Chapter 1. Vacation In Cancun
Tiupan angin malam yang dingin membuat tubuh menjadi menggigil. Suhu kota itu pada malam hari memang berbeda dengan suhu ketika siang hari. Cancun, kota indah yang terletak di pesisir pantai Mexico. Pasirnya yang putih dan air pantai yang biru, sudah cukup menjadi magnet bagi para wisatawan untuk menjadikan Cancun sebagai tujuan liburan mereka. Desiran ombaknya semakin menambah pesona keindahan kota yang sering disebut Mexican Carribean itu.
"Mexican Carribean. Akhirnya kita tiba juga ditempat yang eksotik ini" kata seorang pemuda yang sedang membawa travel bag menuju kedalam sebuah hotel.
"Tempat ini benar-benar indah" sahut seorang gadis.
Beberapa orang remaja sedang mengadakan liburan musim panas mereka disurganya Mexico yaitu Cancun. Kelompok tersebut terdiri atas tujuh orang remaja, empat orang pria: Oscar, Juan, Christian, serta Angel dan tiga orang wanita: Daniela, Nicole dan Natalia. Masing-masing dari mereka membawa travel bag, sepertinya mereka akan memanfaatkan liburan panjangnya dengan sebaik-baiknya. Saat itu mereka memandang keluar hotel untuk melihat pemandangan yang luar biasa indah.
Kegembiraan terlihat di ekspresi wajah mereka, terkecuali Oscar, yang terlihat murung.
"Sayang, ada apa denganmu? Mengapa kau diam saja? Apa kau tidak senang berada disini?" tanya gadis yang bernama Daniela.
"Mmm.. tidak, aku tidak apa-apa. Aku senang berada disini. Apalagi bersama denganmu" ujar Oscar dengan tersenyum dan kemudian mendaratkan kecupannya di bibir manis Daniela.
"Hey Oscar!? Jangan bermesraan disitu. Apa kau sudah memesan kamar untuk kita?" kata salah satu temannya yang bernama Juan.
"Baiklah, aku akan memesan kamar" sahut Oscar.
Oscar dengan ditemani Daniela, menuju meja resepsionis untuk memesan tiga buah kamar. Salah satu dari kunci tersebut bernomor 180.
"Terima kasih" ujar Oscar.
"Guys!! Ayo!! Kamarnya sudah dipesan" panggil Daniela kepada teman-temannya.
Juan, Christian, Angel dan Nicole pun segera bergegas menuju kamar mereka masing-masing.
"Natalie!! Kamarnya sudah di pesan" Nicole memanggil Natalia yang sedang berada di luar hotel, menikmati udara malam kota Cancun yang dingin.
"Ok" ucap Natalia sambil tersenyum.
Ia pun berlari memasuki hotel dan bergabung bersama dengan teman lainnya menuju kamar mereka.
"Angel, aku akan sekamar denganmu" kata Christian.
"Apa?! Oh sialnya diriku" sahut Angel dengan nada mengejek pada Christian. Ucapan Angel disambut gelak tawa oleh Oscar dan yang lainnya.
*****
"Ini kunci kamar anda, Mr. Cranston. Bellboy akan mengantarkan anda ke kamar. Selamat beristirahat" ucap sang resepsionis itu ramah kepada sepasang suami istri yang sedang berbulan madu.
"Terima kasih" sahut sang suami.
"Oh, dear. Aku benar-benar bahagia kita bisa berbulan madu di tempat ini" kata sang wanita.
"Tentu Isabel. Aku juga bahagia" sahut sang pria.
"Tapi udaranya dingin, ya" kata wanita yang bernama Isabel itu.
"Jangan khawatir, udara malam di sini memang dingin, tetapi besok saya yakin udara tidak akan dingin lagi" kata sang resepsionis.
Pasangan suami istri itupun di antar oleh bellboy menuju kamar mereka.
*****
Tamu lainnya yang akan menginap di hotel tersebut adalah tiga orang mahasiswa jurusan sejarah yang sedang melakukan riset mengenai reruntuhan El Rey yang ada di Cancun. Mereka adalah Rafael, Patricia dan Anna.
"Welcome to Cancun" kata Patricia.
"Aku masih tidak percaya, kita akan melakukan penelitian peninggalan bersejarah di kota ini. Aku jadi tidak sabar ingin melakukannya segera" sahut pemuda bernama Rafael.
"Jangan terburu-buru seperti itu Rafael, apa kau tidak lelah" kata Anna.
"Anna benar. Kita semua kan lelah karena perjalanan tadi" kata Patricia.
"Aku tahu... aku tahu... ya sudah ayo kita pesan kamar" ujar Rafael.
Rafael dan Patricia segera masuk ke hotel. Mereka berdua tidak menyadari kalau Anna sedang kesulitan saat membawa barang-barangnya. Sehingga salah satu tasnya hampir terjatuh. Namun seorang pemuda berjaket hitam dengan cepat menahan tas itu agar tidak terjatuh.
"Terima kasih" ucap Anna sambil tersenyum.
"Sama-sama. Mari biar kubantu membawa tas-tas mu ke dalam" sahut pemuda tersebut.
"Oh, terima kasih sekali......eeee....."
"Santiago del Valle, panggil saja Santiago"
"Mmm... aku Anna. Senang berkenalan denganmu".
*****
Sebuah mobil Porche berwarna merah berhenti tepat di depan gedung hotel. Mobil tersebut ditumpangi oleh dua orang pemuda dan seorang gadis. Martin, Mickey dan Renata.
"Woooooohooooo.... kita tiba di Cancun" kata Mickey.
"Aku tidak sabar ingin segera berselancar besok" ujar Martin.
"Aku juga. Kalau begitu bagaimana kalau besok kita bertanding" tantang Mickey.
"Baik. Aku terima tantanganmu" sahut Martin.
"Dasar pria...." gerutu Renata.
*****
Pagi harinya....
Udara yang sebelumnya dingin menusuk tulang, kini terasa segar dan hangat. Matahari bersinar dengan cerahnya. Cahayanya terpantul butiran-butiran pasir sehingga membuatnya jadi tampak berkilauan. Benar-benar sebuah panorama yang indah.
"Jimmy, ayo buang permen karetmu" kata seorang ibu kepada anak laki-lakinya yang kira-kira berusia sekitar 7 tahun.
Anak itu pun menuruti perintah sang ibu dan membuang permen karetnya dengan cara seperti membuang ludah.
Kemudian seorang pria berpakaian seragam berwarna putih berjalan menuju areal dermaga. Tanpa sengaja ia menginjak permen karet yang dibuang oleh anak kecil tadi. Ia terus berjalan tanpa merasakan ada sesuatu di bawah tapak sepatunya yang sebelah kiri.
Di sisi lain, ada seorang pria tua sedang merokok sambil sembunyi-sembunyi. Namun tiba-tiba seorang wanita menarik rokok itu dari mulutnya dengan paksa dan membuangnya ke tempat sampah, namun rokok tersebut tidak tepat masuk ke dalam tempat sampah itu. Sehingga rokok itu pun terjatuh ke tanah.
"Bukankah kau bilang sudah berhenti merokok?" bentak wanita itu.
"Aku sudah mencobanya tapi tetap tidak bisa..."
Kedua orang itu menuju ke pantai sambil terus beradu mulut.
Pria yang berpakaian seragam tadi pun kini melewati tempat itu, dan sekali lagi tanpa ia sadari, rokok yang masih aktif itu terinjak di sepatu yang sama saat ia menginjak permen karet di tempat sebelumnya. Alhasil rokok tersebut menempel di bawah tapak sepatunya akibat merekat pada permen karet tadi. Mungkin karena tapak sepatunya yang tebal, yang membuat pria itu tidak merasakan ganjalan di bawah tapak sepatunya.
Akhirnya ia pun sampai di dermaga, dan ternyata pria itu adalah sang pengemudi kapal wisata.
Sebuah kapal wisata bertuliskan nama LIFE FRIENDS sudah berada di pinggir dermaga. Kapal tersebut dipersiapkan oleh pihak pengelola tempat wisata untuk para wisatawan yang ingin menikmati indahnya laut biru lebih dekat. Kapal tersebut mempunyai kapasitas mengangkut tiga puluh orang penumpang. Terdapat dua orang anak buah, dan seorang pengemudi serta seorang pemandu.
Oscar, Daniela, Juan, Nicole, Christian, Natalia, dan Angel juga sudah bersiap untuk menaiki kapal itu. Begitu pula dengan pasangan suami istri, Lorenzo dan Isabel. Di belakang mereka ada Rafael, Patricia dan Anna, yang juga ingin menikmati fasilitas tersebut.
Oscar melihat nama kapal wisata tersebut. Cahaya matahari sempat memantul di badan kapal tersebut dan menyilaukan pandangannya, sehingga sesaat ia hanya melihat tulisan "LIFE END".
"Oh ya, aku lupa handycamku" ucapnya.
"Ayo cepat ambil, nanti kau bisa di tinggal" sahut Daniela.
"Tunggu sebentar ya"
Oscar keluar barisan penumpang yang antri. Ia berlari kembali ke hotel untuk mengambil handycamnya. Di hotel terdengar alunan lagu Jack's Mannequin yang berjudul 'Swim'.
Oscar berlari tergesa-gesa sambil membawa handycam ditangannya. Karena berlari terburu-buru, tanpa sengaja Oscar menubruk wanita memakai sebuah bandana, dan beberapa aksesoris di tangan, leher dan telinganya. Dari penampilannya, wanita itu seperti seorang wanita gypsi.
"Oh maaf. Saya tidak melihat anda" kata Oscar.
"It's ok. Tidak apa-apa" sahut wanita tersebut.
Wanita itu melihat kaos yang dikenakan Oscar. Kaos berwarna merah dengan gambar kapal dan bertuliskan sebuah kata 'underwater'.
"Underwater" ucap wanita itu pelan.
"Maaf, apa anda mengatakan sesuatu?" tanya Oscar.
"Oh, tidak. Hanya melihat tulisan dikaosmu" kata wanita itu.
"Tulisan?" Oscar terdiam sejenak sambil melihat tulisan yang ada dikaosnya itu. "Baiklah, teman-temanku sudah menungguku, aku harus pergi. Sekali lagi maaf karena telah menabrak anda".
Oscar sempat merasa aneh dengan ucapan wanita itu, namun ia tidak menganggapnya serius karena ia sedang terburu-buru.
"Ya. Tidak apa-apa" jawab wanita itu.
Oscar berlari kembali meninggalkan hotel itu menuju dermaga yang ada di pinggir pantai. Sementara wanita gypsi itu menatap Oscar dengan tatapan khawatir.
Dibagian lain di dermaga tersebut, Martin, Mickey dan Renata sudah bersiap dengan kapal boat sewaan mereka sendiri. Karena Martin merupakan anak orang berada, sehingga ia mampu menghabiskan uangnya untuk hal yang ia suka.
Sementara itu tidak jauh dari kapal wisata Life Friends berada, Santiago sedang mempersiapkan dirinya untuk melakukan parasailing.
Tbc..