Sesampainya Amanda di kantor, langkahnya melambat begitu pintu ruangannya terbuka. Seperti biasa, ruangan itu rapi, sunyi, dan beraroma kopi tipis. Namun pagi itu ada sesuatu yang langsung menusuk matanya. Di atas meja kerjanya, tepat di samping laptop yang belum sempat ia nyalakan, tergeletak sekuntum mawar merah segar dan satu toples cokelat berbentuk hati. Amanda berhenti melangkah. Dadanya mengeras. Ada rasa tidak nyaman yang langsung menjalar, seperti firasat buruk yang datang tanpa diundang. Ia mendekat, menarik kartu kecil yang terselip di antara kelopak mawar. Tulisan tangan itu terlalu ia kenal. “Maafkan aku sayang. Aku masih ingin sama kamu. Jangan pernah tinggalin aku. Tertanda, Wiliam.” Amanda memejamkan mata beberapa detik. Rahangnya mengeras. Bukan rindu yang muncul, bu

