Lepas dari memperhatikan Tammi, mataku sibuk mencari dan mengikuti pergerakkan kepulan asap hitam berbau busuk yang keluar dari mulutnya tadi. Mulanya kepulan asap hitam itu melesat cepat menuju kisi-kisi jendela, berdiam beberapa saat di sana. Tidak kusangka setelah berhenti sejenak, sesuatu yang entah apa itu, seperti sengaja menunjukkan wujud aslinya padaku. Makhluk itu bertanduk, berekor, tak berbaju dengan kulit merah sewarna api. Sosok buruk rupa itu menyeringai puas, sebelum menyelusup kisi jendela hingga lesap seperti angin.
Aku sempat terpekik kecil saat melihat seringai selamat tinggalnya tadi. Buru-buru kututup wajah dengan kedua belah telapak tangan. Tubuhku banjir dengan peluh dan gemetar hebat saat Arga kembali mendekat untuk memelukku.
“Aku di sini. Aku di sini,” ucapnya berulang-ulang.
Pak Royan ikut menghampiri saat aku membuka tangkupan kedua belah tangan di wajah. Mata beliau seperti memindaiku sebentar. Setelah itu, mengusap sisa dari segelas air yang telah dirapalnya dengan ayat-ayat Alquran ke wajahku. Bau busuk yang masih terhidu langsung lenyap dari hidungku.
Setelah itu, Bu Rohana menyambangi dengan dua gelas air putih di tangan. Beliau angsurkan segelas untukku dan segelas yang lain untuk Tammi. Dari sela lengan Arga yang mendekap, kusempatkan mengintip Tammi yang baru sadar. Dia menangis dipelukkan Arshi setelah meminum air putih memberian Bu Rohana. Untuk beberapa lama kulihat perempuan gempal bersongkok itu ikut membantu Arshi untuk menenangkan Tammi, berikut memeriksa kepala Tammi yang tadi banyak terhempas ke lantai.
“Nil? Kamu ada terluka gak? Apa ada yang kamu rasa sakit?” Arga tidak lupa menanyakan keadaanku. Tangannya menyapu kepala dan sebentar mematut jilbabku yang mungkin sudah tak tertata rapi.
Punggungku yang sempat terhempas ke sandaran kursi oleh tarikan Tammi memang terasa sedikit sakit. Itupun terasa sakit setelah menerima pertanyaan Arga.
“Punggungku tadi sempat terhempas ke sandaran kursi, Ga. Agak sedikit sakit.”
Arga mengusap punggungku. “Sabar, ya, Sayang. Nanti sampai rumah aku akan periksa,” janjinya dengan tatapan sungguh-sungguh.
Aku mengangguk. Aku mengerti maksudnya, tidak mungkin untuk memeriksanya di depan banyak orang karena minimal harus membuka baju bagian belakangku. Akan tetapi, pertanyaan Arga tentang keadaanku itu membuat suasana hati menjadi tergiring menjadi tenang. Aku bisa membalas senyum Arga yang mencoba membuatku lebih tabah menghadapi masalah di luar nalar ini.
Lepas dari situasi yang menegangkan dan membuat semua yang ada pasti memperoleh trauma itu, Pak Royan mendekatiku yang telah lebih dulu merasa tenang. Namun, ketenangan itu kembali terusik ketika Pak Royan bertanya padaku, “Kak Nila, bisa melihat dan menghidu baunya, ya?”
Jelas pertanyaan itu membongkar ingatan yang baru saja aku jejalkan masuk ke alam bawah sadar. Sebenarnya aku ingin bisa melupakannya walau sejenak. Sepertinya tak hanya aku yang sontak merasa ketenangan yang baru sebentar diperolah itu terusik. Arga pun terlihat keberatan.
“Kenapa bertanya tentang hal itu, Pak? Seingat saya, istri saya tidak punya kemampuan itu,” sahutnya spontan seperti ingin melindungiku dari rasa tertekan oleh rasa ketakutan. Sementara genggaman tangan lelaki kesayanganku itu menjadi sedikit erat.
“Saya sempat mengukuti pandangan Kak Nila tadi.”
Jawaban Pak Royan atas pernyataan Arga membuatku merasa ditodong dan tidak perlu menyembunyikan sesuatu dari lelaki religius di hadapanku. Toh, aku berada di rumahnya karena memang membutuhkan pertolongan beliau. Mengingat Pak Royan bertanya pasti karena ingin membantu, akhirnya aku menjawabnya dengan anggukan. Terlihat beliau menghela napas berat, pun Arga.
“Kak Nila, punya indera keenam, seperti mata batin?” lanjutnya dengan pertanyaan lain setelah duduk di salah satu kursi di ruang tamu.
Kurasakan semua mata tertuju padaku usai Pak Royan bertanya tentang satu hal itu. Membuatku buru-buru menggeleng, sambil berkata, “Baru kali ini terjadi dengan saya, Pak. Sebelumnya saya tidak pernah mengalami hal seperti ini.”
“Warisan mata batin, mungkin?” tanyanya lebih spesifik, dan sebenarnya aku tidak mengerti apa yang beliau tanyakan.
“Saya tidak punya, Pak. Bahkan saya gak ngerti apa yang Pak Royan tanyakan.” jawabku jujur.
“Warisan mata batin biasanya diperoleh dari seseorang. Umumnya dari anggota keluarga. Mereka menurunkan suatu kemampuan berikut makhluk peliharaannya pada salah satu anggota keluarga yang dipercayai sanggup mengemban tugas memelihara itu.”
Glek! Kutelan saliva ketakutan bersamaan dengan terperenyaknya hati mendengar keterangan lelaki religius itu. Beliau beringsut duduk di hadapanku dan Arga sekarang.
“Coba Kak Nila ingat-ingat! Ada gak keluarga, yang punya sesuatu yang bersifat mistik?”
Lagi-lagi aku menggeleng, tetapi tidak dengan sepenuh keyakinan.
Arga yang merasa aku terus dicecar dengan pertanyaan, balik bertanya pada Pak Royan, “Bagaimana Pak Royan bisa tahu kalau sesuatu yang meneror Danila sekarang merupakan peliharaan yang diturunkan?”
“Biasanya begitu, Bang Arga. Mereka meneror seseorang yang telah dirujuk sebagai inang baru. Biasanya yang memerintahnya adalah anggota keluarga sendiri. Makhluk-makhluk itu dipelihara untuk kebutuhan tertentu dan mereka punya kontrak atau perjanjian. Seperti kita ketahui bersama, iblis tidak mati sampai akhir zaman. Dia harus diberi inang baru, biasanya hal itu termasuk dalam perjanjian mereka.” jelas Pak Royan dengan sangat sederhana dan gamlang. Siapa pun yang mendengarnya akan mengerti sekaligus merasakan ketakutan.
Jenak berikutnya cepat aku mengingat-ingat, siapa kira-kira dari orang tua dalam jajaran keluargaku yang memiliki ilmu gaib dan mistik. Sayangnya, tidak ada satu nama pun yang muncul dalam kepalaku. Pencarian itu total kuhentikan ketika mendengar kelanjutan penjelasan Pak Royan selanjutnya.
“Ada dua kemungkinan di sini. Keluarga Kak Nila yang mengirim atau keluarga Bang Arga, karena mungkin dalam kandungan Kak Nila sekarang ada keturunan Bang Arga.
Awalnya aku hanya tercengang mendengar kemungkinan yang dijabarkan Pak Royan. Mendadak yang terbayang dalam kepalaku hanya masa depan yang suram. Suram untukku dan suram untuk generasi setelahku.
“Gak … gak … gak mau!” tolakku lirih sambil menyuruk lebih dalam di pelukan suami.
Arga menenangkanku dengan memeluk lebih erat. “Tenang, Sayang! Tenang! Jangan keburu takut! Hal ini belum terjadi.”
“Pokoknya aku gak mau, Ga!” ucapku tegas dengan tangis yang tidak bisa ditahan.
“Aku juga gak mau, Sayang. Kamu yang tenang! Jangan keburu takut! Ini hanya perkiraan,” debatnya.
“Hal ini berlaku untuk Danila saja, atau istri saya juga, Pak Royan?”
Pertanyaan Arshi pada Pak Royan, sontak membuatku menengadah, melayangkan tatapan pada Arga. Hanya sebentar pandangan kami beradu. Detik berikutnya pandangan lelaki berstatus suamiku itu beralih pada adiknya. Kini kedua abang beradik itu saling beradu tatap, entah apa yang mereka pikirkan.
“Dia akan mencoba pada siapa saja. Tapi pasti mengejar pada siapa dia dirujuk,” jawab Pak Royan membuatku merasa bingung harus berpikir dan merasa apa sementara Tammi meledak menangis ketakutan.
“Telepon Papa, Ga! Tanya ke Papa atau Mama,” usul Arshi setelah mendengar perkataan lelaki religius yang sedang membantu kami menghadapi masalah di luar nalar ini.
Arga masih terlihat kurang yakin. Diabaikannya usul Arshi, bahkan segera mengalihkan tatapannya ke Pak Royan.
“Bapak yakin? Bukannya makhluk-makhluk itu berasal dari tempat ini?”
Pertanyaan Arga yang bernada tidak yakin itu membuat Pak Royan menegakkan punggungnya, duduk lebih tegap, seperti ingin menunjukkan dirinya sangat serius.
“Saya memang tidak setiap kali bisa melihat. Tapi, saya tahu apa-apa saja yang berada di sini, karena … saya salah satu yang ditunjuk untuk menjaga kawasan ini.”
Pernyataan Pak Royan membuat kami berempat tidak memiliki celah untuk meragukannya lagi. Apalagi kabar itu telah aku dengar sebelumnya dari Bang Samsul, si pemandu wisata.
“Pak Royan!” panggilku memecah ketegangangan.
Beliau tidak menyahut, hanya tatapannya saja yang tertuju padaku.
“Saya tidak perduli sebab atau alasan terbukanya mata batin ini, yang saya ingin hanya tidak bisa melihat mereka lagi. Tolong ditutup saja, Pak!” pintaku.
Pak Royan tidak menjawab, pandangannya teralih pada Arga. Tonjolan di tengah leher Arga naik turun, seperti menelan saliva. Mimik wajahnya membersitkan kekhawatiran yang besar sekarang.
“Jadi makhluk-makhluk itu benar-benar ada hubungannya dengan keluarga saya, Pak?” tanya keraguan itu meluncur dari mulut Arga.
“Sepertinya,” sahut Pak Royan sambil meletakkan gelas berisi air putih di atas meja yang dipegang beliau sedari tadi. “Makhluk yang datang itu dari keluarga, Bang Arga. Inang baru yang ditujunya, kemungkinan besar janin yang ada di dalam rahim Kak Danila sekarang.” Ulang Pak Royan tegas.
Ketegasannya membuatku merasa semakin tidak berdaya. “Aku gak mau anakku jadi inang baru,” sergahku beremosi pada Arga sambil mengurai dua lengannya yang mendekapku.
Timbul sesak dalam dadaku mengetahui hal itu. Aku benar-benar tidak mau anak keturunanku masuk dalam kategori tidak normal karena hal seperti itu. Juga tidak ingin membuatnya terbeban oleh peliharaan turun-temurun yang bisa menyesatkan keimanan. Arga meraihku kembali dalam dekapan dengan wajah bersalah.
“Aku gak mau, Ga,” sungutku sambil menyandarkan kepala di dadanya.
“Iya, Sayang, aku juga gak mau,” sahut Arga sambil mengusap kepalaku.
“Kalau begitu, Kak Nila, harus keras mengusirnya!” seru Pak Royan mengejutkan.
“Saya?” tanyaku heran.
Sontak aku terperangah usai mendengar pernyataan Pak Royan. Kenapa tugas berat itu justru ada di pundakku sekarang? Bagaimana caranya, pikirku bingung. Tak hanya aku, semua terlihat kebingungan.
“Kak Nila sudah mengusirnya berkali-kali, sejak datang ke sini,” ujar Pak Royan di luar perkiraanku.
Aku tidak mengerti mengapa Pak Royan berkata begitu. Yang aku rasakan hanya ketakutan luar biasa, dan memasrahkan diri pada Allah saja. Hanya itu. Apa pasrah dan berserah diri itu yang membuatku kuat dan terbantu? Entahlah.
Percakapan itu berakhir mengambang tanpa kesimpulan. Beberapa jenak menjadi senyap, hingga akhirnya, Arga berkata, “Kalau begitu kita harus berangkat sekarang, supaya gak kemalaman!”
Spontan aku melirik jam dinding berbentuk hati yang menempel di dinding rumah Pak Royan. Ternyata sudah menunjukkan jam enam sore. Sebentar lagi gelap, cahaya matahari yang menyelinap lewat kisi-kisi jendela sudah berpendar kemerahan.
“Apa gak sebaiknya berangkat besok pagi saja?” Bu Rohana dengan wajah khawatir memberi saran.
Arga memandangku, setelahnya memandang Arshi, sementara Tammi terlihat bergeming dengan sisa tangisnya.
“Gak bisa, Bu. Kami sudah batalkan sewa pondok, dan pondok itu langsung terisi dengan orang lain,” jawab Arshi.
Tiba-tiba, kulihat Tammi dengan wajah sangat ketakutan bersungut-sungut menggelayuti lengan Arshi.
“Tammi, takut Bang,” ucapnya lirih sambil menendang-nendang ruang kosong di depan kakinya.
Aku juga takut, tetapi sudah terlanjur berjanji dengan Arga akan mengambil resiko, walaupun harus melakukan perjalanan malam. Sebentar kami bertatapan seakan mencari jalan keluar lewat pandangan mata. Hingga terdengar tawaran dari Pak Royan.
“Bisa menginap di sini, kalau mau tidur di tempat seadanya. Besok pagi saya antar kembali ke Mandeh.”
“Iya, Bang Arga, kalau jalan malam lewat bakau, akan gelap sekali. Perahu kami memang ada lampunya, tapi kalau terjadi sesuatu di perjalanan, kita tidak bisa lihat apa-apa.” Husin yang sedari tadi diam, akhirnya memberikan pendapat.
Pandanganku dan Arga yang terpecah karena memperhatikan Pak Royan dan Husin, kembali beradu seusai ucapan Husin. Hatiku sangat cenderung untuk tinggal bersama keluarga ini sampai besok pagi. Namun, segalanya tergantung Arga karena sebelumnya aku mengatakan siap untuk melakukan perjalanan malam. Keputusan semakin berpihak pada kecendrunganku ketika, Arshi dengan wajah berkerut menyatakan ketidaksiapannya berjalan malam hari.
“Berangkat besok aja, deh, Ga!” Begitu katanya.
Tammi yang tadi merengek manja pun akhirnya terdiam.
“Apa kami tidak merepotkan, Bapak dan Ibu?” tanya Arga.
“Lebih merepotkan lagi kalau Kak Danila atau Kak Tammi kesurupan saat berada di perahu dalam perjalanan malam hari,” jawaban Pak Royan tidak dapat ditampik siapapun.
Arga tersenyum kecut. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengikuti suara terbanyak.
“Baiklah. Terima kasih banyak, Pak Royan, sudah banyak memberi pertolongan, sekarang malah rela menampung kami di sini,” ujar Arga dengan sikap bijak.
“Jangan sungkan, Bang Arga. Kami sekeluarga senang bisa membantu,” sahut Pak Royan tidak kalah bijak.
Satu per satu terlihat menghela napas lega. Arga kembali meraihku dalam rangkulan. Sebelah tangannya mengusap perutku sambil mengucapkan sebuah doa. Tidak disangka Arga berinisiatif demikian, membuat hatiku terasa sejuk setelahnya.
“Yang kuat, ya, Sayang! Tolong jaga anak kita,” bisiknya lirih di telinga.
Sebentar kami terperosok dalam situasi sentimental. Mengingat kehamilan pertamaku pernah gagal oleh suatu hal. Dalam masa pernikahan yang sudah menginjak setahun, pasti rasa ingin segera memiliki keturunan pasti ada. Dekapan Arga mengencang sekejap. Deru napasnya terdengar berat. Aku tahu hatinya sedang berkecamuk oleh hal-hal yang mungkin dia takutkan, pun aku.
“Pasrahkan pada Allah aja, Sayang!” ucapku karena tidak ingin ikut larut dalam ketakutannya yang akan berimbas padaku juga.
Arga kembali mengencangkan dekapan, sementara dua tangannya yang bersilangan meremas halus lenganku. Kemudian kami segera menyudahi situasi sentimental itu. Mengingat ada banyak orang selain kami berdua.
**WMB**
Giza, 08092021