“Ini 38 derajat.” Airin menunjukkan termometer yang baru ia gunakan untuk memeriksa suhu tubuh Arthur pada pria itu. “Sepertinya memang demam.” “Ah, pantas saja kepalaku rasanya pusing sekali,” kata Arthur sambil memegangi keningnya yang terasa panas. Ia lalu menatap Airin dengan wajah memelas kemudian dengan suara yang terdengar manja berkata, “Sayang~ Aku ingin–“ “Bagaimana kau bisa sakit?” Airin memotong perkataan Arthur dengan nada kesal. Membuat Arthur yang sebelumnya ingin memanfaatkan kesempatan saat dirinya sedang sakit untuk bermanja-manja pada Airin jadi bingung karena wanita itu kelihatannya benar-benar kesal. “Kenapa kau malah demam begini padahal sekarang adalah hari liburmu, hah?’ Airin kembali menodong Arthur dengan pertanyaan yang membuat pria itu jadi semakin bingung.

