Part 6. Pesan Bu Rohana

2539 Kata
Pesan Bu Rohana kali ini membuatku menelan saliva, pun Arga. Terlihat jelas tonjolan di tengah lehernya bergerak naik lalu turun seusai mendengar pesan ibu dari Husin dan Firdaus itu. Bisa jadi dirinya merasa takut juga karena sebelumnya aku pernah mengalami kegagalan pada kehamilan pertama. Berbeda dengan Tammi dan Arshi. Mereka malah terlihat berpandangan mesra saat mendengar berita tentang kemungkinan aku sedang berbadan dua. Di tengah beragamnya ekspresi tiap orang yang mendengar berita itu, sekonyong-konyong satu pesan Bu Rohana berikutnya membuat masing-masing bergidik. “Hati-hati juga, Kak Nila! Kalau sedang hamil, biasanya naluri lebih tajam, jadi bisa melihat yang aneh-aneh dan macam-macam.” Darahku berdesir disambut dengan debaran jantung yang sebentar tak keruan. Timbul kernyit di pangkal hidung bangir Arga dengan mata yang memicing. Seketika wajahnya terlihat menjadi kurang ramah. Seperti kurang senang mendengar nasihat itu, Arga langsung menyudahkan kami berada di sana. Setelah berterimakasih dan memberi uang jasa pada Husin, Firdaus, juga Bu Rohana, kami pun berpamitan. Ternyata tidak hanya aku yang merasakan perubahan sikap Arga, tetapi Arshi juga. “Lu, kenapa, Ga?” “Gak kenapa-napa. Gue cuma gak mau Danila berlama-lama di sana.” “Maksud, lu?” “Gue gak mau Danila makin ketakutan.” “Tapi, Ga,” Kupotong pembicaraan dua abang beradik itu. Tak disangka Arga menghentikan langkahnya lalu menatap nanar padaku. “Aku bisa terima dugaannya yang mengatakan kamu hamil, tapi tidak dengan gangguan makhluk gaib saat hamil. Itu akan memberikan sugesti lebih besar sama kamu,” jelasnya padaku. “Memangnya Danila kenapa, Ga?” tanya Arshi lagi. “Danila gak kenapa-napa, hanya kelelahan saja dan mungkin benar kalau Danila hamil.” “Dalam para psikologi juga disebutkan, kok, Ga. Kalau perempuan hamil instuisinya lebih tajam,” jelasku memberikan fakta secara keilmuan yang aku pelajari. “Kak Nila bisa lihat sesuatu?” tanya Tammi ikut nimbrung. “Itu karena Danila kelelahan,” jawab Arga terdengar seperti menolak fakta. “Kamu bisa lihat apa, Nil?” tanya Arshi langsung padaku. “Gak lihat apa-apa, Shi.” Arga tidak membiarkanku menjawab sama sekali. “Kok, lu terus yang jawab? Gue nanya Danila. Gue juga lihat dia kemarin seperti ketakutan dan seperti orang kebingungan, Ga.” “Stop, Shi!” sergah Arga semakin keras. “Gue cuma nanya.” “Iya, pertanyaan lu bisa jadi bikin Danila ingat semua yang dia lihat.” “Gue cuma pengen tahu, kali aja Danila hanya salah lihat.” “Itu sama saja dengan bikin Danila keingetan terus.” “Trauma itu harus dikeluarkan dalam bentuk cerita, Ga.” “Ah, sejak kapan kamu jadi psikiater?” “Cara kamu kayak gitu gak membantu, Ga!” tuding Arshi. Semakin lama terasa pembicaraan mereka makin panas dan terus saling berjawab-jawaban. “Sudah, sudah! Aku gak kenapa-napa, kok!” kataku berharap keduanya berhenti saling berjawaban. Beruntungnya, tepat saat itu, Dita dan Indra datang dari arah yang berlawanan. Kami pun berpapasan, membuat Arga dan Arshi memperpanjang gencatan saling ketidaksepahaman tadi.   Riuh Tammi dan Arshi menyapa, sementara Arga tetap lebih fokus denganku. Dia raih tanganku dalam genggamannya sambil tersenyum menenangkan. Saat yang sama perhatianku teralihkan pada lambaian tangan Dita padaku. “Hai, Nil,” begitu sapanya. Kubalas melambai dan memberinya senyum. Di saat yang sama hidungku menghidu bau busuk. Setelah itu, saat Indra melintas di samping, aku melihat ekor berbulu seperti anjing. Ujung ekor itu mirip mata panah keras dan pipih, keluar dari sela antara kedua kakinya. Aku sengaja tak mengerjapkan mata, ingin yakin dengan apa yang dilihat. Di mataku memang hal itu begitu nyata. Sontak darah berdesir dan degub jantung menjadi berkejaran. Kuberanikan diri sejurus mengalihkan pandangan ke wajah Indra. Ada seringai wajah lain yang membayang dalam wajahnya seperti malam itu. Terlihat seperti topeng transparan melekat, tetapi tidak bersatu dengan kulitnya. Kuremas tangan dalam genggaman Arga. Memberi sinyal bahwa aku sedang menyaksikan sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya. Berharap dirinya bisa ikut melihat juga. Sayangnya bibirku langsung terasa terkunci sehingga tidak bisa memberitahunya lewat kata. Dengan kaki yang mulai terasa lemas dan gemetar aku masih memandang bayangan wajah dalam wajah Indra. Awalnya bayangan wajah itu menyapukan pandangannya ke mana-mana, tidak tertuju pada siapa pun. Tiba-tiba, tatapannya sampai padaku dan seringainya menjadi kian lebar, seperti sengaja menunjukkan barisan geliginya yang besar. Sontak membuatku bergidik. Rasa takut luar biasa seketika menyergap, bahkan nyaris terpekik. Kulepaskan genggaman tangan Arga yang rasanya akan menjadi satu-satunya hambatan untuk dapat berekspresi. Kemudian memutuskan untuk berlari secepat mungkin. Reaksi tinggiku diikuti Arga yang ikut berlari mengejar.  “Danila! Stop!” pintanya.                                                                                                      Tidak aku gubris. Aku terus saja berlari menuju pondokkan kami. Langkah suamiku yang lebar mampu mendapatkanku dengan cepat. “Danila berhenti, jalan seperti biasa, bahaya berlari kalau kamu benar hamil!” perintahnya tegas kali ini sambil mencekal sebelah tanganku. Saat itu, tubuhku dalam gemetar hebat dan peluh langsung membanjir. Arga memelukku erat, seperti ingin menghentikan gemetar itu. Akan tetapi, justru membuatku jatuh terkulai akibat rasa lemas yang ditimbulkan oleh rasa takutku. Sigap dirinya menggendongku hingga tiba di pondok dan segera merebahkanku di ranjang. Tidak lupa pula untuk menyelimuti. “Tenang, Sayang! Aku di sini, aku di sini!” Seperti pagi tadi, dia mengulang kata yang sama untuk membuatku menjadi lebih tenang.   Arga menatap penuh tanda tanya saat langkah Tammi dan Arshi akhirnya menyusul. “Kamu lihat apa, Nil? Kamu harus cerita!” pinta Arshi tidak tanpa rasa sungkan pada Arga yang sebelumnya jelas menentang. Meski tidak berani bertanya, tetapi wajah Arga terlihat seperti memintaku untuk bercerita pada akhirnya. “Aku mau cerita,” kataku sambil menahan gigil ketakutan.   Dengan wajah serius mereka mendengarkan. Satu demi satu cerita tentang kejanggalan pada penglihatanku lolos dari mulut. Kernyit di dahi ketiganya seperti terukir permanen pada akhir cerita. “Aku beneran lihat, Ga. Itu bukan halusinasi. Bukan karena kelelahan. Aku sendiri gak tahu, itu apa. Aku belum pernah lihat sebelumnya,” ucapku menutup cerita. Air mata membanjir meski berulang kali kuusap dengan tisu yang disodorkan Tammi. “Bener kali, kata Bu Rohana, orang hamil sering diganggu,” ujar Tammi sambil celingukan memandang ke sudut-sudut pondok, membuatku bertambah ketakutan. Arga menarikku dalam dekapnya. Sementara Arshi sepertinya mengingatkan Tammi agar tidak bicara sembarang, agar aku tidak merasa lebih tertekan atau ketakutan. Usai menenangkanku Arga pun bertanya pada Arshi. “Gimana, Shi? Kita pulang sekarang?” Arshi tidak langsung menjawab pertanyaan Arga. Tergambar jelas kebimbangannya. Dia segera melempar pandangan pada Tammi. Kedua adik iparku itu sempat saling pandang. Dalam hati aku bersumpah, tidak ingin mengacaukan acara bulan madu mereka. Akan tetapi, untuk bertahan dua hari lagi di sini, aku tidak akan sanggup. Apalagi dengan adanya dugaan kalau kondisiku hamil muda. “Kita pulang aja Bang Arshi,” pinta Tammi seperti memberi penguatan pada Arshi agar tidak ragu memutuskan untuk menangguhkan acara bulan madu mereka. Akhirnya Arshi mengangguk tegas. “Hm, ok, kalau gitu kita batalkan semua acara hari ini, check out langsung, dan sekalian pesan peharu ke Mandeh.” “Thanks, Shi. Sorry kalau honeymoon kalian jadi berantakan,” sambut Arga tak lupa berterima kasih. “Ah, santai, Ga. Kasihan Danila, tuh,” sahut Arshi. “Nil, kamu tunggu di sini, ya! Tam, aku titip Danila,” pesan Arga. Aku dan Tammi mengangguk. Arga dan Arshi pun segera bergegas ke tempat reservasi untuk membatalkan rencana menginap selama tiga hari.   **WMB** Part 9. Nyaris Terkecoh   Sepeninggal Arga dan Arshi terasa begitu sepi. Berdua Tammi hanya duduk terdiam di ranjang. Aku memang belum bisa berpikir lebih jernih. Dalam kesendirian masih terus meraba-raba mengenali hal ganjil yang terjadi. Di samping rasa lega telah menceritakan kejanggalan itu, tubuhku cenderung lemas, seperti telah menghabiskan banyak tenaga. “Kak Nila, Tammi buatkan teh, ya, biar lebih tenang.” Tammi menawarkan padaku. Aku hanya menoleh ke arah Tammi. Belum sempat memberi jawaban. Namun, dia segera bergegas melaksanakan niatnya untuk membuatkan teh untukku. Sementara memanaskan air di dalam boiler, aku melihat dirinya sibuk membolak-balik kotak kecil tempat teh. “Teh melatinya habis, Kak?” tanya Tammi setelah sekian lama memilih bungkusan teh yang tersedia di dekat teko pemanas air. “Iya, tadi pagi aku habiskan untuk kita minum semua.” “Di pondokku masih ada, kayaknya. Sebentar, Tammi ambilkan, ya,” katanya langsung bergegas pergi dengan lincah, sebelum aku memberikan persetujuan. Mendadak aku jadi sendiri. Rasa takut terbit tanpa bisa kutahan. Dalam waktu beberapa jenak tubuh ini menjadi kaku, sulit rasanya untuk bergerak. Perasaan tidak ingin sendiri begitu kuat. Sayangnya, diriku terlalu lemas jika hendak menyusul Tammi. Kuputuskan untuk menelpon Arga, berharap mendengar suaranya akan cukup membuatku tenang. “Ada apa, Sayang?” tanya bernada panik darinya segera kudengar sebelum sempat memberi salam. “Gak ada apa-apa, Ga. Aku cuma mau dengar suara kamu aja.” “Tammi, di mana?” “Sedang buat teh.” “Oke.” Hening sejenak. Terdengar Arga sambil berbicara dengan seseorang yang mungkin pegawai pondok. “Ada yang kamu mau dari restoran, Sayang? Aku lihat di sini ada roti isi, nih. Tadi kamu gak makan bagus waktu di rumah Bu Rohana, `kan. Mau gak?” “Belikan aku roti coklat, ya, Ga.” “Oke. Ada lagi yang kamu mau selain rasa coklat?” “Sarikaya, ada gak, Ga?” “Sebentar, aku carikan.” Senyap sebentar. Aku dengar Arga bertanya dengan pegawai pondok. Meski tidak bicara denganku, rasanya tenang karena tetap mendengar suaranya. Kuisi kesendirian sekejap itu dengan membayangkannya. “Sayang!” “Ya.” “Kamu mau rotinya, sekarang?” “Nanti saja, Ga.” “Gak apa-apa kalau mau sekarang, aku bisa antar lalu balik lagi. Di sini ngantri soalnya, ada banyak tamu yang sedang reservasi. Biar Arshi yang antri, aku bisa antar roti ini ke kamu sekarang.” “Gak, usah, Ga. Nanti aja.” Aku bersikeras menolak karena tidak ingin merepotkannya. “Duh, Ga, kayaknya bakal lama nih, ngantrinya.” Tiba-tiba terdengar suara Arshi memotong pembicaraan kami. “Ya, sabar, aja, Shi! Kalau kita tinggal nanti malah tambah lama.” Arga menyahuti perkataan Arshi. Kemudian sunyi lagi. “Sayang, kamu masih di situ?” “Ya, Ga.” “Kalau gitu sabar, ya. Jangan lupa kunci pintu. Jangan buka, kalau bukan aku atau Arshi yang datang.” “Ya, Ga,” sahutku patuh, padahal dalam hati aku ingin berkata, makhluk astral gak perlu pintu untuk masuk. “Tammi, ngapain, Nil?” terdengar lagi suara Arshi. Kali ini dia bicara denganku. Sepertinya, Arga bicara dengan membuka mode pengeras suara, atau ponselnya diambil alih Arshi. “Sedang buat teh,” sahutku. “Bilangin, jangan ke mana-mana, sebelum aku balik!” pesan Arshi. “O-oke,” jawabku tergagap mengingat Tammi pergi ke pondok mereka, “Aku tutup dulu, Shi.” Segera aku tutup, kemudian menelpon Tammi. Panggilan tersambung, tetapi tidak diangkat sampai tenggat waktu dering terputus dengan sendirinya. Aku coba memanggil lagi, kejadian pertama terulang. Aku mulai sedikit gemetar. Rasa cemas drastis meningkat. Usahaku memanggil Tammi yang ketiga kali, akhirnya berhasil. Panggilanku diterima olehnya. “Halo, Kak Nila! Maaf, ya, kalau kelamaan. Ini nih … Bang Arshi pulang minta dipijitin, badannya pegel,” ceritanya. Aku terperanjat. Mendengar hal itu spontan seluruh tubuh kembali gemetar hebat, hingga ponsel yang aku pegang jatuh ke tempat tidur. Efek pembalan pada kasur malah membuat ponsel memantul lalu jatuh meluncur ke lantai. Untuk beberapa saat aku tersibukkan dengan usaha mengambil ponsel itu kembali. ‘Sial,’ aku sempat mengumpat dalam hati. “Kak Nila …!” panggil Tammi sekali terdengar karena aku membuka pengeras suaranya. “Tammi, itu bukan Arshi.” Kuteriakkan kata itu. Aku memberitahunya segera karena semenit yang lalu, baru bicara dengan Arshi yang sedang berada di lobi pondokan bersama Arga. ‘Tidak mungkin Arshi yang bersama Tammi sekarang,’ ujar benakku. Sayang sekali, setelah aku berhasil mengambil kembali ponsel yang sempat terjatuh, ternyata Tammi sudah menutup ponselnya. Rasa takut pun total kembali menguasaiku. Gemetar seluruh tubuh tidak lagi tertahankan walau sebentar. Namun, aku harus menyelamatkan Tammi. Jangan sampai dirinya menjadi mangsa makhluk gaib yang mungkin menginginkan tubuhnya. Sebelumnya aku sempatkan untuk kembali menelpon Arga. “Ya, Sayang?” sambut Arga. Aku hanya meneriakkan satu kata perintah, “Pulang!” Kututup ponsel. Setelah itu, pergi ke pondokkan Tammi dengan langkah yang terasa tidak menjejak.  Aku terhuyung-huyung dan rasanya melayang-layang akibat gemetar yang hebat. Tiba di depan pondokkan Tammi, aku segera menggedor pintunya. Beruntung, sebelumnya terlintas untuk tidak berhenti membacakan ayat kursi dalam benak. Kali ini k****a dengan sepenuh kepercayaan dan hati yang berserah.   “Buka!” pekikku dengan suara parau setelah itu. Tak ada sahutan. Hal itu membuatku semakin ketakutan. Sekali lagi aku menggedor pintu dengan sekuat tenaga yang kuinginkan, tetapi ternyata aku terlalu lemas. Sendi-sendi terasa tidak solid untuk melakukan itu. “Buka!” Kali ini aku menyergah geram. Ya, selain takut, timbul pula rasa geram. Belum ada juga jawaban. Rasanya aku ingin sekali putus asa, mendadak tidak dapat bertahan untuk tetap berdiri. Seiring melorotnya tubuhku yang semakin lemas di depan pintu pondokkan Tammi dan Arshi. Kusempatkan sekali lagi untuk menyergahkan satu kata yang sama. “Buka!” Dalam keadaan bersimpuh, pandanganku yang beredar sebentar menyapu jalanan, menangkap sosok Arga dan Arshi yang sedang berlarian mendekat. Aku berharap mataku kali ini tidak salah mengenali. Berharap yang datang itu benar-benar mereka. “Danila!” panggil Arga begitu tiba. Sigap suamiku mengangkat tubuh ini dalam gendongannya.  Sementara itu, Arshi segera membuka pintu pondokkannya dengan kunci yang ada padanya. Seperti tepat pada detik yang sama, dari dalam pondokkan Tammi juga melakukan hal yang sama, membuka pintu. Tammi keluar dengan mulut ternganga dan mata membeliak. Dia terkesiap ketika mendapati Arshi di hadapannya. Sejurus kemudian kepalanya menoleh ke arah ranjang di dalam pondok. Kami semua menyaksikan tidak ada siapa-siapa dan apa-apa di sana. Wajahnya langsung pias, pun yang lainnya. Setelah itu, dia menghambur ke pelukan Arshi, menangis ketakutan sejadi-jadinya. Hikmah dari kejadian itu, baik Arga mau pun Arshi, sudah tidak dapat menampik lagi. Bukan hanya aku yang melihat, tetapi juga Tammi, meski makhluk astral itu datang menyerupai Arshi. Namun, yang membuatku tidak habis pikir, kenapa dia menunjukkan rupa aslinya padaku, tetapi tidak pada Tammi. “Ga, pulang!” pintaku lirih di telinganya. “Iya, Sayang. Kita pulang,” sahutnya tegas sambil menggendongku ke pondok setelah mengintruksikan pada Arshi, agar segera mengemasi barang bawaan masing-masing. Arga mendudukkanku di ranjang. Sementara dia sibuk memasukkan semua barang bawaan kami ke dalam tas ransel. Hingga yakin tidak ada yang tertinggal, dia baru menghampiriku kembali. “Oke, sudah beres,” gumamnya sambil celingukkan melihat ke sana ke mari untuk memastikan semuanya sudah dimasukkan dalam ransel. Arga sengaja berlutut untuk menyejajari tinggiku yang duduk di pinggir ranjang. “Sayang, jangan takut, ya! Aku gak akan ninggalin kamu lagi. Kita akan segera pulang sekarang. Kamu dan Tammi mau tetap di sini atau mau ikut ngantri di lobi?” Mendengar pertanyaan Arga, terpaksa membuatku berpikir. “Aku gak mau menjadi pusat perhatian orang, Ga. Lihat aku! Kayak orang gak normal gini,” sungutku sedih. Sejurus tangan lelakiku mengusap mata yang sembab, wajah yang pucat, dan bibirku yang berbayang biru tanpa perona. “Sebenarnya merasa berat meninggalkan kamu di pondok walau dengan Tammi dan Arshi,” ungkapnya setelah itu. “Kupikir, Arshi pun tidak akan meninggalkan Tammi lagi.” Sebentar menjadi hening. “Sebenarnya hanya ada satu pilihan, Sayang. Kita bersama-sama ke lobi.” “Ga, aku gak mau jadi tontonan banyak orang! Makhluk itu juga datang sekehendaknya saja. Bisa-bisa aku teriak dan pingsan di sana.” Mendengar jawabanku Arga mengempaskan embusan napasnya, sejurus berdiri lalu duduk di sampingku.   **WMB** Marsa Matruh, 01092021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN