Bab 10. Model Dari Kanada?

1070 Kata
Sungguh kelakuan bertahun-tahun yang tak luntur oleh waktu. Ada banyak hal yang terjadi sesudah mereka lulus SMA, terlebih kepergian Cinta yang tanpa jejak seusai lulus, entah ke mana, saat itu ada rasa kehilangan di hati Reno hanya saja dia hanya diam tanpa berkata apa pun. Pesta kelulusan yang meriah terasa hambar tanpa kehadiran makhluk gemoy yang satu itu. Reno sedih patah hati! Sammy? Dia sedih karena gagal menjahili Cinta untuk terakhir kalinya. “Okay! Sekarang bener pindah ke hotel nih? Hotel mana? Ngga usah bilang, ‘hotel yang biasa aja, masa lo nggak tau’? Eh, manusia lahir dibedong dollar, hotel yang biasa lo datengin itu ada lima!” Reno merentangkan lima jarinya. “Sebutin satu yang mau lo pake party malam ini.” “Hotel Kencana!” seru Sammy mantap. “Okay! Kencana!” “Eh, ngga jadi ah. Hotel Kencana pelayan hotelnya kurang cantik-cantik, modal tinggi doang. Hotel Berlian aja!” “Okay! Hotel Berlian! Kebetulan mereka lagi ada promo pool party. Gue tanya dulu marketingnya ... eemm ... Mbak Hanna mana ya nomor dia?” Reno mengusap-usap layar ponselnya. “Kosong delapan lima lima dua dua empat empat ....” Sammy menyebutkan sederet nomor ponsel dengan lancar. “Eh, buset?! Nomor apaan tuh?!” tanya Reno tercengang. “Nomor Mbak Hanna lah! Masa nomor togel?!” sahut Sammy menjitak kepala Reno. “Lha? Bisa-bisanya lo hapal? Pernah main sama dia?” Reno melirik penuh selidik. “Otak ngeres aja! Lo lupa kalau kita pernah ada proyek bareng Hotel Berlian? Kebetulan juga kan nomor Mbak Hanna nomor cantik, gampang dihapal. Oke?! Dah sana telepon.” “Halah, alasan aja, cebong! Tobat lo! Dah tua!” “Lo aja yang tua! Gue ke kamar dulu ah! Mau rebahan sendiri, sebelum rebahan berdua,” ucap Sammy seraya beranjak dan berjalan meninggalkan ruang kantor yang berada di rumah pria muda kaya raya itu. Sammy memasuki kamarnya yang bernuasa putih dan merebahkan punggung ke atas ranjang. Kalau dibilang hidupnya enak karena banyak uang, ya ... itu bener sih. Tetapi, dibalik semua kemewahan yang dia nikmati, kadang Sammy suka merasa capek sendiri. Sebagai anak tunggal harapan keluarga, ia diberikan tanggung jawab untuk meneruskan bisnis ayahnya, Arkana Winata. Tidak hanya satu, tetapi dua bisnis sekaligus. Puyeng ngga tuh? Satu bisnis yang bisa dilihat dan disentuh oleh seluruh umat manusia, sementara satunya bisnis gelap yang tidak bisa tersenyuh oleh orang lain apalagi sampai diketahui secara umum! Selain itu, dia juga hanya diperbolehkan membawa satu teman geng yang paling dipercaya untuk terlibat dalam bisnis-bisnis tersebut. Karenanya, Sammy memilih Reno, sohib yang paling sering berantem sama dia, tetapi juga paling bisa diandalkan. “Sam!” Reno berseru sembari mengetuk pintu kamar Sammy. “Mbak Hanna udah ok! Dia bakal siapin pool party buat kita. Terus dia juga mau ngajak Jeni sama Kalina yang udah pada kangen sama lo! Mampus lo!” “Ya udah suruh pada dateng aja! Gue juga kangen sama mereka. Kali aja ada yang bisa bikin nge-fly kan lumayan!” Sammy berseru dari ranjang. Nah kan! Tetapi, bukan Sammy kalau tidak suka nambahin masalah hidup. Sudah pusing mengurusi bisnis double ayahnya, ia malah melampiaskannya dengan mengencani banyak wanita. Tak jarang, saat pengecekan laporan keuangan, Sammy mendapatkan komplain dari asisten keuangan ayahnya. Bayangkan saja, dalam semalam dia bisa menghabiskan puluhan bahkan ratusan juta hanya untuk berpesta dan bersenang-senang. “Suka-suka lo lah! Gue cabut dulu bentar buat ketemuan sama orang agency!” Reno mengetuk keras pintu kamar Sammy, memastikan kalau pria itu masih mendengarkan dirinya. “Oh ya, inget pesan bokap lo, Sam! Cari istri! Jangan cari pacar mulu!” “Bawel lo! Pergi sana! Huuussshh!!” usir Sammy keki. 'Cari istri? Dikira cari istri udah kayak cari tahu di supermarket apa? Dapet, bawa ke kasir terus bayar?' batin Sammy. Entah kenapa, sekalipun sudah banyak wanita yang disodorkan keluarganya, Sammy tidak sedikitpun tertarik dengan sebuah pernikahan. Bagai dia menikah cuma nambah-nambahin beban yang tidak perlu. Lebih enak begini, bisa party kapan saja. Gonta ganti teman kencan dari abjad A sampe Z yang penting sama-sama suka dan tidak ada yang dirugikan. Kalau sudah menikah mana bisa begitu lagi? Hanya boleh memeluk satu wanita saja smpai ajal memisahkan? Omong kosong! Yang nanya hanya satu wanita itu tidak berlaku bagi Sammy, sepertinya memang sudah menurun dari Arkana, ayahnya, sewaktu pria itu masih seusia Sammy. "Cinta itu bullshit!" Pukul delapan malam, tanpa menunggu Reno yang sedang sibuk menangani pekerjaan yang seharusnya dia tangani, Sammy meluncur seorang diri ke Hotel Berlian. Bersama Ferarri merah cabainya yang mengilap, Sammy membelah santai jalanan kota yang ramai. Suara ‘bip’ dari layar kecil di dashboard kecil di dashboard yang terhubung dengan ponsel mengejutkan Sammy. Dia pun menekan sebuah tombol yang dapat mengubah pesan tulisan menjadi pesan suara. “Sammy, kamu datang jam berapa? Mau welcome drink apa? Brandy, gin atau vodka? Jeni sama Kalina sudah pakai bikini nih, Sam.” “Mbak Hanna, emang top,” ujar Sammy. “Sammy, anak bapak Antonio Bandar Beras! Jam delapan nih! Masih tidur lo?! Eh, gue udah depet nih foto-foto kandidat model buat promosi bisnis kita. Buruan dateng!” “Yaelahh! Makin lama makin bawel deh tuh orang! Untung ngga ada orang lain yang bisa gue percaya. Kalau ngga udah gue tendang tuh anak dari kemaren-kemaren!” keluh Sammy sembari menambah kecepatan mobilnya. Tak lama kemudian, mobil mewah itu sudah memasuki pelataran hotel. Seorang petugas valet parking yang sudah mengenali mobil Sammy segera menghampiri untuk menerima kunci mobil pria itu. “Parkir di sebelah mobil Pak Reno ya, pak!” pesan Sammy. “Siap, boss! Pak Reno udah dateng dari tadi.” “Terimakasih, pak.” Baru saja ujung sepatu Sammy mendarat di lobi hotel, Mbak Hanna, sang marketing hotel lekas menyambut Sammy dengan pelukan hangat dan kecupan di pipi. Single parent bertubuh bagus itu memang tak pernah malu-malu menunjukkan kearaban mereka. Namun, sekali lagi, Sammy sama sekali tak berminat untuk menghalalkan seorang wanita. Jauh sekali dari bayangannya! “Ayo kita ke atas, Sam. Tamu-tamu kamu udah ada yang datang bareng Reno tadi. Eh, Reno sekarang tambah ganteng juga ya. Pasti ketularan gantengnya kamu ya?” Wanita itu menggelayuti lengan Sammy. “Masa kegantengan menular? Mbak Hanna aja yang udah lama ngga ngeliat dia, makanya bilang ganteng. Kalau sering-sering ketemu juga eneg,” ujar Sammy tertawa. Paling enak ngeledekin temen sendiri ya. “Sammy!” Dua wanita berbikini, berlari kecil mendatangi Sammy. Jeni, seorang wanita muda berwajah oriental membawakan Sammy sebotol vodka dengan wajah centil yang menantang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN