Bab 2. Si Gendut

1006 Kata
Bunda, Cinta beneran lapar, mana gelap banget di sini,” ujar gadis gembul bertubuh montok dengan pipi gembil yang menggemaskan, tapi tidak bagi kawan-kawannya. Hampir dua jam lamanya Cinta terkurung di dalam ruang gelap tersebut. Rasanya sungguh sedih dinistakan seperti ini, uwow, uwow! Yang ada di dalam bayangan Cinta, bagaimana kalau di dalam gudang ada monster? Lalu dia menjadi santapan nikmat monster yang mungkin badannya jauh lebih besar darinya. “Ya Allah, Bunda. Apa aku makan duluan ya monsternya, kalau sampai muncul beneran. Ini sampai kapan dikurung begini sih,” lirih Cinta lagi. Ia mengira, ulang tahunnya kali ini akan menjadi ulang tahun fenomenal yang luar biasa, nyatanya malah dikerjain seperti ini. Belum lagi, Sammy sialan itu ikut-ikutan membully dirinya, padahal Cinta yakin dia tidak memiliki masalah dengan Sammy lantas kenapa pemuda itu tega melakukannya pada Cinta? Saat merasa putus asa itu lah, pintu gudang terbuka, dilihatnya ada sosok yang tidak kalah kerennya dari Samudera alias Sammy, pentolan dan salah satu favorit cowok di mana Cinta saat ini bersekolah. "Cinta? Kamu dari tadi di dalam ya?" Reno terkejut saat melihat Cinta tergeletak dengan posisi terlentang di lantai, jadi mirip ikan paus yang terdampar di daratan. Mau ketawa tapi dia merasa tidak tega, tingkah Cinta memang ada-ada saja. Cinta mendongakkan kepalanya ke atas, dilihatnya ada sepasang kaki berdiri tepat di atas kepalanya, lalu perhatiannya naik ke atas dan dia melihat Reno sedang berdiri sembari memperhatikan dirinya. Bergegas Cinta bangkit berdiri dan merapikan pakaiannya, malu sendiri jadinya, karena dia sadar, tingkahnya pasti sangat memalukan! "Kamu ngapain di lantai, Cinta?" tanya Reno lagi, jujur saja dia merasa bingung, bisa-bisanya dengan santai Cinta tiduran di lantai, lalu pakaiannya pun basah, wajahnya sembab, sebetulnya apa yang sedang dia lakukan? Reno dan Sammy sebetulnya dua sosok yang saling mengenal bahkan cukup dekat, hanya saja sifat keduanya bertolak belakang, yang satu agak ngaco, yang satunya normal, nah yang normal ini adalah Reno. "Tadi aku dikerjain sama teman-teman, kata mereka mau kasih kejutan, ternyata aku malah diguyur air satu ember, Ren. Eh tapi, mereka sebetulnya baik, mungkin begini cara mereka memberikan kejutan buat aku?" Cinta berusaha menyangkal jika apa yang dia terima adalah sebuah penghinaan, dia berusaha untuk tetap berpikir positif. Reno memberikan satu bungkus tissue pada Cinta, rambutnya basah dan kotor. Dia pun turut membantu membersihkan rambut Cinta, kasihan melihat gadis bertubuh super tebal dan mirip seperti sekarung beras, entah berukuran berapa kilo itu terlihat berantakan. "Rumah lo di mana sih?" tanya Reno, hanya menunjukkan simpatik atas kejadian yang menimpa Cinta. Reno adalah pemuda yang tidak suka terlihat menonjol di sekolah meskipun banyak gadis-gadis centil dan tengil mengejar dirinya, dia hanya bersikap biasa saja, tidak merasa seperti Samudera yang senang mendapatkan perhatian dari siapa pun. "Memangnya kenapa?" Bukannya menjawab, Cinta justru balik bertanya pada Reno, memang kadang-kadang kadar kepintaran Cinta memang kelewatan, sebab Reno ini tipe yang kalau sedang bertanya maka dia harus segera dijawab, bukan ditanya balik, ini bukan lagi sesi tanya jawab saat melamar kerja, Bos! "Bisa nggak sih, kalau ditanya langsung jawab. Gue paling malas, kalau lo gue tanya, malahan nanya balik," ucap Reno, sedikit ketus, tapi tidak mengurangi kadar ketampanan mutlak seorang Reno Sebastian. Cinta menunduk, wajahnya kembali memerah seperti sebuah tomat yang baru saja matang dari pohonnya. "Maaf, Ren. Rumah gue nggak jauh kok dari sekolah, paling-paling cuma jalan kaki sedikit juga sampai kok. Elo mau main ke rumah gue?" Tanpa banyak bicara, dia pun menarik tangan Cinta, mengajaknya keluar dari dalam gudang. Begitu keduanya keluar, ternyata hari sudah agak gelap, Reno masuk ke dalam gudang karena dia ingin mengambil sesuatu miliknya yang dia sembunyikan di dalam sana, tidak mengira di dalam gudang ternyata ada penghuni lain yang hampir saja lemas kelaparan. Genggaman tangan Reno terasa hangat bagi Cinta, diperhatikan dari samping wajah Reno yang tirus, dengan hidung yang mancung, bibir tebal dan berwarna merah, mendadak dia pun menjadi sangat lapar. Nah lho? "Gue lapar," gumam Cinta seraya memegangi perutnya. Reno menoleh, tidak disangka pemuda acuh itu tersenyum. "Lapar? Mau makan dulu?" "Iya, tapi ... gue nggak pegang uang," jawab Cinta malu-malu, tanpa dia sadari kelakuannya malu-maluin, untungnya dia bersama Reno saat ini bukan Sammy, kalau nggak, bakal kena bully habis dia, sudah mengeluh lapar, ujung-ujungnya pasti minta makan dan menuntut untuk ditraktir pula. Kelakuan lo benar-benar Cinta! "Gue bayarin. Besok-besok jangan terlalu percaya sama orang lain," kata Reno pada Cinta. Memang Cinta ini polos, di mata gadis bertubuh super montok itu, semua orang adalah orang-orang yang baik. "Iya, Ren." Saat keduanya keluar dari area sekolah seorang satpam menyapa Reno, "A Reno baru mau pulang?" "Iya Pak. Sekalian mau traktir kawan dulu, permisi Pak Amri," kata Reno berpamitan pada satpam berusia setengah abad itu. Melihat sikap Reno, ada rasa kagum di hati Cinta. Sungguh amat sangat berbeda dengan pentolan sekolah bernama Samudera Winata, tidak heran sih kalau sikap Samudera alias Sammy menjadi seperti itu. Sudah keturunan langsung dari bapaknya yang bernama Arka! *** Reno mengajak Cinta makan di sebuah warung pecel ayam, ini sudah porsi kedua. Reno sendiri tidak merasa keberatan, mau sampai sepuluh porsi pun dia sanggup untuk membayarnya, yang jadi masalah, itu perut Cinta apa masih muat? Satu porsi pecel ayam dengan nasi uduknya itu "Itu perut masih nampung, Cin?" tanya Reno kebingungan dengan nafsu makan Cinta yang sangat, sangat besar dan membuat Reno hanya bisa menarik napas panjang. "Masih nampung kok, Ren. Kalau lo sanggup bayar, gue masih bisa beberapa porsi lagi," jawab Cinta tanpa rasa bersalah. "Heh? Seriusan lo masih kuat?" tanya Reno lagi, antara percaya nggak percaya dengan apa yang dia dengar. Gila sih ini, kalau beneran diturutin sama Reno pasti beneran bakalan dia pesan sepuluh porsi lagi. Sama saja menghabiskan jatah satu RT kan? "Iya masih kuat, duit lo masih banyak kan?" Cinta bertanya tanpa merasa bersalah sama sekali. Dia terus memakan makanannya dengan lahap, sepertinya efek baru dikurung tadi justru bikin Cinta kelaparan setengah mati, dan rasanya kalau bisa piringnya juga sekalian dimakan. "Ya udah pesan aja lagi, sesuka lo," kata Reno. Sabar Ren, anggap saja amal dan sedekah untuk orang lagi kelaparan. Masalah pahala, nanti bisa dihitung pas di akhirat!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN