Sebelum melewati Cinta, Sammy sengaja berdiri di belakang gadis itu untuk mencuri perhatian Reno. Saat Reno mendongak, Sammy menunjuk mata dengan kedua jarinya lalu menunjuk mata Reno.
“I’m watching you!” ucap Sammy komat kamit tanpa suara.
Reno terkekeh mengacuhkan Sammy yang berkelakuan absurd itu. “Cinta, masih ada tuh saos di ujung bibir lo. Sini gue bantu elap.” Reno mengambil selembar tissue dan mengelap sudut bibir Cinta.
“Eh, makasih, Ren,” sahut Cinta gugup.
BUAK!
“Saos copot!” Cinta melonjak. Sammy baru saja menendang sebuah bangku kosong yang teronggok tak berdosa.
“Bangku bego! Ngalangin orang jalan! Minggir sana lo! Uya! Mau berapa taon lagi lo di sana? Beli teh botol kotak aja lama banget lo udah kayak disuruh jemput emak lo di arab?!” cerca Sammy kesal melihat kelakuan Reno yang sengaja memanas-manasi dirinya.
“Kenapa sih lo, Sam? Ngamuk-ngamuk melulu kayak orang lagi PMS?” sahut Reno tanpa memedulikan apa yang yang baru saja dikatakan Sammy alias Babang Samudera. Ia benar-benar dibuat kesal oleh tingkah Reno, disuruh apa bukannya langsung dikerjakan, malah asyik-asyik di kantin dengan Cinta?
Sekarang mereka sudah kembali ke kelas, dan Sammy masih saja diam tidak mau bersuara apa lagi bernyanyi!
Yasallam!
“Nggak usah ribet banyak omong lo, Ren. Selera lo rendah banget ya, mau sama cewek yang mirip bemper mobil, serba besar, dan juga gue yakin sih tahan banting,” ujar Samudera pada Reno. Reno hanya tertawa mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Samudera, ia merasa heran apa salah Cinta, sampai Samudera alias Sammy begitu membenci gadis yang menurutnya menggemaskan itu.
“Cinta itu manis kok. Kenapa sih kayaknya lo benci benar sama dia, ada salah ya dia sama lo di masa lalu,” celetuk Reno, diabaikan tatapan kesal pemuda itu padanya. Sammy langsung mencibir kan bibirnya pada Reno, di masa depan aja ia malas untuk mengenal Cinta, lantas bagaimana di masa lalu?
Sammy berusaha menyangkal mati-matian, ia tidak suka pada Cinta, itu saja alasannya apa, nggak perlu ada yang tahu, pikir Sammy!
“Manis? Kalau begitu lo ambil aja, lo jadiin pacar lo, kalau menurut lo dia itu sangat manis, mungkin memang tipe lo kayak gitu ya? Nggak berkelas banget!” seru Sammy, lalu ia pun tertawa terbahak-bahak.
Cinta mendengar apa yang dikatakan Sammy pada Reno, ia mencoba untuk tidak peduli, karena baginya tujuan ia berada di sekolah para elite tersebut untuk menjadi seseorang yang berguna nantinya. Meski ia tahu, penolakan demi penolakan untuk dirinya tidak akan pernah berakhir sampai kapan pun.
Cinta menepuk bahu Reno, “Maaf ya, aku bikin kamu jadi rebut sama Sammy. Apa yang Sammy katakana itu benar, aku ini nggak pantas dekat-dekat sama kamu, karena kita ini seperti si ganteng dan buruk rupa, Ren.”
Mendengar celotehan Cinta, Reno menjadi tidak enak hati. Ia tahu betul pasti Cinta merasa sangat terluka, meski gadis kecil remaja itu berusaha menyembunyikannya.
“Cinta?! Lo jangan tersinggung sama ucapan Sammy. Dia kalau ngomong emang suka asal mangap aja. Gue juga udah biasa berantem sama dia. Jadi, lo santai aja. Oke?! Pliss, Cinta anak gemoy ngga boleh marah,” bujuk Reno.
“Terserah kalian aja. Gue ke sini buat nambah ilmu, bukan nambah emosi. Mulai sekarang kita ngga usah terlalu dekat dulu ya, Ren. Ngga enak sama temen-temen kamu yang lain,” ujar Cinta seraya berlalu ke tempat duduknya.
Sisa pelajaran siang itu dihabiskan Cinta dengan tak banyak melirik ke sana-sini. Dia hanya fokus, lurus kepada guru sejarah yang sedang menerangkan di depan kelas. Menyimak kisah perang Kerajaan Majapahit yang kenyataannya lebih menarik dari kisah hidupnya sebagai murid gembrot korban bullying.
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Tanpa basa-basi dulu sama temen sekelas, Cinta lekas melesat keluar kelas. Suasana hatinya sekacau meletusnya balon hijau gara-gara ucapan Sammy tadi.
Lagian siapa juga yang pengan punya badan segede gini? Yang cuma naik tangga udah berasa lari marathon. Mana nyari ukuran celana yang pas saja udah kayak nyari jerum dalam jerami. Sampai-sampai Bunda harus pesen ukuran celana khusus buat Cinta ke penjahit dekat rumah. Repot bet ya lord!
Dalam suasana hati yang seperti itu, tempat terbaik buat Cinta hanyalah toko buku. Dia akan berlama-lama di sana, membaca buku yang sudah dia tandai. Meski tak jarang melihat beberapa pasang ABG yang pacaran berkedok mencari buku pelajaran, tapi Cinta tidak peduli.
Lo, lo, gue ya gue! Lo, gue, end!
“Cinta, buku lagi ada yang baca," bisik Okan, pelayan part time di toko buku itu.
“Aduuhh, siapa sih? Udah lama?” tanya Cinta menjulurkan kepala ke arah rak buku fiksi. Tempat di mana novel ‘Beauty is You’ yang sedang dia baca berada.
“Baru lima menit yang lalu. Kamu bantuin aku nyusun buku-buku yang baru datang aja dulu sini,” ajak Okan ke rak buku non-fiksi yang berseberangan dengan rak buku fiksi.
“Ya udah deh. Mas Okan, anak yang lagi baca buku itu cewek atau cowok?” tanya Cinta sembari membuntuti Okan.
“Cewek lah. Mana ada cowok yang mau baca buku kayak begitu? Terlalu menyek-menyek, kurang laki,” sahut Okan seraya memamerkan otot lengannya yang tepos.
“Huuu! Kirain sih," cibir Cinta.
“Nah! Mending kamu baca buku-buku baru ini aja nih, Cin. Lebih bermanfaat.”
“Buku apa sih?” Cinta mengernyit sembari mengambil buku-buku di tangan Okan dan membaca judul-judulnya. “Diet kenyang, cooking happy? Diet garis keras? Diet Islami? Die or Diet? – Mas? Kenapa judul bukunya serem-serem begini sih? Aku ngeri aahh,” ujar Cinta menjejalkan lagi buku-buku itu ke tangan Okan.
“Lha? Cocok buat kamu kan, Cinta? Biar kamu termotivasi gitu.”
“Termotivasi apa? Termotivasi buat musuhin Mas Okan? Awas ya! Aku ngga bakal doain Mas Okan lolos beasiswa S2 di universitas negeri. Sebel aku!” ucap Cinta melipat tangan di d**a.
“Idiihh, gitu aja ngambek! Maksud mas itu baik loh, Cinta. Mumpung kamu masih muda, metabolisme tubuh masih bagus. Coba dikit-dikit kecilin badan kamu,” ucap Okan yang sedang menanti beasiswa S2 kedokteran gizi.
“Males ah! Aku laperan anaknya. Nanti kalau nahan laper terus pingsan gimana? Ngga akan ada yang mau gotong ke UKS, mas.” Cinta memajukan bibirnya lima centi. “Eemm ... emang cowok ngga suka ya lihat cewek gemuk kayak aku gini? Jelek ya?”
“Bukan jelek. Kamu itu manis kok. Aku tuh nyaranin kamu diet lebih ngeliat ke kesehatan kamu sih. Cuma yah, ngga bohong juga kalau cewek yang bertubuh ideal itu lebih enak dipandang dan digandeng,” sahut Okan jujur.