“Aaaah~” Airin mendesah panjang setelah menghabiskan segelas jamu yang Bibi Lily ucapkan padanya. Ia lalu meraup permen jelly milik Riu dengan tangan kanannya dan memasukkannya ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan cepat untuk menghilangkan rasa pahit yang memenuhi mulutnya karena sekarang ia tidak bisa mendapat penawar dari ciuman Arthur. “Sepertinya Nyonya suka dengan jamunya, ya? Kalau begitu aku akan membuatkannya setiap hari,” kata Bibi Lily. “Aku minum ini bukan karena menyukainya, tapi karena aku membutuhkannya,” ujar Airin. “Tapi ini benar-benar berkhasiat. Aku tidak merasakan nyeri seperti biasanya. Jadi sepertinya aku akan minta tolong Bibi untuk membuatkannya setiap kali datang bulan.” “Ini resep turun-temurun dari para wanita di keluargaku.” Bibi Lily berkata dengan nada b

