Malam itu tidak berhenti sebagai kenangan manis semata. Ia menjelma menjadi fondasi yang diam-diam mengubah cara Amanda memandang hari-harinya sendiri. Pagi-pagi berikutnya terasa berbeda. Amanda bangun tanpa rasa berat di d**a. Cahaya matahari menembus tirai kamar apartemennya, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak langsung meraih ponsel dengan perasaan waswas. Tidak ada pesan yang ia tunggu dengan cemas, tidak ada ketakutan akan kata-kata yang terlambat dibalas. Ada rasa tenang yang menetap, seperti napas panjang yang akhirnya bisa ia lepaskan. Nalendra tidak selalu hadir secara fisik di setiap langkahnya, namun kehadirannya terasa nyata. Bukan dalam bentuk tuntutan atau pengawasan, melainkan keyakinan diam bahwa apa pun yang Amanda lakukan hari itu, ia melakukannya d

