Chapter 8. Bad Luck At 13th

1527 Kata
"Santiago, aku ingin sendiri dulu" ucap Anna kepada Santiago melalui telepon genggamnya. "Tapi..." "Santiago, please" "Ok... ok... tapi jika kau membutuhkan sesuatu, kami semua ada di lobby" ujar Santiago. "Baiklah" ujar Anna sambil memutuskan hubungan teleponnya dengan Santiago. Anna benar-benar terpukul akibat tewasnya Rafael dan Patricia pada sebuah peristiwa yang mengerikan itu. Rafael dan Patricia sudah menjadi sahabat karibnya sejak pertama kali mereka bertemu di bangku perkuliahan. Kedatangan mereka ke kota Cancun adalah untuk melakukan penelitian terhadap peradaban suku Maya yang pernah ada  di dataran Mexico itu. Tetapi tak disangka keadaan berubah menjadi peristiwa tragis yang menimbulkan korban. Oscar dan teman-temannya masih mencoba mengingatkan Anna tentang teror kematian itu. Namun sepertinya Anna masih belum mempercayai tentang hal itu. Ia menganggap kejadian yang menimpa kedua temannya itu hanyalah sebuah kecelakaan biasa yang bisa menimpa siapa saja. Saat itu Anna masih menitikkan air mata, sambil merapikan barang-barangnya. Ia hendak meninggalkan kota Cancun dan kembali ke New York. Setelah selesai merapikan barang-barangnya, Anna menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Setelah selesai membasuh wajahnya, ia pun berganti pakaian. Saat mengganti pakaian, terlihat pundaknya yang sebelah kiri ada sebuah tato. Sebuah tato bertuliskan angka 13. ***** Di lobby hotel, tampak Oscar, Daniela, Natalia, Nicole dan Santiago yang kini sudah mempercayai teror kematian itu, menunggu Anna dengan perasaan khawatir. Oscar yakin kalau giliran berikutnya adalah Anna. Jadi mereka harus tetap waspada jikalau terjadi sesuatu terhadap Anna. "Aku benar-benar tidak percaya, kalau hal ini benar-benar ada" ujar Santiago. "Awalnya kami semua juga tidak mempercayainya, tapi kenyataan sudah membuktikannya kepada kita" sahut Oscar. "Apa kau yakin Anna adalah yang berikutnya?" tanya Santiago. "Meskipun tidak seratus persen, tapi aku yakin dia adalah yang berikutnya" jawab Oscar. "Mungkin sebaiknya kita menuju ke kamarnya" kata Daniela. "Ya, Daniela benar. Aku takut terjadi sesuatu didalam kamarnya" lanjut Nicole. "Kalian benar juga. Lebih baik aku saja yang melihat ke kamarnya" ujar Santiago sambil beranjak dari tempat duduknya. "Kalian tahu... hari ini bertepatan dengan tanggal tiga belas, itu angka sial bukan?" celetuk Oscar. "Apa? Tanggal tiga belas?" Santiago sedikit tersentak. "Ya. Kau bisa lihat di kalender itu" ujar Natalia yang menunjuk pada sebuah kalender yang tergantung di dinding. Wajah Santiago tegang setelah mendengar perkataan Oscar dan Natalia. Ia tidak menyadari kalau hari itu ternyata adalah tanggal tiga belas. "Santiago, ada apa?" tanya Daniela. "Oscar, kau benar... ini memang giliran Anna" ucap Santiago dengan wajah penuh kekhawatiran. Tanpa fikir panjang, Santiago langsung berlari menuju ke elevator untuk mendatangi kamar Anna. "Santiago tunggu!!! Kami ikut denganmu" ujar Oscar. Oscar bersama ketiga teman-teman wanitanya itu mengejar Santiago dan ikut bersamanya untuk menghampiri Anna di kamarnya. "Santiago beritahu kami, petunjuk apa yang kamu dapat?" tanya Oscar penasaran. "Anna pernah menunjukkan kepadaku sebuah tato yang ada di pundaknya. Dan kalian tahu gambar tato itu?" "Gambar apa?" tanya Daniela. "Angka 13" jawab Santiago. "Ini memang sebuah petunjuk. Jadi kita harus segera memperingatkan Anna" kata Oscar. Elevator berhenti tepat di lantai dimana kamar Anna berada. Saat mereka berlima keluar dari dalam elevator, ternyata Anna sudah keluar dari kamarnya dengan membawa tas yang berisi barang-barang perlengkapannya dan turun melalui tangga darurat. Anna tidak memilih turun dengan elevator, karena ia masih trauma mengenai kejadian yang menimpa kedua temannya tadi sore. "Anna... Anna... ini aku Santiago" panggil Santiago dari luar kamar Anna, namun tidak ada jawaban. "Lihat...!! Nomor kamarnya 130" ujar Daniela. Melihat angka itu, Santiago langsung membuka paksa pintu kamar itu. Namun mereka sama sekali tidak menemukan Anna didalam kamarnya. Nicole dan Daniela memeriksa kedalam kamar mandi, namun mereka juga tidak menemukannya. "Dimana dia?" Santiago semakin khawatir. Mereka keluar kamar lagi sambil melihat-lihat kesekitar lorong hotel tersebut. Ketika itu, seorang pelayan yang bertugas membersihkan kamar kebetulan lewat di lorong tersebut. "Maaf, apa anda mengetahui tamu yang menginap di kamar nomor 130 ini?" tanya Oscar. "Mmmm... kalau tidak salah, tadi ada gadis yang keluar dari kamar ini dengan membawa tas. Dan dia turun melalui tangga darurat" jawab pelayan tersebut. "Terima kasih" sahut Oscar. "Sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya Santiago. "Mengapa kau tidak menghubungi melalui telepon, kau bisa tanya dimana dia saat ini" kata Natalia. "Shiiitt... mengapa aku tidak kefikiran" Santiago mengambil telepon genggamnya dan mencoba menghubungi Anna. Ketika Santiago hendak menghubungi Anna, tiba-tiba sebuah pesan singkat terkirim ke telepon genggam milik Santiago. Santiago pun membaca pesan tersebut yang ternyata dari Anna. "Pesan dari Anna" kata Santiago. "Apa katanya?" tanya Daniela. "Ia sudah check out dari hotel ini, dan saat ini sedang menuju bandara. Ia berencana untuk kembali ke New York, malam ini juga" jelas Santiago. "Kita harus mengejarnya, dan Santiago kau harus terus mencoba menghubunginya" kata Oscar. Mereka berlima meninggalkan hotel untuk mengejar Anna dan berharap kalau dia belum jauh. Mereka menggunakan mobil sewaan milik Oscar untuk mengejar Anna hingga ke bandara. Sementara itu Santiago terus mencoba menghubungi Anna. Namun Anna tidak mengindahkan panggilan telepon tersebut. Karena merasa heran juga, mengapa Santiago terus menghubunginya, akhirnya Anna menjawab telepon tersebut. Saat itu Anna sedang berada didalam sebuah taxi yang tengah berhenti disebuah pom bensin untuk mengisi bahan bakar. Sebuah kebetulan, pada pintu taxi yang sedang dinaiki Anna terdapat tulisan angka 13. "Hallo, Anna... ini aku Santiago" ujar Santiago. "Santiago, ada apa? Kau sudah menerima pesanku kan?" kata Anna. "Aku sudah menerima pesanmu, tapi Anna, kau harus memberitahukan dimana posisimu saat ini?" tanya Santiago khawatir. "Baiklah... baiklah... aku masih berada disebuah pom bensin, sekitar 10 km dari hotel. Taxiku sedang mengisi bahan bakar" jawab Anna. Disaat Santiago sedang berbincang dengan Anna dari teleponnya, Oscar yang sedang menyetir mobil, sesaat melihat sebuah bayangan api terlihat di kaca spionnya, namun ketika ia mencoba untuk memastikannya lagi, bayangan itu sudah menghilang. "Anna sedang berada disebuah pom bensin, 10 km dari hotel" ujar Santiago memberitahukan keberadaan Anna kepada Oscar. "Apa?! Shit..." Oscar melajukan mobilnya lebih kencang, sehingga membuat teman-temannya keheranan. "Oscar, ada apa?" tanya Daniela. "Api akan membunuh Anna, aku baru saja melihat petunjuknya" ujar Oscar. "Kalau begitu ayo cepat" seru Santiago yang semakin khawatir tak menentu. "Meskipun begitu, kau juga harus hati-hati membawa mobil ini" ucap Nicole yang tampak ketakutan karena Oscar mengendarai mobil itu dengan mengebut. ***** Anna keluar dari toko yang berada di dekat pom bensin. Sementara itu sang supir baru saja selesai mengisi bahan bakar, karena sebelumnya  ia harus mengantri dengan kendaraan lainnya. "Nona, ayo kita berangkat" ucap sang supir yang sedang menutup tangki bahan bakar taxinya. Sang supir tidak tahu kalau penutup tangki bahan bakar itu masih longgar. Taxi itu pun bergerak meninggalkan pom bensin tersebut. Saat meninggalkan pom bensin, taxi tersebut melewati jalan yang berlubang, sehingga timbul goncangan akibat jalan berlubang tersebut. Karena goncangan itu, penutup tangki bahan bakar pun terlepas dan terjatuh. Kini tangki bahan bakar taxi itu sedang dalam posisi terbuka. Cairan bahan bakar pun mulai keluar dan menetes dari lubang tangki bahan bakar itu. Cairan bahan bakar itu menetes mengikuti kemana arah taxi tersebut berjalan. Tidak berapa lama setelah taxi yang ditumpangi oleh Anna meninggalkan pom bensin, mobil Oscar pun tiba ditempat itu. "Aku tidak melihat taxi ada disini" kata Nicole. "Kalau begitu taxinya sudah berangkat dan tidak terjadi apa-apa disini, khususnya sebuah kebakaran" ucap Santiago. "Kita kejar lagi, mungkin belum terlalu jauh" kata Natalia. Oscar sekali lagi melajukan mobilnya dengan cepat. Sampai akhirnya terlihat sebuah taxi yang berada jauh di depan mobilnya. "Lihat! Aku fikir itu pasti taxi yang ditumpangi oleh Anna" ucap Santiago. "Santiago, coba kau hubungi Anna, dan suruh taxinya untuk berhenti" ujar Oscar. Santiago menghubungi Anna lagi. Suara nada dering terdengar oleh Anna. Saat ia hendak menjawab panggilan tersebut, tiba-tiba ban depan mobil taxi yang ia tumpangi pecah. Taxi itu pun jadi kehilangan kendali, dan hampir menabrak sebuah mobil yang datang dari arah berlawanan. Sang supir taxi mencoba mengendalikan mobilnya sampai akhirnya menabrak sebuah tiang listrik yang berada di depan sebuah toko dvd. Sang supir taxi segera keluar dari mobilnya untuk menyelamatkan diri, namun ia lupa kalau didalam taxi ada seorang penumpang. Anna mengalami pusing karena kepalanya terantuk saat taxi itu menabrak tiang listrik tersebut. Keadaan itu mengakibatkan mobil-mobil yang sedang melaju di jalan itu jadi saling menabrak. Meskipun kecelakaan beruntun tersebut cukup ringan namun menimbulkan sebuah kemacetan, sehingga mobil Oscar yang berada di belakang jadi terhalang. "Oh tidak, kita harus menyelamatkan Anna" kata Santiago. "Kalian bertiga disini saja" ucap Oscar kepada Daniela, Nicole dan Natalia. Oscar dan Santiago keluar dari mobilnya yang terjebak macet. Mereka berlari menuju taxi yang ditumpangi oleh Anna. "Anna..... keluar dari sana!!" teriak Santiago sambil berlari. Anna masih merasa pusing, ia pun mencoba keluar dari taxi itu, namun pintu taxi itu tidak bisa dibuka. Ia terus mencoba membukanya dengan paksa. Tiba-tiba radio yang ada di taxi itu berbunyi dan melantunkan sebuah lagu berjudul '13' yang dinyanyikan oleh kelompok musik 'Bad Luck 13 Riot Extravaganza' pada gelombang saluran 130, dimana lampu indikator angka nol nya padam, sehingga hanya meninggalkan angka 13 saja. "Flames of hell surround me, blood is dripping down my face, the realife psychopaths, bad luck will destroy this place". Sementara itu di dinding toko dvd, terpasang sebuah poster film 'Ocean 13' yang sudah sobek, dan hanya meninggalkan angka 13 nya saja. "Somebody.... help me...." teriak Anna yang masih mencoba membuka pintu taksinya. Karena tidak terbuka juga, Anna kemudian mencoba keluar dari pintu depan. Ketika Oscar dan Santiago hampir mendekati taxi yang ditumpangi Anna, tiba-tiba salah satu kabel listrik yang melintang di jalan itu, terputus dan jatuh tepat dihadapan Oscar dan Santiago. Seolah-oleh menghalangi mereka untuk menyelamatkan Anna. Dari kabel listrik muncul percikan api. Api pun langsung menjalar dengan cepat melalui bensin yang bocor dari tangki bahan bakar taxi tersebut. "Anna..... get away from there...." teriak Oscar. Anna berhasil keluar dari pintu depan, namun baru saja ia keluar dari taxi itu, api sudah menghampiri taxi tersebut dan meledak, membunuh Anna saat itu juga. "Tidaaaaaaaaaaaaaaakkkkk....." teriak Santiago. Oscar dan Santiago terlempar beberapa meter ke belakang akibat ledakan itu. ***** Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN