Part 10. Dia yang Mencoba Merasukiku

1651 Kata
Rumah Pak Royan memang tak seberapa luas, malah boleh dibilang kecil, tetapi hati mereka yang berada dalam rumah ini sangat luas. Saat melayani kami, mereka semua bersikap seperti mendapat tamu kehormatan. Husin dan Firdaus sigap menyusun meja dan kursi di ruang tamu agar merapat ke dinding, guna membuat tempat menjadi lapang. Setelah itu, mengalasi seluruh lantai papan dengan tikar pandan. Malam menjelang istirahat nanti, ruang tamu itu akan disulap menjadi tempat kami tidur, begitu penjelasan Firdaus. Seusai semua itu, Bu Rohana sibuk mengeluarkan bantal-bantal dan selimut kain sarung dari kamarnya. “Belum juga malam, Bu. Belum waktunya tidur,” kata Pak Royan membuat Husin dan Firdaus tertawa kecil. “Gak apa-apa, Pak. Biar Kak Danila dan Kak Tammi bisa istirahat,” sahut Bu Rohana tidak peduli perkataan suaminya. “Iya, Pak. Sekarang aja keluarin bantalnya. Biar Kak Tammi dan Kak Danila bisa istirahat. `Kan, pasti capek kalau abis kesurupan,” timpal Firdaus pula dengan nada ringan. “Hush! Sok tahu kamu!” Husin malah tidak senang Firdaus ikut berkomentar.  Firdaus yang sadar telah beropini tanpa diminta, spontan tersenyum malu. Mendengar percakapan alami mereka membuatku merasa kembali dalam keadaan normal. Kukira itu juga yang dirasakan suamiku, Arshi, juga Tammi, sehingga bisa sempat ikut tersenyum. Lega rasanya, setelah sekian lama dalam ketegangan, akhirnya bisa sedikit santai dan melenturkan hati. Saling perpandangan dan berbalas senyum pun terjadi, meski masih sangat samar. Usai mereka menyiapkan tempat untuk beristirahat, azan Magrib terdengar. Selanjutnya, kami semua sibuk bersiap untuk melakukan salat fardu itu. Alhamdulillah, ditunaikan dengan cara berjamaah dengan diimami Pak Royan. Surah yang dibacakan lelaki empat puluh tahun itu menentramkan hati, membuatku merasa hangat dan nyaman berada di tengah mereka. Setelah itu, aku, Arga, Arshi, dan Tammi lanjut melaksanakan salat Isya karena terhitung musafir. Kesempatan memberikan tempat menginap pada kami, juga digunakan keluarga itu untuk menjamu makan malam. Bu Rohana menyajikan kepiting, udang, dan kerang rebus hasil Pak Royan melaut di malam kemarin. Sajian itu lengkap dengan lalapan timun, tomat, dan kecipir dari kebun kecil di belakang rumah mereka. Juga tidak lupa menyediakan sambal cocol yang diberi buah nanas. Akan tetapi, Bu Rohana tidak mengizinkanku memakan sambal cocol itu. Beliau membuatkan sambal terasi khusus untukku. Menurut perempuan gempal yang tidak lepas bersongkok itu, berbahaya saat hamil memakan buah nanas. Makan malam saat itu, boleh dikatakan super lezat. Akan tetapi, aku tetap tidak bisa menghabiskan makananku, walau sepiring. Rasa mual begitu menghantui dan datangnya seperti debur ombak di pantai yang berkala, kadang gelombangnya besar terkadang kecil saja. Semua menyadari hal itu, mereka tidak hanya maklum, tetapi ikut memberiku semangat saat makan. “Ayo, Kak Nila harus makan yang banyak!” Begitu kata Bu Rohana. “Iya, biar kuat buat jalan besok, Kak Nila.” timpal Husin. “Biar gak lemes juga,” tambah Firdaus. “Iya, Kak Nila. Kasihan dedek bayinya kalau lapar.” Bahkan Tammi bisa ikut menyemangatiku di tengah kegundahan hatinya setelah usai kesurupan tadi. “Ayo, Sayang, makan yang banyak! Udah disemangati semuanya, tuh.” Arga ikut bersemangat membantu menyuapkan udang rebus yang telah dilumurinya dengan sambal terasi. Mau tidak mau, aku memaksakan diri untuk makan lebih baik dari pada siang tadi. Apalagi saat lelaki kesayanganku berbisik, “Demi buah cinta kita yang ada dalam perutmu sekarang, Sayang.” Usai makan malam, kami dengan sendirinya terbagi menjadi dua kelompok. Aku dan Tammi membantu Bu Rohana membereskan sisa makanan dan peralatan makan. Sementara para lelaki membersihkan ruang tamu hingga tidak tersisa bau hidangan laut. Ramainya suasana dan rasa kebersamaan yang begitu kental itu membuat rasa takut terkikis sedikit demi sedikit hingga tidak terasa. Arga, Arshi, Pak Royan dan kedua anaknya terlibat obrolan ringan ketika para perempuan selesai dengan tugas dapur. Mereka terdengar membicarakan banyak topik. Kutangkap Arga banyak bertanya tentang minat juga bakat Husin dan Firdaus yang menurutnya jago dalam menjual jasa.   Seperti halnya kelompok para lelaki, aku, Tammi, dan Bu Rohana juga cepat hanyut dalam obrolan ringan. Aku akui istri Pak Royan itu tidak hanya luas pengetahuan agamanya. Beliau juga pintar mengalihkan perhatian kami untuk tidak terus memikirkan kejadian sebelumnya. Sambil ngemil singkong dan pisang rebus dengan minuman teh dan kopi panas yang manis, obrolan bergulir panjang. Tidak terasa malam semakin larut, kantuk mulai menggelayuti kami semua. Ruang tamu yang sudah disiapkan Husin dan Firdaus untuk tempat kami beristirahat sudah tersedia. Pak Royan sengaja menggantung seprai dengan tali hingga menyerupai partisi. Ruang tamu itu terpisah menjadi dua bagian sekarang. Setengah bagian untuk aku dan Arga. Dengan setengah bagian lain untuk Tammi dan Arshi. Kedua adik iparku itu, sepertinya langsung lesap dalam tidur nyenyak ketika menempati bagian ruangan yang diperuntukkan bagi mereka. Tidak terdengar lagi percakapan di antara keduanya. Yang terdengar hanya helaan napas berat Arshi yang mirip dengkuran halus Arga saat tidur. Arga menyelimuti tubuhku dengan kain sarung yang dipinjamkan Bu Rohana. Sementara lelakiku itu merasa cukup dengan merapatkan jaket yang dipakainya. Malam hari memang suhu udara menjadi lebih dingin di pulau ini. Namun, aku merasa nyaman karena tubuhku tertutup rapat dengan jilbab yang dikenakan. Sayangnya, kantuk dan lelah tak cukup membuatku bisa langsung tertidur lelap, walau berada di dalam dekap Arga. Ada rasa ingin tahu yang terlalu kuat mencuat dari pikiranku. Ya, aku ingin tahu apakah aku benar-benar sedang berbadan dua. Dalam keadaan merasa tenteram itu aku sempatkan mengobrol dengan lelakiku. “Ga … boleh nanya, gak?” “Hm?” “Apa menurut kamu aku beneran hamil?” Dia tidak langsung menjawab. Aku tidak melihat apa yang terbersit di mimik wajahnya karena wajahku menyuruk dalam di pelukannya. Namun, aku bisa mendengar degup jantung Arga yang pelan teratur seirama dengan tarikan napasnya. “Aku gak bisa jawab, Sayang. Yang jelas, itu jadi agenda pertamaku setelah pulang nanti. Kita segera periksa ke dokter. Oke, Sayang?” “Oke.” “Jika benar-benar hamil, aku berharap tidak ada masalah di kemudian hari.” “Aamiin.” Cepat aku mengamini ucapan terakhirnya karena memiliki kekhawatiran yang sama. “Tidurlah, Sayang! Kita perlu tenaga untuk perjalanan besok,” pintanya setelah itu. “Belum bisa tidur, Ga.” sahutku karena menjadi tak merasa mengantuk. “Kenapa?” “Gak tau, rasanya belum ngantuk aja.” “Kamu pasti lelah, Sayang.” “Iya. Tapi agak takut.” “Aku jagain, supaya kamu bisa tidur. Tidurlah!” “Tapi, Ga ….” “Sssttt … tidur, Sayang! Yang lain udah pada tidur. Manjanya nanti aja!” Tangannya yang merangkul sebentar sedikit mengencang lalu mengusap lengan atasku. Entah kenapa mataku masih saja membeliak, malah menengadah menatapnya. Sebelah tangan Arga terulur untuk mengusap mataku agar menutup. Dilanjutkannya dengan membungkamku untuk berhenti bicara dengan lumatannya sebentar. Akhirnya, mau tidak mau aku memejam dan berhenti bicara. “Aku sayang kamu, Danila. Jika benar ada janin dalam perutmu, tolong jaga dia, ya, Sayang! Jadi kamu harus tidur sekarang! Supaya punya tenaga untuk menjaganya,” celoteh Arga di telingaku. Setelah itu masih panjang lagi celotehnya. Termasuk Arga sempat melafalkan tiga surah terakhir dalam Alquran yang berfungsi menyatakan ke-Esa-an Allah subhanahu wata’ala. Hatiku terasa begitu damai mendengarkannya. Pada akhirnya aku pun tertidur. Sampai pada saat telingaku menangkap bunyi desau angin di luar rumah yang bertiup kencang lalu menampar dedaunan di pohon. Bunyinya yang bergemerisik membangunkanku. Mataku spontan membeliak terang. Mendadak rasa takut terundang, ketika cabang-cabang pohon yang tumbuhnya mencapai rumah papan Pak Royan, sekali waktu terdengar seperti ketukan di dinding. Aku berusaha memejamkan mata, tetapi tidak menjadi pulas kembali. Selalu saja terjaga ketika telinga menangkap bunyi yang sedikit lebih keras dari dengkur halus milik Arga. Mendadak suhu udara yang sedari tadi terasa lebih sejuk terasa kian dingin. Bahkan, tiupan napasku yang keluar terlihat seperti asap putih mengepul. Aku sempat tidak percaya dengan dinginnya malam ini. Kutilik Arga yang tidur tenang di sebelah kananku. Tidak ada kepul napas menyerupai asap yang keluar dari hidungnya. Sementara itu, aku mulai mengigil seperti masuk ke dalam peti es. “Ga!” panggilku berbisik. Suaraku yang ditingkahi geletar kedinginan tak sanggup membangunkannya. Tiba-tiba, tubuhku terasa perlahan menjadi kaku dengan mulut seperti terkunci. ‘Hah! Lagi?’ pekik benakku ketika menyadari merasakan tenggorokan kembali tercekat dan mulut terkunci. Rasa awas langsung meningkat, saat menunggu peristiwa apa yang akan terjadi setelahnya. Entah kenapa, kali ini selain ketakutan ada rasa muak yang timbul bersamaan. Aku mulai muak dipermainkan makhluk astral yang mencari inang baru itu. Posisiku terlentang dan lurus membujur saat itu. Tatapan mataku nyalang memperhatikan langit-langit rumah papan Pak Royan yang tanpa eternit. Mataku langsung dapat menghunjam atap dengan kasonya yang bersaling-silang. Saat itulah telingaku mulai menangkap bunyi derit kaso, seperti ada sesuatu yang menjejakkan kaki di luar sana. Aku pun bergidik. Gigil kedinginan kini bercampur dengan gigil ketakutan dan aku mulai berkeringat. Hal yang aneh bukan? Saat kedinginan, tetapi seluruh tubuh mengeluarkan keringat. Hanya tangan kananku yang menempel dengan lengan Arga yang masih bisa digerakkan. Buru-buru kucekal lengan suamiku itu untuk membangunkannya. Namun, tidak berhasil. Dalam waktu bersamaan, kepala bertanduk merah membara, dengan seringai khasnya yang membuat jijik dan menakutkan muncul perlahan. Merayap bagai seekor kelelawar di atap rumah papan Pak Royan yang tersibak sedikit demi sedikit. Beberapa jenak kemudian, tubuhnya yang muncul bertahap itu menjadi utuh terlihat. Dia. Entah dengan nama apa aku bisa menyebutkannya. Mungkin jin, setan, atau iblis. Yang jelas bukan manusia dan buruk rupa. Kini sedang melayang sejajar vertikal dengan tubuhku yang kian kaku. Ketakutan campur muak meradang dalam hatiku. Buru-buru kusempatkan sekali lagi mengeratkan cekalan di lengan Arga untuk membuatnya terbangun. Alhamdulillah, akhirnya berhasil membuat suamiku terjaga. Lelakiku menggeliat seperti meregangkan punggungnya. Makhluk itu sedikit terusik ketika Arga terbangun, tatapannya seperti menilik lelakiku itu. Namun, keterusikkannya tidak makan waktu lama. Setelah itu, dia justru menyeringai lebih lebar ketika kembali menatapku. Seperti sengaja memperlihatkan seluruh isi mulut yang bergigi besar dan bertaring. Mata merah yang menyembul seperti hendak keluar dari rongga itu terlihat seakan makin ingin menelanku. ‘Ga! Bangun, Ga! Tolong aku, Ga! Aku takut.’ Kata-kata ini terpekik keras berulang dalam benak karena sudah tidak bisa meluncur lewat mulut. Hatiku pun tak henti berzikir dan berdoa agar kesadaran Arga segera terkumpul sempurna agar bisa menolongku.   **WBM** Giza, 08092021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN