Selama dalam perjalanan untuk bertemu dengan Michelle dan Cecil, Mila menceritakan segala hal yang ia baca dari diary milik Oscar. Kevin memang mendengarkan apa yang ia ceritakan, namun Kevin hanya menanggapinya antara percaya dan tidak.
"Mila.... kau yakin akan menceritakan tentang hal ini kepada teman-temanmu?" tanya Kevin.
"Ya, tentu saja. Tidak hanya mereka, teman timmu, Beli dan Alicia, dan the b**** girls, aku akan memberitahukan kepada mereka juga"
"Tapi....."
"Ada apa Kev, kau tidak percaya dengan apa yang aku ceritakan?" tanya Mila.
"Bukan, bukan itu. Hanya saja.... ini sedikit tidak masuk akal. Dan aku juga tidak yakin mereka mau percaya padamu"
"Makanya aku membawamu serta, agar kau membantuku untuk meyakinkan mereka. Atau kau juga tidak mempercayai ceritaku?" tanya Mila.
"Aku......"
"Baiklah, turunkan aku disini" ucap Mila yang mulai kecewa terhadap Kevin.
"Apa? Tidak, aku tidak mau menurunkanmu di pinggir jalan seperti ini" sahut Kevin.
"Lalu apa gunanya kau mau membantuku, kalau kau sendiri tidak mempercayai dengan apa yang aku ceritakan"
"Aku minta maaf, ok. Aku akan menemanimu kemana pun kau mau. Dan mengenai apa yang kau ceritakan yang berasal dari diary itu, aku akan coba untuk memahaminya" ujar Kevin.
"Kev..... kita harus menguak misteri ini. Kau lihat sendiri waktu kejadian di taman laut itu. Aku benar-benar melihat kejadian itu sebelum kejadian itu terjadi. Dan sehari kemudian, Flint tewas dalam sebuah kebakaran. Sehari kemudian, Dimitri juga tewas. Apa menurutmu ini semua hanya suatu kebetulan semata?"
"Aku tidak tahu Mila. Tapi memang kematian mereka terlihat aneh. Jadi menurutmu kita semua akan mengalami kejadian yang sama dengan apa yang mereka alami?" tanya Kevin.
"Aku juga takut membicarakannya, tapi... benar, kita semua ada dalam satu daftar" kata Mila.
"Daftar apa?" tanya Kevin.
Mila hendak melanjutkan ceritanya, namun saat itu mereka sudah tiba di depan butik milik ibunya Michelle. Dan saat itu, Mila melihat Michelle dan Cecil yang hendak pergi meninggalkan tempat itu.
"Itu mereka" ucap Mila.
Setelah Kevin menghentikan mobilnya, Mila langsung turun dari mobil itu dan segera berlari menghampiri Michelle dan Cecil.
"Girls...!!" panggil Mila.
Cecil dan Michelle menoleh kearah Mila. Mereka berdua pun heran, mengapa Mila ada di tempat itu dan terlihat sangat tergesa-gesa.
"Mila? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Michelle.
"Maaf, aku benar-benar memerlukan kalian. Ada hal yang ingin aku beritahu" kata Mila dengan nafas tersengal-sengal.
Cecil dan Michelle saling memandang dengan wajah heran.
"Ok, kita bicara di cafe sebelah butik ibuku saja" kata Michelle.
Mereka bertiga menuju ke cafe yang dimaksudkan oleh Michelle, dan Kevin pun bergabung bersama mereka.
*****
"Apa kau yakin tidak ingin ku temani?" tanya Beli kepada Alicia.
"Ya. Aku yakin" sahut Alicia.
"Tapi.... kedua orang tuamu juga sedang keluar, jadi...."
"Aku tahu Beli. Mereka sedang mengurus masalah asuransi Dimitri. Tapi yang jelas, aku tidak apa-apa. Aku bisa melakukan banyak hal untuk menghilangkan kesedihan ini" ujar Alicia.
"Kalau begitu baiklah, aku dan Chris pergi dulu. Dan.... jika kau membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, kau bisa menghubungiku kapan saja" kata Beli.
"Ok. Aku akan menghubungimu jika aku membutuhkanmu. Terima kasih Beli, kau memang teman yang bisa diandalkan" ujar Alicia sambil tersenyum.
"Jaga dirimu baik-baik ya. Aku dan Chris pergi dulu, sepertinya dia sudah menungguku lama didalam mobil" ucap Beli yang juga tersenyum.
"Bye Beli" ujar Alicia.
"Bye" balas Beli sambil berjalan menghampiri mobil Chris, yang mana Chris sudah menunggu Beli didalam mobil tersebut.
Alicia melihat mereka meninggalkan halaman rumahnya. Kemudian ia masuk kembali kedalam rumahnya.
Sebenarnya ia merasa kesepian, namun ia juga tidak mau terlalu merepotkan orang lain. Untuk menghilangkan kesepian sekaligus kesedihan, ia memutuskan untuk mendengarkan lagu melalui musik playernya, dengan menghubungkannya melalui sebuah headset.
Selanjutnya ia menghampiri sebuah meja yang di atasnya terletak sebuah piagam penghargaan penampilan band mereka dalam sebuah perlombaan. Alicia duduk di atas karpet sambil memperhatikan piagam yang berukuran kecil, berbentuk seperti segitiga piramid, namun terdapat bagian runcing di atasnya. Kemudian ia teringat akan sesuatu. Alicia meletakkan piagam tersebut di atas karpet, dan beranjak menuju ke dapur.
*****
"Apa yang kau bicarakan, Mila? Aku tidak mengerti" kata Michelle.
"Aku tahu ini memang kedengaran aneh, tapi inilah kenyataannya. Kita semua sedang dalam bahaya. Kematian sedang mengejar kita" jelas Mila.
"Mila, jangan menakutiku seperti itu" kata Cecil.
"Aku tidak bermaksud membuat kalian takut. Dengar, kita semua seharusnya tewas didalam kecelakaan akuarium itu. Namun ketika aku menggagalkan kalian semua masuk kedalam akuarium sebelum kecelakaan terjadi, kita telah mencurangi kematian" jelas Mila.
"Mengapa kau berfikiran seperti itu?" tanya Michelle.
"Buku diary ini yang mengatakannya. Buku ini milik Oscar Alberto, kalian ingat kan dengan Oscar Alberto?" tanya Mila.
"Dia.... pernah sekolah di Deer Valley juga kan? Kemudian ia pindah ke New York" ujar Kevin.
"Dan... dia juga kan yang tewas dalam kecelakaan helikopter yang pernah diberitakan di televisi" lanjut Cecil.
"Benar, itu dia. Dia pernah mengalami kejadian yang sama seperti apa yang aku alami. Dan apa yang telah ia alami, ia tuliskan didalam buku harian ini. Setelah aku membacanya, aku semakin percaya, kalau apa yang telah terjadi dengan diriku, dengan kita semua, tidak hanya sebuah kebetulan semata. Ini memang sudah ketentuan rancangan kematian kita didalam akuarium itu. Tapi aku sudah merusak rancangan itu. Dan yang menjadi masalah adalah, kematian itu ternyata belum berakhir. Dia masih mengejar kita.... satu demi satu, dan ia sudah mengambil Flint dan Dimitri" jelas Mila.
"Mila.... itu hanya sebuah buku harian, kita tidak harus mempercayainya. Jika kita selamat dari kecelakaan akuarium, itu memang sudah menjadi keberuntungan kita. Kita tidak ditakdirkan untuk mati disana" kata Michelle.
"Lalu.... yang terjadi dengan Flint dan Dim, bagaimana?" ucap Cecil yang mulai mempercayai Mila.
"Itu...... mungkin memang sudah nasib mereka" jawab Michelle.
"Yang terjadi dengan Flint dan Dim adalah karena kematian yang mengincar mereka. Dan apa yang terjadi dengan mereka juga akan terjadi pada kita" kata Mila.
"Mila, please........." ucap Cecil.
Mereka berempat jadi terdiam karena rasa takut mulai menghampiri Michelle, Kevin dan terutama Cecil.
"Jika memang benar, apa yang harus kita lakukan untuk mencegahnya?" tanya Kevin.
"Kata Oscar, didalam bukunya, dia harus membaca setiap pesan atau petunjuk yang ada" kata Mila.
"Petunjuk apa?" tanya Kevin lagi.
"Sesuatu yang terkesan aneh yang terjadi di sekeliling kita. Seperti..... ketika Flint tewas dalam kebakaran, aku sedang bermain scrabble dengan adikku. Dan kalian tahu kata apa yang selalu muncul?".
Michelle, Cecil dan Kevin saling menatap dengan heran.
"Fire House, itu kata yang muncul. Dan kemunculannya selalu berulang-ulang. Kata itu jelas berhubungan dengan kematian Flint. Dan kejadian terulang lagi saat Dim tewas. Lampu diseluruh rumahku tiba-tiba saja meredup saat ayahku sedang menggunakan sebuah bor tangan, dan jelas itu semua berhubungan dengan kematian Dim, jadi sekarang apa kalian masih tidak mempercayaiku?" ujar Mila.
"Entahlah.... aku mulai merasa mempercayainya" kata Kevin.
"Ya, aku juga" sambung Cecil.
"Lalu.... apa yang harus kita lakukan?" tanya Michelle.
"Kita harus menemukan........."
Mila menghentikan ucapannya ketika melihat seorang anak kecil sedang bermain busa sabun tiup di cafe itu. Dan busa itu terbang kearahnya dan melayang-layang cukup lama hingga kemudian pecah.
*****
Sementara itu, saat itu Alicia berada di dapur sedang mencuci beberapa pakaian dengan menggunakan mesin cuci. Tiba-tiba mesin cuci tersebut mendadak berhenti. Alicia pun merasa heran dan mencoba menekan-nekan beberapa tombol, namun mesin cuci itu tetap tidak berfungsi. Kemudian ia memeriksa sambungan listriknya yang berada dibagian belakang mesin cuci yang bersandar dengan dinding. Ternyata sambungan listriknya memang longgar dan tidak terlalu masuk kedalam stop kontaknya. Tangannya kesulitan untuk mencapainya, dengan sedikit susah payah akhirnya ia berhasil menghubungkannya kembali ke arus listrik sehingga mesin cuci itu bisa berfungsi kembali.
Ia menambahkan sedikit sabun detergen kedalam cuciannya. Setelah itu ia duduk di bangku menunggu cuciannya selesai sambil membelakangi mesin cuci tersebut. Kejadian aneh pun mulai terjadi. Mesin cuci itu mangalami kebocoran. Busa sabun dan air mulai keluar dari mesin cuci, mengalir dan membasahi lantai, sebagian air bahkan mulai mengalir ke bagian belakang mesin cuci.
*****
"Mila....? Kau tidak apa-apa?" tanya Kevin.
"Oh ya... kita harus memperingatkan yang lainnya, karena bisa jadi salah satu diantara kita semua akan menjadi korban berikutnya" kata Mila.
"Itu pekerjaan yang sulit Mila. Apalagi menceritakan hal ini pada trio gadis sombong itu" kata Cecil.
"Aku tahu, tapi aku yakin kalian akan membantuku kan?" tanya Mila.
"Tentu, kami akan membantumu sebisa kami. Dan menghentikan... kematian itu yang akan mengejar kita" kata Kevin.
Cecil dan Michelle pun mengangguk yang sependapat dengan ucapan Kevin. Namun belum sempat mereka melanjutkan pembicaraannya lagi, tiba-tiba telepon genggam milik Cecil berbunyi, namun yang berbunyi bukan tanda panggilan, melainkan sebuah alarm.
"Cecil... kau mengaktifkan alarmmu?" tanya Kevin.
"Tidak, aku tidak mengaktifkannya" sahut Cecil sambil mematikan alarm yang berbunyi di telepon genggamnya. "Aneh, alarmnya menunjukkan jam 14.30, bukankah itu sekitar 15 menit lagi" gumam Cecil.
Mila dan Michelle melihat jam alarm yang terlihat di layar telepon genggam milik Cecil.
Keanehan semakin bertambah ketika alarm anti maling di mobil milik Kevin berbunyi.
"Sekarang ada apa lagi" ujar Kevin yang segera bergegas keluar cafe untuk melihat keadaan mobilnya.
"Ini sebuah petunjuk" kata Mila.
"Apa?" tanya Michelle.
"Seseorang lagi akan tewas" kata Mila.
"Siapa?" tanya Cecil.
Perhatian Mila seolah-olah dipancing unruk melihat ke televisi yang ada di cafe tersebut. Televisi itu sedang memutar sebuah animasi dongeng klasik tentang Alice in Wonderland.
"Alice in Wonderland? Alicia. Ini giliran Alicia, dia dalam bahaya sekarang. Kita harus memberitahukannya sekarang" kata Mila sambil mengajak kedua temannya segera bergegas dari tempat itu.
Di luar cafe, sikap mereka membuat Kevin yang baru saja mematikan alarm mobilnya, melihat mereka dengan ekspresi heran.
"Hey, ada apa? Mengapa kalian terburu-buru?" tanya Kevin.
"Kita harus menemui Alicia. Dia korban berikutnya" kata Mila.
"Baiklah, ayo" ajak Kevin.
"Aku akan coba menghubunginya" kata Cecil.
*****
Jam dinding di rumah Alicia menunjukkan pukul 14.20. Suara siulan air yang baru saja matang terdengar. Alicia yang melihat uap air yang keluar dari mulut poci dengan deras, langsung bergegas menghampirinya untuk mematikan kompor gasnya. Sementara tanpa ia ketahui kalau lantainya sudah terbanjiri oleh air dan busa sabun. Saat itu juga terdengar suara panggilan melalui telepon genggamnya, namun ia tidak mendengarnya karena saat itu ia sedang mendengarkan lagu melalui musik playernya. Apa lagi saat itu, telepon genggamnya berada didalam kamarnya yang ada di lantai dua.
Setelah mematikan kompor, ia berbalik dan melangkah, tiba-tiba kakinya terpeleset busa sabun yang telah membanjiri lantai dapurnya. Tubuhnya terjerembab ke belakang, sehingga kepala bagian belakang terbentur meja tempat masak, kemudian ia terjatuh ke lantai.
Rasa pusing yang amat sangat ia rasakan. Apalagi kepalanya terluka akibat benturan itu. Alicia mencoba untuk bangkit dengan meraih sisi meja masak. Namun tangannya tanpa sengaja meraih serbet yang menempel pada poci yang berisi air panas. Poci itu pun tertumpah dan menuangkan air panas yang ada didalamnya ke wajah Alicia. Teriak kesakitan tersiram air panas pun terdengar dari mulutnya.
"Aaaaaarghhhh....!!!!"
Ia memegangi wajahnya yang tersiram air panas. Secara perlahan kulit wajahnya sedikit melepuh. Akibat tersiram air panas di wajahnya, membuat Alicia kesulitan untuk melihat dengan jelas.
Sementara itu dengan Mila dan teman-temannya....
"Teleponnya tidak diangkat" kata Cecil.
"Kevin, kita harus cepat" kata Mila.
"Akan kucoba" kata Kevin yang sedang mempercepat laju mobilnya menuju ke rumah Alicia.
Kembali ke keadaan Alicia. Ia mencoba berdiri lagi dan hendak menghampiri meja telepon yang ada di ruang tengah. Sementara itu air dan busa sabun terus membanjiri tempat itu, dan membasahi stop kontak yang berada di belakang mesin cuci tersebut. Konsleting pun terjadi, aliran listrik mulai mengaliri air busa tersebut. Namun, sedikit beruntung, Alicia dengan tepat waktu menghindar dari aliran listrik yang hendak menyengatnya.
Dengan sempoyongan ia menghampiri meja telepon. Ia hendak menghubungi seseorang untuk dimintai pertolongan. Namun karena ia kesulitan melihat dengan jelas, sekali lagi kakinya tersandung karpet, kemudian tubuhnya terjatuh ke depan dan keningnya langsung menancap pada piagam penghargaan musik yang tadi ia letakkan sebelumnya di atas karpet itu. Gadis itu pun tewas seketika. Di atas meja telepon, terdapat sebuah jam yang menunjukkan pukul 14.30.
*****
Mila dan teman-temannya pun tiba di rumah Alicia, bertepatan dengan kedua orang tua Alicia yang juga baru pulang.
Setelah memarkirkan mobilnya, Mila segera bergegas menghampiri orang tua Alicia.
"Kau.... temannya Alicia?" tanya ibunya Alicia.
"Ya nyonya, kami kemari ingin menemui Alicia. Ada hal penting yang ingin kami bicarakan" kata Mila.
"Ok. Dia ada didalam" kata sang ibu yang sedang membuka pintu rumahnya dan masuk terlebih dahulu kedalam rumah.
"Ayo, silahkan masuk" ujar sang ayah yang mempersilahkan Mila dan teman-temannya untuk masuk.
Namun beberapa saat kemudian, suara teriakan ibu Alicia terdengar sangat kencang, sehingga membuat semua orang panik dan melihat apa yang terjadi sebenarnya.
"AAAAAAA......."
"Oh, My God....." ucap Kevin.
Sang ayah langsung memeluk sang ibu yang terlihat histeris. Sedangkan Cecil dan Michelle langsung membuang wajahnya, karena takut melihat pemandangan yang ada di tempat itu. Sementara Mila hanya bisa menahan sedih, dan Kevin pun juga memeluknya untuk membuatnya sedikit tenang.
"Sekarang, kalian percaya padaku?" ucap Mila pelan.
Kevin, Cecil dan Michelle hanya terdiam membisu, tak tahu apa yang harus mereka ucapkan, setelah melihat kejadian yang menimpa Alicia.
*****
Tbc