Malam itu tidak berakhir pada janji yang diucapkan di teras rumah. Setelah matahari benar-benar tenggelam dan udara mulai membawa dingin yang tipis, Amanda dan Nalendra tetap duduk berdampingan, membiarkan keheningan bekerja dengan caranya sendiri. Tidak ada kebutuhan untuk mengisi ruang dengan kata-kata. Keheningan itu tidak canggung, melainkan hangat, seperti jeda yang memang layak dinikmati setelah perjalanan panjang. Lampu teras menyala, memantulkan bayangan mereka di lantai keramik. Amanda memandangi jemari mereka yang masih saling bertaut. Ada rasa syukur yang tidak riuh, tapi menetap. Ia teringat dirinya yang dulu, yang selalu mengukur cinta dengan intensitas dan pengorbanan berlebihan. Kini, cinta terasa seperti pulang, tanpa harus menjelaskan alamatnya. “Kamu capek?” tanya Nalen

