bc

Jerat Pesona Sang Mafia

book_age18+
410
IKUTI
1.8K
BACA
HE
playboy
independent
heir/heiress
blue collar
drama
bxg
mystery
loser
campus
secrets
like
intro-logo
Uraian

Cinta Maharani, gadis berusia 24 tahun, cantik, kaya dan terkenal, siapa sangka dibalik semua kesempurnaan itu dia memiliki masa lalu yang begitu pahit. Semua itu bermula saat dirinya masih memliki bentuk super besar, alias gendut, dan selalu menjadi bahan bully seorang anak laki-laki bernama Samudera alias Sammy.

Sammy selalu membuat Cinta merasa rendah, semua kejadian itu terbayarkan dengan perubahan dirinya di 5 tahun kemudian.

Cinta yang notabene adalah cucu seorang pengusaha kaya raya, berniat membalaskan dendamnya pada Sammy dengan membuatnya jatuh cinta, dan akan dia tinggalkan, niatnya begitu.

Siapa kira dia ternyata berurusan dengan anak seorang gembong mafia terkenal di Indonesia, tidak semudah itu ternyata membuat Sammy takluk.

Lantas siapa yang lebih dulu jatuh cinta?

Sammy?

Atau Rani yang terjebak dengan misi balas dendamnya menjadi cinta sesungguhnya pada Sammy?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Bullying
"Eehh liat tuh! Bocah tomat dateng!” seru seorang siswa berseragam SMP di tengah gerombolan anak lelaki di halaman sekolah. Seorang siswi dengan rambut kepang dua yang lumayan manis, berjalan menggendong tas besar dipunggungnya. Dia menyusuri lorong sekolah, menuju kelas IX yang berada di pojok dekat gudang sekolah. Dan untuk sampai ke sana dia perlu melewati deretan kelas lain, kolam ikan dan taman kecil. Disitulah mentalnya sebagai siswi pindahan diuji seberat bongkahan emas di tugu monas. Cinta–nama bocah perempuan itu–tak dapat menyembunyikan tubuh gembul nan subur, sekalipun dia berjalan ala ninja, melompat dari satu pilar ke pilar lain. Tubuhnya itu secara natural telah membuat Cinta di-‘cintai’ seantero sekolah. “Kita tebak-tebakan, Cuk! Tas dia segede gitu pasti isinya cemilan doang. Liat aja bentukan dia. Badan apa karung beras?!” cemoohan itupun disambut meriah sorakan siswa-siswi yang lain. “Lo tau biskuit yang iklannya diputer, dijilat, dicelupin? Dia sih mana pake ritual-ritual begituan? Makan aja langsung asal comot, kelamaan pake diputer-puter dulu! Kayaknya dia makan sekalian sama bungkusannya deh!” seru yang lain menimpali. “Cacing di perutnya keburu demo!” Ada sekitar lima bocah lebih dalam gerombolan tersebut. Bersahutan mengejek Cinta yang berjalan dengan wajah sok-sokan tanpa ekspresi padahal kesal setengah mati. Dan yang membuat mereka semakin giras menggoda Cinta, karena bocah perempuan itu tak pernah balas mencemooh. Sikap Cinta yang begitulah yang membuat mereka semakin penasaran. “Kesian juga sih dia, bray! Air putih aja bisa jadi daging tuh! Eh napas deh, napas aja jadi lemak!” Gelak tawa terus mengiringi langkah kaki Cinta yang sudah terbiasa sakit hati dengan semua itu. “Bocah tomat! Bocah tomat!” Cinta menggembungkan pipinya sebal. Sekalipun, sebutan ‘bocah tomat’ itu cocok sekali dengan pipi bulatnya yang bersemu merah setiap kali terjemur matahari. Dialog-dialog pembulian itu terus mengiringi Cinta sampai bocah itu masuk kelas dan duduk di kursinya yang ada di deretan paling belakang. Dia ditempatkan di sana agar tidak menghalangi pandangan murid lain yang tertutup tubuh lebarnya. Dan puncak dari pembulian itu terjadi tepat hari ulang tahun ke lima belas Cinta. Hari itu teman-teman sekelasnya mendadak berubah bak malaikat. Datang ke kelas, semua tersenyum lebar dan menyapa ramah. Tiba di mejanya, sudah ada sebungkus coklat yang diam-diam suka dia makan di kelas, tanpa ketahuan guru. Sepucuk kertas dengan tulisan ‘Selamat ulang tahun, bocah tomat’ pun sukses mengukir senyum di bibirnya. “Teman-teman, makasih ya. Aku ngga nyangka kalian inget hari ulang tahun aku,” ucap Cinta berterima kasih dengan tulus. “Sama-sama, Cinta. Sudah tradisi di sekolah kita, teman sekelas harus memberikan hadiah buat yang berulang tahun,” sahut seorang siswa berambut ikal yang duduk di depan Cinta. “Iya, Cinta. Meskipun bukan hadiah yang mahal, cuma sebungkus coklat, tapi kamu senang kan?” tambah yang lain. “Senang. Aku senang pake banget nih. Terima kasih ya.” Cinta memeluk coklat bermerk Delpi dengan d**a berdebar senang. “Kita tulus loh, Cinta.” Ucapan itu disetujui anggukan dari seluruh penghuni kelas. “Eh, siapa bilang hadiahnya cuma itu? Kita masih punya hadiah lain kok!” seru seorang siswa yang berjalan mendekati Cinta. Debaran di d**a Cinta semakin kencang saat matanya bertabrakan dengan siswa tersebut. Dialah Samudera alias Sammy. Siswa yang menurut Cinta paling tampan, sekaligus paling menyebalkan di kelasnya. Biang kerok yang telah sukses menyematkan sebutan ‘bocah tomat’ kepadanya. Siswa yang ingin sekali dia lenyapkan dari muka bumi, tetapi juga ketampanannya ingin dia abadikan dengan kamera ponsel. “Ha-hadiah apalagi ya?” tanya Cinta terbata. “Pulang sekolah nanti.” Sammy berhenti sedetik, seorang siswi tampak menarik lengannya seolah hendak menghentikan ucapannya. Tapi bocah bengal itu acuh saja dan terus melanjutkan kata-katanya. “Oh ya, nanti pas bel, kamu jangan langsung ngeloyor pulang. Kita semua semua mau ngerayain ulang tahun kamu bareng-bareng. Kamu mau kan?” “Ngerayain ulang tahun? Semua?” tanya Cinta tak percaya. “Iya. Semua,” sahut Sammy memandang berkeliling teman-teman sekelasnya. “Mau ngga? Penawaran ngga datang dua kali loh.” Seumur-umur, Cinta belum pernah merayakan ulang tahun bersama teman-teman sekelas. Orang tuanya yang berasal dari kalangan sederhana telah membiasakan anak-anak mereka untuk tidak merayakan ulang tahun. Karena itulah, Cinta langsung menyambut tawaran Sammy dengan antusias. “Mau. Aku mau, Sammy!” serunya tanpa menaruh curiga sedikit pun. Pelajaran demi pelajaran berlalu tanpa terasa. Malah dia juga tersenyum lebar selama menghadapi pelajaran matematika. Juga, saat pelajaran bahasa inggris yang biasanya bikin mengantuk, hari itu Cinta bisa membuka mata lebar-lebar. Hati Cinta berbunga-bunga tiada tara. Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Cinta yang sudah menunggu-nunggu selama tujuh jam pelajaran itupun pura-pura tak begeming di kursinya. Dia menantikan ada siswa atau siswi yang menyuruhnya bersiap-siap. Dan cinta nyaris menjerit saat Sammy mendatanginya dengan lengan seragam yang tergulung ke atas serta topi yang dipakai terbalik. Satu kata buat Sammy, keren! “Siap? Ikut yuk!” ucap Sammy merangkul pundak Cinta. “Ikut? Ikut ke mana?” tanya Cinta melirik lengan Sammy yang melingkari pundak luasnya. Oh my god! Aku mau dibawa apa sama cowok sekeren Sammy? Ulang tahun ini, pasti menjadi ulang tahun paling berkesan buat aku. “Kita ke gudang sebelah,” jawab Sammy. Lengannya yang tadi di pundak, turun mendorong punggung tebal Cinta. “Gudang? Ngapain, sam? Di sana kan kotor,” ucap Cinta. “Ngga kotor. Udah dibersihin sama anak-anak cewek. Yuk, tadi pagi semangat banget mau ngerayain ulang tahun bareng.” Tak hanya Sammy, Cinta merasa ada sekitar dua atau tiga tangan siswa lain yang mendorong punggungnya sampai ke pintu kelas. Melewati ambang pintu, Sammy menarik kuat lengan Cinta sembari mengumpat, “cepet dikit, gembrot!” perintahnya. Hati Cinta mencelus. Seketika menyadari kalau dia telah salah mempercayai Sammy dan semua teman-teman sekelasnya. Omong kosong dengan kebiasaan sekolah, hadiah, ketulusan. Cinta digiring seperti kelinci yang masuk jebakan serigala. Byur!! Seember air menyiram tubuh Cinta yang baru saja tiba di depan pintu gudang. Tawa menggelegar. Dia menjadi tontonan separuh siswa di kelas sembari diiringi nyanyian ‘selamat ulang tahun’ dengan tubuh menggigil. “Opps!! Maaf airnya kebanyakan. Biasanya sih Cuma segelas, tapi berhubung badan kamu luweeebaaarrr kayak lapangan bola, lebih pas kalau disiram pakai air seember,” ucap seorang siswi bernada centil, sok polos. “Gimana? Seneng kan? Selamat ulang tahun ya, bocah tomat!” Sammy memiringkan kepalanya mengintip wajah Cinta yang menunduk. Dalam keadaan basah kuyup, Cinta memejamkan matanya. Sebutir air mata luluh di pipinya, terjatuh ke seragam yang dibelikan ibunya sebagai hadiah kenaikan kelas karena seragam sebelumnya sudah kekecilan. Cinta terisak tanpa suara. Dia pun hanya bisa pasrah saat tubuhnya didorong, diseret lebih kencang, dimasukkan ke dalam gudang yang gelap. Pintu gudang dikunci dari luar. Cinta menggedor pintu dengan sisa tenaga yang dia miliki. Namun, tak seorang pun peduli. Tak seorang pun tergerak untuk menjadi superhero bagi bocah tomat sepertinya. “Bundaaa!! Bundaaa toloong!!” Punggung Cinta merosot di balik pintu gudang. Tangannya memukul-mukul lemah. “Bunda ... Cinta lapar,” rintihnya pilu.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.5K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.8K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.2K
bc

Menyala Istri Sah!

read
2.1K
bc

After We Met

read
188.5K
bc

Lagi! Jangan Berhenti, Om!

read
13.8K
bc

Unchosen Wife

read
6.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook