bc

Warisan Mata Batin

book_age18+
384
IKUTI
1.5K
BACA
family
brave
drama
scary
small town
another world
secrets
witchcraft
spiritual
wife
like
intro-logo
Uraian

Opa Jayden merasa sudah terlalu tua. Makhluk gaib peliharaannya membutuhkan inang baru. Tanpa sepengetahuan siapa pun, beliau menurunkan makhluk itu pada Danila karena melihat adanya kemiripan sikap dengan Nyi Darsih, selirnya yang sangat dia sayangi.

Hal itu menyebabkan terbukanya mata batin Danila sehingga dirinya merasa terganggu saat melakukan perjalan bulan madu di Pulau Kapo-kapo.

Keputusan Danila untuk menolak warisan makhluk gaib itu membuat dirinya dihadapkan dengan berbagai macam kesulitan. Keimanan dan cintanya pada Arga teruji di sini.

Kekuatan untuk lepas dari tanggung jawab menjadi inang baru makhluk gaib dan menyelamatkan pernikahan dengan Arga, hanya ada pada dirinya. Mampukah?

chap-preview
Pratinjau gratis
Part 1. Perjalanan ke Pulau Kapo-kapo
Entah siapa yang pada awalnya mengusulkan double honeymoon. Namun, pada akhirnya kami sekarang berada di sini. Di kawasan pariwisata Mandeh yang terletak di Sumatera Barat. Tujuan akhir kami pergi ke pulau Kapo-kapo. Untuk tiba di sana, harus naik perahu bermotor bermuatan delapan sampai sepuluh orang. Rute yang dilewati berupa hutan mangrove atau hutan bakau. Sungguh, sebenarnya aku pencinta alam. Mudah buatku untuk menikmati keindahannya. Akan tetapi, ada bagian dan situasi alam tertentu yang menurutku lebih menawarkan rasa takut dari pada keindahan. Contohnya, hutan mangrove ini. Dadaunan pohon bakau yang lebat hingga memayungi air, merubah dasar pantai yang tak seberapa dalam itu menjadi gelap. Akar bakau bersuluran naik menyembul ke atas air lalu meliuk kembali ke bawah, menimbulkan rasa ngeri. Sedangkan sela-sela di antara pohon bakau yang remang membuatku mudah berpikir tentang sesuatu yang berbahaya berasal dari sana. Paling tidak, ada sepasang mata ular pohon bakau yang sedang mengintai mangsanya. Semua itu membuatku merasa ngeri, entah kenapa. Saat kulepaskan pandangan sesekali menyapu sela antara pepohon bakau yang gelap dan sepi, membuat hati semakin bergidik. Satu kegelisahan lain timbul, ketika menyadari salah seorang pengemudi perahu hanya duduk diam dengan baju serba hitam dan berponco. Dia seperti sengaja menyembunyikan wajahnya. Sejak kakiku menjejak masuk ke dalam perahu boat bermuatan sepuluh orang ini, bulu roma terus meremang. Rasanya tidak berkesudahan, diikuti hawa panas yang sesekali menyambar, entah dari mana pula datangnya. Hal itu mengundang rasa cemas di hati semakin besar. Namun, rasanya tidak terlalu penting untuk dibagi, walau dengan suamiku sendiri. Ada perasaan takut mengurangi kenikmatan waktu pelesiran ini, jika kecemasanku diungkapkan. Di perahu yang kami tumpangi ini, ada tiga pasang pasutri. Aku dan Arga, Tammi dan Arshi, serta sepasang suami istri yang mengaku sedang berbulan madu juga. Kami sempat berkenalan saat menunggu giliran memperoleh perahu bermotor yang mengantar kami ke pulau Kapo-kapo. Yang perempuan bernama Dita dan yang lelaki bernama Indra. Pengemudi perahu ini juga berjumlah dua orang, ditambah seseorang yang menurutku misterius. Dia hanya duduk diam di antara penumpang. Perasaan sepi setelah memandangi hutan mangrove yang dilewati, akhirnya membuatku ingin membuka obrolan dengan Arga. “Ga, siapa yang punya rencana bulan madu ke sini, sih?” tanyaku padanya. Lelaki yang sedari tadi sibuk mengabadikan matahari tenggelam yang sedang memancarkan cahaya merah saga dengan kameranya balik bertanya. “Kenapa, Sayang?” Tanpa menolehku. Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya. Sebentar pandangan menangkap keceriaan Tammi dan Arshi yang melakukan swafoto, terlihat begitu hangat dan mesra. Arshi dengan sengaja menyelipkan lengannya di bawah d**a Tammi. Keduanya tersenyum dengan tatapan penuh cinta, indah. Aku ikut merasakan kebahagiaan mereka. Rasa tak ingin merusak acara bulan madu merekalah, yang akhirnya membuatku tidak mampu mengungkap keberatan dengan acara ini. “Kenapa, Sayang?” Arga mengulang pertanyaannya. Kali ini tidak hanya menoleh, tetapi meraihku dalam rangkulannya. Akhirnya aku menggeleng. Membatalkan niatku untuk mengeluh. Buatku dan Arga acara pelesiran ini, sudah tidak lagi merupakan acara bulan madu karena kami telah menikah nyaris setahun lalu. Meskipun ada anggapan jika belum juga mendapat momongan, maka masih bisa dikatakan bulan madu. Namun, untuk Arshi dan Tammi, memang ini waktu mereka honeymoon. Seperti tanpa rasa canggung, Arga mengecup pucuk kepalaku dalam-dalam. Aku berusaha menerimanya dengan senang hati. Walau ada terselip sedikit perasaan malu karena merasa ada yang memperhatikan dari sela-sela pohon bakau yang sunyi itu. Aku tidak berani melihat apa yang sedang dilakukan sepasang pengantin baru yang lain. Kupikir, bisa jadi perahu ini menjadi ajang berbuat m***m. Untungnya kami semua benar-benar berstatus pasangan suami istri. Saat tiba di dermaga kecil tempat banyak perahu bersandar, sudah hampir masuk waktu magrib. Pengunjung pulau Kapo-kapo ditunggu seorang pemandu wisata di sana. Dia akan mengantarkan kami segera ke tempat pemesanan pondokkan untuk menginap. Perjalanan ke tempat itu agak sedikit jauh. Banyak pohon kelapa dan beberapa jenis pohon lain di sepanjang jalan yang kami lewati. Beberapa tempat terlihat masih sangat alami. Sepertinya memang sengaja dibiarkan tumbuh liar agar tidak mengurangi kondisi alami tempat ini. Setiba di sana, Arga dan Arshi memesan dua pondok kecil yang terpisah. Meski abang beradik, tetapi mereka masing-masing menginginkan privasi bersama istri. Aku dan Tammi menurut saja dengan keputusan ke duanya. Mungkin rasa bosan menunggu kedua lelaki tampan yang sedang memesan pondok, membuat Tammi menginginkan melakukan hal lain. “Kak Nila, jalan-jalan sebentar, yuk!” ajaknya sambil mengulurkan tangan padaku untuk jalan bergandengan. Kuturuti ajakkannya. Setelah itu, kami melangkah bersama melihat-lihat situasi sekitar pondok. Dari lokasi itu terdengar bunyi debur ombak, menandakan letaknya yang sudah tidak jauh dari bibir pantai. Kulayangkan pandangan ke sekeliling, memindai segala sesuatu yang masih dapat terlihat karena sebentar lagi akan ditelan oleh gelapnya malam. Sayangnya saat pandanganku tertuju ke tengah laut, sudah nyaris tidak menyisakan cahaya merah saga matahari lagi. Bulu kudukku yang tidak meremang lagi saat turun dari perahu bermotor, tiba-tiba kurasakan kembali. Setelah itu, tercium bau busuk. Kian lama semakin tajam dan menyengat indera penghiduku. Spontan aku menutup hidup. “Eh, Kenapa, Kak?” tanya Tammi ketika melihatku. “Bau busuk, Tam,” sahutku cepat karena bau itu seperti menjalar masuk dalam mulutku yang terbuka. Sampai membuatku terbatuk. Bau busuk itu seperti mengaduk perut hingga menimbulkan rasa mual luar biasa. Tatapan Tammi yang mungkin tidak lepas memperhatikanku, kembali bertanya, “Kak Nila, kenapa?” “Kamu gak mencium bau busuk, Tam?” aku balik bertanya. “Bau busuk?” Tammi malah balik bertanya lagi sambil seperti mencari-cari asal bau tidak sedap itu. Tepat saat kami berdua seperti orang kebingungan, Indra dan Dita melintas sambil melambaikan tangan. “Mabok laut, Kak Nila?” Bahkan Dita sempat bertanya dan aku jawab cepat dengan gelengan. Tak seberapa lama kemudian, bau itu perlahan berkurang. Kian berkurang hingga membuatku kembali bernapas lega. “Iya kali, Kak Nila, mabok laut.” Tammi ikut berpikir seperti Dita. Kali ini aku tidak memberi jawaban apa pun. Aku sendiri baru pertama kali merasakan hal seperti ini. Sekejab kami hanya saling berpandangan saja. Aku tidak berniat menceritakan apa yang kurasakan, takut merusak momen bulan madunya. Setelah itu, pandangan Tammi yang menangkap lambaian tangan Arshi membuatnya sontak beralih perhatian. Dia melepaskan gandengan tangan dan berlari kecil untuk mendapatkan suaminya yang berada sekitar seratus meter di depan kami. “Ayo, Kak Nila! Kita udah dipanggil, tuh!” katanya sebelum melesat tadi. Hal serupa segera aku lakukan, setelah sejenak memperhatikan Dita dan Indra yang akan memasuki pondok mereka. ‘Tak ada yang aneh pada mereka,’ simpulku dalam benak saat itu. “Aku gak bakal ninggalin kamu, Sayang. Kenapa harus lari-lari?” ucap Arga menyambutku ketika tiba di hadapannya. Tidak aku sahuti. Namun, segera bergelayut di lengannya yang kokoh sebagai ganti pernyataan kekhawatiranku akan tertinggal. Arga tersenyum, disempatkannya menepuk halus punggung tanganku yang bergelayut, sebelum menyingsingkan ransel bawaan kami ke bahu. Pondok yang di pesan Arshi berada paling ujung dari lokasi penginapan ini. Kami saling melambaikan tangan sebelum memasuki pondok masing-masing. Terlihat jelas keceriaan ke duanya ketika memasuki pondok kecil itu. Akan tetapi, entah kenapa timbul perasaan tidak enak di hatiku. Kairo,21/07/2021 **WMB**

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
201.4K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
44.0K
bc

Kali kedua

read
221.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.4K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
2.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook