Memancing Gurita

2980 Kata
Aku tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Arga. Saat itu ketakutan dan perasaan aneh yang aku alami sebelumnya tidak sebegitu terasa lagi. Sebentar aku memandang ke arah sudut pondok di mana aku melihat seseorang berbaju hitam berponco muncul di sana. Kemudian memandang ke jendela yang kini dalam keadaan terbuka. Sebelumnya angin bergulung itu melesat ke sana dan menampar daun jendela. Terakhir kulayangkan pandangan ke sekitar pondok, tak satu hal aneh pun tertangkap mata.             “Sayang?” Arga menunggu jawabku dengan tatapan lekatnya.             “A-a-aku gak yakin, Ga,” ucapku apa adanya.             “Ke sini!” Sejurus dirinya memintaku mendekat. Padahal jarak kami hanya tiga langkah. Pelan aku menujunya. Arga menyambutku dengan dekapan eratnya sebelum pelan-pelan berkata. “Selama ini, kamu yang mengajariku untuk bergantung pada kekuatan Allah saja, `kan, Sayang? Bahkan dulu kamu yang pernah melanglang buana ke berbagai negara untuk mendapatkan kontrak kerja di mana-mana sebelum menikah denganku. Danila yang aku kenal selama ini sangat kuat keyakinannya dalam menghadapi segala macam masalah, karena mengandalkan Allah subhanahu wata’ala saja. Itulah kamu, Sayang,” tutur Arga panjang seperti sengaja menuntunku pada suatu kekuatan yang tidak perlu kuragukan kekuatannya. Hatiku terasa sejuk seketika. Refleks kueratkan pelukan. Deru napasnya yang hangat dan detak jantungnya yang terdengar beraturan membuatku nyaman dan kembali memperoleh kekuatan. “Mau pulang sekarang, Sayang?” tawarnya sekali lagi sambil melepas dekapan dan menggenggam wajahku dengan tangkupan dua tangannya. “Aku mau memancing gurita dulu, Ga,” sahutku tegas. Spontan dirinya tergelak kecil. Tatapannya yang tadi begitu serius sontak berubah seperti melihat sesuatu hal yang lucu. Matanya menjadi jenaka dan senyumnya terkulum kuat. Sejurus kemudian wajahnya menyambangiku untuk bertaut beberapa saat dalam kecupan yang terasa begitu hangat. Manakala terurai kami pun saling tersenyum bahagia. “Ayo!” katanya. “Ayo! sahutku semangat. Namun, tidak seperti dugaanku. Lengan kokohnya menarikku justru ke atas ranjang. Membuatku meronta halus ingin menolak sambil berkata, “Arga … ayo mancing, Ga! Ayo mancing, `kan?” Arga terkekeh sambil melepas rangkulan dua lengannya. Tatapan jenaka lelaki tinggi tegap itu terlihat puas karena telah mencandaiku. Setelah itu, kami segera bergegas menuju restoran pondok. Berbekal lotion anti sinar matahari dan bersandal jepit kami menyusul Tammi dan Arshi untuk sarapan bersama. Tentunya aku tidak akan memilih sarapan seberat sarapan Tammi. Seperti yang telah direncanakan dua abang beradik itu malam tadi. Mulai dari pagi, seluruh hari ini akan kami isi dengan berkegiatan di luar. Khusus hari ini kami memilih belajar memancing gurita dengan anak-anak warga kampung pulau Kapo-kapo. Mereka semua ramah dan sopan. Dari mereka kami menyewa perahu boat. Tidak lupa pula mengajak dua orang anak pulau Kapo-kapo untuk mengajarkan cara memancing gurita di lautan. Mereka kakak beradik, Husin dan Firdaus namanya.  Selain menyediakan perahu boat, dua abang beradik itu juga menyediakan peralatan yang diperlukan. Ada tali cenur, mata pancing, dan kepiting-kepiting kecil untuk dijadikan umpan saat memancing gurita. Setelah perbekalan siap, kami pun berperahu boat menuju lepas pantai. Tidak perlu sampai terlalu jauh, hanya perlu satu sampai dua kilo meter saja dari pantai yang landai dan berpasir putih itu. Dari kejauhan justru aku bisa melihat pemandangan pantai pulau Kapo-kapo yang sangat indah. Mendapati keindahan itu membuatku bisa melupakan rasa takut pagi tadi. Ditambah lagi, semangatku ingin memancing, menjadikan perasaan aneh dan penglihatan-penglihatan buruk kian terlupakan. Hingga akhirnya aku mulai yakin, kalau apa yang dialami, memang hanya karena efek kelelahan. Menit demi menit ke depan aku mulai menikmati momen petualangan. Kulihat Arga belajar mengaitkan tujuh mata pancing pada seekor kepiting kecil dari Husin. Akan tetapi, kesempatan pertama untuk memancing diberikannya padaku. Mungkin bermaksud membuatku sibuk agar cepat melupakan hal-hal aneh yang tadi dialami. “Nih, Sayang, coba kamu yang mancing.” “Ga, kasihan kepiting kecil yang masih hidup itu ditusuk.” “Kata Husin, memang begini caranya, Sayang.” “Iya, Kak Nila, supaya menarik perhatian gurita. Kalau umpannya mati, nanti guritanya tidak mau memakan umpannya,” jelas Husin. “Hm, guritanya pintar, ya. Sepertinya tahu mana yang segar mana yang tidak,” kataku. “Yang segar memang lebih enak, Sayang. Seperti kamu sehabis wudu tadi malam,” gumam Arga. “Sssttt Arga …,” gumamku sambil melirik Husin. Kuharap dia tidak mendengar bisikan Arga dan mengerti maksudnya. Untungnya anak lelaki tanggung itu kulihat sedang membereskan tempat umpan yang lupa ditutup. Akhirnya tanpa bicara apa-apa lagi, segera aku jatuhkan umpan ke dalam air. Hatiku sebenarnya masih tidak tega melihat kepiting kecil itu tertusuk banyak mata pancing dan terlihat kesakitan. Namun, demi seekor gurita akhirnya aku menguatkan hati. Beberapa jenak ke depan tidak terjadi apa-apa, aku dan Arga saling berpandangan. “Kepiting kecilnya keburu mati kali, Ga,” kataku. “Masa?” Cepat Arga melongok umpan yang sudah jauh tercelup ke dalam air laut. Sepertinya dia tidak melihat apa-apa. “Sin, harus diapain nih, Sin?” tanyanya pada Husin. “Digoyangkan tali cenurnya, Bang! Supaya gurita bisa melihatnya.” Cepat kuikuti instruksi yang diberikan Husin, dan tak lama kemudian …. Benar saja, umpanku segera dimakan gurita. Cenur, terasa ditarik dan menjadi berat. “Ga, dapat, Ga!” seruku. “Hm, secepat itu?” Arga tidak percaya, tetapi dia segera memberikan bantuan. “Sin, kayaknya dapat, nih! Harus diapain lagi?” “Tarik aja, Bang!” Arga pun menarik keras. Tubuhnya yang menumpu pinggir perahu membuat perahu sempat oleng. Spontan aku dan Tammi berteriak kecil tertahan, setelahnya terpingkal bersama. Akhirnya sigap kami berpegangan pada pinggir perahu yang sebenarnya cukup besar itu. Tali cenur yang kecil dan licin membuat Arga kesulitan, terlebih lagi dirinya tidak menggunakan sarung tangan. Kulihat Firdaus meminjamkan sarung tangan pada Arshi. Sejurus Arshi pun datang untuk membantu Arga, sehingga akhirnya gurita hasil pancingan pertamaku bisa digapai dengan tangan saja. “MasyaAllah, besar banget, Ga! Alhamdulillah,” kataku. Lelakiku refleks mengecup kepala sambil berucap, “Pintar!” Setelah itu terdengar teriakan-teriakan kecil Arga dan Arshi bersahutan pertanda gembira. Husin dan Firdaus pun mereka ajak untuk merasakan senangnya dengan saling high five. Padahal, aku yakin, bagi Husin dan Firdaus hal itu pasti bukan hal luar biasa lagi. Setelah itu, Arga kembali menyodorkan tali cenur berkepiting yang sudah ditusuk ke mata pancing padaku. “Gak mau, Ga. Aku sudah dapat satu. Itu buat kamu aja,” tolakku agar Arga mendapat kesempatan memancing sendiri. “Oke, yang ini buatku, ya,” ucapnya, kemudian dengan semangat melemparkan tali cenur ke air laut. Dari tempatku duduk dapat kusaksikan kaki-kaki kepiting kecil itu mengayuh-ngayuh hingga tenggelam. Ada perasaan sedih menelusup karena tidak tega melihat kepiting yang jadi umpan itu. Namun, terkadang adakalanya kita memang harus menoleransi satu cara untuk dapat memperoleh sesuatu. Selama hal tersebut tidak dilarang dalam ajaran keyakinan, pikirku. Sementara Arga, Arshi, dan Tammi juga sibuk memancing. Akhirnya aku putuskan untuk mendengar penjelasan Firdaus tentang gurita. Anak lelaki itu seperti mengerti dengan apa yang aku rasakan sehingga dia dengan suka rela mengalihkan perhatianku. “Gurita ini, Kak, hewan terpintar di antara sekian banyak hewan yang tidak bertulang belakang. Dia suka bersembunyi di pasir untuk menunggu mangsanya. Kalau sedang bersembunyi, jangankan kepiting, manusia pun kadang tidak bisa melihatnya.” “Wah, Firdaus hebat. Pengetahuan kamu tentang alam luas, ya. Pasti nilai di sekolah bagus. Suka belajar ilmu alam, ya?” “Iya, Kak. Lahir dan tinggalnya aja di sekitar alam bebas. Untuk pengetahuan yang berhubungan dengan laut, aku memang tahu banyak, Kak. Aku mau jadi insinyur perikanan kalau sudah besar nanti.” “Bagus, Fir. Negara kita, `kan lebih luas wilayah lautnya. Harus banyak yang mengelolanya dengan ilmu, bukan dengan nafsu.” “Maksud, Kak Nila?” “Kalau mengelolanya dengan ilmu, pasti penuh pertimbangan supaya alam tidak rusak, kalau pakai nafsu pasti tidak berpikir untuk merawat alam, kecuali hanya berpikir tentang mengambil manfaat sebesar-besarnya dari alam saja.” “Betul itu, Kak. Karena itu juga Daus ingin jadi insinyur perikanan. Supaya alam kita tidak rusak,” sahut Firdaus bersemangat. Obrolan seputar alam terus bergulir begitu saja antara aku dan bocah lelaki itu. Sebentar aku sempat hanyut mengingat diri ini berasal dari kota kecil di pinggir pesisir sehingga obrolan dengan Firdaus menjadi hidup. Kuakui pengetahuan Firdaus cukup luas. Sayangnya harus terputus ketika yang lain membutuhkan bantuan adik dari Husin itu. Di saat yang sama, Arga memandangku sambil tersenyum. Sepertinya dia senang aku merasa nyaman dan menikmati momen memancing gurita ini. Lepas dari tatapan mata Arga, tanpa sengaja aku memperhatikan gurita-gurita yang telah berhasil dipancing. Kupandangi kaki gurita yang berjumlah delapan. Banyak bintil dan selalu ingin melilit ke sana dan ke mari. Sementara itu, kepalanya yang besar dan lunak itu terasa seperti balon yang penuh terisi air saat disentuh. Kesempatan menjauh dari pantai membuatku punya kesempatan pula untuk mengabadikan kami semua saat berada di tengah lautan. Apalagi dengan latar belakang pantai landai pulau Kapo-kapo yang terhampar indah sekali. Segera kuraih kamera dari tas ransel kecil yang kubawa. Sekali dua aku mengambil foto dengan satu lokasi. Perahu yang mampu menampung enam orang ini cukup untukku merasa leluasa. Sampai aku bisa mengabadikan kami semua dengan angle dari manapun. Tiba saat aku ingin membidik kami berlatarkan pantai dengan angle segaris lurus perahu. Di layar kamera muncul seseorang mirip tukang perahu yang mengantar kami kemarin, duduk mencangkung di ujung perahu boat. Dialah sesosok bayangan yang aku lihat di sudut kamar pagi tadi. Dia lelaki berbaju hitam dengan ponco yang menutupi seluruh wajahnya. Glek! Aku berusaha untuk tidak percaya dengan apa yang terlihat dalam kamera. Agar merasa yakin, segera kutoleh ujung perahu, tetapi jelas tidak ada siapa-siapa di sana. Hatiku lega, sebentar itu menjadi yakin kalau hal itu hanya halusinasi saja. Akan tetapi, ketika kembali melihat ke layar kamera, kembali pula dia berada di sana. Bahkan seperti hendak menyatakan dia benar-benar ada. Sosok berbaju hitam itu menurunkan ponconya. Pada wajahnya yang hitam pekat karena membelakangi matahari, perlahan terlihat kelopak matanya membuka, kemudian menatap lekat-lekat. Setelah itu, mengangguk arif sambil tersenyum tipis. Detik berikutnya dia menghilang dengan memecah diri seperti gumpalan awan mendung tipis yang buyar tertiup angin. Aku terkesiap lalu jatuh terduduk di papan melintang yang mulanya menjadi tempat duduk. Tiba-tiba merasa tercekat, jantung mulai berdetak tidak beraturan dan bulu roma meremang. Namun, tak ada bau busuk. Kupaksakan diri untuk menelan saliva ketakutan, sambil meyakinkan diri bahwa yang terlihat itu hanya ada dalam pikiranku saja. Merasa tak mungkin berbagi cerita ini dengan siapa pun. Tidak mau mereka menganggapku berhalusinasi di tengah lautan. Sekonyong-konyong kepalaku pusing sehingga tak kuat membuka mata. Dari seluruh pori mulai keluar keringat yang terasa dingin dan tidak sedikit. Sementara itu, perut pun mendadak mual, aku meremas genggaman tangan di pinggir perahu untuk meredamnya. “Nil?” Arga menyapaku dengan nada khawatir. Seperti menyadari perubahanku karena sesuatu yang tidak beres. “Kamu kenapa? Kok, pucat?” “Mabuk laut, Kak Nila?” tanya Tammi yang juga segera membagi perhatiannya padaku. Husin buru-buru mengangsurkan kantong plastik, sambil berkata, “Kak Nila, kalau muntah di plastik, ya, supaya air lautnya tidak kotor!” Aku mengangguk. Arga menghampiri dan tangannya menyentuh dahi. Tatapannya membersitkan rasa khawatir yang kian besar. “Ga, kita balik aja sekarang, takut Danila muntah-muntah,” Arshi menawarkan pemecahan masalah. “Aku gak kenapa-napa, kok! Kalian teruskan aja mancing guritanya!” sahutku, mengingat mereka belum merasakan nikmatnya mata pancing dimakan oleh hewan berkaki banyak itu. Selain itu, seekor gurita hasil pancinganku tidak cukup untuk kami berempat, ditambah Husin dan Firdaus. Arga menyodorkan air mineral yang tadi sempat dibelinya di restoran pondok sebagai bekal kami. Aku langsung meminumnya sambil berusaha menenangkan diri, agar perasaan seperti mabuk laut itu segera hilang dan rasa takutku berkurang. “Cepat sembuh, Sayang!” ucap Arga sambil mengecup dahiku. Hal itu mengundang senyum kedua anak kampung pulau Kapo-kapo yang sempat mencuri pandang ke arah kami. “Hei, memang kalian tidak pernah melihat ayah dan ibu kalian saling berkasih sayang?” tanya Arga, saat tahu kalau kami diamati Husin dan Firdaus. Mereka berdua tidak menjawab, hanya diam saling pandang dan tersenyum-senyum. “Ah, anak zaman sekarang. Mana mungkin gak tahu hal begituan. Gak lihat ayah dan ibunya, pasti bisa lihat ditempat lain. Lagian mereka pasti sering nemenin jalan-jalan pasangan pengantin baru kayak kita sekarang,” celoteh Arshi panjang membuat suasana lepas pantai itu menjadi ramai. “Ya, begitulah, Bang Arshi. Tapi aku senang lihat cara Bang Arga memperhatikan Kak, Nila,” sahut Husin. Anak lelaki remaja tanggung itu menyatakan pendapatnya dengan cara dewasa. Selain pintar bicara kupikir dia pintar mengambil hati orang-orang yang memakai jasanya sebagai pemandu wisata. “Bang Arga memang so sweet banget,” timpal Tammi. Tidak disangka ungkapan sederhana, tetapi manis itu ditanggapi negatif oleh Arshi, timbul cemburu mungkin di hatinya. “Jadi, aku gak sweet, ya, Tam?” Ribut kecil pun tidak terhindari oleh mereka, ribut kecil yang mesra. Arga memutar bola matanya. Sebentar menjadi gaduh di antara mereka. Aku tidak terlalu memperhatikan karena sibuk menikmati rasa mual yang masih saja bersarang pada sejengkal perutku. Hingga pada akhirnya, kumuntahkan dalam kantong plastik yang telah diberikan Husin. Ribut kecil itu berakhir dengan sendirinya karena seluruh perhatian tertarik padaku. Akan tetapi, di saat yang sama dua mata pancing milik Arga dan Tammi dimakan oleh gurita. Mereka akhirnya sibuk mengatasi masalah itu. “Tunggu, ya, Sayang!” Arga menyempatkan diri meminta pengertianku karena dia tidak membantu saat aku muntah-muntah. Beruntung ada Firdaus, bocah lelaki adiknya Husin itu dengan cekatan mengangsurkan botol mineral. Kemudian, tanpa rasa jijik mengambil kantong plastik berisi muntahanku. Setelah itu, dia segera memasukkannya ke dalam tempat sampah yang dia sediakan di dalam perahu bermotor ini. Usai aku mengeluarkan sarapan yang belum sempat dicerna. Ternyata usai pula usaha Arga dan Tammi yang dibantu Arshi mendapatkan dua gurita lain yang memakan umpan pancing mereka. Akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi acara memancing itu. Akan dilanjutkan dengan memasak hasil pancingan di rumah warga pulau Kapo-kapo untuk makan siang. Husin dan Firdaus segera membawa kami pergi ke rumahnya yang berada di sekitar pondokan, tetapi di luar areanya. Selain menyediakan perahu bermotor berikut menjadi pemandu acara memancing, ternyata ibu mereka membuka jasa memasak gurita-gurita hasil pancingan. Arga dengan sabar menyejajari langkahku yang terayun pelan. Setelah muntah tadi tenagaku terasa tersedot ke perut karena ototnya yang mengencang. Tangan lelaki tinggi tegap berstatus suamiku itu tak lepas menggenggam. Tatapan matanya kembali terlihat penuh kekhawatiran. Namun, entah mengapa, ada kekuatan dari kekayinan yang kumiliki setiap kali mengingat pesan bijak Arga tadi. Berlindung pada yang Mahakuat saja. Setelah melewati hutan kecil menuju keluar area pondokan, tak seberapa lama kami pun tiba di rumah Husin dan Firdaus. Di halaman rumah mereka tersedia tempat memanggang sederhana, berupa bangunan dengan batu bata yang di bawahnya bisa ditaruh kayu bakar hingga berubah menjadi bara. Hal itu sudah menjadi salah satu usaha dan sumber pendapatan bagi mereka, dengan memberi jasa melayani pelancong yang hendak merasakan hasil pancingannya. Ibu mereka sangat gembira menyambut kedatangan kami. Usai berkenalan, beliau pun segera menyiapkan panggangan dibantu kedua anak lelakinya. Arga mengantarku duduk di teras rumah panggung mereka yang tidak terlalu tinggi, agar tidak terkena sinar matahari terlalu lama. Tammi dan Arshi terlihat sibuk dan tidak lupa terus bercengkrama. Mereka terlihat begitu bahagia, dan aku ikut merasa senang. Bu Rohana, nama ibu dari Husin dan Firdaus. Beliau sibuk membuat sambal kecap dengan irisan, tomat, bawang merah, cabe rawit dan cabe merah, tak lupa menanak nasi juga. Setelah Husin dan Firdaus membuat bara di tungku khusus memanggang itu, mereka memanjat pohon kelapa di halaman rumahnya. Keduanya memetik dan menjatuhkan beberapa kelapa muda ke tanah. Setelah itu, memotong bagian bawah kelapa hingga mendapati tempurung. Lalu tempurung kelapa sengaja diberi lubang agar bisa mengeluarkan airnya dari sana. Mereka sangat cekatan, rasanya tiba-tiba saja semua siap untuk dinikmati. Arga mengambilkan sepiring makan siang untuk kami berdua. Sigap dia menyuapkan gurita panggang dengan dibubuhi sambal kecap pertamanya padaku. “Enak, Sayang?” tanyanya. Aku mengangguk saja. Namun, sebenarnya entah kenapa, rasa gurita itu jadi tidak senikmat gurita rendang malam tadi. Makanku pun tidak selahap biasanya, juga tidak sanggup menghabiskan makanan walau sepiring berdua Arga. Ada rasa mual tak henti datang bagai tiupan angin laut yang datang berkala. Kekuatannya terkadang kencang dan terkadang semilir saja. “Kasihan, Kak Nila. Mabuk laut terus,” komentar Tammi saat melihatku kesulitan menelan makanan yang sudah berada di dalam mulut karena rasa mual itu. Aku hanya menyenyuminya, sebenarnya tidak ingin menjadi perusak acara pelesiran yang nikmat ini. Ada juga sedikit rasa malu karena mendapati diriku menjadi yang terlemah. Akan tetapi, aku sangat senang melihat Tammi dan Arshi sangat menikmati acara ini. Mereka juga terlihat menggemuk bersama, pertanda segala sesuatunya berjalan sebagaimana mestinya. “Jangan bengong, Nil!” ucap Arga lirih sambil menyentuh pipiku. Menyadari perhatiannya yang terlalu besar timbul rasa haru. Permintaan maaf meluncur dari mulutku begitu saja, “Maaf, ya, Ga. Aku ngerepotin banget.” Awalnya Arga tidak menyahut. Dengan bibir terkatup rapat matanya lekat menelisikku. “Aku gak kerepotan, kok, Sayang,” ucapnya setelah melihat sebulir air mataku meluncur. Cepat diusapnya dengan selembar tisu yang diambilnya dalam saku. Aku pun tidak tinggal diam, buru-buru ikut mengeringkan bulir air mata yang sempat membasahi pipi. “Hmm, swing mood banget, kamu, Nil. Kenapa, ya?” lanjutnya bernada bingung. “Kalau lagi hamil muda, biasanya memang kayak gitu, Bang Arga.” Bu Rohana yang kebetulan lewat di samping kami menjawab kebingungan Arga. Sontak lelaki kesayanganku menoleh ke arah beliau, pun aku. Setelah itu, kami saling berpandangan untuk beberapa saat. “Kamu hamil, Sayang?” tanya Arga dengan segaris senyum yang nyaris terbit di bibirnya. “Masa iya, Ga? Aku belum telat datang bulan,” sahutku cepat. “Bisa aja salah hitung, Kak Nila,” sahut Bu Rohana lagi. Tak disangka, obrolan bernada bisik kami menarik perhatian semua yang ada. Tiba-tiba Tammi, Arshi, Husin, dan Firdaus sudah berada di sekitarku, ikut menguping. Mendadak aku merasa seperti gula yang sedang dirubungi semut, semua orang yang berada di sana saat itu, ingin mengetahui halku. Untungnya Husin dan Firdaus segera menyingkir, dengan sedikit bersit rasa malu keduanya saling dorong. “Urusan orang dewasa itu!” kata Husin. Disambut Firdaus dengan terkekeh, mungkin keduanya berpikir pembicaraan dengan berbisik itu berkenaan dengan hal seru menurut mereka. “Kak Nila harus hati-hati! Gak boleh sembarangan, juga gak boleh terlalu lelah!” pesan Bu Rohana.  Marsa Matruh, 01092021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN