Bab 3. Merasa Tenar

1032 Kata
Reno pun mengantarkan Cinta sampai di depan rumahnya. Rumah sederhana, tetapi kehangatan di dalamnya begitu terasa bagi Reno. "Nak Reno, masuk dulu. Mungkin mau coba cemilan buatan Tante?" tawar mamanya Cinta, wanita berusia 35 tahun itu masih terlihat cantik dan segar, Cinta memang bukan anak orang kaya seperti teman-temannya di sekolah. Cuma gadis endut serba sederhana, kecuali berat badannya yang sulit disederhanakan, karena bagi Cinta, gendut itu pangkal kaya, menimbun lemak berlebih siapa tahu akan menjadi keberuntungan bagi Cinta sendiri nantinya. Di dalam rumah itu, hanya Cinta saja yang memiliki ukuran lebih dari anggota keluarga lainnnya. Apa mungkin jatah makan mereka semua diberikan kepada Cinta, karena mereka terlalu sayang terhadap gadis itu? Bisa jadi ya, Bro! "Maaf Tante, saya harus pulang. Oh iya, ini saya bawakan pecel ayam, maaf juga karena saya tidak tahu ada berapa banyak anggota keluarga di rumah Cinta, jadi saya hanya membawakan secukupnya," kata Reno dengan sopan. Eleuh ... eleuh meni sopan pisan si Reno mah, udah ganteng, sopan, cocok buat dijadikan calon mantu, eh .... "Terima kasih ya Nak Reno, kapan-kapan main ke sini lagi," kata mamanya Cinta dengan wajah berseri-seri. Setelahnya Reno pun berlalu dari hadapan mereka semua. Cinta berharap suatu hari, Reno akan mentraktirnya kembali, tentunya dengan jenis makanan yang berbeda. "Ma, cowok tadi ganteng kan?" Cinta masih belum mengalihkan pandangannya dari arah luar, meskipun saat itu Reno sudah menghilang dari pandangan mereka. "Ganteng sih, tapi jangan sama dia," jawab mamanya pada putrinya yang cantik tetapi gembul itu. "Lho kok gitu?" "Lah iya, kasihan Reno kalau sampai punya cewek kayak kamu, Cinta. Bisa-bisa Reno tambah kurus dan kamu makin gembul aja. Apa kamu nggak kasihan, sepertinya setelah ini kamu harus benar-benar diet, masa masih 15 tahun tubuh kamu udah beratnya 90 kg," kata mamamnya Cinta. "Mama, berat badan Cinta ini sebuah anugerah, Mama nggak boleh menyesalinya. Semua pada pengen kurus, Ma. Tapi aku bersyukur karena dengan berat badan segini aku nggak kelihatan kayak mayat hidup yang lagi jalan kelihatan tulang-tulangnya doang. Mama harusnya bangga, selain aku ini bahenol, aku juga pintar, sebuah kombinasi yang sempurna lho, Ma." Sebetulnya saat ini Cinta sedang menghibur dirinya sendiri. Dengan berat badan 90 kg tentu saja membuat Cinta kesulitan melakukan aktifitasnya. Beruntung saja, dia memiliki kepintaran di atas rata-rata pada umumnya. Cinta jago matematika, bahasa Inggris, katakanlah dia tidak mempunyai kesulitan dan menyerap mata pelajaran mana pun, termasuk menyerap lemak! "Haduh, kamu ini kerjaannya ngeles melulu kayak bajaj deh. Sudah sana mandi, lagi pula kenapa kamu bisa terlambat pulang sih ini hari? Apa karena jalan-jalan sama Reno?" tanya mamanya Cinta. Padahal dia sama sekali nggak tahu kalau hari ini putri kesayangannya baru saja dibully habis-habisan dan Reno menjadi penyelamat Cinta. "Aku ...." Rasanya dia ingin mengatakan kalau hari ini habis dibully parah di sekolah, tapi kok nggak tega untuk memberitahukan pada mamanya? Biarlah, untuk sementara Cinta itu kuat kok. Dia bisa menahan semua emosinya, hanya dengan membayangkan banyaknya makanan enak-enak di depan mata sudah bisa untuk meredam semua emosi Cinta. "Ya udah kamu istirahat aja, Cinta, kalau kamu nanti mendadak kurus karena kebanyakan begadang, jadi nggak asyik lagi kan?" Memang luar biasa saran dari mamanya Cinta ini, di saat orang lain menyarankan agar anaknya bisa diet, dan mati-matian memberikan saran menu ini dan itu untuk diikuti. Mamanya Cinta justru memberikan arahan supaya tetap stay endut! *** Keesokan harinya, ciwik-ciwik di SMP terheran-heran saat melihat Cinta melangkah masuk pagar sekolah menggunakan kacamata hitam, bukannya keren malah terlihat seperti tukang pijat tunanetra. Cinta memang harus diacungi jempol, bukan karena dia keren atau memiliki kecantikan paripurna, melainkan rasa percaya dirinya yang kelewat tinggi. Bahkan akibat pembullian kemarin, sepertinya sama sekali tidak berpengaruh banyak bagi Cinta, dia hanya menganggapnya sebagai anjing lalu, duh, maaf, angin lalu, Bos! "Buset si gendut pede banget, masuk ke dalam sekolah pakai kacamata hitam pula?" "Woy, ada kang pijet keliling masuk sekolah!" sahut yang lainnya. Ejekan demi ejekan saling bersahutan silih berganti, tapi Cinta adalah Cinta, tidak peduli para anjing akan menggongong model bagaimana. "Lo pada berisik semua, memang nggak lihat Cinta Laura lagi lewat?" seloroh Cinta seraya mengibaskan kedua tangannya, menyuruh para murid untuk menyingkir. Padahal bukan tanpa alasan dia memakai kacamata hitam, ini semua gara-gara semalam pas tidur sama Cecil, kaki adiknya menendang dengan kencang ke arah mata Cinta sehingga sebelah matanya menjadi bengkak! Reno ternyata turut menyaksikan kekonyolan Cinta, sesungging senyum terlihat menyapu bibir laki-laki remaja berparas tampan yang tempo hari mengeluarkan Cinta dari dalam gudang. "Ren, lo ngapain senyum-senyum lihat tuh kontainer buah?" celetuk Samudera yang sedang berdiri di sampingnya. "Hm, siapa kontainer buah?" tanya Reno, meskipun dia tahu siapa tujuan dari kalimat Samudera barusan. "Ya itu siapa lagi, si Cinta the cute girl oversize!" jawab Samudera dengan nada mengejek. Padahal kalau diperhatikan lebih seksama, Cinta itu manis, putih, cuma bedanya bodinya memang kelewat semok. Jangan salahkan Cinta, salahkan kenapa banyak makanan enak bertebaran di mana-mana. "Dia itu manis, Sam. Sifatnya juga menyenangkan kok, gue rasa nggak buruk-buruk amat," jawab Reno, dia bersikap lebih objektif dibandingkan Samudera. Bagi Samudera, cewek berukuran big size seperti Cinta hanya mengganggu pemandangannya saja, apalagi kalau pas lagi satu kendaraan bisa bikin timpang. "Kalau memang menurut lo manis, kenapa lo nggak deketin aja?" "Kalau dia mau, gue bakal deketin. Semalam, gue nemenin dia makan pecel ayam, dia beneran manis banget pas makan, lo pasti bakalan nyesal ngejek dia, Sam. Cinta itu nggak kayak cewek-cewek lain yang kecentilan deketin lo. Lagian ... saran lo bagus juga, gue mau mulai pedekate sama Cinta, ok kan?" Reno menjawab kata-kata Samudera, tidak peduli dengan tatapan kesal Samudera padanya. Saat Cinta melintas di depan Samudera dan Reno, dia menurunkan kacamatanya dan berkata, "Hi Fans, kalian berdua sudah nungguin aku di sini ya? Btw, makasih buat Samudera sama kejutannya kemarin." "Kalau bukan gara-gara lo yang kurung gue di gudang, gue nggak bakal dapat kesempatan buat pulang bareng plus ditraktir sama Reno. Gue ucapin makasih buat lo!" ucap Cinta dengan pongah, seakan dibully oleh Samudera adalah sebuah anugerah tersendiri yang membawa rejeki. Memang aneh, tapi itu nyata sodara-sodara! "Udah gendut, gila juga, lo tuh cewek paling aneh yang gue kenal!" seru Samudera, lalu dia mendorong tubuh Cinta menjauh dari darinya. Beruntung Reno ada di samping Cinta, dan buru-buru menahan Cinta agar tidak terjatuh. Anjay berat dong!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN