Bab 7. Rasa Simpatik Reno

1129 Kata
“Bunda! Baju Cinta sobek! Huuuwwwaaaa!!” tangis Cinta kencang. “Kamu temen dia, dek?” tanya seorang buruh galian. “Tolong dianterin pulang, dek. Kesian temennya.” “Temen? Bukan, pak! Saya bukan temen dia. Mana kelas cowok ganteng dan keren kayak saya begini temenan sama dia? Amit-amit!” sahut Sammy ketus. “Tapi itu,” Menunjuk emblem nama sekolah di lengan seragam Sammy. “Kalian satu sekolah kan? Bisa kabarin temen atau guru yang kenal sama anak ini? Kasihan loh dia.” “Dih!” Sammy berdecak. “Ngga apa-apa, pak. Saya bisa pulang sendiri kok. Rumah saya ngga jauh dari sini. Tinggal ...,” Cinta menyedot ingus yang bercampur bau comberan. “Tinggal jalan kaki juga nyampe. Ma-makasih udah nolongin ya, bapak-bapak. Semoga amal perbuatan bapak-bapak sekalian diterima di sisi Allah.” “Amiinnn.” Buruh-buruh galian menyahut kompak, tak sadar kalau ada yang aneh dengan kalimat yang diucapkan Cinta. “Ya udah, saya pulang ya. Permisi.” Cinta berjalan gontai meninggalkan kerumunan orang yang menonton atraksi dugong kecebur selokan. Sejujurnya, Cinta berbohong kalau rumahnya dekat dari tempat dia terjatuh tadi. Rumah Cinta masih jauh banget. Dari toko buku agar bisa untuk ke rumahnya saja Cinta harus naik dua angkutan umum dan berjalan kaki lagi menyusuri trotoar ke dalam komplek perumahan. Berhubung rumah Cinta itu tipe satu lantai yang sederhana, jadi dari depan gerbang real estate, dia masih harus jalan sekitar setengah kilometer. Nah, itulah penyebab utama kenapa begitu sampai rumah tempat pertama yang dituju Cinta adalah meja makan. Dia lapar berat, seberat bobot tubuhnya. Namun, kejadian siang itu membuat Cinta tak berani menaiki angkutan umum. Lebih tepatnya, dia takut diusir karena sekujur tubuhnya bau comberan. Belum lagi dia juga harus mempersiapkan diri dari pertanyaan dan omelan Bunda. Akhirnya, Cinta memutuskan berjalan kaki sampai minimal dia ketemu ojek pangkalan yang sudi membonceng dirinya. “Anggap saja ujian penghapusan dosa,” gumam Cinta. “Tadi pagi kayaknya bunda bilang mau masak sop daging dan perkedel kentang. Huuumm, nyammiii!” Satu-satunya hal yang bisa membuat dirinya senang hanyalah dengan membayangkan masakan Bunda yang sudah tersaji di meja makan. “Woi, lihat! Ada yang cosplay dakocan!” tunjuk seorang bocah SD di seberang jalan. “Hah? Dakocan? Mana?” Cinta celingukan mencari dakocan yang dulu suka jadi senjata Bunda kalau Cinta malas mandi sore. “Mana dakocan? Kalian bohong ya?!” seru Cinta. “Woi, dakocannya amnesia! Dia bingung, gaes!” seru bocah-bocah songong itu. “Heh! Gue bukan dakocan! Kalau berani sini lo!” Cinta menggulung lengan bajunya yang basah dan kehitaman. “Tapi, satu-satu ya! Kalau kroyokan, gue ngga berani!” Bocah-bocah tergelak bersamaan. “Dakocan! Dakocan! Anak gendut kayak Dakocan! Gendut! Gendut!” “Arrggghhh!!! Pergi kaliaaaannn!!” Cinta mengambuk dan memutar-mutar tas gendongnya. Anak-anak bercelana merah itupun kabur sambil tertawa-tawa. “Ya ampun, Tuhan! Harus sesabar apalagi hamba? Lahir dengan berat 4.0 kilo saja hamba terima. Punya daya tampung makanan yang begitu banyak, hamba ikhlas, hamba sabar. Tetapi, kenapa cobaan tiap hari begini banget sih, Tuhan?” batin Cinta. Langkahnya meninggalkan jejak basah sepanjang jalan. “Kalau udah kayak gini, ngga sekalian aja turun hujan, Tuhan? Biar makin dramatis, kayak di drama korea? Sekalian nyunci baju, biar sampe rumah Bunda ngga tahu kalau aku abis kecebur lobang galian.” Rupanya benar kata kalimat ‘doa orang yang teraniaya cepat terkabul’. Seusai Cinta mengucapkan kalimat tersebut, suara guntur terdengar di langit yang semenit sebelumnya cerah. Cinta menengadah. Sebutir rintik hujan terjatuh di hidung Cinta. “Tuhan, Cinta bercanda doang. Baper deh,” gumam Cinta dan rintik pun bertambah banyak menghujani bumi. “Aku udah ngga ada tenaga buat berteduh nih. Pasrah aja lah, biar berasa Song Hye Kyo.” Satu meter, dua meter berjalan – di bawah guyuran hujan – kaki Cinta masih kuat berjalan. Bayangan makanan di meja makan terus menyemangati dirinya yang mulai menggigil. Saat itu jugalah dia sadar kalau lututnya berdarah dan perih terkena air hujan. Tiga meter selanjutnya, Cinta tak sanggup lagi berjalan. Menyingkir ke depan sebuah toko tua yang tutup, Cinta duduk menekuk lututnya dan terisak. Dan, di telinganya kembali menggema suara ejekan teman-teman sekolahnya juga teman-teman semasa SD. Ya, Cinta memang sudah sering dibully. Tetapi, dia juga manusia biasa yang bisa sakit hati. “Huuu, bunda, bunda! Cinta ngga mau ke sekolah lagi. Cinta benci temen-temen sekolah. Mereka jahat semua! Cinta mau home schooling aja kalau Bunda punya uang. Kalau Bunda ngga punya uang, Cinta mau mogok sekolah aja.” Cinta menangis sambil menengadah dan memejamkan mata dalam-dalam. Kedua telapak tangannya gemetar kedinginan. Entah sampai kapan dia mau menangis di sana. Mungkin sampai hujan berhenti atau sampai ada yang? “Hei! Cinta? Ternyata beneran lo ya?” Seorang cowok mendorong-dorong bahu Cinta dengan ujung botol minu. “Cinta? Kenapa lo ujan-ujanan? Lo ngga bawa payung? Cinta, gue minta maaf ya.” Semakin hari kelakuan Sammy pada Cinta semakin ngaco. Reno sendiri tidak tega melihatnya, tetapi apa mau dikata, ibarat batu, Sammy itu kayak batu karang, keras, dan sulit hancur! Susah dibilangin! Bahkan saat mereka beranjak sedikit lebih dewasa dan sudah memasuki masa SMA, tetap saja perlakuan Sammy pada Cinta tidak berubah sama sekali. “Sam, jangan terlalu iseng sama Cinta, apa lo nggak kasihan sama dia?” ujar Reno saat mereka duduk di kantin, memerhatikan gadis-gadis seumuran mereka sedang berlalu lalang dan bercanda satu sama lain. Sejak tadi, Sammy tidak melihat sosok yang biasa dibuatnya nangis. “Heh, lo itu nyariin siapa sih?” tanya Reno saat melihat Sammy celingukan mirip maling mengawasi targetnya. Sammy menggeleng, sedangkan Reno tahu siapa yang sedang dicari Sammy. Pemuda itu sedang mencari sasaran keisengannya, tetapi sayangnya dia tidak melihat Cinta sama sekali hari ini. “Besok acara kelulusan SMA, kasih kek kesan yang baik untuk Cinta, jangan terus-terusan lo kerjain dia kayak begitu, Sam,” celoteh Reno. Dan apa pun yang dikatakan Reno hanya masuk kuping kiri lalu keluar melalui kuping tetangga sebelah, alias bomat, BODOAMAT! “Peduli apaan gue? Emangnya penting gue harus menjaga perasaa si buntelan kentut? Gue heran, mentalnya kuat banget dari SMP sampai SMA ketemu sama gue, tetap aja dia bertahan di sini bahkan sampai lulus?” Hanya Reno yang tahu dengan keadaan Cinta yang sebenarnya, bagaimana gadis bertubuh tambun itu mati-matian ingin mewujudkan keinginan ayahnya, agar bisa mendapatkan masa depan yang cerah dan mengangkat derajat bunda dan juga adik-adiknya. “Lo nggak akan tahu alasan sebenarnya dia bertahan, Sam,” jawab Reno. “Maksud lo gimana?” “Selama ini lo ngebully dia, melakukan apa pun sesuka lo, dan dia cuma bisa menahan karena alasan yang sangat kuat, Sam. Gue sebetulnya kasihan sama Cinta, gue cuma bisa menghibur dia, nggak bisa berbuat banyak, gue berasa ada di persimpangan, ngebantu dia gue nggak mau lo jadi sensi, ngebiarin lo iseng dan semena-mena ke dia, hati nurani gue berontak–”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN