~~POV SEVIA
Malam itu, aku menemui Zul di Galleri Shop,, untuk menjelaskan semuanya yang telah terjadi.. Namun lagi lagi Zul mengetahui sebelum aku menceritakannya dan aku tidak bisa berbohong apapun padanya..
"ngapain lagi kamu kesini? bukannya lagi senang senang sama Hariz ?"
tanya Zul saat aku baru saja tiba dan menghampirinya yang sedang menata pakaian untuk dijajarkan..
"maksudnya apa Zul? aku baru datang loh mau jelasin kalo HP ku ilang pas perjalanan ke rumah orangtuaku di desa.. Aku lupa ngasih tau kamu soalnya aku menginap disana dan setelah kembali aku langsung kerja dan banyak lemburan.."
jawabku kekeh agar zul tidak mengabaikan aku saat itu..wajahnya lurus pada pekerjaan nya tanpa melihatku yang basah kuyup karna kehujanan dan pulang kerja larut malam.
"bohong kamu Vi... kamu lupa kalo aku punya mata mata siapapun dengan cara apapun agar aku tau yang kamu lakuin di belakang aku. Kamu habis jalan sama Hariz kan? dia melamar kamu, kalian dinner candle light di cafe. Berduaan.."
"iya . aku mengakui itu benar. Tapi aku gak minta dijemput sama dia, dia jemput aku aku juga gak tau dia akan bawa aku ke kafe itu. Dia melamar aku, tapi aku menolaknya dan kita udah gak ada hubungan apa apa lagi Zul ."
"Aku kecewa Vi, akhir akhir ini kamu berubah.. kamu jarang angkat dan balas chat dari aku.. lalu HP kamu hilang dan kamu juga ngilang gitu aja . ditambah hadirnya Hariz membuat ku gak nyaman, kamu bisa jaga perasaan aku gak sih?".
"maafin aku sayang, aku terlalu sibuk kerja dan aku kecapean..kita baikan aja ya..besok aku mau beli HP baru biar kita telponan terus ."
Ucapku sambil memeluk manja Zul dari belakang.. berharap agar hatinya luluh dan percaya lagi padaku.
"kamu pake aja dulu HP ini, udah ada nomornya baru, khusus aku sediain dari kemarin.. Satu lagi, motor yang aku titip ke kamu pake lagi besok aku gak mau tau.."
walau masih cemberut tapi aku bisa melihat nya mulai percaya padaku , seneng banget rasanya saat Zul diam diam menyiapkan HP untukku.
"aaaaa...makasih sayang,, kalo gitu sekarang antar aku ke tempat intan dan bawa motor aku.."
"baju kamu basah, ganti dulu kamu pilih aja mau baju yang mana."
Setelah aku mengganti pakaian kantor ku yang basah dengan baju di toko nya Zul, kami bergegas ke tempat intan..
Namun saat di depan rumah, intan terlihat kecewa melihat kehadiran kami malam itu . dan menghampiri ku.
"Via,, Zulfan.. ada apa kalian kesini?."
intan terlihat panik karena takut zul mengetahui pekerjaan nya yang sebentar lagi akan rame pengunjung.
"aku mau ambil motor aku in, besok mau dipake soalnya.."
"iya iya.. sini vi, kamu ikut aku kesana.."
intan menuntunku kasar ke tempat parkiran
"ih pelan pelan dong in, ada apaan sih".
"vi, kamu apa apaan sih bawa Zulfan kesini. bentar lagi akan ada pengunjung, untung aku belum pake rok mini."
"sorry in, aku cuma mau ambil motor disuruh Zulfan mumpung kami udah baikan, nih dia kasih aku HP."
ucapku menyerengeh melihat intan kesal padaku .
"bodo amat . ingat ya Vi, kamu jangan kasih tau siapapun termasuk Zulfan.. kalo dia nanya kerjaanku bilang aja barista.."
"iyaaa bawelku.. udah ah mana kunci motornya.."
POV AUTHOR
setelah mereka sudah pergi dari tempat itu, intan sangat kesal dan ingin marah marah melihat kedekatan mereka yang merasa usahanya gagal untuk menghancurkan hubungan mereka.. Namun ia harus mengendalikan emosinya agar mood nya tidak terganggu..
"s****n, si sevia malah dikasih HP. pokok nya aku harus bisa rebut hatinya Zul.. lihat aja bentar lagi aku akan keluar dari tempat ini agar Zul tidak jijik padaku ."
Hari berikutnya ia keluar dari pekerjaan itu, ia mengatakan bahwa dirinya hamil dan memohon agar Mami Shinta mengizinkan nya pergi ke kampung halamannya.. akhirnya dia memberikan uang tabungan intan dan mengusir intan dari sana..
Namun intan tidak pergi ke kampung halaman, ia menjalani kursus salon di tempat salah satu pengunjung nya.. Kini , ia tidak malu lagi untuk dekat pria manapun.. terutama untuk mendekati Zulfan..
Intan menelfon Hariz untuk menanyakan hubungannya dengan Sevia , agar ia dengan mudah mencari cara untuk memisahkan Sevia dan Zulfan.. Hariz pun menjelaskan semua yang terjadi saat ia melamarnya malam itu...
"A Hariz jangan putus asa ya, aku yakin kok suatu saat Via akan menerima kamu.. Aku mendukung kalian untuk bersama.."
"makasih in, tapi saat ini aku mengikuti maunya dia yang tidak mau dikekang. Biarin aja dulu mungkin dia nyari yang lebih tus dari aku.. mungkin juga aku bukan tipe nya dia."
"A Haris, sebenarnya sekarang Sevia balikan sama mantannya yang dulu sering menyakiti nya. Tapi aku gak yakin kalo dia itu baik, a tau nggak semenjak Via deket sama Zulfan dia tuh sering nangis saking suka nya. Tapi dasar lakinya gak tau diri, masih suka ngasarin sevia loh.. udah ditolak dan disakiti tapi Sevia masih ngejar ngejar dia.."
"masa sih in, Sevia itu aneh loh aku yang sayang sama dia diabaikan, sementara dia Bucin sama orang kayak gitu.. In ,tolong ya kalo lihat sevia disakiti kamu kabarin aku. "
"iya siap.. aku juga lagi mantau mereka.. aku gak suka lihat Sevia sama Zulfan, aku lebih suka Sevia sama kamu ."
"in, tutup dulu telponnya oke aku ada panggilan dari Temen.."
Setelah telpon nya ditutup, intan tersenyum puas atas usahanya itu dan lanjut menelfon Zulfan untuk sekedar basa basi, dan lama lama membahas masalah pribadi.. karena Zul adalah orang yang mudah akrab dan enak diajak bicara ataupun curhat, terlebih pada intan yang sudah dianggap nya teman spesial..
"Hallo Zul, lagi ngapain.. kamu sibuk ngga..?".
"iya in aku lagi beresin barang baru datang , ada apa in..?".
"oh engga ,, aku cuma mau nanyain Sevia, dia disana sama kamu ngga ya? soalnya Hariz nanyain dia katanya sevia gak masuk kerja dab gaada di kosan nya ."
"sevia, dia gak sama aku kok.. emang kenapa dia gak masuk kerja tumben gak ngabarin aku.."
setelah mendengar kabar tentang sevia , Zulfan meninggalkan pekerjaan nya dan duduk di kursi..
"oh gaada disana ya.. sorry sorry.. ooohh iya aku baru inget hari ini dia kontrol ke dokter.. aduuh kok aku lupa sih.."
"kamu aneh deh, in tadi kamu bilang Haris nyari ke kosan? emang mereka masih berhubungan baik?".
"hubungan baik? bukannya dari dulu mereka baik baik aja kan... Tapi gak tau ya hubungan apa mungkin sebatas teman atau adik kaka an. yang pasti setau orangtuanya sevia mereka masih bersama.."
"bukannya kata Sevia Bapaknya sudah membaik, dan gak memaksa untuk menjodohkan mereka lagi.. Gimana sih maksud kamu aku bingung in.."
"gak tau gak tau.. itukan urusan mereka yah.. akuuu cuma mau nanya itu aja hehe . sorry Zul.."
intan terbata bata harus menjelaskan apa lagi sebab iapun tidak tau persis tentang keluarga sevia dan Hariz. Namun tak habis kata intan terus memancing perhatian Zulfan dengan tema pembicaraan lain..
"udahlah in.. aku males ribut lagi sama Sevia.. aku berusaha percaya aja sama omongannya dia ."
"iya sih kalian emang harus saling percaya. Tapi kamu harus hati hati juga Zul, walaupun aku sahabat dekatnya Sevia tapi aku gak mendukung dia dalam kesalahan. Sebenernya aku tuh kasihan sama Hariz, kamu tau kan dia tuh saaaaangat sangat mencintai Sevia bahkan dia bilang ke aku kalo dia bakal setia nunggu Sevia Sampai kapanpun.. dia rela ngorbanin apa aja buat kebahagiaan sevia dan keluarga nya.. Dia curhat ke aku sambil nangis loh , baru lihat aku laku laki setulus itu mencintai wanita. ."
jelas intan dengan menambah nambahkan cerita yang sebenarnya hariz katakan padanya.. ia terus berupaya agar Zul merasa ilfeel atas kedekatan nya dengan sevia..
"kamu cuma tau hariz yang mencintai dia? kamu gak tau aku juga mencintai dia in kalo aku harus curhat sampai nangis aku bisa aja ngelakuin itu. Tapi aku gak seperti itu dan aku membuktikan langsung dengan caraku sendiri.
Tapi jika aku diposisi Hariz mungkin aku gaakan sekuat itu sih udah ditolak beberapa kali juga. Apa semua ini salah aku in? Apa aku salah hadir lagi di kehidupan dia!".
"sorry ya Zul, aku gak maksud memojokan kamu , kamu sendiri yang minta aku buat ceritain Sevia . Menurutku, andai kamu gak kembali ke kehidupan Via mungkin aja sekarang mereka berjodoh.. Karna sevia pernah bilang kalo dia akan membuka hati untuk Hariz.. Lalu pas kamu datang semua berubah dia melupakan haris dan kembali sama kamu Zul.."
"iya gimana lagi ya in, kita juga udah terlanjur saling mencintai. Kalo aku ninggalin Sevia sama aja aku nyakitin dia . Belum tentu juga Sevia mau menerima Haris , justru kalo aku bisa lebih bahagiain Sevia aku yang menang dari Hariz.. Cinta gak bisa dipaksa kan ,in??".
"terserah kalian sih kalo emang nyaman ya lanjut.. aku cuma bicara apa adanya kalo diatas bahagianya kalian ada hati yang tersakiti, termasuk orangtua mereka. "
"iya intan makasih udah ingetin aku. intinya selama kita gak ada masalah aku akan pertahankan kalaupun harus pisah aku pastiin bukan aku yang nyakitin dia ."
"okelah Zul, aku percaya aja sama kamu, BTW bisa Videcall gak, aku ada masalah tentang baju aku yang kemaren aju beli di tempat kamu.."
Intan mengalihkan pembicaraan agar bisa video call dengan zul dan melihat wajah yang ia rindukan selama ini..
"oh boleh boleh . coba lihat mana yang perlu aku bantu."
Intan mengarahkan kamera telfon ke arah dadanya. ia sengaja membuka kerah baju agar dapat perhatian lain dari Zulfan..
"ini zul dibagian ini kan ada kancingnya, cuman pas aku pake kancing paling bawah beda bentuknya, ini nih kelihatan gak? tuh beda kan jadi susah masuk kalo dikancingin.."
Intan terus mengarahkan kamera kearah sensitif nya dan terus senyum manis menarik perhatian zul..
"oh itu, gak tau ya mungkin salah dari pabrik nya. Ya udah , besok bawa lagi kesini, ditukar aja gapapa kok"
"serius gapapa? ini udah aku pake sekali loh."
."iya gapapa lah in, kamu kan pelanggan. Besok bawa aja ya atau gak perlu dibawa deh itu buat kamu aja terserah mau diapain, aku ganti baru aja kamu pilih sendiri lah.."
"oke, tapi ini lumayan mahal . emang kamu gak rugi?".
"serius aku ikhlas kok, pelanggan yang lain juga sama kalo ada salah aku ganti baru. "
"yaudah besok pagi sebelum kerja aku mampir .."
"iya. eh sekarang kamu kerja dimana udah gak ditempat yang lama ya udah pindah ?".
"iya udah gak jadi barista lagi . sekarang aku kursus di salon dan mau buka salon sendiri setelah sertifikat ku kelar ."
"iya sih in aku lihat tempat yang lama emang kurang baik, bagus lah in kamu harus jaga diri baik baik apalgi di tempat hiburan malam "
Mereka asyik telponan hingga dua jam lebih, intan pun menikmati setiap pembicaraan dengan zul yang asyik dan gak ngebosenin.. dan sebaliknya, walaupun Zul hanya menganggap intan sebagai teman biasa namun ia nyaman bicara dengannya hingga ber jam jam dan sekilas dapat melupakan pekerjaan dan mengabaikan Sevia..
~