“Udah sih, jangan sok bijak. Bilang aja langsung, apa yang lo maksud?” potong Sammy, merasa kesal karena Reno terlalu banyak berbicara dan juga bertele-tele menurutnya.
Reno tersenyum, “Suatu saat lo akan tahu.”
“Nggak jelas lo!” Sammy mendorong d**a Reno, lalu pergi dari kantin, meninggalkan anggota gengnya yang terheran-heran dan memikirkan apa yang sebetulnya terjadi pada Sammy?
***
Lima tahun setelahnya ….
“Nggakkk!” Gadis itu terbangun, sekujur tubuhnya basah oleh keringat, bahkan piyama yang dia kenakan pun menjadi lepek. Napasnya tersengal-sengal dengan d**a bergerak naik turun.
Kedua matanya berembun, lalu dia melirik jam yang berada di nakas, baru pukul lima pagi, terdengaan helaan napas panjang darinya.
“Rani, buka pintunya, kamu kenapa?” Terdengar suara ketukan dan juga suara seorang wanita memanggil dirinya, “Rani!”
“Sebentar Tante,” jawabnya. Gadis bertubuh langsing, tinggi, dengan wajahnya yang cantik merapikan rambut, digelungnya ke atas. Lalu turun dari tempat tidur menuju ke arah pintu. Rasanya mimpi tadi benar-benar begitu nyata, seolah menarik kembali dirinya ke dalam masa lalu yang ingin dilupakan.
Dibukanya pintu dan melihat wajah wanita paruh baya, dia lah yang selama 5 tahun terakhir menggantikan peran ibunya, “Ada apa, Tante?”
“Teriak-teriak, kamu mimpi buruk?” tanya wanita paruh baya tersebut pada Rani. Gadis cantik itu menggelengkan kepala lalu terdiam untuk sesaat. Dia berusaha melupakan semua yang terjadi di masa lalu, tetapi tetap saja rasanya sangat sulit.
Perundungan yang terjadi membuatnya merasa ingin membuang segalanya, termasuk tidak ingin lagi mendengar satu nama yang membuatnya sangat membenci dirinya dulu. Ternyata, kepintaran tidak menjamin seseorang untuk dihargai.
“Rani kamu harus tidur, besok kamu ada photoshoot kan?” ucap Meylani–tante dari Rani–dengan lembut. Hanya dia yang bisa mengerti apa yang diresahkan Rani, kecemasan berlebih, dan rasa takut jika masa lalu itu akan kembali membayangi dirinya.
“Iya, Tante. Aku pikir dengan berubah maka aku tidak akan lagi mengingat semua kejadian itu, nyatanya semakin aku mencoba untuk melupakan, ingatan-ingatan itu serupa proyektor yang terus berputar di dalam kepalaku,” kata Rani, lalu gadis itu mendesah pelan, kembali menarik selimut tebal miliknya sebatas d**a.
“Kamu tidur lagi, jangan memikirkan apa pun, Rani. Semua itu cuma masa lalu, sekarang kamu di bawah pengawasan Tante, semua Tante yang mengurusnya, lagi pula sudah seharusnya sejak dulu kamu di sini bersama kami, hanya saja kakakku itu keras kepala, lebih suka anak-anak dan istrinya menderita,” kata Meylani pada keponakan yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri itu.
Rani atau Cinta Maharani, gadis gendut yang selalu dibully dan diremehkan dulu sudah berubah. Dia bukan lagi Cinta dengan bobot hampir 100 kg, juga bukan lagi seorang itik buruk rupa, tetapi gadis cantik yang memiliki tubuh tinggi dan juga paras rupawan yang mampu menarik perhatian laki-laki manapun.
Dari SMP sampai SMA, berada di sekolah yang sama, membuat gadis itu benar-benar tertekan batinnya, tetapi demi cita-cita dan keinginan sang bunda, dia bertahan sampai pada akhirnya dia merasakan titik yang membuat jenuh dan lelah, di saat kelulusan SMA dia mendapatkan juara umum nasional seluruh Indonesia, tentu saja sebuah prestasi yang membanggakan, kan?
Dia pun mendapatkan kemudahan dengan tembus 10 universitas di beberapa negara di universitas terkenal, salah satunya Kanada di mana dia berada sampai hari ini.
Sammy seperti mimpi buruk yang terus menghantui Cinta seumur hidupnya, ejekan demi ejekan, lalu
“Samudera, kalau sampai nanti gue ketemu lo lagi, gue pastikan lo bakal cium kaki gue. Lo benar-benar meninggalkan trauma di dalam hidup gue seperti setan yang ngikutin gue terus-terusan!” Mimpi itu semuanya tentang Samudera alias Sammy, yang selalu saja membuatnya tersiksa batin dan juga mentalnya selama bertahun-tahun.
***
“Ok, Rani, satu gaya lagi ya, setelah itu kamu bisa break dulu.” Pengarah gaya memberikan arahan kepada Rani atau Cinta, biar pada nggak keder ya, yang jelas orangnya masih sama kok cuma sekarang beda bentuk aja, jadi sangat, sangat slim!
Rani melakukan pose seperti yang diminta oleh pengarah gaya, memeluk dari belakang model pria yang duduk di bangku.
Karirnya sebagai model memang maju pesat itu pun berkat bantuan pamannya yang bule–suami dari Meylani–memiliki sebuah perusahaan agency, yang sudah menetaskan banyak model terkenal tersebar di beberapa production house menjadi seorang artis atau aktor.
“Ok, good girl. Kamu istirahat saja dulu satu jam, nanti kita take buat foto berikut ya, tapi outdoor.”
Rani menganggukkan kepala lalu mengacak rambut James, pengarah gaya berwajah tampan tapi penyuka sesama batang!
Rani menuju ke toilet, lalu di dalam toilet dia terus memperhatikan dirinya, benar-benar berubah, tidak ada yang tersisa dari Cinta Maharani, si gendut yang menjadi objek bully-an anak-anak orang kaya itu.
“Soon … aku akan kembali ke Indonesia,” ucapnya seraya menyeringai di depan cermin.
"Lihat aja, Sam! Kamu akan tahu seberapa besar perubahan yang sudah terjadi di diri aku." Rani pun berputar di depan cermin, semua memang sudah berubah, sangat berubah tidak lagi sama seperti dulu.
Dia sudah cantik, bahkan tidak ada lagi sisa-sisa si gendut miskin yang menyusahkan orang lain. Perjuangan yang tidak sia-sia bagi Rani karena, untuk menjadi cantik seperti sekarang bukan lah dengan pengorbanan yang murah.
Dia mengeluarkan banyak sekali biaya. Semua biaya yang didapatkannya karena Rani atau Cinta yang sebenarnya adalah cucu dari seorang pria tua kaya raya, hanya saja karena ayahnya mencintai wanita biasa, maka ayahnya lebih memilih pergi dari rumah.
Belasan tahun lamanya pria tua yang berstatus sebagai kakeknya itu pada akhirnya menyesal dan menyuruh seseorang mencari Ayah Cinta Maharani.
"Rani ...." Seorang pria tampan dan masih sangat muda mengetuk pintu toilet, gadis itu sejak tadi masih berada di dalam hanya untuk mengagumi dirinya sendiri. Dia masih ingat sekali pembullyan yang dilakukan padanya selama bertahun-tahun lamanya, menahan rasa sakit di hati untuk bisa bertahan demi beasiswa di sekolah elit tersebut.
"Lama banget sih lo di dalam!"
"Sabar, Den. Gue masih rapiin make up gue, lagian juga belum satu jam udah dipanggil aja sih!" balas Rani dari dalam toilet perempuan seraya mendengus kesal.
Beruntung Tuhan masih sayang, ada kebahagiaan di balik semua masa-masa pahit itu.
"Ran, kampret!"
"Sabar, Njir! Lo nggak sabaran banget, emang ada apaan?"
"Ada owner perusahaan Lorial, itu lho produk rambut terkenal. Pemilik perusahaannya kepingin kenal sama lo, Ran!" sahut Deni--fotografer handal--dengan suara keras. Diketuknya pintu toilet semakin kencang, kalau saja saat ini yang ada di hadapannya adalah toilet laki-laki, dipastikan dia sudah menghambur masuk ke dalam dan menarik Rani keluar.