Mila telah kembali ke rumahnya setelah dijemput oleh orang tuanya. Di wajahnya masih terlihat rasa ketakutan dan trauma akibat kejadian naas yang terjadi di taman wisata laut Sea World San Diego beberapa waktu lalu.
"Sayang, sebaiknya kau beristirahat di kamarmu" ucap sang ibu.
Mila hanya mengangguk pelan dan bergegas menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Kedua orang tuanya hanya saling memandang ketika melihat puteri mereka yang masih merasakan ketakutan. Terlebih lagi ia harus kehilangan beberapa teman-teman sekolahnya yang tewas terjebak didalam akuarium raksasa itu.
Didalam kamar, Mila berbaring ditempat tidurnya sambil menutupi seluruh wajahnya dengan selimut yang tebal. Air mata menetes di pipinya, tatkala ia mengingat tentang kejadian yang mengerikan itu.
Saat ia sedang berbaring, tiba-tiba hembusan angin masuk kedalam kamarnya melalui jendelanya yang terbuka. Angin tersebut menghembuskan rambutnya kuat, sehingga membuat Mila terkejut dan langsung bangkit dari tempat tidurnya.
Ia melihat keseluruh isi ruangan kamarnya. Rasa takut semakin menyerangnya. Ia melihat ke jendela kamarnya yang terbuka. Lalu ia pun turun dari tempat tidur dan menutup jendela tersebut.
*****
Malam harinya....
Disebuah studio band, tampak Beli dan teman-teman anggota bandnya sedang berlatih.
"...... Fire fire fire
Fire fire fire
Keeps on burning burning burning
In my soul..."
"Ok, kita break dulu" ujar Flint.
"Fuuuhh... aku haus sekali" ucap Dimitri yang bergegas meneguk air mineral yang ia simpan didalam tasnya.
"Guys, aku mau pulang dulu ke rumah. Ada contoh lagu yang harus aku ambil. Tadi aku lupa membawanya" kata Flint.
"Ya sudah. Tapi cepat ya" kata Beli.
"Tenang saja Beli, aku akan segera kembali kemari. Lagipula lagu ini buat band kita juga" kata Flint.
"Oh ya Flint, kebetulan kau keluar, aku ingin pesan pizza padamu" ujar Alicia.
"Mmmm... benar-benar, jangan lupa pakai keju ya" tambah Dimitri.
"Ya.. ya.. baiklah" sahut Flint sambil mengambil kunci mobilnya dan bergegas meninggalkan studio tersebut.
"Sambil menunggu Flint kembali, aku ingin nonton televisi dulu di ruang sebelah" ucap Dimitri yang beranjak menuju ruangan sebelah studio tersebut.
Saat Flint keluar dari studio itu, ia berpapasan dengan Chris.
"Hey, Flint. Apa Beli ada?" tanya Chris.
"Ya, dia ada didalam" jawab Flint.
"Ok, thanks" sahut Chris.
Chris masuk kedalam studio untuk menemui Beli, sementara Flint berjalan menuju tempat perparkiran.
"Halo sayang, bagaimana latihanmu?" tanya Chris pada Beli sambil memberikan sebuah kecupan mesra.
"Good, permainan kami semakin bagus" jawab Beli.
"Oh ya, Flint mau kemana?" tanya Chris.
"Ia mau pulang sebentar. Ada contoh lagu yang ingin ia ambil" jawab Alicia.
"Oh, begitu" sahut Chris.
*****
Di tempat tinggal Mila, terlihat kedua orang tuanya sedang menyaksikan televisi. Mila mempunyai dua saudara kandung. Seorang adik laki-laki yang berusia sepuluh tahun, dan seorang adik perempuan yang masih berusia lima tahun.
"Halo semua" sapa Mila sambil tersenyum ramah. Keadaannya terlihat sudah jauh lebih baik saat itu.
"Halo sayang, kau sudah merasa baikan?" tanya ibunya.
"Aku baik-baik saja Mom. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku" ujar Mila.
"Benarkan, dia pasti akan baik-baik saja" sambung sang ayah.
Mila pun menghampiri adik perempuannya yang saat itu sedang menggambar sesuatu.
"Hey, Lily. Kau sedang menggambar apa?" tanya Mila.
"Sebuah rumah" jawab sang adik.
Mila tersenyum ketika melihat sebuah gambar rumah yang tidak teratur bentuknya yang dibuat oleh adiknya yang bernama Lily itu.
"Hey, kak, ayo temani aku main scrabble" panggil adiknya yang laki-laki.
"Tentu, dengan senang hati, Ben" sahut Mila.
*****
Setelah tiga puluh menit perjalanan, akhirnya Flint tiba di rumahnya. Namun saat itu rumahnya sedang kosong, karena kedua orang tuanya sedang tidak ada di rumah. Flint pun membuka pintu rumahnya dengan menggunakan sebuah kunci cadangan yang tersimpan di bawah keset.
Setelah pintu rumahnya terbuka, Flint bergegas masuk kedalam dan langsung menuju kedalam kamarnya. Ia pun mengambil sebuah buku dari dalam sebuah laci.
"Ini dia yang tertinggal" ucapnya.
Setelah menemukan apa yang ketinggalan, ia segera meninggalkan kamarnya. Saat ia turun tangga, ia melihat perapian yang ada di rumahnya masih menyala.
"Apa-apaan ini? Mereka lupa memadamkan api perapian lagi" ujar Flint yang kesal kepada orang tuanya.
Flint berniat mengambil air untuk memadamkan api di perapian tersebut. Namun langkahnya terhenti ketika pandangannya tertuju kepada sesuatu yang bergerak di atas lemari yang terdapat di ruangan santai tersebut.
"Tikus sialan" umpatnya.
Kemudian dengan spontan, ia melempar tikus itu dengan kunci mobil yang ia pegang.
"Shittt...!!! Mengapa aku melemparnya dengan kunci mobilku?" ujarnya kesal pada diri sendiri.
Ia pun mendekati lemari yang tingginya lebih tinggi dari tubuhnya itu. Ia menggeser sebuah kursi plastik yang digunakan untuk membantunya melihat bagian atas lemari tersebut, guna mencari kunci mobilnya yang ia lemparkan untuk mengusir tikus tadi.
Saat ia hendak memanjat dengan menggunakan kursi itu, tiba-tiba kakinya terpeleset, sehingga dengan spontan tubuhnya bergantungan pada lemari tersebut. Karena Flint bergantungan pada lemari tersebut, berat lemari itu menjadi tidak seimbang. Akhirnya lemari itu tumbang dan menimpa sebagian tubuh Flint.
"Aaaarrgghhh..." teriaknya ketika merasakan kalau kedua kakinya patah akibat tertimpa lemari tersebut.
Sebelumnya, di atas lemari itu terdapat sebuah bola basket. Sewaktu lemari itu terguling dan jatuh menimpa Flint, bola basket itu mendrible dengan sendirinya dan menggelinding masuk kedalam perapian yang masih menyala. Bola basket itu membuat sebuah potongan kayu bara api terpental keluar perapian dan jatuh di atas karpet. Hasilnya karpet itu pun mulai terbakar. Lama kelamaan api itu pun semakin membesar.
"Oh.... shitttt!!!" ucapnya.
Flint berusaha melepaskan kakinya yang masih tertimpa lemari. Namun sepertinya ia kesulitan melepaskan kakinya, karena lemari tersebut cukup berat. Padahal api mulai menjalar mendekatinya. Namun dengan usaha yang cukup keras akhirnya ia berhasil melepaskan kedua kakinya yang tertimpa lemari tersebut.
Sementara itu, di studio band, Beli berulang kali menghubungi ponselnya. Ponsel Flint tidak terjawab karena Flint meninggalkannya didalam mobil.
"Flint..... dimana kau? Mengapa lama sekali" gerutu Beli.
"Mengapa tidak kau hubungi telepon rumahnya" ujar Chris.
"Oh ya, benar juga" ucap Beli sambil menekan-nekan tombol ponselnya untuk menghubungi nomor telepon rumah Flint.
"Kriiinggg... kriiiinggg..." suara dering telepon terdengar oleh Flint.
Ia berusaha mendekati telepon rumahnya yang berdering itu sambil menyeret-nyeretkan tubuhnya. Saat Flint hendak menggapai handle telepon tersebut, tiba-tiba ia tersadar kalau api ternyata sudah membakar sebagian pakaiannya.
Flint berusaha memadamkan api yang membakar pakaiannya itu. Namun usahanya sia-sia karena api sudah semakin membesar, membakar sebagian besar isi rumahnya. Benar-benar ironis, api mulai membakar Flint hidup-hidup. Suara teriakannya terdengar cukup menyakitkan.
"Aaaarrghhhhh......"
*****
"Apa? Fire House lagi..." ucap Ben.
Mila merasa aneh, mengapa dari awal ia bermain scrabble dengan adiknya, Ben, hanya dua buah kata "Fire House" saja yang terbentuk. Bahkan itu sudah yang kelima kalinya.
"Entahlah Ben. Kakak juga merasa heran" ujar Mila.
Mila pun mengalihkan perhatiannya kepada Lily, adik perempuannya yang masih sibuk menggambar.
"Lily, apa gambarmu sudah selesai?" tanya Mila.
"Ya, hampir" jawab Lily dengan polos.
"Mengapa rumahnya berwarna merah?" tanya Mila.
"Ini api. Rumahnya terbakar api" jawab Lily lagi dengan begitu polos.
Sekali lagi Mila berfikiran aneh. Ia menoleh ke scrabble yang dimainkan oleh Ben yang selalu memunculkan kata Fire House. Semantara Lily malah menggambar rumah yang sedang terbakar.
"Apa maksudnya ini?" ujarnya pelan.
Rasa kebingungannya semakin bertambah ketika sebuah sekilas info tentang kebakaran rumah ditayangkan di televisi.
"......sebuah rumah yang beralamat di Feet Half Street mengalami kebakaran beberapa menit yang lalu. Dikabarkan bahwa kebakaran tersebut memakan satu korban jiwa, yang diketahui bernama Flint Hoffman...."
"Oh My God..." seru Mila yang terkejut mendengar sekilas info tersebut.
"Mila ada apa?" tanya sang ibu.
Mila hanya diam membisu tidak menjawab pertanyaan yang diucapkan oleh ibunya.
*****
"Beli.....!!! Kemarilah!!!" panggil Dimitri.
Beli mendengar panggilan Dimitri dan segera menuju ruang sebelah dimana Dimitri sedang menonton televisi. Chris dan Alicia pun mengikutinya dari belakang.
"Ada apa Dim?" tanya Beli.
"Lihatlah berita itu" ujar Dimitri sambil menunjukkan jarinya kearah televisi.
Beli, Chris dan Alicia terkejut melihat berita tersebut. Sebuah kabar yang menyatakan kalau Flint, teman mereka telah tewas dalam sebuah kebakaran. Sampai-sampai Beli menjatuhkan ponselnya karena terlalu terkejut mendengar berita tersebut.
*****
Tbc