Chapter 3. Shock And Roll

1229 Kata
Proses evakuasi korban masih terus berlangsung. Pihak kepolisian terus menyelidiki penyebab kecelakaan yang menewaskan seluruh penumpang dan pengemudi kapal lainnya. Oscar, Daniela, dan beberapa survivor lainnya menyaksikan proses tersebut dengan perasaan miris. Terutama kelompok Oscar yang kehilangan dua sahabat karibnya, Christian dan Angel, serta Renata yang kehilangan kekasihnya, Martin. Hari pun menjelang malam. Ketika selesai dimintai keterangan oleh pihak kepolisian, para survivor itu pun kembali ke hotel tempat mereka menginap. Setelah tiba di hotel, masing-masing dari mereka menghubungi keluarganya untuk mengabarkan keadaan mereka yang baik-baik saja. "Apa kata orang tuamu?" tanya Daniela. "Mereka sangat khawatir" sahut Oscar. "Ya, orang tuaku juga mengkhawatirkanku, tapi aku meyakinkan mereka kalau aku benar-benar dalam keadaan selamat" ujar Daniela. "Jadi, apa kita akan pulang?" tanya Nicole. Juan yang baru selesai menghubungi orang tuanya, langsung memotong pembicaraan itu. "Apa? Pulang?! Kita memang sedang tertimpa musibah, tapi apa setidaknya kita disini dulu untuk beberapa hari". "Aku terserah kalian saja, kalau mau menetap disini beberapa hari lagi, aku setuju. Kalau mau pulang aku juga setuju. Jadi apa pun keputusan kalian, aku terima saja" kata Natalia. Mereka terdiam beberapa saat, kemudian Oscar pun menyetujui usul Juan, untuk meneruskan liburan mereka dalam beberapa hari kedepan. "Ok, kita menetap dulu disini" kata Oscar. "Thank's Oscar" sahut Juan sambil menepuk pundak Oscar. ***** Di salah satu kamar hotel itu, terlihat Renata sedang menangis sambil memeluk sebuah bantal. Semetara Mickey kebingungan melihat saudaranya yang sedih karena kehilangan kekasihnya. "Ayolah Renata, berhentilah menangis. Aku juga kehilangan Martin, tapi semuanya telah terjadi. Yang terpenting saat ini adalah, kita berdua bisa selamat, karena tidak jadi menaiki boat itu" ujar Mickey. Renata tidak memperdulikan ucapan Mickey, dia tetap saja meratapi kematian Martin, kekasihnya. "Baiklah, aku menyerah. Jika kau mencariku, aku ada di club hotel ini" ucap Mickey sambil mengenakan jaketnya dan meninggalkan Renata di kamar itu sendirian. ***** Keesokan harinya.... "Hey Oscar, mengapa kau tidak ikut bersama para gadis bermain di pantai?" tanya Juan. "Entahlah, aku tidak bersemangat. Mungkin nanti" sahut Oscar. "Ya sudah. Kalau begitu aku tinggal dulu" kata Juan. "Kau mau kemana?" tanya Oscar. "Aku mau menemui temanku, seorang pemilik night club di kota ini. Seharusnya aku menemuinya kemarin malam, tapi karena kejadian kecelakaan itu, aku baru menemuinya siang ini. Apa kau mau ikut denganku?" kata Juan. "Tidak, terima kasih" sahut Oscar. "Baiklah, aku pergi dulu" ujar Juan yang meninggalkan Oscar di kamar hotelnya. Oscar menatap keluar jendela. Jendela kamarnya tepat menghadap ke pantai. Ia melihat Daniela dan Nicole sedang bermain voli pantai. Saat ia sedang menatap keluar jendela, tiba-tiba angin bertiup kencang masuk kedalam kamarnya dan menerpa wajahnya. Kemudian angin itu pun lenyap, sesaat pintu kamarnya di ketuk dari luar. "Tok... tok... tok..." Oscar masih merasa aneh, karena di pantai tidak ada tanda-tanda angin yang bertiup kencang, padahal baru saja ia merasakan angin yang bertiup mengisi ruangan kamarnya. Anehnya lagi salah satu pakaian Juan yang sedang tergantung pada sebuah hanger, tiba-tiba terjatuh. "Tok... tok... tok..." Suara ketukan kamarnya kembali terdengar. Ia pun bergegas membuka pintu kamarnya. "Natalie?" "Hey Oscar, boleh aku masuk?" ***** Sementara itu Juan sudah tiba disebuah night club dengan menggunakan sebuah mobil sewaan. Night club itu bernama 'Fallen Mars Club'. Di depan pintu terpajang sebuah poster bertuliskan 'Get Shock by Music'. "Kami belum buka" teriak seseorang dari balik meja bartender. "Apakah peraturan itu juga berlaku untukku?" ujar Juan. Pria yang berada dibalik meja bartender itu berdiri dan melihat Juan sambil tertawa. "Hai, Juan. Ha..ha..ha.. darimana saja kau? Mengapa kau tidak jadi ke clubku kemarin malam?" tanya pria itu. "Maaf Ian, aku terkena musibah kemarin" sahut Juan. "Musibah? Maksudmu?" tanya pria yang bernama Ian itu. "Kau tahu berita kecelakaan kapal wisata yang terjadi di pantai Cancun?" tanya Juan. "Kecelakaan itu? Ya, aku melihatnya di televisi" kata Ian. "Aku adalah salah satu penumpang kapal itu" ujar Juan. "What? No why!! Bagaimana kau bisa selamat? Bukankah menurut informasi tidak ada penumpang yang selamat" tanya Ian heran sambil berjalan menuju panggung band. "Ya, katakanlah kalau aku ini beruntung, karena aku tidak jadi naik kapal itu" "Wow, jarang-jarang kau mendapat keberuntungan" ejek Ian yang sedang memeriksa beberapa peralatan bandnya. "Di mana para pekerja yang lain?" tanya Juan. "Mereka akan tiba satu jam lagi" jawab Ian. Beberapa saat kemudian telepon genggam milik Ian berbunyi. Sebuah pesan singkat terkirim ke telepon miliknya itu. "Juan, aku mau pergi sebentar. Pacarku menyuruhku untuk menjemputnya. Kalau kau masih mau disini silahkan saja, sekalian aku titip tempat ini padamu" ujar Ian. "Tentu-tentu, tidak masalah. Aku akan menjaga tempat ini selama kau pergi" kata Juan. "Baiklah, terima kasih" sahut Ian. Ian mengenakan jaket hitam yang ia letakkan di atas sebuah bangku kemudian memungut kunci mobil yang berada di atas meja bartender. "Oh ya, kalau kau mau minum ambil sendiri saja" teriak Ian dari depan pintu. "Ok" jawab Juan. ***** Di hotel, Daniela dan Nicole yang kembali dari pantai langsung menuju ke kamar Oscar, bermaksud untuk melihat keadaannya. Namun alangkah terkejutnya Daniela, ketika ia memergoki Oscar dan Natalia yang hampir berciuman. "Oscar..." bentak Daniela yang terlihat kecewa. "Daniela, aku..." Daniela merasa kesal dan kecewa, kemudian ia pergi meninggalkan kamar Oscar. Melihat Daniela yang sedang marah, Oscar pun langsung mengejar Daniela ke kamarnya. "Daniela tunggu..." panggil Oscar. Sementara itu Natalia terlihat malu dan merasa bersalah karena telah membuat Daniela marah. "Apa yang telah kau lakukan?" tanya Nicole kepada Natalia. "Aku... entahlah. Awalnya kami tadi hanya sedang berbincang, tapi..." "Tapi selanjutnya kalian berciuman" kata Nicole yang juga merasa kesal. "Maafkan aku, aku tadi khilaf" ujar Natalia. "Seharusnya kau minta maaf kepada Daniela, bukan kepadaku. Seharusnya kau berfikir dulu sebelum melakukannya. Kau sudah tahu kan, Oscar adalah pacar Daniela, dan Daniela adalah sahabatmu. Apa kau mau menghancurkan persahabatan kalian?" kata Nicole. "Nicole, aku benar-benar menyesal. Baiklah aku akan minta maaf kepada Daniela sekarang juga" ujar Natalia. ***** Dilain pihak, Oscar mengejar Daniela hingga keluar hotel. "Daniela.. Daniela.. tunggu" panggil Oscar. "Oscar, kau benar-benar mengecewakanku" kata Daniela dengan wajah kesal. "Daniela, maafkan aku. Aku tidak bermaksud melakukan itu dengan Natalie..." Ucapan Oscar terhenti saat ia mendengar sebuah petikan senar gitar yang begitu jelas di telinganya. Oscar menoleh ke kiri dan kanan, namun ia tidak melihat seorang pun yang sedang bermain gitar. "Kau dengar itu?" tanya Oscar. "Dengar apa? Jangan bilang kau ingin mengalihkan pembicaraan. Kau benar-benar b******k. Jangan berani-berani mengejarku lagi" Daniela semakin kesal dan marah, lalu ia pergi meninggalkan Oscar yang masih terlihat heran dan kebingungan akan suara gitar yang tadi jelas-jelas terdengar di telinganya. "Daniela... tunggu!!" panggil Oscar. Namun kali ini Daniela benar-benar tidak menggubris panggilan Oscar. ***** Juan yang masih berada disebuah night club milik temannya, tengah meneguk segelas minuman beralkohol. Kemudian ia meletakkan gelas minuman itu di atas sebuah sound system. Ia memperhatikan beberapa buah gitar listrik yang terletak disebelah sound system tersebut. Diantara gitar-gitar listrik itu, terdapat sebuah gitar klasik. Ia mengambil gitar tersebut sambil tersenyum. "Aku tidak percaya kalau Ian masih menyimpan gitar ini" ujarnya. Kemudian ia mencoba memainkan gitar tersebut, sambil sesekali mengatur ketegangan senar gitar tersebut. Ketika ia sedang asyik memainkan gitar itu, tiba-tiba salah satu senarnya terputus dan terlontar mengenai matanya yang sebelah kanan. Karena merasa kaget dan kesakitan akibat terkena senar gitar itu, tanpa sengaja sikunya menyenggol gelas minumannya yang ia letakkan di atas sound system tadi. Gelas itu pun terguling dan menumpahkan isinya. Tumpahan minuman tersebut mengenai bagian belakang sound system yang masih terhubung dengan aliran listrik, sehingga menimbulkan reaksi percikan-percikan listrik yang membuat seluruh alat musik listrik di atas penggung jadi korsleting. Juan yang masih memegangi matanya yang sakit, berusaha melindungi dirinya dari percikan-percikan listrik yang makin lama makin menjalar ke beberapa alat listrik lainnya. Saat ia hendak meninggalkan panggung band tersebut, kaki kirinya tersandung tiang penyangga mikrofon dan membuatnya terjatuh di atas panggung. Sementara itu korsleting menjalar ke panel utama pengatur aliran listrik, sehingga membuat lighting yang tergantung tepat di atas panggung band pecah. Karena getaran yang diakibatkan percikan-percikan listrik tersebut, akhirnya lighting itu pun terjatuh dan menimpa tubuh Juan, sekaligus memberinya sengatan listrik dalam tegangan yang sangat tinggi. ***** Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN