Bab 9. Sammy Is Here!

1032 Kata
Tergesa-gesa Rani pun merapikan kembali pakaiannya, lalu tidak lama kemudian dia keluar seraya berkacak pinggang dan memelototi Deni. Membuat pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tatapan Rani seperti ingin menelan seluruh tubuhnya bulat-bulat. "Baby, jangan melihat aku seperti itu, aku takut," kata Deni lalu dia pun tertawa. Rani melengos, tidak mempan dengan kata-kata manis dari mulut pria tampan itu. Ditoyornya kepala Deni, "Baby, baby, gue gaplok lo yang ada. Mau muka lo ganteng kayak Nicholas Saputra, tetap aja gue enek sama lo. Ayo buruan balik ke studio, orang yang mau ketemu gue ada di studio kan?" Deni mengusap kepalanya yang sukses ditoyor-toyor oleh Rani alias Cinta si montoks. Lalu keduanya bergegas menuju ke arah studio foto. Yang membuat Rani heran, memangnya nggak bisa ya ketemuan di ruang meeting aja? Padahal di perusahaan ada ruang khusus pertemuan untuk para klien, tapi kenapa justru klien satu ini lebih suka bertemu di studio foto? "Tuh orangnya," tunjuk Deni saat mereka sudah hampir masuk ke dalam studio foto. Yang Rani lihat ... klien yang ditunjuk oleh Deni tadi masih sangat muda, tubuhnya tinggi, tegap, kekar, dan sekilas dari jauh saja wajahnya terlihat seperti Oppa-Oppa Korea. Rani menarik bahu Deni, membuat pria yang juga tidak kalah tingginya itu menoleh ke belakang, "Apa?" "Bisa Bahasa Indonesia nggak tuh, kalau muka nya kayak orang Korea begitu, jangan-jangan ntar dia ngomong Bahasa Korea, gue cuma bisa jawab beberapa patah kata doang," bisik Rani. "Memangnya lo bisa Bahasa Korea?" "Bisa." "Apa?" "Saranghaeyo," balas Rani, menjawab pertanyaan Deni. "Gomawo," jawab Deni lalu memasang wajah tersipu-sipu bangsad! "Najis." Lagi-lagi ditoyornya kepala fotografer tampan tapi nggak punya otak itu, membuat Deni cengar-cengir setengah meringis. "Lo ganas amat sih sama gue, ntar kalau jatuh cinta, baru berasa lo." "Kagak bakalan, kiamat kalau sampai gue jatuh cinta ke elo. Lo nggak waras, Den," balas Rani, lalu dengan langkah kaki yang mantap keduanya memasuki ruangan. Pria berwajah Korea--kalau kata Rani--menoleh, memperhatikan Deni dan Rani yang baru saja memasuki ruangan tersebut. "Hi, nice to meet you, Rani. Senang bertemu denganmu, ternyata di aslinya kamu terlihat jauh lebih cantik," kata pria berwajah ke-Korea-an itu. Rani tersipu malu, bisa-bisanya pria yang tidak dia kenal memuji-muji dirinya. Tapi nggak apa-apa lah ya, dipuji sama pria tampan kebangetan, siapa yang nggak kepingin sih? Jujur saja, hidup di dunia entertainment seperti ini membuat Rani tidak lagi terkedut-kedut melihat begitu banyak pria tampan yang mengelilinginya. Dia sudah terbiasa, jadi melihat si pria Oppa-Oppa Korea pun, tidak terlalu wah. Justru sebaliknya, pria itu terlihat terpesona saat melihat Rani. Rani membalas uluran tangan pria itu, "Terima kasih atas pujiannya, silakan duduk, Mas?" Kan bingung, masa muka kayak cowok Korea dipanggilnya 'Mas' sih, jadi keder deh. "Nama saya Lexi. Saya pemilik brand Lorial, mungkin kamu sudah pernah dengar nama produk itu?" tanya pria bernama Lexi, yang penting namanya, mau dia asli Cimahi, nggak peduli! Yang dibutuhkan Rani adalah nama pria tersebut! "Ok, sekarang kita mau ngapain?" tanya Rani celingukan ke sana kemari, masa iya membicarakan masalah kontrak kerjasama cuma ada Deni si fotografer, lalu Lexi si pemilik perusahaan, tukang make-up sama dirinya? Lah terus pemilik agency Ms. Sissy di mana? "Saya ingin memakai kamu, apa kamu sedang banyak tawaran di brand lain, Rani?" tanya Lexi. "Kamu mau pakai saya?" Mendengar kata 'pakai' otak Rani seketika travelling dari Sabang sampai ke Kanada. Rasanya kok mendadak jadi kayak cabe-cabean ya? "Dalam Bahasa Inggris, memakai itu artinya to use, aduh," Rani menjeda kalimatnya, "memangnya saya baju?" Lexi tertawa mendengar apa yang baru saja dikatakan Rani, ok, muka boleh makin cantik, bodi makin seksi, tapi pikiran konyol Cinta Maharani sejak dulu tidak pernah sedikit pun berubah. Deni hanya bisa mengelus d**a mendengar celotehan Rani yang bikin malu, gimana jadinya kalau Lexi pada akhirnya membatalkan keinginan kerja samanya dengan MultiTalent Agency, gara-gara celetukan Rani barusan? "You're so funny, Rani. Kamu lucu, saya suka gadis humoris kayak kamu. Saya yakin, dengan bergabung nya kamu nanti di perusahaan saya, nama kamu akan semakin terangkat, bahkan jauh lebih dari sekarang. Ok, sekarang kamu memang terkenal, tetapi setelahnya kamu akan semakin terkenal!" Janji-janji yang diucapkan Lexi bukan hanya sekadar kata-kata pemanis macam kolak takjil saat bulan puasa, manisnya hanya lewat sekelebat, lalu hilang begitu saja ketika minum air putih. Tidak lama kemudian terdengar suara high heels mengentak ke dalam studio, baru mendengarnya saja, mereka semua tahu siapa yang baru saja hadir di tengah-tengah mereka semua. "Lexi, Rani akan menerima tawaranmu, jika tidak, saya yang akan memaksanya," sahut suara wanita tersebut, semua menoleh, begitu pun dengan Rani sembari menganga lebar. Rani meringis, kalau sudah ada titah seorang dewi pencabut nyawa seperti Ms. Sissy, maka mau tidak mau semua harus menuruti keinginannya! Tapi dan pakai tapi, memang tidak ada salahnya jika harus menuruti semua kemauan Ms. Sissy, apalagi wanita itu memiliki intuisi yang sangat kuat, dulu Rani sempat tidak percaya diri saat Ms. Sissy mengatakan pada Rani, dia bisa membuat Rani mengubah dan membuat gadis itu menjelma menjadi sebuah berlian mahal yang akan diperebutkan banyak orang. Semua kata-katanya pun terbukti, kan? "Well done, Ms. Sissy. Saya akan mengurus kontraknya, jadi semua sudah deal ya?" kata Lexi seraya mengerlingkan satu matanya ke arah Rani. 'Najis, genit banget, ganteng sih ganteng, tapi pakai ngedip-ngedip kayak orang cacingan begitu, hih!' umpat Rani di dalam hatinya. Sementara di tempat lain nun jauh di mata dan di hati, dua orang pria tampan kebangetan sedang memperdebatkan sesuatu. “Ren, party-nya di hotel aja deh. Ngga jadi garden party di rumah. Rumput gajah di halaman baru pada numbuh. Entar gue kena omel tukang kebon,” ujar Sammy asal. “Apa? Rumput gajah lo bilang? Gue udah dua kali ngeralat lokasi party ke klien-klien kita nih. Emang repot ya jadi anak buah lo!” semprot Reno membanting ponselnya ke sofa. “Ayolah, brother!” Sammy merangkul pundak Reno tanpa rasa bersalah. “Lo tau sendiri Mang Jajang kalau udah ngomel panjang banget udah gitu bisa sampe ngungkit-ngungkit kenakalan kita pas SMA. Males gue!” “Kenakalan kita? Kenakalan lo aja kali ah. Gue sih cuma korban kebawa-bawa sama lo aja.” “Please, Reno keren, anaknya bapak Basuki! Lo mau gue kenalin sama Sarah ngga? Montok, Ren! Lo kan suka yang montok-montok kayak si anu dulu,” bisik Sammy di telinga Reno.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN