Bab 6. Ribut

1090 Kata
“Kayak cewek itu?” Beti menunjuk cewek berseragam yang sedang membaca buku incarannya. Dari posisi duduk dekat rak buku, kini cewek itu sudah berdiri dengan wajah gelisah. “Kurang lebih sih begitu. Eh, dia pakai seragam SMP juga ya?” “Internasional School, mas. Dulu aku hampir masuk ke sekolah itu, tapi aku yang ngga mau. Minder sama siswa-siswi di sana yang penampilannya keren-keren.” “Tuh, kamu udah bisa mikir sampe sana. Kenapa ngga sekalian diet bertahap aja? Bunda juga pasti dukung laahh,” kata Okan menyemangati. Semenit kemudian, Cinta dan Okan disibukkan dengan memilih-milih buku diet yang bisa dipraktekkan anak seusia Cinta. Terpilihlah dua buku, satu tentang tips diet sehat dan satu lagi kumpulan resep menu diet. Saking asiknya memilih, Cinta ataupun Okan sampai tak sadar kalau cewek yang lagi baca buku tadi disamperin seorang cowok yang juga berpakaian seragam SMP. Setelah berbasa-basi sebentar, cowok dan cewek itupun beranjak dari deretan rak buku fiksi. “Eh, masa ke toko buku ngga beli apa-apa sih? Lo beli apa kek, biar gue bayarin,” ujar cowok yang dari suara – seharusnya – bisa langsung dikenali Cinta. “Ngga ah. Gue sebenernya ngga gitu suka baca buku,” sahut cewek berponi lempar tersebut. “Lha? Gimana sih lo? Ngga suka baca buku tapi ngajakin ketemu di sini? Aneh deh!” “Soalnya toko buku ini ada di tengah-tengah antara sekolah lo sama sekolah gue. Terus juga sepi,” bisik cewek itu, “Kalau lo mau kiss dijamin ngga bakalan ada yang liat deh.” “Eh? Apa sih maksud lo, Mel? Kita – kita jadi makan bareng ngga nih?” sahut cowok itu menunduk kikuk. Mereka terus berjalan melewati rak-rak buku yang tinggi-tinggi itu. Berkali-kali si cowok tampak kebingungan mengelak godaan dari si cewek. Sehingga si cowok lebih banyak berjalan sambil menunduk dan .... BRUK! “Aww , sakit sialan!” seru cowok itu menggosok-gosok kepalanya. “Maaf, kak. Maaf, maaf aku ngga liat kalau ada, Sammy?!” ucap Cinta melompat mundur seperti melihat hantu. “Buntelan kent--?!” “Ngapain lo di sini?” seru Cinta dan Sammy berbarengan. “Pikir sendiri deh! Masa orang dateng ke toko buku buat mancing? Ya buat baca buku lah!” sewot Beti yang masih kesal dengan ucapan Sammy. “Astaga! Bener juga ya. Ke toko buku ya buat baca buku. Tapi tadi, hampir aja gue ngira toko buku ini sewa badut balon buat promosi.” Radit tergelak sembari merangkul cewek yang berdiri di sebelahnya. “Ih, lucu banget!” cetus cinta mendengus kasar. “Dah lah, minggir sana balon gas. Gue sama Melinda mau lunch dulu, lunch. Tau lunch ngga lo?” cengir Sammy. “Hilliiihhh, jajan bakso pinggir jalan aja segala bilang lunch. Norak sumpah!” “Apa lo bilang? Norak? Ngaca lo sana! Bentuk ngga jelas begitu aja mau sok-sokan nyela orang? Dasar ngga tau malu. Baru juga dideketin sama Reno udah belagu lo.” “Dih, siapa yang belagu? Gue ngga belagu! Lo tuh caper!” “Caper pala lo bulet? Nuduh lo!” “Gue nuduh lo?!” Cinta menunjuk dadanya. “Kalau ngga caper kenapa lo sering banget berulah di sekolah ya? Berari lo caper, Samsudin!” “Samsudin? Sumpah deh tuh mulut! Lo udah siap dikeluarin dari sekolah ya? Siap beasiswa lo dicabut? Inget ya! Bokap-nyokap gue tuh donatur terbesar di sekolah kita. Cuma bikin lo dikeluarin dari sekolah aja sih gampang banget buat gue!” Sammy menjentikkan jarinya di depan wajah Cinta. “Dah lah! Males gue nanggepin cewek jumbo kayak lo! Kita perdi, Mel!” tandas Sammy mendorong kasar Cinta yang menghalangi jalannya. “Aduuhh!” Dorongan Sammy membuat Cinta terdorong menabrak rak buku. “Cinta." Okan menahan tangan Cinta yang hendak membalas Sammy. “Anak kayak gitu kalau diladenin malah tambah seneng. Kamu jadi beli buku itu kan? Aku bayarin deh,” ucap Okan. Namun, kekesalan Cinta pada Sammy terlanjur sampai ke ubun-ubun. Dia mengangkat satu buku paling tebal dan mengayunnya. Satu kali saja! Dalam sejarah perbulliannya, Cinta ingin membalas dendam. Dia tak mau selamanya menjadi anak cewek yang ditindas terus-menerus. "Cinta, no! Jangan, Cin!" ujar Okan berusaha menahan Cinta. PLETAK! Cinta sukses melemparkan buku berisi resep menu diet ke arah Sammy. Sorak-sorai tak terelakkan saat buku itu mendarat tepat di kepala Sammy. Cinta tertawa puas. Tetapi, dia tak sadar kalau baru saja membangunkan macan tidur, Samudera.“Aww!! Akuwa galon sialan!!” Sammy meradang. Dia memegangi kepalanya yang benjol terkena hantaman buku diet. Sammy menoleh Cinta yang sedang tertawa-tawa. Di sebelahnya Okan mwenarik-narik tangan Cinta yang sebentar lagi akan terkena amukan macan tidur. Namun, Cinta yang sedang dalam mode bocah SD malah menjulurkan lidahnya mengejek Sammy. “Gue bales lo, galon!” seru Sammy berlari mengejar Cinta. Lupa sama sekali kalau mereka sedang ada di toko buku. “Okan! Siapa anak-anak itu? Kalau mau berantem, suruh keluar!” seru kepala toko memelototi Okan. Cinta yang mendengar amukan kepala toko sontak berlari keluar dari toko buku sekaligus menghindari kejaran Sammy. Cinta terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Sambil berlari dia mendengar Sammy meneriaki dirinya dengan berbagai sebutan yang – jujur nih – lumayan menyakitkan bagi Cinta. “Akuwa galon? Enak aja?! Emangnya aku mengalir dari mata air pilihan? Balon gas? Aku ngga lahir di Cappadocia. Bapak aku Jawa, ibu aku JanDa eehh, Jawa-Sunda. Terus, apa tadi? Maskot promosi? Dibayar juga ngga, malah dikata-katain. Dasart Samsudin kurang aseeemm!!” umpat Cinta dalam hati. “Eehhh, gajah?! Berhenti lo! Kepala gue benjol nih! Lo harus tanggung jawab kalau gue ampe gegar otak! Berhenti ngga lo?!” teriak Sammy. Mereka sudah berlari melewati dua toko lain, gerobak penjual cilok, tukang parkir yang sedang bekerja sampai mbok jamu yang hampir kena tabrak Cinta. Cinta berlari, Sammy mengejar. Mereka berdua udah kayak judul film ‘Kejarlah daku, kau kutangkap’. “No one can’t stop me! Anggap aja permulaan diet, Cin! Lari terus aja, sampai tepung serba guna jadi tepung serba salah. Ayoo, Cinta! Kamu bisaaaa!” “Eh, odong-odong!” “Apaan lagi tuh? Odong-odong? Bundaaa, dosa apa sih anakmu ini? Kenapa sampai dijulukin macem-macem begini?” Cinta memejamkan mata. Hatinya sakit banget nih! “Cinta! Awas loba--” BYUR! Tubuh semok Cinta terjungkal ke dalam lobang galian yang mengangga. Tersangkut dan basah kuyup. Buruh galian yang sedang beristirahat lekas menolong Cinta keluar dari dalam lobang. Meski butuh perjuangan, karena tidak mudah menarik Cinta tanpa bantuan alat berat, gadis itupun berhasil keluar dalam keadaan mengenaskan. “Hahaha!!! Rasain lo gembrot! Berani-beraninya ngelempar kepala gue pake buku! Karma dibayar tunai, gaes! Mampus lo!” Sammy terbahak sampai memegangi perutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN