Pak Royan tidak langsung menjawab. Beliau tersenyum tipis sebelum berucap, “Sedikit, tidak tiap hari. Hanya sosok yang hitam itu saja sering terlihat. Kadang dia ikut di perahu pelancong, terkadang seperti ikut berjaga di tempat-tempat tertentu, cuma untuk ikut menemani, dan tidak mau mengganggu.”
Apa yang diceritakan Pak Royan sangat cocok dengan apa yang tampak olehku. Ingatan tentang sesosok berbaju hitam yang naik perahu saat melintas hutan mangrove terpanggil. Sosok itu juga muncul di sudut pondok pagi tadi, bahkan ada juga saat acara memancing gurita bersama. Namun, sosok itu memang tidak berbuat apa-apa. Kesan yang dapat aku simpulkan pun akhirnya tergiring sama dengan apa yang disimpulkan Pak Royan. Makhluk yang satu itu tidak jahat dan tidak berniat mengganggu dengan kemunculannya.
Suasana menjadi hening sejenak. Dalam masa mengobrol tadi kuingat Pak Royang sesekali melirik tajam ke arah Tammi yang duduk terdiam saja. Sementara itu, Tammi tidak menunjukkan antusias untuk mengetahui apa pun yang di katakan Pak Royan. Lewat masa hening sekonyong-konyong Tammi bertanya, “Selain itu, Bapak bisa lihat apa lagi, Pak?” Nada bicaranya seperti menguji.
“Kurang tahu, ya, tapi … dalam kepercayaan kita sebagai muslim, mereka itu `kan memang ada, dengan tugasnya yang masing-masing. Bisa saja ada jin yang sengaja datang ke sini untuk merasuki, numpang badan manusia, atau mencari inang yang cocok. Atau dapat tugas dari iblis untuk memecah hubungan suami istri yang baru mau mulai menyempurnakan ibadahnya, karena yang datang ke sini, untuk bulan madu itu, banyak,” tutur Pak Royan panjang dan gamlang dengan nada bersahabat.
“Iya, Kak. Mereka semua, ya, sebangsa jin. Itu yang wajib kita percayai,” tambah Bu Rohana.
“Kalau ruh gentayangan?” Tammi bertanya semakin menjurus pada hal mistik. Herannya ada segaris senyum tipis yang muncul di bibirnya saat memandang ke arahku. Sikapnya bertolak belakang dengan sebelumnya.
“Hmm, Islam tidak mempercayai hal itu. Semua itu tipu daya jin. Kita tidak perlu mempercayainya apalagi takut.” Tegas Pak Royan. Aku sependapat dengan beliau dan mengiyakannya dalam hati.
“Apa mereka bisa menyerupai manusia, Pak?” tanya Tammi lagi.
“Ya, tentu,” jawab Pak Royan.
Tammi yang duduk bersisian spontan tangannya meraih tanganku. Untuk beberapa saat dia meremas tanganku begitu erat dengan rahang yang mengeras. Seperti sedang berusaha mengatasi rasa takutnya. Rasa tidak nyaman pun bergelayut di wajahnya sekarang. Entah ke mana senyum samar sebelumnya. Dalam pikiranku, Tammi pantasnya ketakutan. Jika saja aku tidak menelpon Arga dan membiarkan Tammi berlama-lama di pondok. Bukan tidak mungkin kalau Tammi bercinta dengan makhluk astral yang datang padanya menyerupai Arshi.
“Yang datang sedang hamil, juga sering digodain, ya, `kan, Bu?” lanjut Pak Royan sambil meminta penguatan dari Bu Rohana.
“Iya, Kak Nila. Dulu, saya waktu hamil Husin dan Firdaus juga digangguin. Tapi harusnya gak perlu takut, biar anak-anaknya juga nanti jadi kuat dan tahan godaan,” ucap Bu Rohana sambil menunjuk Husin dan Firdaus yang sedari tadi ada, tetapi kembali diam, tidak ikut dalam pembicaraan kami. Keduanya sibuk meneruskan pekerjaan menambal jala yang robek di sudut ruangan.
“Asal yakin Allah subhanahu wata’ala tempat kita berlindung. Semua akan baik-baik saja,” kata Pak Royan menekankan sekali lagi.
“Kedengarannya mudah, ya, Pak,” kataku menimpali.
“Ya, kedengarannya mudah. Jika kita memiliki hati yang benar-benar berserah pada Sang Pemilik Semesta,” sahut beliau dengan tatapan mata yang sebentar terkunci. Usai berkata itu, aku dapati beliau masih terus memandang, seperti sedang menilikku. Segera dia alihkan pandangan ketika kami berserobok mata kembali.
Dari perkataan-perkataan Pak Royan mau pun Bu Rohana, aku tahu, keluarga ini memang benar keluarga baik-baik. Apa yang dituturkan Pak Royan juga sama sekali tidak keluar dari konsep keimanan yang aku pegang. Menyadari hal itu aku semakin merasa nyaman berada di antara mereka.
Obrolan berhenti untuk beberapa lama. Aku kembali menyesap teh manis buatan Bu Rohana, sementara hati benar-benar berangsur menjadi tenang. Namun, ketenangan tidak terlihat pada Tammi. Dia terlihat semakin gelisah, sibuk menggigit-gigit bibir bawahnya. Cemas dan takut justru menjadi begitu jelas di tindak-tanduknya sekarang. Semenit kemudian dia terisak kecil.
“Tam, jangan khawatir! Kita akan segera pulang. InsyaaAllah tidak akan ada apa-apa lagi,” bujukku.
Kupeluk dia supaya merasa lebih tenang. Akan tetapi, isaknya yang bermula kecil, tiap jenak kian meningkat.
“Tam,” panggilku.
Tiba-tiba dia mengenyakkan punggungnya ke sandaran kursi dengan keras. Tak sengaja membuatku terbawa olehnya sehingga punggung ikut terempas.
“Takut!” serunya.
“Jangan takut,” sahutku.
Namun, perkataannya yang bermuatan energi negatif itu begitu cepat kembali mewarnai perasaanku. Meski tadi aku sudah menyugesti diri dengan kata-kata kuat dari Pak Royan. ‘Manusia adalah: makhluk paling sempurna yang diciptakan Allah subhanahu wata’ala. Tidak pantas takut dengan makhluk-Nya yang manapun. Yang harus kita takutkan hanya satu. Saat kita lupa pada siapa kita harus mencari perlindungan.’ Sempat kupekikkan kalimat penguat ini dalam benakku.
Tidak lupa mencoba menanamkan kata bermakna itu pada Tammi pula. Kubisikkan padanya, “Ingat, Tam! Manusia adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan Allah subhanahu wata’ala. Tidak pantas takut dengan makhluk-Nya yang manapun! Hanya Allah tempat kita berlindung!”
Sekonyong-konyong, setelah mendengar bisikanku eskalasi tangis Tammi justru menjadi tidak terkendali. Isaknya berubah menjadi tangis bercampur amuk. Aku beringsut menjauh, ketika Tammi mengempaskan dirinya ke sandaran kursi lebih keras lagi, dengan mata yang terpejam. Aku pun sempat terperangah, menyaksikan Tammi yang ada di hadapan kini tidak seperti Tammi. Lirikan ekor matanya yang sempat tertangkap mataku terlihat memutih sebelum memejam rapat.
Gigil ketakutan mendadak kurasakan lagi, berikut remang bulu roma seperti mencuat menembus jilbab yang kukenakan. Sedangkan mulutku kembali tak mampu berucap. Sejurus aku segera memutuskan untuk perlahan melangkah mundur ke belakang, menjauhinya.
Sementara itu, Pak Royan sigap menutup pintu rumah sedangkan Bu Rohana menutup pintu ruang tengah yang menuju ke dapur. Husin dan Firdaus menutup semua jendela rumah tanpa diminta siapa pun. Aku sendiri masih dalam kebingungan. Belum pernah aku melihat Tammi sesedih itu, sampai mengamuk.
“Kak Nila, menjauh!” perintah Pak Royan padaku setelah itu.
Aku benar-benar menjauh dengan pikiran tidak menentu. Tercekat dalam keterkejutan dan ketakutan. Setelah itu, aku berubah hanya menjadi menonton untuk aksi keluarga sederhana itu untuk membantu. Pak Royan terlihat sangat hati-hati mendekati Tammi. Mulutnya tidak henti membacakan ayat kursi dengan suara berbisik namun dapat kudengar jelas. Tak hanya beliau, aku lihat Husin, Firdaus dan Bu Rohana melakukan hal yang sama. Terbata-bata aku ikut melafazkan ayat kursi dalam benak saat Bu Rohana yang mengajakku dengan anggukan kepalanya.
Di tengah kepanikan yang terjadi, aku teringat harus mengabari Arga. Walau bagaimanapun aku sendiri membutuhkannya di saat yang menegangkan seperti ini.
“Ga, ke sini!” pintaku dengan suara bergetar ketika panggilan tersambung.
Hanya tiga kata itu saja yang mampu terucapkan karena lidahku menjadi berat sekali. Setelah itu, panggilan segera kusudahi. Akan tetapi, cepat lelaki kesayanganku itu menelepon balik.
“Ada apa, Sayang?” tanyanya.
Aku tidak yakin harus memberi jawaban apa. Aku tidak tahu kondisi yang sedang berlaku pada Tammi. Beruntung dalam kebigungan untuk menjawab, Firdaus yang berdiri tidak jauh dengan sigap langsung mengambil alih ponsel dari tanganku.
“Cepat ke sini Bang, Kak Tammi, kesurupan!” serunya. Setelah itu, mengembalikan ponsel ke genggamananku.
Dalam pengamatanku, sepertinya hal ini sudah tak asing mereka hadapi. Begitu sigap Husin dan Firdaus bekerja sama tanpa diminta Pak Royan maupun Bu Rohana. Keduanya berjibaku menggeser meja dan kursi tamu, agar Tammi punya tempat luas saat mengamuk. Sedari beberapa saat tadi memang Tammi sudah melorot ke lantai yang hanya beralaskan tikar pandan. Tangisnya keras, kakinya mengentak-entak, tubuhnya sekali memulas ke kanan lalu ke kiri, dan sesekali membanting diri sehingga kepalanya terempas keras ke lantai papan. Suasana jadi riuh oleh suara amuk Tammi yang ditingkahi berdengungnya zikir ayat kursi.
Jenak ketika Arga dan Arshi datang. Tangis istri adik iparku itu tiba-tiba berhenti. Matanya menatap tajam pada Arga dan Arshi yang merangsek masuk.
“Tammi! Tam …!” panggil Arshi sambil melangkah pelan mendekat.
Tammi geming tidak menyahut, tetapi tatapannya tajam menghunjam adik lelaki suamiku itu. Membuat lelaki yang baru sebulan ini menikahinya mundur satu dua langkah ke belakang. Sementara itu, Arga meneruskan langkahnya mendapatiku yang bersimpuh ketakutan di sudut ruangan.
“Aku di sini, Sayang,” ucapnya sambil meraihku dalam rangkulan.
Aku tidak peduli dengan kedatangan Arga. Pandanganku yang nanar fokus menatap Tammi yang tidak terlihat seperti Tammi yang aku kenal. Tak ubahnya aku, Arshi pun terlihat hanya mampu menatap nanar Tammi yang menggelosor-gelosor di lantai.
Entah mulai kapan, di tangan Pak Royan tergenggam segelas air putih yang sedari tadi ternyata beliau bacakan banyak ayat suci. Lalu beliau memberi perintah pada siapa saja yang bisa menolongnya.
“Tolong, pegang Kak Tammi!”
Arshi, Husin dan Firdaus bergerak maju dan memegangi Tammi. Arga juga bergerak maju, tetapi refleks tanganku menahannya. Aku tidak mau ditinggalkan karena aku sendiri dalam keadaan sangat ketakutan.
Namun, dalam waktu yang sama, Bu Rohana langsung mengambil alih tanganku yang mencekal lengan Arga. Agar lelakiku bisa ikut membantu pekerjaan Pak Royan. Lepas dari cekalanku, Arga langsung beringsut, tetapi sebelum tiba mendekati Tammi untuk memegangnya. Perempuan manis yang berubah beringas itu bangkit setengah badan. Pegangan Arshi, Husin, dan Firdaus terlepas begitu saja.
“Pegang kuat!” perintah Pak Royan lebih tegas.
Keempat lelaki yang ada di sekelilingnya sontak berebut memegangi salah satu tangan dan kaki Tammi. Sayang sekali, tubuhnya tidak lagi bisa ditidurkan. Dalam posisi setengah duduk berselunjur itu, tubuhnya menggeliat-geliat keras. Tiba-tiba geliatnya berhenti lalu matanya yang sedari tadi terpejam, sekonyong-konyong terbuka dengan bola mata memutih, seperti tanpa pupil dan kornea. Aku bergidik. Tarikan napasku sempat tercekat rasanya.
“Kau kira bisa mengusirku?” kata Tammi dengan suara yang besar, tebal, dan berat, mirip suara laki-laki.
Setelah itu, dia menyeringai. Seringai yang tadi aku lihat membayang di wajah Indra. Membuatku sekali lagi bergidik lalu refleks memeluk Bu Rohana erat dengan tubuh mengigil tak tertahankan.
“Jangan berhenti berzikir! Jangan berhenti berlindung pada Allah! Ingat! Hati harus berserah!” perintah Bu Rohana tegas walau dengan berbisik. Kemudian beliau menuntunku untuk terus menzikirkan ayat kursi. Kuikuti walaupun dengan terbata-bata.
Dalam rangkulan Bu Rohana yang erat aku mendengar Tammi dengan suara barunya terbahak, “Hah hah hah ha ha ha, seberapa pintar kau Royan?”
Ekor mataku menangkap sosok Pak Royan bergeming. Tidak langsung bereaksi dengan pertanyaan itu. Mulutnya tetap melafalkan ayat-ayat penakluk setan yang ada pada Alquran.
Tepat ketika aku kembali berani memandang Tammi. Tubuhnya yang sedang dikendalikan oleh makhluk astral itu menggeliat liar lagi, kemudian terdengar suara menggeram dengan mata kembali memejam.
Di akhir ayat Alquran yang dibacakan, Pak Royan berkata keras sambil memercikkan air dari gelas itu ke wajah Tammi, “Keluar kau!”
Tammi berteriak dengan suara makhluk yang sedang merasukinya. Tubuh Tammi semakin menggeliat liar dengan mata menutup rapat. Arga dan Arshi yang memegangi kedua tangannya dalam posisi berdiri dengan lutut, sempat terhuyung ke mana-mana. Bahkan, Firdaus yang memegang salah satu kaki sempat terempas dibuatnya.
“Hah hah hah ha ha ha!” Makhluk itu terbahak keras lagi, seakan perintah Pak Royan tidak berarti apa-apa untuknya.
“Keluar dan pergilah!!!” Sekali lagi Pak Royan memercikkan air ke wajah Tammi setelah mengentakkan kakinya keras ke lantai. Beliau menyuruh apa pun yang ada di dalam tubuh adik iparku itu untuk keluar lalu pergi.
Perintah beliau yang kedua kalinya ini memang terdengar lebih keras. Geliat tubuh Tammi yang liar dan keras mendadak melemah. Setelah itu, tiba-tiba mataku menangkap sesuatu yang mirip kepulan asap hitam berbau busuk keluar dari mulut Tammi. Seiring dirinya kehilangan kesadaran lalu jatuh terkulai ke atas lantai papan beralas tikar pandan itu. Awalnya tak ada yang berani mendekat pada Tammi. Bahkan, Arshi sempat hanya mematung saja menyaksikan tubuh istrinya tergeletak begitu saja.
**WMB**
Giza, 07092021