“Pantas saja aku jadi mudah kesal sejak tadi. Ternyata ini karena aku datang bulan.” Arthur yang duduk di sebelah Airin yang saat ini sedang berbaring di sofa ruang tengah dengan menumpukan kedua kaki di pangkuannya itu dibuat geleng-geleng kepala setelah mendengar perkataan istrinya. “Apanya yang karena datang bulan, uh? Kau tidak sadar jika kau memang selalu menyebalkan setiap ha– Ah!” Arthur belum sempat menyelesaikan ucapannya saat kaki Airin yang ada di atas pangkuannya memukulnya dengan lumayan keras hingga membuatnya meringis kesakitan. “Kau mana boleh memukul sembarangan, uh? Salah sedikit saja kau bisa membuat masa depan pernikahan kita jadi suram,” kata Arthur sambil memegangi telapak kaki Airin agar wanita itu tidak tiba-tiba memukulnya lagi seperti tadi–yang jika pukulannya

