Rossa menggeleng-geleng kepala, dia masih berusaha mencari alasan. “Nggak gitu Jeha, plis dengerin penjelasan aku dulu.” Rossa lagi-lagi mendekat dan menggoyang-goyangkan pundakku. Sementara aku yang terlanjur marah kepadanya menepis tangan gadis itu, terlalu keras hingga tubuh Rossa ikut terhuyung dan lagi-lagi beruntungnya Pak Glen bisa menangkap tubuhnya. Aku memutar bola mata melihat kejadian yang sama di depanku. Rossa lemah sekali sih! Digituin aja udah hampir jatuh. Karena gregetan, aku lantas sengaja mendorong tubuhnya lagi. Kali ini tidak main-main hingga Rossa pun tampak kaget melihatku yang tega berbuat itu padanya. Habis kesabaran, Pak Glen akhirnya turun tangan. Dia menghentikan aksiku dengan mencekal pergelangan tanganku dengan erat, terlalu erat malah sampai aku meringis

