Pagi-pagi di Jakarta kembali menemukan ritmenya, dan untuk pertama kalinya Amanda tidak merasa ritme itu menelannya. Ia bangun dengan cahaya matahari yang menyusup di sela tirai kamar, aroma kopi yang samar dari dapur, dan suara langkah Nalendra yang khas, tidak terburu-buru, tidak pula ragu. Ada ketenangan baru dalam rutinitas kecil itu, seolah hidup akhirnya berjalan di tempo yang bisa ia ikuti tanpa harus berlari. Nalendra menyerahkan secangkir kopi ke tangannya tanpa berkata apa pun. Amanda tersenyum, menghirup aromanya, lalu menyesap perlahan. Mereka berdiri berdampingan di dekat jendela, memandangi halaman rumah yang masih basah oleh embun pagi. “Aku kadang masih nggak percaya kita bisa sampai di titik ini,” ucap Amanda lirih, lebih pada dirinya sendiri. Nalendra meliriknya sekila

