“Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak menyangka jika reaksinya akan sampai seperti ini.” Tangan kurus Kaia yang sedang membelai kepala Riu dengan sangat hati-hati itu berhenti saat ia mendengar apa yang Airin katakan padanya. Kepalanya terangkat untuk menatap wanita yang duduk di sisi tempat tidurnya itu sebelum dengan lemah membentuk senyuman dari sepasang bibir pucatnya. “Kenapa kau minta maaf padahal ini bukan salahmu? Aku yang salah karena tidak menyembunyikan kepala botakku dengan hati-hati padahal aku tahu Riu itu penakut. Dia pasti takut saat melihat kepalaku yang botak,” kata Kaia sebelum kembali menundukkan kepalanya untuk menatap Riu yang tertidur di sebelahnya setelah kelelahan menangis. Dan senyuman di wajah Kaia perlahan memudar digantikan oleh ekspresi sedih yang jadi ter

