Tubuh Santiago semakin terangkat ke udara bersama dengan parasut yang menjerat lehernya tersebut. Ia berusaha keras untuk melepaskan jeratan tali yang mengikat lehernya. Tali itu semakin mengikat lehernya dengan kencang. Ia pun semakin kesulitan untuk bernafas.
Keinginannya untuk berparasailing benar-benar terwujud, namun dengan cara yang tidak umum.
Sementara itu Oscar mengejar kapal boat tanpa pengemudi yang menarik parasut yang menjerat leher Santiago, dengan menggunakan kapal boat lainnya. Ia bermaksud mendahului kapal boat itu dan mencoba untuk mengendalikannya.
Setelah usaha yang cukup keras, akhirnya ia berhasil mendekati kapal boat itu, dengan kapal boat yang ia naiki dengan seorang pengemudi lain tentunya. Dengan hati-hati ia melompat ke kapal boat tanpa pengemudi itu. Ketika Oscar hendak menghentikan laju kapal boat itu, tiba-tiba angin berhembus kencang sekali. Hal itu membuatnya terjatuh kedalam laut. Ia pun berenang dan mencoba naik ke kapal boat itu lagi, namun tiba-tiba ujung tali yang menghubungkan parasut dengan kapal boat itu terlepas, sehingga membuat parasut terbang tertiup angin melayang di udara bersama tubuh Santiago yang masih terjerat pada parasut itu. Parasut yang menjerat leher Santiago melayang dan tersangkut di tiang sebuah kapal layar yang kebetulan lewat di perairan situ. Oscar memperhatikan kejadian itu. Saat parasut tersibak, ia melihat tubuh Santiago ternyata sudah tertancap pada tiang pengikat layar kapal tersebut. Ia jadi teringat didalam penglihatannya sebelumnya, kalau Santiago juga tewas dengan cara seperti itu. Oscar merasa kesal ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Santiago. Orang-orang yang ada di kapal layar itu pun sangat terkejut melihat seseorang tewas tertancap di tiang kapal layar mereka.
"Sekarang giliranku, dan aku pasti bisa mengalahkanmu, damn it" gerutunya sambil memperhatikan tubuh Santiago yang sedang diturunkan oleh orang-orang yang ada di kapal layar itu. Oscar pun melajukan kapal boatnya menghampiri kapal layar itu.
Saat itu pandangannya tertuju ke bendera yang berkibar pada kapal layar itu. Bendera itu memiliki lambang berupa huruf R dan dibawah lambang itu bertuliskan sebuah kalimat pendek 'Brave the Wave'.
Perasaan aneh mulai melingkupi dirinya. Namun saat ia dilanda kebingungan, tiba-tiba sebuah ombak besar menerjang sekitar daerah itu, membuat kapal boatnya terbalik dan melempar tubuh Oscar jatuh kedalam laut lagi.
Oscar berusaha berenang kepermukaan. Saat ia hendak meraih kapal boat yang sudah dalam posisi terbalik, ombak sekali lagi bergulung dan membuat kapal boat itu membentur kepalanya dengan sangat kuat.
Benturan itu membuat Oscar menjadi pingsan. Tubuhnya mulai digulung ombak yang semakin ganas. Saat tubuhnya mulai tenggelam kedalam lautan, meskipun dalam keadaan pingsan, samar-samar ia mendengar teriakan seseorang memanggil namanya.
*****
"Uhuk... uhukk... uhukkk..."
"Oscar... akhirnya kau sadar. Aku senang sekali" ucap Daniela sambil memeluk tubuh Oscar.
"Dimana aku? Apa yang terjadi." tanya Oscar.
"Kau berada di pusat kesehatan penjaga pantai" jawab Daniela.
"Kau beruntung kawan, kami tiba tepat waktu dan temanmu menyelamatkanmu ketika kau hampir tenggelam. Padahal ombak cukup ganas tadi" ujar seorang penjaga pantai.
"Aku ingat... tadi kepalaku terbentur kapal boat itu dan aku pingsan. Tapi samar-samar aku mendengar suaramu memanggilku" ucap Oscar yang masih merasa lemah.
"Aku memang berteriak memanggilmu" ujar Daniela.
"Kau yang menyelamatkanku?" tanya Oscar.
"Oh.. bukan, bukan aku yang menyelamatkanmu. Nicole yang menyelamatkanmu. Tiba-tiba ia melompat kedalam air dan menyelam untuk menyelamatkanmu" jelas Daniela.
"Terima kasih Nicole" ucap Oscar sambil tersenyum kepada Nicole.
"Lupakanlah, sebelumnya kau juga telah menyelamatkanku. Jadi anggap saja sebagai balas budi" ujar Nicole.
"Jadi..... Apa semuanya sudah selesai?" tanya Daniela.
"Aku harap begitu. Aku lah giliran terakhir, dan Nicole telah mencampuri kematianku, dan dia telah merusak polanya. Jadi semuanya telah berakhir" kata Oscar.
"Tapi.... Kau terlihat masih khawatir?" tanya Nicole.
"Tidak... tidak... Aku hanya berfikir akhirnya kita bisa melewatinya, meskipun kita telah kehilangan teman-teman terbaik kita" ucap Oscar sambil tersenyum.
Nicole dan Daniela membalasnya dengan senyuman pula. Mereka saling berpegangan tangan sebagai tanda saling memberi semangat.
*****
Satu bulan kemudian....
Sebuah mobil berhenti tepat di depan sebuah mobil. Rumah itu adalah tempat tinggal Oscar saat ini. Saat itu Oscar sedang menulis sesuatu didalam sebuah buku harian, sampai terdengar suara klakson dari luar.
Ia membuka tirai jendelanya dan melihat siapa yang membunyikan klakson itu. Ia tersenyum saat melihat orang yang sedang menunggunya di luar. Oscar segera berlari keluar rumah menghampiri mobil yang berhenti di depan rumahnya itu.
"Hey, kalian berdua, ada apa?" tanya Oscar.
"Kami berdua ingin menjemputmu dan mengajakmu ke sebuah tempat" kata salah seorang yang ada didalam mobil tersebut, yang ternyata orang itu adalah Daniela. Sementara yang satu lagi adalah Nicole.
"Pergi kemana?" tanya Oscar heran.
"Ikut saja dengan kami, nanti kau pasti tahu" ucap Nicole.
"Mmmmmm.... tapi saat ini aku sedang...."
"Apa kau sedang sibuk?" tanya Daniela.
"Aku... hanya sedang menulis... pengalaman kita sewaktu di Cancun" ucap Oscar.
Daniela dan Nicole saling berpandangan ketika mendengar ucapan Oscar.
"Kau masih mengingat tentang hal itu?" tanya Nicole.
"Aku hanya...."
"Oscar... semuanya sudah berakhir. Kau tahu itu kan? Tidak ada lagi yang terjadi sejak sebulan terakhir. Kita semua telah berhasil mengalahkan teror kematian itu. Kita telah selamat, jadi aku mohon lupakanlah semua hal tentang kejadian buruk sewaktu kita berada di Cancun" kata Daniela.
"Baiklah.. baiklah. Aku akan ikut dengan kalian. Tapi tunggu sebentar, aku ambil jaket ku dulu" ujar Oscar yang berlari masuk kedalam rumahnya.
Ia menuju kamarnya unruk mengambil sebuah jaket. Ketika ia akan meninggalkan kamarnya, ia melihat ke buku hariannya yang masih terbuka. Ia pun mendekati meja tulisnya, dan menutup buku hariannya. Di depan sampul buku hariannya tertulis sebuah tulisan 'Final Destination'.
Oscar berlari menghampiri dan masuk kedalam mobil milik Daniela. Selanjutnya mereka pun pergi menuju tempat yang akan mereka datangi.
*****
"Daniela...." panggil Oscar.
"Ya, ada apa?" sahut Daniela.
"Terima kasih kau masih mau bertemu dengan ku, padahal dulu aku pernah..."
"Ha..ha..ha.. Oscar, apa yang kau bicarakan? Aku sudah melupakan masalah pribadi diantara kita sejak lama. Kita adalah teman sekarang, nanti dan sampai kapan pun" ujar Daniela.
"Ya, friend to the end" sambung Nicole.
"Terima kasih" sahut Oscar.
"Ok, kita sudah sampai" kata Daniela yang membawa mobilnya menuju ketempat perparkiran.
"Ini....?"
"Ini perusahaan milik teman ayahnya Nicole" kata Daniela.
"Dia mengajak kita menikmati pemandangan kota dari udara" lanjut Nicole.
"Udara...? Maksudnya?" tanya Oscar lagi yang semakin penasaran.
"Teman ayahku mengajak kita menikmati pemandangan kota New York dari udara dengan menggunakan sebuah helikopter" jawab Nicole.
"Di atas gedung ini, ada landasan helikopter. Dan helikopternya sudah menunggu kita sejak tadi" lanjut Daniela.
"Sepertinya menarik" ujar Oscar sambil tersenyum.
"Kalau begitu tunggu apalagi" kata Nicole yang mengajak Oscar dan Daniela memasuki gedung perusahaan milik teman ayahnya.
Mereka langsung menuju ke atap gedung yang berfungsi sebagai landasan helikopter.
Disana sudah menunggu sebuah helikopter yang bersiap-siap untuk tinggal landas.
"Ayo...!!!!" teriak sang pilot helikopter.
Mereka bertiga segera berlari mendekati helikopter itu dan menaikinya.
"Baiklah kita berangkat" kata sang pilot helikopter sambil menekan beberapa tombol yang ada di kokpit helikopter itu.
Helikopter itu pun mulai terangkat dan terbang meninggalkan landasannya.
"Saat seperti ini enaknya kita minum kopi" ucap sang pilot kapal yang mengambil sebuah cangkir plastik berisi kopi yang ia letakkan disebelah tempatnya duduk.
Oscar terkejut ketika melihat tulisan yang tertera dicangkir plastik itu.
"Life Friend..." ucap Oscar pelan.
"Oscar ada apa?" tanya Nicole.
"Oh s**t!!! Kita harus turun dari helikopter ini" kata Oscar yang mulai panik.
"Oscar, ada apa?" tanya Daniela yang khawatir melihat sikap Oscar. Begitu pula dengan Nicole.
"Kita harus keluar dari helikopter ini" teriak Oscar.
"Baiklah... baiklah... Kita akan mendarat lagi ditempat semula" jawab sang pengemudi.
Namun ketika sang pilot hendak membawa helikopternya kembali ketempat mereka tinggal landas, tiba-tiba mesin kokpit helikopter mengeluarkan percikan listrik. Hal itu membuat sang pilot terkejut dan kesulitan mengendalikan helikopternya.
Mesin kokpit pun meledak, dan membuat sang pilot pingsan. Kini helikopter itu terbang tidak terkendali, kemudian bergerak dengan cepat mendekati pinggiran gedung. Baling-baling bagian atas menyentuh dinding gedung sehingga menimbulkan goncangan yang cukup memacu adrenalin.
Posisi badan helikopter jadi miring ke kiri, sementara posisi kepala menghadap ke atas sedangkan ekornya berada di bawah.
Nicole dan Daniela saling berteriak karena ketakutan yang amat sangat. Sedangkan Oscar mencoba mengendalikan helikopter itu, padahal ia sendiri tidak mengerti bagaimana cara mengendalikannya.
Benturan dan goncangan semakin kuat, membuat pintu helikopter terbuka. Karena tekanan udara yang cukup kuat, Daniela dan Nicole ketarik keluar. Tangan Daniela sempat meraih bagian kiri helikopter, sementara tubuh Nicole terlempar dan tercabik-cabik oleh baling-baling helikopter bagian ekor.
"Nicole....!!!!! Tidaaaaaaakkkkkk...!!!" teriak Daniela.
"Daniela....!!!! Bertahanlah...!!!!"
Oscar mencoba menyelamatkan Daniela. Ia berusaha meraih tangan Daniela yang sedang bergelantungan pada bagian kaki helikopter.
"Aku tidak bisa bertahan lebih lama..." teriak Daniela.
"Bertahanlah...!!"
Belum sempat Oscar meraih tangan Daniela, bagian mesin kokpit helikopter meledak lagi. Ledakan itu menimbulkan getaran yang menyebabkan pegangan tangan Daniela terlepas.
"Tidaaaakkkkk....!!!!" teriak Oscar.
Daniela terjatuh dari jarak ketinggian yang sangat ekstrim. Tubuhnya jatuh tepat ditengah-tengah jalan raya. Saat terjatuh di aspal dengan keadaan yang sudah tidak bernyawa lagi, sebuah truk yang sedang melaju di jalan itu, menggilas tubuhnya hingga hancur.
Kini tinggal Oscar dan sang pilot yang kemungkinan juga telah tewas. Helikopter itu semakin tidak terkendali. Baling-balingnya juga telah patah akibat berbenturan dengan dinding gedung.
Karena sudah tidak memiliki keseimbangan terbang lagi, akhirnya helikopter itu pun jatuh menabrak tanah dan meledak saat itu juga.
*****
The End