa terlihat murung kayak gini? Papa kamu drop lagi?" tanya Winda, khawatir.
Adrian menggeleng pelan. "Dia bisa drop kapan saja kalau aku menolak permintaannya."
"Permintaan apa?" Winda semakin penasaran, takut permintaan itu akan melukainya.
Adrian menelan salivanya dengan pelan, lalu mengembuskan napas panjang. "Kamu tahu kan, aku sangat mencintai kamu?" katanya dengan suara berat.
Winda mengangguk. "Iya. Aku percaya itu. Kamu sangat mencintaiku. Aku pun sama. Lalu ... ada apa? Papa kamu minta permintaan apa?"
Adrian menghela napas berat lagi, mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan kebenaran. "Papa minta aku segera menikah."
Senyum terbit di bibir Winda. "Ya bagus dong, Mas. Kapan, kenalin aku ke orang tua kamu?" tanyanya dengan sumringah.
Adrian semakin tak tega mengatakan semuanya. Melihat antusias Winda yang sangat bahagia setelah mendengar ucapannya, membuatnya semakin sulit untuk menyakiti hatinya.
"Mas, kok diem? Orang tua kamu sudah minta kamu untuk menikah. Bukannya ini kesempatan yang bagus, agar kita bisa menikah secepatnya," Winda kembali bersuara, penuh harap.
"Tapi, Sayang ...." Adrian terdiam sejenak, menundukkan kepalanya. "Papa minta aku menikah dengan wanita pilihan mereka, Raisha."