Aku akan Menikahimu!

959 Kata
Winda menelengkan kepalanya, raut wajah Adrian seperti tak ingin menikahinya. Senyum Winda semakin memudar melihatnya. "Mas, kamu nggak mau nikah sama aku?" tanya Winda dengan suara penuh kekecewaan. Adrian menggeleng dengan cepat. "Nggak, Sayang. Aku sangat ingin menikah sama kamu. Ta-tapi..." Adrian terdiam, merasa tak sanggup untuk mengucapkan kalimat berikutnya. "Tapi apa, Mas? Kamu selingkuh?" Winda menatap Adrian dengan mata yang penuh kecurigaan. Adrian kembali menggeleng. "Mama sama Papa menjodohkan aku dengan wanita pilihan mereka." Seketika dunia Winda menjadi redup. Awan hitam mulai menyelimuti hidupnya, badai dan petir mulai berdatangan. Hatinya hancur mendengar ucapan Adrian yang seharusnya tidak pernah ia dengar. "Mas... kamu bohong, kan? Kam... kamu bercanda, kan?" Winda mencoba menahan air mata yang sudah siap meluncur. Pria itu menggenggam tangan sang kekasih erat-erat. "Maafkan aku, Sayang. Tapi aku nggak bohong. Nggak lagi bercanda. Aku juga bingung harus gimana." "Yaa tolak dong, Mas! Kamu udah punya aku. Kamu nggak bisa nikah sama perempuan lain, walaupun orang tua kamu yang pilih sekalipun." "Aku sudah menolaknya, bahkan di depan orang tua dan orang yang akan dijodohkan denganku. Tapi, kondisi Papa malah drop saat mendengar penolakanku. Aku nggak mau jadi anak durhaka, Sayang. Tolong... mengertilah." Air mata Winda sudah tak terbendung lagi. Hatinya begitu teriris seketika, bagai petir di siang hari yang menyambar dahsyat. Begitu hancur hatinya, harus menerima kenyataan yang tak pernah ada dalam daftar kehidupannya. Winda merasa pasrah. Semuanya harus berakhir sampai di sini. Dia pun tak ingin menjadi benalu dalam keluarga Adrian. Kekasihnya tak ingin menjadi anak durhaka karena menolak perjodohan ini. "Baiklah, Mas. Mungkin kisah kita cukup sampai di sini. Aku ikhlas. Aku pasrah. Selamat... untuk pernikahannya. Aku akan pulang ke tempat asalku," ucap Winda dengan suara bergetar, penuh dengan kepasrahan. Adrian menggeleng dengan kencang, tangannya menggenggam erat tangan Winda lalu memeluknya dengan sangat erat. "Nggak, Sayang. Kamu jangan pergi. Aku hanya mencintai kamu. Itu hanya sebuah pernikahan. Di hatiku cuma ada kamu seorang. Aku nggak mau pisah sama kamu. Kita akan tetap bersama sampai nanti Papa nggak ada," ujar Adrian dengan suara bergetar, penuh rasa putus asa. Winda tersenyum getir. "Kamu akan menceraikan perempuan itu setelah Papa kamu nggak ada?" tanyanya, mencoba meyakinkan Adrian. Pria itu mengangguk antusias. "Iya, Sayang. Pernikahan ini hanya untuk membahagiakan Papa. Setelah dia udah nggak ada, aku akan menceraikannya." Winda tak bisa percaya begitu saja pada kekasihnya. "Aku nggak yakin kalau kamu akan melakukan itu, Mas. Kalian akan tinggal satu atap. Tinggal bersama pasti akan menimbulkan perasaan. Kamu akan melupakanku secara perlahan." Adrian menggeleng kembali. "Bahkan... jika nanti aku dan dia sudah menikah, aku akan tidur di sini. Sama kamu. Lebih baik berhubungan dengan kamu, daripada dengan istriku sendiri. Dia bukan orang yang aku inginkan." Winda menutup matanya sejenak, kemudian menoleh ke arah kekasihnya itu. “Kamu... bahkan kamu tidak tahu apa yang harus kamu lakukan, Mas. Menuruti keinginan orang tua kamu dan harus meninggalkan aku karena harus menikah dengan perempuan pilihan orang tua kamu itu." Winda menghela napas panjang, menatap Adrian dengan mata berkaca-kaca. "Mungkin memang ini akhir perjalanan kisah kita. Nggak ada lagi yang harus diperjelas. Kamu akan menikah dengan perempuan lain, dan aku akan pulang ke kampung halamanku.” Adrian yang tak ingin Winda pergi dari hidupnya itu pun bersujud simpuh di kaki Winda. Sudah tidak ada harga dirinya di depan Winda. "Jangan seperti ini, Mas. Kita harus sama-sama saling menerima keadaan. Aku juga nggak mau jadi perusak hubungan rumah tangga kamu," lirih Winda sembari terisak. Adrian menggeleng pelan. "Aku nggak cinta sama dia. Aku hanya mencintai kamu. Aku hanya ingin kamu yang jadi istriku. Aku mohon jangan pergi, Winda. Please." Winda menggeleng pasrah, menahan air mata yang hampir tumpah. “Untuk apa aku bertahan di sini, Mas? Sementara kamu akan menceraikan perempuan itu setelah Papa kamu nggak ada. Umur nggak ada yang tahu, Mas,” suaranya lirih, namun mengandung kepedihan yang mendalam. Adrian mengangguk pelan, seolah memahami setiap kata yang keluar dari bibir kekasihnya. “Aku tahu, Sayang. Aku tahu jika umur memang nggak ada yang tahu. Tapi, aku mohon sama kamu. Bertahanlah. Demi aku.” Winda menatap Adrian dengan tatapan yang penuh luka, menuntut kejujuran yang lebih dari sekadar kata-kata. “Lepasin kaki aku dulu, Mas. Jangan seperti ini. Kamu itu laki-laki. Harus punya pendirian yang kuat. Jika kamu lemah di depan perempuan, bagaimana bisa kamu menghadapi masalah di kemudian hari?” Perlahan, Adrian melepaskan genggamannya dari kaki Winda, berdiri tegak kembali. Namun, pandangannya tetap melekat pada wajah Winda yang tampak lebih sayu dari biasanya. Hatinya sama-sama teriris, merasakan beban yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia tak pernah menginginkan situasi ini, tapi kenyataan memaksanya untuk menerima dan berusaha bertahan. “Izinkan aku pulang untuk sementara, Mas. Aku ingin menenangkan hati aku dulu. Sampai pernikahan kamu dan dia berakhir,” ucap Winda dengan pelan, penuh dengan keteguhan yang berbalut keperihan. Namun, Adrian tetap bersikeras, matanya penuh dengan harapan yang nyaris putus. “Nggak, Winda. Aku nggak akan mengizinkan kamu untuk pergi dari sini. Aku nggak bisa kalau nggak lihat kamu, Sayang. Tolong. Mengertilah perasaan aku.” Dengan suara bergetar, Winda melepaskan semua beban hatinya. “Kamu ingin dimengerti, tapi kamu nggak bisa mengerti perasaan aku, Mas. Hati siapa yang nggak terluka, mendengar orang yang dicinta harus menjadi jodoh orang lain? Harusnya kamu paham, bagaimana perasaan aku saat ini. Saat mendengar ucapan kamu, yang akan menikah dengan perempuan lain. Hancur hati aku, Mas.” Kata-kata Winda seperti belati yang menusuk hati Adrian, membuatnya terdiam sejenak. Di dalam hatinya, ia merasakan betapa dalam luka yang ia ciptakan pada wanita yang dicintainya. Namun, ia mencoba bertahan dengan satu janji yang ia yakini akan menebus semuanya. “Aku akan menikahi kamu, Winda. Aku janji. Aku akan menikahi kamu walaupun harus menikah secara siri terlebih dahulu,” ucap Adrian dengan sungguh-sungguh, berharap kata-katanya dapat menyembuhkan sedikit dari luka di hati Winda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN