Pelukan Berduri

1705 Kata

Dalam kemarahannya yang berlumur dendam, mata Rei mengawasi Naia-- membingkai gadis itu di matanya yang tajam. Menerbitkan senyum dingin yang tercetak di bibir Rei, yang bahkan tidak menunjukkan apakah senyum itu karena bahagia atau disebabkan kebencian. Hanya satu hal yang pasti, mata tajamnya tidak pernah beranjak dari Naia, menimbulkan kemelut tanpa henti di benaknya. Mengedor ketenangan yang ia pertahankan selama ini. Benci dan rindu pun mulai menyesakkan sampai-sampai rasanya memuakkan. "Naia..." desisnya. Di dalam mobilnya yang hangat, ujung jari Rei membelai bayang Naia di kaca mobil. Membayangkan jika ia benar-benar membelai gadis itu. Merasakan lembutnya kulit yang ia rindukan. Selalu seperti ini, dan ia benci ketika sadar jika semua hanyalah impian. "Lihat apa yang sudah ka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN