Malam itu tidak berhenti pada satu kesadaran. Ada lanjutan yang perlahan tumbuh, seperti api kecil yang dijaga agar tidak padam oleh angin. Beberapa hari setelahnya, Nalendra mengajak Amanda keluar tanpa banyak penjelasan. “Pakai baju yang nyaman,” katanya singkat lewat pesan. Tidak ada restoran mewah, tidak ada kejutan besar, dan justru itu yang membuat Amanda tersenyum saat membaca pesan tersebut. Mereka pergi ke sebuah kafe kecil di pinggir kota, jauh dari hiruk-pikuk pusat bisnis. Lampu-lampu kuning temaram menggantung rendah, musik jazz mengalun lembut, dan aroma kopi bercampur dengan hujan sisa sore. Tempat itu sederhana, tapi hangat. Amanda duduk di seberang Nalendra, memperhatikan lelaki itu mengaduk kopinya pelan. Ada sesuatu yang berbeda malam itu, bukan pada sikap Nalendra, m

