Oscar benar-benar panik dan khawatir terhadap keselamatan Daniela, Nicole dan Natalia. Apalagi dead sign sudah dirasakan oleh Oscar. Ia tidak habis fikir mengapa ketiga gadis itu pergi disaat bahaya sedang mengancam keselamatan mereka dan setiap saat bisa merenggut nyawa mereka.
Oscar terlihat sibuk mencoba menghubungi salah satu dari mereka. Sementara Santiago berjalan mengikutinya dari belakang.
"Came on.... pick up the phone..." gerutu Oscar. Tidak berapa lama telepon itu pun terhubung.
"Hallo, Nicole..."
"Hallo, Oscar ada apa?" tanya Nicole.
"Dimana kalian?" tanya Oscar dengan khawatir.
"Kami hanya sedang menikmati es krim disebuah cafe... Mucha Café, itu namanya" jawab Nicole.
"Siapa itu?" tanya Daniela.
"Ini Oscar" jawab Nicole pelan.
"Ok, dengarkan aku. Kalian harus kembali sekarang juga. Ia mengejar...."
Saat Oscar sedang berbicara dengan Nicole melalui ponsel, beberapa orang anak kecil bermain kejar-kejaran dan menubruk Oscar yang sedang menelepon. Hal itu membuat ponsel yang dipegang Oscar terjatuh dari genggamannya. Sehingga ponselnya hancur berantakan.
"Shiiitt... Damn it" umpatnya geram.
"Oscar tenanglah, kau bisa menghubungi mereka lagi dengan ponsel ku" ucap Santiago.
"Kita tidak punya waktu banyak. Kita cari mereka di...... cafe..... Mucha Café. Nicole sempat bilang mereka ada disana sekarang".
"Ayo, kita kesana dengan motorku. Biar lebih cepat".
Oscar dan Santiago bergegas menuju cafe tempat Daniela, Nicole dan Natalia berada saat ini. Mereka berdua harus berlomba dengan waktu sebelum sesuatu yang mengerikan terjadi dengan siapa pun diantara gadis itu.
*****
Sementara itu di Mucha Café, Nicole juga terlihat ketakutan setelah mendapat telepon dari Oscar yang tiba-tiba terputus.
"Kita harus kembali ke hotel" ucap Nicole.
"Maksudmu....." ucap Daniela yang juga memasang wajah khawatir dan takut.
"Jangan berfikir lagi, ayo kita kembali ke hotel sekarang juga" lanjut Natalia yang menarik tangan kedua temannya yang terlihat takut itu.
Mereka bertiga keluar dari cafe itu dengan terburu-buru. Saat itu juga kebetulan sebuah taxi lewat didepan mereka.
"Taxi...!!" teriak Natalia.
Mereka bertiga bergegas menaiki taxi itu dan meminta sang supir untuk mengantar mereka kembali ke hotel tempat mereka menginap. Taxi itu melaju dengan kecepatan sedang. Namun tidak berapa lama, mereka menemui kendala, karena saat itu jalanan dalam keadaan macet. Karena di ujung jalan sedang ada sebuah parade karnaval yang lewat di jalan tersebut.
"Bagaimana ini?" tanya Nicole.
"Sepertinya ini akan memakan waktu lama, jadi aku sarankan kalau kita mengambil jalan memutar" ucap sang supir.
"Kalau begitu tunggu apa lagi" kata Daniela.
Sang supir taxi mencoba memutar balik kendaraannya. Saat itu juga dari ujung jalan lain, Oscar dan Santiago juga sudah terlihat berada didaerah tersebut. Mereka juga terhalang oleh keramaian parade tersebut.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Oscar.
"Kita ambil jalan memutar. Dan kau coba hubungi mereka lagi" ucap Santiago yang menyerahkan ponselnya kepada Oscar.
Oscar mencoba menghubungi Daniela dengan ponsel milik Santiago. Ia benar-benar khawatir, sampai-sampai keringat terus bercucuran di wajahnya.
"Hallo, Daniel.... ini aku Oscar, dimana kalian? Apa kalian masih berada di cafe itu?".
"Tidak Oscar, kamì sedang dalam perjalanan menuju hotel. Tapi kami ambil jalan memutar di sekitar Ernest Street" jawab Daniela.
"Baiklah, aku dan Santiago juga akan menuju jalan itu" sahut Oscar.
"Oscar, tunggu.... aku ingin tahu.... siapa yang berikutnya?" tanya Daniela dengan nada kecut.
Nicole dan Natalia juga terlihat cemas mendengar pertanyaan Daniela tersebut. Sementara sang supir taxi tampak heran dengan apa yang sedang mereka bicarakan. Sesekali ia melihat ketiga penumpangnya itu melalui kaca spion.
"Hhhhh.... petunjuknya mengarah kepada Nicole" jawab Oscar dengan berat hati. "Yang jelas kalian bertiga harus berhati-hati dan saling menjaga. Baiklah sebentar lagi kami berdua tiba di Ernest Street" lanjut Oscar.
"Baiklah" jawab Daniela pelan sambil menghela nafas dengan wajah terlihat takut.
"Daniela... apa katanya? Siapa yang berikutnya?" tanya Nicole.
"Hey... mengapa kau diam saja?" ucap Natalia yang juga semakin khawatir dan ketakutan.
Daniela menutup ponselnya sambil menoleh kearah Nicole dengan memasang wajah penuh kekhawatiran.
Nicole mengerti maksud tatapan Daniela itu. Ia tahu kalau wajah itu bermaksud memberitahukan kalau dirinyalah target berikutnya.
*****
Di Ernest Street terdapat sebuah proyek pembangunan hotel dan pusat perbelanjaan. Tidak jauh di seberang proyek itu, terdapat sebuah electronic store. Beberapa televisi terpampang didalam toko tersebut.
Tampak dengan jelas kalau proyek itu baru selesai sekitar 45 persen. Kesibukan para pekerjanya jelas terlihat. Disalah satu lantai gedung yang sedang dibangun tersebut, ada seorang pekerja yang sedang melakukan pengelasan. Ia terlihat cukup lelah. Itu terlihat dari keringat yang sedang bercucuran di wajahnya. Sesaat ia berhenti mengelas dan ingin membersihkan wajahnya dari keringat tersebut. Tidak sengaja kakinya menyenggol sebuah bahan besi untuk bangunan tersebut. Besi-besi itu terjatuh dari tempat yang cukup tinggi. Melihat hal itu beberapa pekerja berteriak memperingatkan pekerja lainnya agar tidak tertimpa besi tersebut.
"Look out...!!"
Para pekerja terlihat panik dan berlari menghindari jatuhan besi tersebut. Besi-besi tersebut jatuh ke tanah dan saling terpental kemudian menyebabkan reaksi berantai. Ada sebagian besi yang terpental ke areal penyimpanan bahan-bahan bakar. Salah satu bahan bakar terguling dan mengalir ke alat pemanas. Tidak jauh dari alat pemanas terdapat sebuah ketel aspal.
Sementara beberapa besi lainnya terpental kesebuah traktor yang ditinggal pengemudinya yang telah menyelamatkan diri. Traktor itu berjalan tanpa kendali menabrak kesebuah bucket tower yaitu sebuah menara tempat penyaluran bahan beton cair. Tower tersebut menyerong ke samping dan menyenggol sebuah mesin crane pengangkut besi dan baja. Mesin crane tersebut bergerak berputar secara vertikal dan mengarah kebadan jalan. Akibat pergerakan yang tidak terkontrol itu mengakibatkan mesin crane menjadi oleng. Kadang ke kiri dan kadang ke kanan.
Disaat kejadian itu berlangsung, di waktu yang bersamaan, taxi yang ditumpangi Nicole, Daniela dan Natalia melewati areal proyek tersebut. Tiba-tiba taxi yang mereka tumpangi mendadak mogok, dan hal itu membuat ketiganya menjadi heran.
"Ada apa pak?" tanya Daniela.
"Entahlah, sepertinya ada masalah dengan mesinnya, mungkin kepanasan" sahut sang supir taxi.
"Sebaiknya kita sambung naik taxi lain. Kita harus cepat kembali ke hotel" ujar Natalia.
Mereka bertiga benar-benar dilanda ketakutan dan kekhawatiran. Terutama Nicole yang hanya diam membisu sejak mengetahui kalau dirinya yang menjadi giliran berikutnya.
Ketiga gadis itu turun dari taxi kemudian berjalan beberapa langkah meninggalkan taxi tersebut sambil menoleh kiri dan kanan untuk mencari taxi lainnya. Daniela dan Natalia terlihat berdiri bersama sambil melihat-lihat taxi yang lewat dari arah kiri, sementara Nicole melihat-lihat taxi yang lewat dari arah kanan. Tanpa ia sadari kalau posisinya berdiri tepat berada di bawah mesin crane pengangkut baja yang sedang bergoyang-goyang.
Tidak berapa lama Oscar dan Santiago pun tiba di areal jalan tersebut. Oscar dan Santiago juga melihat keberadaan ketiga gadis itu meski dari kejauhan.
"Itu mereka.... kita harus menghampiri mereka" ucap Oscar.
Nicole juga melihat kedatangan Oscar dan Santiago. Wajahnya terlihat lega saat melihat kedatangan mereka.
Sekitar 10 meter lagi Oscar dan Santiago menghampiri ketiga gadis itu, Oscar melihat kalau salah satu tali pada mesin crane itu putus, sehingga menyebabkan beberapa baja terjatuh dan mengarah ketempat dimana Nicole sedang berdiri.
"Santiago...... gas lebih kencang!!!" teriak Oscar.
Santiago pun menuruti permintaan Oscar dan melajukan motornya lebih kencang.
"Kalian bertiga awas!!!!! Besi itu akan jatuh" teriak Oscar.
Daniela, Natalia dan Nicole mendengar peringatan dari Oscar. Daniela dan Natalia dengan cepat menghindar, sementara Nicole yang juga ingin menghindarkan diri, sedikit terhalang karena sepatunya yang berhak tinggi tersangkut disebuah besi penutup selokan. Melihat hal itu, Oscar melompat dari motor Santiago yang melaju kencang dan menyelamatkan Nicole tepat sebelum besi-besi itu menimpa tubuh Nicole. Mereka berdua bergulingan di aspal.
"Nicole....!!!!! Oscar.....!!!!!" teriak Daniela dan Natalia.
Tiba-tiba seluruh televisi didalam electronic store yang ada di seberang jalan, memutar video klip sebuah lagu berjudul 'At full Speed' yang dinyanyikan oleh Jack's Mannequin band.
"At full speed
Alone on a road going nowhere
Going nowhere
Going nowhere
At full speed".
Jatuhnya baja-baja tersebut masih mengakibatkan reaksi berantai. Salah satu baja yang terjatuh kesisi badan jalan terpental dan bergeser dengan cepat kearah posisi Daniela dan Natalia yang sebelumnya telah berlari menghindar. Mereka berdua yang masing-masing menghindari baja tersebut akhirnya terpisah. Daniela berlari keposisi yang lebih aman, namun Natalia berlari ke tengah jalan.
Tidak disadari olehnya, sebuah mobil melaju dengan kencang. Sang supir terkejut melihat Natalia yang berdiri di tengah jalan, sementara ada baja yang berserakan di pinggir jalan tersebut, sehingga ia kebingungan dan dengan cepat ia membanting setirnya kearah kiri demi menghindari Natalia dan besi-besi tersebut. Namun penghindaran itu juga tak berjalan mulus. Tubuh Natalia terserempet oleh bagian samping mobil tersebut. Tubuhnya terlempar ke atas sebuah mobil yang sedang terparkir.
Oscar yang masih melindungi Nicole terlambat menyadari hal itu. Begitu pula Santiago yang saat itu sudah bersama dengan Daniela.
Disisi lain, bahan bakar yang tertumpah dan mengalir ke mesin pemanas yang ada didalam proyek bangunan tadi menyambar api yang ada di mesin pemanas tersebut. Ledakan pun tak bisa dihindari lagi. Ledakan itu mengakibatkan beberapa besi panjang terlempar dengan kekuatan penuh. Lontaran besi-besi itu melesat dengan cepat kearah Nicole berada, besi-besi itu menembus leher, d**a dan perutnya. Darah pun terpercik kemana-mana.
"Noooooooo.....!!!!! Noooooo....!!!!".
Daniela berteriak kencang melihat kejadian tersebut. Santiago mencoba menenangkannya dengan cara memeluknya. Sementara Nicole hanya menangis terisak melihat nasib Natalia. Sedangkan Oscar cukup terheran-heran. Ia pun mulai menemukan sebuah jawaban.
*****
Tbc