Chapter 9. Between Love And Friendship

1742 Kata
Oscar tidak tahu lagi apa yang harus ia perbuat untuk mengatasi teror kematian ini. Padahal sesuai yang dikatakan oleh Ny. Amber, sang peramal, ia harus menemukan dan membaca setiap tanda-tanda kematian yang ia temukan. Namun selalu saja terlambat jika ia dan teman-temannya ingin mencegah kematian tersebut. Dari tiga belas orang yang sebelumnya selamat dari kecelakaan kapal wisata, kini hanya menyisakan lima orang diantara mereka. Dan kali ini Oscar tidak ingin teror kematian itu mengejar mereka lagi. Ia harus menemukan jawaban agar bisa mengalahkan teror kematian tersebut. Saat itu mereka berlima sedang berada di kamar yang diinapi oleh Nicole, Natalia dan Daniela. Mereka masih merasa menyesal tidak bisa menyelamatkan Anna dari kecelakaan yang terjadi sekitar lima jam yang lalu. Perasaan menyesal itu paling dirasakan Santiago. Ia benar-benar menyesal, mengapa ia harus kehilangan Anna, disaat dirinya mulai dekat dengan gadis tersebut. "Sekarang, kita tinggal berlima. Aku tidak ingin teror kematian itu mengalahkan kita. Kita harus menemukan jawaban bagaimana cara mencurangi kematian itu lagi" ujar Oscar. "Bagaimana caranya?" tanya Nicole. Oscar terdiam membisu tidak bisa menjawab pertanyaan Nicole. Dia hanya menghela nafas sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. "Entahlah, Nicole. Tapi aku yakin, kita akan menemukan caranya" jawab Oscar. "Jadi, siapa menurutmu yang akan menjadi giliran berikutnya?" tanya Natalia. Sekali lagi Oscar terdiam. Ia tahu kalau kemungkinan yang menjadi giliran berikutnya adalah antara Natalia atau Nicole. Ia enggan memberitahukan hal itu agar mereka berdua tidak khawatir. "Mengapa kau diam? Kau harus menjawab pertanyaannya" kata Santiago. "Aku tidak peduli siapa yang menjadi giliran berikutnya, karena kita semua berada di daftar yang sama. Tapi yang jelas kita semua harus saling melindungi dan selalu tetap waspada. Perhatikan segala keanehan yang kita temukan disekitar kita. Karena itu bisa saja merupakan sebuah petunjuk kematian" jelas Oscar. "Tapi setidaknya kau ucapkan satu nama diantara kita berlima, siapa yang berikutnya?" ujar Daniela yang terdengar agak ketus. Untuk ketiga kalinya Oscar terdiam dan membisu. Ia bukannya tidak ingin memberitahu. Hanya saja ia tidak ingin membuat teman-temannya menjadi khawatir. "Kau diam lagi. Setidaknya beritahu kami siapa giliran berikutnya, jadi kami bisa menjaga diri jikalau terjadi sesuatu" ucap Daniela. Daniela benar-benar terlihat sangat emosi. Oscar tahu kalau emosi Daniela masih labil. Meskipun Daniela berusaha menutup-nutupinya. Dan semua itu, sedikit banyak juga dikarenakan oleh tindakan bodohnya yang sudah menjadikan Daniela sebagai bahan taruhan. Oscar mengerti kalau ia benar-benar telah menyakiti Daniela, tindakannya telah merendahkan harga diri wanita itu. "Baiklah-baiklah. Aku juga tidak tahu pasti siapa yang menjadi giliran berikutnya, tapi yang pasti antara Nicole atau Natalia" jelas Oscar. Nicole dan Natalia hanya bisa menatap langit, setelah mendengar jawaban dari Oscar kalau diantara mereka berdua bisa saja menjadi giliran berikutnya. "Aku berjanji, tidak akan membiarkan kematian itu mendekati kalian" ujar Oscar. ***** Hari pun berubah menjadi siang kembali. Matahari pagi bersinar cukup cerah. Ombak pantai juga terlihat cukup aktif. Hal itu membuat para wisatawan semakin bersemangat menikmati keindahan pemandangan yang terpampang dihadapan mereka. Beberapa orang ada yang bersiap-siap untuk melakukan selancar dan parasailing. Ada juga yang berenang dan ada yang hanya berjemur saja di tepi pantai. Ada yang bermain voli pantai dan ada yang bermain-main dengan pasir. Keadaan itu membuat Natalia merasa iri. Seharusnya ia bisa bergabung bersama orang-orang itu, menikmati masa-masa liburannya di kota tersebut. Yang ia rasakan saat ini hanyalah kekhawatiran dan ketakutan. Ia tahu teman-temannya juga merasakan hal yang sama. Namun setelah mendengar jawaban Oscar beberapa jam yang lalu, membuatnya merasa pesimis kalau hidupnya diambang kematian. Tapi sebelum semuanya terjadi, ada yang harus ia lakukan terlebih dahulu. "Nicole, ada apa? Mengapa kau membawaku kemari?" tanya Daniela yang heran kepada Nicole, karena memaksanya untuk ikut dengannya. "Kau akan segera tahu" jawab Nicole seadanya. Nicole membawa Daniela menuju ke pinggir pantai, tepatnya ke tempat yang banyak ditumbuhi oleh pohon kelapa. Saat tiba di tempat itu, Daniela menghentikan langkahnya ketika melihat Natalia sudah menunggu disana. "Nicole, mengapa kau melakukan ini kepadaku?" tanya Daniela. "Dia ingin bicara denganmu" jawab Nicole. "Aku tidak mau" ucap Daniela yang bergegas pergi. "Daniela tunggu!!!" panggil Natalia. Natalia mengejar Daniela yang hendak pergi dari tempat itu. Natalia mencegah Daniela pergi dengan menarik tangan Daniela. "Daniela, please. Ada yang mau aku bicarakan denganmu" ucap Natalia. "Aku tidak yakin, apakah masih ada hal penting yang perlu kita bicarakan" sahut Daniela. "Tentu saja ada. Ku mohon padamu, beri aku kesempatan untuk membicarakan masalah yang terjadi diantara kita berdua" kata Natalia dengan wajah penuh pengharapan agar permintaannya disanggupi oleh Daniela. Daniela menarik nafas sambil menyibakkan rambut panjangnya yang indah yang terhembus oleh tiupan angin laut yang sangat menyejukkan. Sebenarnya ia juga tidak tega melihat Natalia seperti itu. Bagaimana pun juga, Natalia pernah menjadi sahabat baiknya. "Baiklah. Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Daniela. "Seperti yang kau dengar dari Oscar. Aku bisa saja menjadi giliran berikutnya" ujar Natalia. "Ya, aku tahu" sahut Daniela. "Daniela, aku benar-benar minta maaf karena......... membiarkanmu menjadi bahan taruhan yang dilakukan Oscar dan teman-temannya. Aku benar-benar menyesal". "Apa kau tidak tahu, Natalie. Hatiku benar-benar sakit mendapat perlakukan seperti ini. Aku benar-benar tidak menyangka kalau cinta telah membutakan mata hatiku, sehingga aku tidak tahu kalau kalian telah menipuku selama ini" ucap Daniela. "Apa menurutmu hatiku tidak sakit? Seminggu sebelum kita berangkat ke Cancun, Oscar memberitahuku kalau kalian berdua sudah jadian. Aku sangat terkejut, mengapa dia memacarimu sementara aku masih berstatus kekasihnya. Lalu ia menjelaskan kalau hubungan yang terjadi diantara kalian hanyalah sebuah hubungan main-main. Oscar melakukan taruhan dengan Juan dan lainnya, apakah Oscar bisa menjadikanmu sebagai kekasih dan mengajakmu ikut dalam liburan musim panas ini" jelas Natalia. "Tapi sebelum Oscar menjadikanku sebagai kekasihnya, mengapa kau tidak pernah memberitahuku kalau kalian berdua sudah pacaran?" tanya Daniela. "Itu adalah permintaanku. Aku sengaja meminta Oscar merahasiakannya dari teman-teman di sekolah, termasuk kau dan Nicole. Dan baru mengungkapkannya kepada kalian disaat masa kelulusan" jawab Natalia. "Mengapa kau lakukan itu?" tanya Daniela lagi. "Kau tahu kan keluargaku, termasuk ayahku. Mereka orang tua yang masih berfikiran kuno, melarang anak-anaknya melakukan apa yang kami mau. Ayahku berkeinginan agar aku menjadi seorang dokter, jadi ia tidak ingin kalau aku gagal di sekolah. Ia melarang aku berpacaran sebelum aku menamatkan sekolahku. Sampai-sampai ia meminta beberapa guru untuk ikut mengawasiku". "Aku tidak percaya kalau orang tuamu masih punya fikiran seperti itu. Apa ia tidak tahu kalau zaman sudah berubah, sekarang zaman kebebasan" ujar Daniela. "Aku tahu, aku juga berpendapat sama denganmu. Tapi aku juga tidak bisa menentangnya. Bagaimana pun dia tetap orang tuaku, jadi aku harus menjaga nama baiknya. Oleh karena itu, aku dan Oscar berpacaran diam-diam" ucap Daniela. "Sekarang aku mengerti mengapa begitu susah meyakinkan ayahmu, sewaktu aku dan Nicole membujuknya agar ia mau mengijinkanmu ikut dalam liburan ini" kata Daniela yang terlihat mulai mengerti keadaan Natalia. "Kembali ke masalah Oscar, sejujurnya aku juga tidak setuju kalau ia melakukan taruhan itu. Terkadang aku berfikir kalau ia mungkin bosan dengan hubungan kami, sehingga ia bersedia melakukan taruhan tersebut" ujar Natalia. "Apa kau masih mencintainya?" tanya Daniela. "Sejujurnya, ya, aku masih mencintainya. Tapi.... kau ingat sewaktu kau dan Nicole memergoki kami di dalam kamar beberapa hari yang lalu?" tanya Natalia. "Ya. Aku masih mengingatnya" jawab Daniela. "Kami berdua putus. Ia bilang kepadaku, kalau ia tidak bisa melanjutkan hubungannya denganku, karena ia mulai jatuh cinta kepadamu" jelas Natalia. "Apa? Dia berkata seperti itu?" Daniela cukup terkejut mendengar penjelasan Natalia. "Aku mengerti keputusannya, aku menerimanya, meskipun aku sulit menerimanya. Dan kau, apa kau masih mencintainya?" Natalia balik bertanya kepada Daniela mengenai perasaannya terhadap Oscar. "Aku? Tidak, aku tidak bisa mencintainya lagi. Terlebih apa yang telah ia lakukan terhadapku dan dirimu. Apalagi ternyata dia telah memutuskanmu dimana seharusnya dia mengerti dengan keadaanmu. Yang jelas aku tidak bisa menerimanya lagi sebagai kekasih. Dia telah melukai hati dua orang perempuan disini" ujar Daniela sekenanya sementara Natalia tersenyum geli mendengar perkataan Daniela. "Jadi sepertinya dia tidak bisa mendapatkan salah satu dari kita" ucap Natalia. "Ya, sepertinya begitu" jawab Daniela. "Ha.. ha.. ha.. ha.." mereka berdua tertawa karena sepertinya masalah pribadi diantara mereka berdua akhirnya terselesaikan. Melihat keadaan itu, Nicole yang daritadi menunggui mereka dari jauh, merasa penasaran karena melihat Natalia dan Daniela sepertinya sudah bersahabat kembali. Kemudian Nicole pun menghampiri mereka berdua sambil memasang wajah heran. "Hey, sepertinya kalian berdua sudah kembali seperti dulu" kata Nicole. "Ya. Kami berdua berteman kembali" ujar Natalia. "Dan............. apa keputusan kalian?" tanya Nicole yang benar-benar penasaran. Natalia dan Daniela saling memandang sambil tersenyum-senyum. "Kami memutuskan, persahabatan lebih penting daripada masalah cinta" jelas Daniela. "Aku senang sekali mendengarnya" ucap Nicole. "Kami berdua ingin berterima kasih kepadamu" ucap Daniela. "Terima kasih untuk apa?" Nicole menaikkan alisnya karena ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Daniela. "Tentu saja karena kamu membantuku mempertemukan kami berdua" kata Natalia. "Apa pun akan kulakukan demi memperbaiki persahabatan kita" sahut Nicole sambil tersenyum manis. "Mmmm... bagaimana kalau kita bertiga merayakan hal ini?" ajak Nicole. "Apa?! Diaaat seperti ini?" tanya Daniela. "Aku fikir Nicole benar. Persetan dengan masalah teror kematian itu, yang jelas sebelum aku mati, aku ingin menikmati liburan ini dan bersenang-senang bersama kalian berdua" ujar Natalia. "Natalia, tidak ada yang akan mati. Kita semua pasti bisa melawan teror kematian itu" jawab Daniela. "Baiklah, kalau begitu kita kembali ke hotel dan bergembira sepuasnya" ajak Nicole. "Tidak, tunggu. Aku ingin kita merayakannya di tempat lain. Aku ingin kita merayakannya tanpa ada Oscar disekitar kita" kata Daniela. "Tapi....." ucap Nicole yang terlihat khawatir. "Daniela benar juga. Kalau teror kematian itu datang mengganggu disaat kita bersenang-senang, kita akan melawannya dan aku yakin kita bisa mengalahkannya" ucap Natalia penuh semangat. "Baiklah kalau begitu. Tapi setidaknya beritahu Oscar, kita pergi kemana" ucap Nicole. "Terserah kau saja" sahut Daniela. Nicole memberikan pesan singkat kepada Oscar melalui telepon genggamnya. Nicole menuliskan pesan, kalau mereka bertiga pergi jalan-jalan keluar hotel. ***** Sementara itu di hotel, Oscar dan Santiago masih mencari bagaimana caranya keluar dari teror kematian ini. Tidak berapa lama kemudian, ponsel milik Oscar pun berbunyi menandakan ada sebuah pesan singkat yang masuk. Dia mengambil ponselnya dari dalam saku celana jeans bermerk Lee nya. "Apa itu?" tanya Santiago. "Sebuah pesan singkat" jawab Oscar. Santiago melihat Oscar yang terheran-heran saat membuka pesan singkat itu. "Oscar, ada apa?" tanya Santiago. "Entahlah, pesannya tidak terlihat di ponselku, hanya nama pengirimnya saja......... oh shit...!!! Dia berikutnya" ucap Oscar dengan panik dan langsung meninggalkan lobby hotel. "Apa...?? Siapa?!" tanya Santiago yang juga berlari mengejar Oscar, karena merasa penasaran siapa yang berikutnya yang dimaksudkan oleh Oscar. Ketika Oscar dan Santiago berlari keluar hotel, mereka berdua berpapasan dengan seorang gadis yang sedang menyetel sebuah mp3 player. Tiba-tiba volume mp3 player tersebut terdengar keras melantunkan sebuah lagu berjudul 'Graduation' by 'Vitamin C'. "As we go on, we remember all the times we had together and as our lives change come whatever, we will still be friends forever". Padahal gadis tersebut sudah menghubungkan musik player tersebut kesebuah headset. Gadis itu pun cukup terkejut mengapa tiba-tiba musik playernya berbunyi keras seperti itu. Oscar kembali panik ketika mendengar lagu tersebut. Ia menoleh ke sekeliling tempat itu, untuk mencari keberadaan Daniela, Natalia dan Nicole. "Oscar, coba kau hubungi mereka" ujar Santiago. "Baiklah". Oscar mencoba menghubungi salah satu diantara ketiga gadis tersebut. Ia harus memberitahukan mereka bertiga kalau salah satu diantara mereka sedang dalam bahaya besar. ***** Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN