Part 7. Mencari Tempat Aman

2780 Kata
            Mencari tempat aman saat ini, adalah hal tersulit menurutku karena apa yang dihindari tidak kasat mata. Kapan saja dan di mana saja makhluk itu bisa datang menghantui. Saat sempit itu aku berusaha meraba kecendrungan hati. Ikut ke lobi atau menunggu di pondok lagi. “Iya, sih, Nil. Nanti orang-orang yang gak ada masalah sama sepertimu, malah jadi takut dan kita mengacaukan liburan mereka. Tapi ….” Ucapan Arga yang menggantung menunjukkan keragu-raguannya. “Kenapa, Ga?” “Itu jalan satu-satunya supaya kita semua tetap bersama dalam keadaan aman.” Sambil merangkul lelaki berhidung bangir bermata dalam itu mengungkap pikirannya. Aku memilih hening, membuat kami berdua dalam senyap sesaat. Arga merapatkan rangkulan sebelah tangan. Aku sempat menengadah sebentar untuk melihat wajahnya, sekadar memastikan dia benar-benar suamiku. Seperti mengerti apa yang aku pikirkan, Arga tersenyum tipis lalu mengusap kepala dengan sebelah tangannya yang lain, kemudian mengecup dahiku dalam-dalam. “Ini benar-benar aku, Sayang! Jangan takut! Kamu tidak akan aku tinggalkan lagi.” Kalimat itu terdengar seperti janji, membuat tanganku yang sedari tadi terkulai lemas dan gemetar mampu meremas lembut pangkuannya. Sebagai ganti ungkapan diriku percaya dengannya. “Bagaimana kalau menumpang di rumah Bu Rohana aja, Ga,” kataku akhirnya ketika ide itu melintas di kepala.   Arga melepas rangkulan, kemudian menatapku dengan bersit tidak mengerti. “Kamu yakin mau menunggu di sana?”  tanyanya bernada tidak yakin. Aku mengangguk pasti. “Beliau sepertinya banyak tau, Ga. Sekalian pingin tanya, kenapa aku bisa begini.” Kuungkap alasan kedua yang tiba-tiba muncul. “Aku kurang suka beliau, Nil. Bisa jadi kata-katanya hanya sebatas asumsi.” Tepat di ujung pernyataannya, terdengar Arshi memberi salam sembari mengetuk pintu pondok. Adik ipar lelakiku itu menyambangi kami ternyata tidak sendiri. Ada Bang Samsul, pemandu wisata bersamanya. “Ga!” Sapa Arshi dengan wajah serius. “Sorry, kalau gue obrolin apa yang terjadi dengan Danila dan Tammi sama Bang Samsul,” sambungnya. Pada awalnya suamiku menunjukkan sikap tidak senang. Wajahnya berubah masam. “Tunggu, lu dengar cerita Bang Samsul dulu!” pinta Arshi seketika merubah wajah masam Arga. Tatapan serius Arshi pun menular pada abangnya saat menoleh Bang Samsul. Sekilas lelaki gemuk berambut tipis itu sempat menatap ke arahku. Dia mengangguk takzim sebelum kembali mengalihkan perhatiannya pada Arga dan Arshi. Sementara Tammi masuk dan duduk di sebelahku. Wajahnya masih tidak seceria biasanya. “Bang Arga!” sapanya bernada serius, seperti untuk mengumpulkan perhatian sebelum mengawali penjelasannya. “Kejadian seperti ini sebenarnya pernah terjadi beberapa kali. Hal lumrah terjadi pada pengunjung pantai yang tidak memiliki kekuatan batin atau sedang hamil muda. Tapi, gak usah khawatir, karena tempat ini ada pawangnya. Saya akan antarkan kalian ke sana, supaya Kak Danila dibentengi olehnya.” “Dibentengi? Dengan Siapa, Bang?” Arga langsung memburu rasa ingin tahunya dengan pertanyaan. “Pak Royan.” “Siapa beliau?” “Bapaknya Husin dan Firdaus. Mereka yang saya rekomendasikan untuk mengajari kalian memancing, `kan?” Wajah serius Arga spontan berubah mengernyit. Kedua tangannya menyilang di depan d**a sekarang dengan mata memicing. “Apa mengusir setan juga menjadi bisnis keluarga itu, Bang Samsul?” Pertanyaan bernada curiga meluncur dari mulut suamiku. Sepertinya dia memang belum benar-benar yakin kalau aku bisa melihat hal yang selama ini tidak bisa aku saksikan. Juga menunjukkan sikap dirinya tidak mudah percaya pada sembarang orang. Akibat pertanyaan Arga, wajah bersahabat Bang Sambul berubah menegang, pun Arshi. Akan tetapi, Arshi tidak berkata apa-apa. “Namanya wisata alam bebas, Bang. Kami di sini sudah bersiap jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pengunjung. Hal itu, `kan, sama dengan memberi kenyamanan pada setiap pengunjung,” tutur Bang Samsul terdengar sangat masuk akal dan santai. Akan tetapi, Arga sepertinya masih sulit untuk percaya. Beberapa jenak menjadi hening. Masing-masing bergeming. Aku khawatir jika Arga memutuskan untuk tidak ke rumah Bu Rohana. Aku juga takut jika berujung dengan terjadi perselisihan antara Arga dan Arshi. Terlihat jelas keduanya memiliki pandangan yang yang berbeda, Arshi sepertinya dapat mudah percaya sementara Arga tidak.   “Sayang!” panggilku. Wajahnya segera memaling ke arahku. “Aku mau ke kamar mandi. Temenin, Ga!” Perlahan aku bangkit dari ranjang. Sigap Arga membantu hingga tiba di kamar mandi. Sebenarnya aku tidak bermaksud menggunakan fasilitas kamar mandi, melainkan bertujuan bicara untuk meyakinkan suamiku itu. Sengaja bicara di kamar mandi agar tidak mempertontonkan pada yang lain, ketika aku tidak sepaham dengannya. Kesigapan Arga menandakan dirinya paham maksudku.    “Ga!” “Ya, Sayang. Kamu mau bilang apa?”  “Kamu boleh merasa tidak percaya dengan orang lain. Tapi, Ga. Hal aneh itu benar-benar terjadi denganku. Aku gak berpura-pura. Aku pun bukan satu di antara kaki tangan orang yang mengatur fasilitas keamanan pondok dan tempat wisata ini, Sayang.” “Nil, aku bukan tidak percaya dengan kamu. Hanya saja aku gak mau keadaan kamu yang butuh bantuan dimanfaatkan oleh orang yang mencari kesempatan. Kamu gak lihat kalau tawaran Bang Samsul itu hanya akal-akalannya saja?” Sebentar kami beradu pandang. Suamiku itu belum membuat keputusan yang memihak keinginanku.   “Aku pikir di sana akan lebih aman, Sayang,” kataku untuk dapat mempengaruhi pikirannya. “Kalau dalam hal seperti ini, semua tempat bisa aman dan semua tempat bisa tidak aman,” sahutnya cepat. Apa yang dikatakan Arga benar. Sebenarnya tidak mungkin aku bantah apalagi selisihi. Namun, ada kecendrungan yang timbul di hati, firasat yang datang begitu saja menyatakan kalau lebih baik di sana. “Hatiku cenderung mempercayai keluarga itu, Ga. Walau alasannya mungkin tidak dapat kamu terima, karena hanya berdasarkan kecenderungan hatiku saja. Aku ingin ke rumah Bu Rohana,” tegasku untuk membulatkan keputusannya dan tidak menawar lagi. Usai mendengar penuturanku, Arga mengatupkan mulutnya dengan bibir menguncup, seperti sedang berpikir keras dan menimbang-nimbang. Tatapannya menajam dengan kernyit di antara alis. Berakhir dengan helaan napasnya yang panjang lalu diembuskan dengan cara diempas. “Baiklah,” sahutnya menyetujui ideku. Sebentar dirinya meraihku dalam dekapannya. Setelah mengecup pucuk kepala, dia bergegas akan keluar kamar mandi. “Setelah selesai mengurus check out dari pondok, kita segera pergi dari sini, hari ini juga, ya, Ga!” pintaku sebelum mengikuti langkahnya. Lelakiku itu tidak langsung menyahut. Langkahnya terhenti dan segera menoleh dengan tatap mata membersitkan ketidakyakinan, seperti takut tidak dapat menyanggupi. “Walaupun harus naik perahu malam hari, Nil?” tanyanya. Aku menelan saliva. Itu memang pertanyaan sulit. Aku juga tidak ingin melintasi hutan mangrove di malam hari. Namun, entah apalagi yang lebih menakutkan dari pada mengundang bahaya datang, lalu menghampiri salah satu di antara kami. Akhirnya aku mengangguk, untuk menjawab pertanyaan suamiku tadi. Saatnya tonjolan di tengah leher Arga yang kulihat turun naik. Seperti menelan saliva ketakutannya pula. Tangan lelakiku terangsur untuk kembali menuntun keluar kamar mandi. Kami segera bergabung kembali dengan Arshi, Tammi, dan Bang Samsul. “Bang Samsul sudah pergi, Ga.” Arshi menyambut kami dengan berita itu, membuat langkah Arga terhenti sejenak. Ternyata Bang Samsul sudah pamit pergi. Kuharap si pemandu wisata itu tidak pergi karena merasa tersinggung telah dicurigai Arga. “Dia ngomong apa lagi ke elu?” tanya Arga pada adik lelakinya itu. “Sebelum pergi, Bang Samsul menyarankan kita ketemu Pak Royan, suaminya Bu Rohana. Keputusan ada di tangan kita, Ga. Bang Samsul tidak memaksa,” sahut Arshi cepat sambil mendekati Tammi yang duduk diam saja di pinggir ranjang. “Istriku cenderung mempercayai keluarga itu, dan ingin menunggu di sana selama kita mengurus check out dari pondok dan mencari perahu,” ujar Arga, seperti sengaja menyatakan kalau hal itu adalah keinginanku yang diturutinya. “Ya udah, ayo berangkat! Kita jangan buang-buang waktu lagi!” Arshi segera berdiri dan menyandang ranselnya. Tammi yang masih kehilangan keceriaan sontak berdiri untuk menghampiri suaminya. Rasa takut membayang terus-menerus di roman wajahnya. Sementara itu, aku dan Arga pun sama-sama bergegas. “Aku harap antrian orang yang pesan pondok tadi sudah selesai sekarang,” ujar suamiku setelah mengunci pintu pondok yang akan segera kami tinggalkan. Di depanku Arshi sedang berpesan tegas pada Tammi, “Ingat! Jangan pergi ke mana-mana lagi! Kamu tetap bersama Danila, selama aku di lobi nanti!” Tidak terdengar sahutan dari Tammi. Sedari tadi perempuan manis itu menjadi berubah pendiam. Aku pikir dia sangat terpukul dengan kejadian yang dialami sebelumnya sehingga selama perjalanan dirinya tak sanggup mengucapkan sepatah kata. **WMB**             Perjalanan menuju rumah Bu Rohana yang keluar dari area pondokan dan melewati alam bebas, kami isi dengan diam. Meski hanya memakan waktu tidak lebih dari dua puluh menit, tetapi terasa begitu lama. Dengan tangan tetap saling bergandengan dengan Arga, aku melangkah hati-hati. Aku memilih menunduk sepanjang perjalanan karena tidak ingin sekonyong-konyong menangkap suatu penglihatan yang tidak diharapkan. Tidak tahu yang lain sedang memikirkan apa, tetapi dalam diriku timbul usaha untuk tetap fokus dan membentengi diri dengan cara menzikirkan ayat kursi di dalam hati, ‘allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa'u 'indahū illā bi`iżnih, ya'lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min 'ilmihī illā bimā syā`, wasi'a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-'aliyyul-'aẓīm.’ Saat kami tiba di rumah dua anak lelaki penduduk asal pulau Kapo-kapo itu, sekali lagi disambut dengan gembira. Bu Rohana juga menyambutku dengan senyum ramah, menandakan kelapangan hatinya. “Mari masuk, jangan sungkan-sungkan!” Begitu ajaknya setelah kami saling memberi salam. Di pukul tiga menjelang sore itu, ternyata seluruh anggota keluarga sedang berada di rumah semua, termasuk Pak Royan. Mataku segera mengenalinya ketika saling berhadapan. Pak Royan terlihat begitu religius dengan jenggot dan peci yang melekat di kepala. Beliau ternyata hanya seorang nelayan yang biasa pergi melaut di malam hari. Pada pagi sampai siang hari, biasanya bapak dari dua anak itu masih beristirahat. Pantas siang tadi kami tidak bertemu dengannya. Entah mengapa, kekerasan hati Arga yang sempat terbaca olehku tiba-tiba memudar ketika bertemu dengan Pak Royan. Sosok sederhana bermata teduh dan bersikap tenang itu seperti menghipnotisnya. Suasana ramah dan kekeluargaan langsung tercipta. Bahkan sesi perkenalan dengan Pak Royan, terasa seperti baru bertemu dengan kerabat lama saja. “Kenapa mau buru-buru pulang, Bang?” tanya Pak Royan ringan setelah Arga menyatakan kami akan pulang ke Jakarta. Entah pada Arga atau Arshi pertanyaan itu dilontarkan. Namun, sigap Bu Rohana yang menjawab. “Kayaknya, istrinya Bang Arga ini lagi hamil, Pak. Jadi diisengin.” Kami berempat saling pandang. Kemungkinan besar informasi yang diberikan Bu Rohana benar dan sederhana penyampaiannya. Jika aku yang harus menjawab, pasti akan kesulitan mencari kata yang tepat. Arga, Arshi, dan Tammi pun merasa tidak perlu menjelaskan ulang. Sepertinya jawaban Bu Rohana sudah sangat mewakili semua yang terjadi. “Oh …,” Begitu tanggapan Pak Royan, seperti terlihat begitu hirau. “Kalau perlu diantar ke Mandeh, nanti sama saya saja.” Arga dan Arshi terlihat begitu lega mendengar tawaran itu. Artinya mereka tidak perlu lagi mencari-cari perahu bermotor yang akan berangkat ke Mandeh di luar jadwal biasa. “Oke, Pak. Berarti untuk transportasi ke Mandeh saya deal sama Bapak saja, jadi gak perlu cari-cari lagi. Tapi, sebelumnya kami mau membatalkan penyewaan kamar pondok dulu. Setelah itu kita baru berangkat pulang.” Arga menjelaskan keinginannya dengan tegas. “Oh, baik. Tidak masalah jika berangkat sedikit lebih sore.”  “Sebelumnya saya mau titip istri saya menunggu di sini, Pak,” pinta Arga. “Istri saya, juga Pak,” timpal Arshi. “Silakan-silakan, gak masalah. Ada istri saya di sini yang akan menemani mereka,” sahutnya ramah dengan tangan membentang sekejap. Arga segera menghampiriku, sementara Arshi juga sedang menyampaikan sesuatu pada Tammi. “Sayang, aku pergi sebentar, ya! Kamu baik-baik di sini, dan jangan lupa salat. Kamu belum salat, `kan?” Aku mengangguk, memang tadi belum sempat mengerjakan ibadah wajib itu. “Aku dan Arshi tadi sudah salat di musala restoran,” katanya, agar aku tidak khawatir tentangnya. Sebentar mata lelakiku yang bernetra coklat terang itu menatap lekat, seperti tidak rela untuk berpisah, mungkin karena rasa khawatir. Kedua tangannya meraihku dalam pelukan erat lalu dilanjutkannya dengan mencium dahiku dalam-dalam. “Tunggu aku di sini, ya!” katanya sekali lagi dengan nada suara sangat ditekan. Aku mengangguk. Jenak berikutnya Arga dan Arshi segera beranjak pergi, setelah sekali lagi mengulang berpamitan dengan Pak Royan dan Bu Rohana. Di awal kedatangan kami, rumah panggung dari papan khas pinggir pantai yang tidak seberapa besar itu terasa ramai. Menjadi lengang setelah Arga dan Arshi beranjak. Untuk sesaat aku merasakan seperti ada sesuatu yang lepas dari diri sehingga membuat hatiku nelangsa. Dari jendela rumah Pak Royan kupandangi punggung Arga yang tiap detik kian menjauh. Sebait doa terucap begitu saja dalam benak, ‘Semoga Arga dan Arshi baik-baik saja dalam perjalanan dan cepat kembali dalam keadaan selamat.’ Husin dan Firdaus sedari tadi ada bersama dalam satu ruangan. Akan tetapi, tidak ikut bicara. Setelah Arga dan Arshi pergi, akhirnya keduanya menyapaku dan Tammi. Terlihat sekali hormat mereka pada kedua orang tuanya. Saat ada tamu tidak menyerobot bicara dengan para tamu, menandakan kalau keduanya diajarkan sopan-santun yang baik. “Kak Nila dan Kak Tammi mau salat?” tanya Husin. Aku mengangguk. Entah dari mana remaja tanggung itu tahu aku dan Tammi belum menunaikan salat. ‘Mungkin karena mendengar kata-kata Arga tadi,’ pikirku. “Penuhi air tempayan, Sin!” perintah Pak Royan terdengar setelah itu. Husin pun pergi dengan langkah sigap. Dari pintu tengah yang menjadi penghubung ruang tamu dan dapur, kulihat Husin mondar-mandir. Dia memikul dua ember di bahu dengan bantuan tongkat berkait. Sementara itu, yang lain juga bergegas mengerjakan sesuatu untuk membuatku dan Tammi merasa nyaman berada di rumah kecil mereka. Bu Rohana pergi ke dapur, entah apa yang dilakukannya. Pak Royan yang sedianya mungkin akan menambal jala, segera menyingkir ke sudut ruangan yang sedikit lega. Firdaus siap di sudut itu dengan kait yang digunakan untuk memperbaiki jala yang rusak. Berdua mereka mengerjakannya. Setelah Husin selesai memenuhi tempayan air di kamar mandi tradisional mereka, aku dan Tammi bergantian bersih-bersih dan berwudu. Seperti pesan Arga, aku segera menunaikan salat Zuhur dan Ashar, disingkat dan dipadatkan karena dalam keadaan musafir. Lega. Ada perasaan damai yang menelusup hatiku setelah mengerjakannya. Sayangnya, ternyata Tammi tidak dapat menunaikan kewajiban itu, dengan alasan tiba-tiba datang bulan. “Aku gak bisa salat, Kak.” Begitu ucapnya setelah aku selesai dan seharusnya dirinya mengambil giliran. “Kenapa, Tam?” tanyaku sedikit merasa heran. Tammi hanya tersenyum. “Periode bulanan?” Tammi kembali tersenyum. Dia terlihat sedikit asing di mataku karena menjadi terlalu pendiam. Usai memperhatikan istri adik iparku itu, perhatianku segera tersita oleh Bu Rohana. Tak disangka, ternyata Bu Rohana membuatkan kudapan sederhana selama di dapur. Beliau datang dengan baki berisi pisang gorang tanpa balutan tepung dan teh manis panas. Bahkan sempat juga menawari untuk makan lagi, karena beliau tahu siang tadi aku tidak makan banyak. Namun, aku menolak karena tidak ada selera. Melihat Bu Rohana duduk di ruang tamu bersama kami, barulah Pak Royan meninggalkan kegiatannya menambal jarring bersama Firdaus. Husein segera menggantikan posisi ayahnya itu, menambal jala yang sobek. Sementara itu, Pak Royan berdua Bu Rohana duduk di sofa panjang menemani aku dan Tammi. Dari sikapnya, aku tahu kalau lelaki dengan umur berkisar empat puluh tahun itu, sangat menjaga adab dengan lawan jenis. Perbincangan dengan topik umum sebentar terjadi, membuatku semakin merasa nyaman bersama mereka. Lapar yang menggerogoti perut baru terasa hingga membuatku terdorong menikmati pisang goreng olahan tangan Bu Rohana. Perempuan sederhana pasangan hidup Pak Royan itu tersenyum padaku. Sepertinya beliau tahu aku baru bisa merasakan lapar setelah rasa ketakutan pergi. Sayangnya rasa takutku terbongkar sesaat setelah Pak Royan berkata, “Kalau yang baju hitam itu, sebenarnya dia tidak mengganggu, Kak Nila.” Sontak membuat selera makanku hilang lagi. Buru-buru kutelan sepotong pisang goreng yang ada dalam mulut tanpa dikunyah, hingga membuatku tersedak. Untung Tammi sigap memukul punggungku, hingga potongan pisang itu bisa lolos dari tenggorokan dan keluar kembali. “Bapak, jangan cerita itu dulu!” ucap Bu Rohana pada Pak Royan terdengar sedikit keras.             “Cuma memberitahu, Bu. Supaya Kak Nila dan Kak Tammi tidak takut,” sahutnya dengan nada suara begitu menyejukkan. “Tapi, jadi malah ketakutan, tuh. Kak Nila jadi gak bisa makan lagi.” Sebelah tangan perempuan gempal bersongkok itu segera mengangsurkan serbet untuk melap mulutku.             “Gak ada yang perlu kita takutkan, Kak Nila. Mestinya makhluk-makhluk gaib itu yang takut dengan kita. Manusia `kan, makhluk yang diciptakan Allah paling sempurna. Takut itu, jika kita lupa pada siapa kita harus menggantungkan seluruh harapan dan mengharapkan perlindungan,” jelas Pak Royan dengan bahasa sederhana.             Ucapan Pak Royan itu sangat mengena, aku harus mengingat hal itu untuk memompa keberanian, pikirku dalam hati. Luasnya pengetahuan Pak Royan membuatku terhibur. Kupikir, dia benar-benar memang bukan orang sembarangan.             Setelah itu, cepat kuseruput teh buatan Bu Rohanan yang mulai menjadi dingin. Rasanya manis sekali, seperti sengaja dibuat seperti itu untuk membuat lupa pahitnya pengalaman hari ini. Usai meminum teh, entah kenapa aku jadi memiliki sedikit keberanian untuk mengetahui hal-hal aneh yang aku alami.             “Bapak, bisa melihat mereka?” tanyaku hati-hati pada Pak Royan.   **WMB** Giza, 06092021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN