Part 11. Mencoba Melawan

1776 Kata
“Nil?! Sayang?!” Teguran bernada kaget itu terdengar ketika suamiku sudah benar-benar terbangun. Dia telah sadar sepenuhnya bahkan menyadari kalau aku tidak tampil biasa. Arga segera bangkit dari berbaring dan terlihat pandangannya menyapu ruangan sebanyak penjuru mata angin. Sayangnya, lelakiku itu tidak dapat melihat apa yang sedang mengintai dan mengancamku. Sebentar Arga terlihat kebingungan sambil mengguncangkan pelan-pelan tubuhku yang dingin dan membatu. “Danila?! Jawab aku, Sayang!” Panggilnya berulang, tetapi aku sudah tidak bisa menyahut. Akhirnya, Arga dengan wajah panik membangunkan seisi rumah setelah lebih dulu membangunkan Arshi. “Shi! Shi! Tolong istri gue!” Makhluk itu kulihat sempat terusik dengan tingkah Arga. Akan tetapi, tidak membuat makhluk itu gentar apalagi mundur. Bahkan, hingga seluruh isi rumah kini terbangun dan mengelilingiku, si iblis buruk rupa tidak beranjak dari tempat kemunculannya. Malah dia perlahan turun. Yang ditujunya, jelas tubuhku yang sedang terbaring tidak berdaya. Kupikir dia ingin menjejalkan dirinya masuk ke dalam ragaku dengan cara menindih. Untuk melancarkan usahanya, tiba-tiba duniaku disenyapkan makhluk itu. Mendadak aku seperti berada di dalam tabung kaca yang bening. Ada sekat yang tak kasat mata memisahkan aku dan semua orang yang ada di rumah ini. Bisikan-bisikan Pak Royan terdengar hanya seperti desisan angin, sementara teriakan Arga tak terdengar jelas saat diterima telinga. Mungkin hanya aku yang bisa melihat. Mereka sibuk berkelebat memperhatikanku, baik dari jauh maupun dekat. “Lawan, Sayang! Lawan, Sayang! Ingat! Kata Pak Royan, kamu sudah berulang kali mengusirnya. Kali ini kamu pasti bisa mengusirnya lagi. Lawan, Sayang!” perintah Arga berulang-ulang dengan suara yang hanya sayup-sayup terdengar. Aku terus berusaha bergerak. Ingin sekali rasanya bangkit lalu berlari, tetapi tak ada yang dapat aku lakukan kecuali diam. Tubuhku seperti terkunci mati. Bahkan, geliat kecil tidak bisa aku lakukan. Beruntung yang terkunci hanya otot lurikku saja. Jika otot polos ikut menjadi kaku, dapat dipastikan aku akan pulang hanya tinggal nama. Kutatap nanar mahluk tidak berbaju itu. Otot-otot tubuhnya yang menonjol berwarna merah membara. Ada tanduk yang mencuat tak seberapa panjang dan ekornya berbentuk serupa anak panah. Matanya yang selalu melotot tampak bertambah merah menyala. Sementara itu, dari geliginya menetes liur berwarna hitam yang baunya teramat busuk. Menurutku dia persis gambaran iblis yang sering dimuat di media-media dan film barat. Kini, tidak aku sangka bisa menyaksikannya dengan mata batinku. Bahkan, jaraknya denganku sekarang tak lebih dari satu meter saja. Sosok itu, terus melayang turun pelan-pelan dan semakin dekat. Caranya mendekat dengan sangat lambat justru membuatku semakin digigit rasa ngeri. Aku terus berusaha menggeliat sekuat tenaga. Sayangnya, tetap tak satu gerakkan pun yang dapat aku buat. Akhirnya terselip pikiran untuk membiarkan apa pun yang terjadi. Saat hati menyatakan tidak peduli akan apa pun yang terjadi, lidah makhluk itu menjulur panjang dan menjilat wajahku. Setetes dua tetes liurnya telah menyapaku lebih dulu. Menjijikkan dengan baunya yang teramat busuk. Indera penghiduku yang bekerja baik, kembali membawa pikiran dan hati bertempur dalam membuat satu keputusan penting, membiarkan atau menolak kemauan makhluk itu. Iman dan godaan terus berkonflik dalam diriku. Yang mengherankan, hawa di bawah tubuhku terasa sejuk. Sementara, si iblis buruk rupa itu mendekat dengan hawa panasnya yang membara. Kedua rasa itu tercampur dan kurasakan merata ke sekujur tubuh. Seperti ada dua kekuatan berbeda yang sama-sama ingin merasuk ke tubuhku. Detik demi detik tatapan si iblis yang berbalas, berefek bagai hipnotis padaku. Sedikit demi sedikit dia seperti semakin menguasai. Duniaku nyaris benar-benar disenyapkannya. Namun, sebelum rasa terkuasai itu menjadi penuh, aku merasakan jepitan kuat pada ibu jari kaki. Setelah itu, entah bagaimana caranya, suara Pak Royan bisa menembus dinding tak kasat mata itu. Sehingga kudengar jelas beliau berteriak seperti langsung di telinga, “Hasbunallahu nikmal wakil!!!” Blam! Sebentar aku merasakan pengang. Zikir yang mengagungkan kekuatan sang Pemilik Semesta itu seperti meledak di telinga. Getarannya nyaris melampaui ambang batas dengar telinga. Kalimat zikir itu seperti ditumpangi kekuatan tenaga dalam yang menghantam si iblis. Sontak tubuh merah membara itu terdorong menjauh kembali naik untuk beberapa puluh senti ke atas, menjauh. Satu kali itu saja terjadi, kemudian sayup-sayup suara Pak Royan terdengar menuntunku membacakan surah Alfatihah, Al Ikhlas, Al ALaq, AnNas dan terakhir ayat kursi. “Terus zikirkan surat-surat itu walau dalam hati, Kak Nila!” Begitu perintahnya. Tidak disangka hal itu menimbulkan amuk makhluk buruk rupa di hadapanku. Pandanganku yang masih menangkap samar bayangan tubuh Pak Royan dan Arga yang duduk bersebelahan terlempar membentur dinding. Terkena kebutan angin dari kibasan tangan si iblis buruk rupa. Setelah itu, samar-samar kulihat bayangan Arga bangun terhuyung-huyung. Aku merasa sedih bercampur marah melihat kekasih hatiku tersakiti olehnya. Namun, sayangnya aku tidak tahu bagaimana cara membalas. Walau tanpa tanda sadar, menurut Pak Royan aku telah berkali-kali mengusir penyusup liar, pencari inang baru itu. Sesaat itu akhirnya kepalaku sibuk mencari akal ingin membalasnya. Sebongkah hati berotot polos yang masih bekerja atas kehendak Allah, akhirnya kukeraskan untuk berusaha menggaungkan ayat kursi. Meski iblis tak takut dengan kuasa ayat itu, tetapi hatiku yang pasrah bergantung pada sang MahaKuasa, tak akan mungkin ditundukkannya, begitu pikirku. “Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qayyumu. Laa ta’khudzuhuu sinatuw wa laa nauum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardhi. Mandzal ladzii yasfa’u ‘indahuu illaa bi idznihi. Ya’lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum. Wa laa yuhithuuna bi syai-in min ‘ilmihii illaa bi maasyaa-a. Wasi’a kursiyyuhussamaawaati wal ardha. Wa laa ya-udhuu hifzhuhumaa wahuwal ‘aliyyul azhiim.” “Lawan, Sayang! Jangan biarkan masuk!” Bisikan Arga terdengar semakin jauh. Namun, cukup untuk membangkitkan semangat untuk terus melawan, setidaknya bertahan. Wajah menjijikkan dan buruk rupa itu kian menunjukkan kemampuannya untuk menguasaiku. Dia ingin memaksa masuk dengan menindih. Hatiku sempat bersedih, merasa nyaris tidak berdaya ketika dengan kekuatannya dia membuatku yang mendekat padanya. Tiba-tiba, tubuhku melayang, terangkat sedikit demi sedikit meninggalkan lantai. Rasa sejuk yang semula kurasakan di seluruh permukaan tubuh bagian bawah, tidak lagi bisa dirasakan. Seperti tak ada lagi celah untuk menolak selain menyerah. Detik yang sama, terlintas dalam pikiran jernihku untuk pasrah sempurna pada Pemilik makhluk susungguhnya. Aku tahu nyawaku ada digenggaman Sang Pemilik Semesta, bukan dia. Jika aku mati, itu pasti atas kehendak Allah subhanahu wata’ala. Jika dia ingin merasukiku, pastilah karena Allah membiarkannya. Saatnya untuk pasrah pada keinginan Allah saja. Kututup ayat kursi dengan zikir yang dipekikkan Pak Royan di telingaku tadi. “Hasbunallah wa nikmal wakil!!!” Menggaung di hati dan di kepala, dengan keberserahan hati sepenuhnya pada Allah subhanahu wata’ala. Mendadak seringainya berubah menjadi mulut menganga lebar, sambil meraung sekeras-kerasnya. Sebentar dia menggeliat sementara ekornya mengibas dan menampar ke mana-mana. Sebelum lenyap, dia semburkan hawa panas yang tidak tertahankan, seperti sampai pada ambang batas ketahanan tubuh untuk meredam sakitnya. Bersamaan dengan itu, kuncian pada seluruh otot lurikku terlepas. Setelah itu, tubuhku lunglai dan terhempas keras ke atas lantai. Lepas dari semua itu, kurasakan gelap, sunyi, dan senyap. Aku kehilangan kesadaran. Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Sampai akhirnya aku bisa mendengar suara orang yang sedang berbincang, pertanda kesadaran mulai menyapa. Rasa aman menelusup hati, saat suara yang dominan terdengar adalah: suara suamiku, Arga. Segera kupaksakan mata untuk terbuka, ingin bisa melihat dia secepatnya. “Danila,” panggilnya lirih. Usapan jari-jarinya terasa menyentuh kulit pipiku. “Bangun, Sayang!” pintanya berbisik. Kukerjapkan mata untuk menghilangkan buram. Kerjap berikutnya mataku sudah sanggup menangkap sosoknya dengan jelas. Matanya terlihat kuyu dan sembab dengan cuping hidung yang memerah. Sepertinya dia menangis. Tubuhku masih terasa melayang, tetapi ternyata bukan karena ditarik oleh makhluk astral asal neraka itu lagi. Akan tetapi, karena berada di atas pangkuan Arga, yang sengaja bergoyang-goyang seperti menina bobokanku agar tenang. “Alhamdulillah, akhirnya kamu bangun,” ucapnya. Ya, akhirnya aku terbangun dengan tubuh yang begitu lemah tidak berdaya. Arga memelukku dengan badan terus digoyangkan seperti sedang mengayun. Sementara kepala kami yang saling bersilangan pada ceruk leher membuat goyang itu terasa solid. Hening, berdua menikmati rasa damai yang sengaja kami ciptakan. “Alhamdulillah kamu selamat,” ungkapnya di sela waktu itu, beberapa kali. Kusahuti dengan ucap kesyukuran yang sama di hati. Lepas suamiku berucap itu, satu per satu orang yang ada dalam rumah datang menyambangi. Mereka menyambut kesadaranku sambil ikut berucap syukur. Arshi yang duduk di sebelah, menepuk pundak Arga. Tammi yang juga segera tertangkap oleh pandanganku segera tersenyum. Bahkan Firdaus dan Husin ikut melongok lalu tersenyum. Tak ketinggalan Bu Rohana datang dengan secangkir teh manis hangat buatannya yang nikmat. “Alhamdulillah, Kak Nila sadar,” ucapnya sambil menyodorkan secangkir teh itu. “Minum dulu, Kak Nila! Biar ada tenaga!” Pelan Arga mengambil cangkir dari tangan Bu Rohana, mengambil alih niat perempuan ramah istri Pak Royan itu. Dengan wajah lega Bu Rohana memandangku saat Arga memberiku minum teh. “Yuk, minum sampai habis tehnya, Sayang! Biar tenaga yang hilang bisa terganti,” Arga membujukku untuk menghabiskan secangkir teh itu langsung dan aku menurutinya. Yang terakhir, Pak Royan datang mendekat. Beliau memeriksa detak jantungku lewat nadi di pergelangan tangan. Tatapan teduhnya menghunjamku sebentar. “Alhamdulillah, Kak Nila selamat dan baik-baik aja,” ucapnya sambil mengalihkan tatapan pada Arga. Suamiku mengangguk dengan wajah lega. Aku tidak tahu apa yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri. Wajah kusut masai Arga sebelumnya tidak memberi gambaran pasti seperti apa sikapnya tadi. Tidak terasa, ternyata hari sudah menuju pagi. Aku menyadari hal itu ketika Firdaus membuka salah satu jendela rumah papan Pak Royan. Langit yang tertangkap mataku terlihat mulai membiru. “Sebaiknya, kita berangkat sekarang!” Perkataan Pak Royan terdengar seperti memecah pikiran semua orang yang ada. Arga tidak langsung menjawab, pun Arshi. Sebentar tiga lelaki dewasa itu saling mengadu tatap, tetapi tidak saling bicara. Sampai akhirnya Arga mengangguk sambil berkata, “Baik Pak, kita berangkat sekarang!” Aku tidak tahu bagaimana rencana yang mereka buat. Aku hanya bisa menurut dan ikut rencana mereka. Arga segera membopongku, sehingga tak sempat melihat apa-apa dan siapa-siapa. Aku pejamkan mata sambil merangkul leher lelaki kesayanganku, setelah Arga berkata, “Kita berangkat sekarang, Sayang. Semoga perjalanan kita lancar. Aamiin.” Kuaminkan doanya, dalam gendongan Arga, kami menembus pagi yang masih sunyi, sepi dan dingin. Terdengar langkah-langkah berderap cepat memburu menuju dermaga kecil di mana penduduk kampung menambatkan perahu-perahu bermesin milik mereka. Tidak aku sangka, ternyata kami berangkat semua, tidak ada yang tertinggal, bahkan Bu Rohana, Husin dan Firdaus turut juga. Aku tetap dalam pangkuan dan dekapan Arga. Ketika semua telah menaiki perahu bermotor. Pak Royan mengeratkan lilitan syal rajut lusuh miliknya sebelum segera menjalankan perahu dengan kecepatan cukup tinggi. Kami bagai pelarian dari penjara. Semua wajah yang aku lihat begitu tegang. Tak ada senyum apalagi canda atau tawa, suasana terasa mencekam. “Tidurlah, Sayang! Aku akan menjagamu,” bisik Arga saat perjalanan dimulai. Aku belum bisa menjawab dengan kata, hanya sanggup mengangguk samar lalu menyuruk dalam lengannya. Aku percaya, Arga memintaku tidur agar aku tidak merasakan takut saat melewati hutan mangrove dan pemandangan yang menakjubkan di pagi buta. **WMB** Giza, 08092021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN