ZEIN ALFAREZA

1255 Kata
POV AUTOR suasana rumah sakit tampak ramai, dokter dan perawat hilir mudik di lorong membaur dengan pasien "kita coba lebih santai ya bunda" detik detik persalinan yang menegangkan pun terjadi di salah satu ruang bersalin, dengan wajah panik, nafas yang susah di atur serta kepala yang tiba tiba kosong saat kontraksi berlangsung membuat calon ibu itu hanya pasrah merasakan sakit yang teramat sangat seumur hidup baru dia rasakan sang suami yang berdiri di sampingnya hanya menangis tersedu tak tau harus berbuat apa kontraksi yang berlangsung terus menerus, di sertai erangan yang tak berujung akhirnya selesai, usai seorang bayi laki laki lahir kedunia ini dengan tangisan kencang dan selamat haru bahagia menyelimuti pasangan muda yang baru di karuniai anak pertama tersebut "selamat ya, atas kelahiran putra pertamanya" ucap sang dokter usai persalinan ibu dan bayinya di pindahkan ke ruang perawatan "makasih ya sayang, sudah berjuang melahirkan putra kita" ucap pria itu penuh syukur, wajah bahagia terpancar bersama senyum yang terus mengembang tanpa henti. istrinya hanya tersenyum, sejak selesai dari ruang bersalin wanita itu lebih sering diam dia hanya menatap wajah putranya yang masih mungil "permisi pak, dokter memanggil anda ke ruangannya, silahkan ikut saya" "sayang tunggu sebentar ya, aku menemui dokter dulu" ucap suaminya lembut sambil melayangkan kecupan di kening istrinya istrinya mengangguk, lalu pria itu keluar mengikuti arahan perawat bayi lucu itu menggeliat, mungkin haus ibunya berusaha menyusui namun asinya belum keluar, perawat yang datang membantu merangsang agar asinya keluar namun belum membuahkan hasil sampai anaknya menangis tersedu sedu pada akhirnya s**u formula menjadi bantuan dan bayinya pun tenang, setelah kenyang perawat membawa bayinya keruang perawatan khusus bayi baru lahir sementara itu di ruang dokter "sekali lagi saya ucapkan selamat ya pak atas kalahiran putra pertamanya" "terima kasih dok, ada apa ya dokter memanggil saya" "begini, tadi saya sudah periksa, asi ibunya memang belum keluar, kami akan terus bantu untuk merangsang agar asinya bisa keluar tapi kalau memang tidak memungkinkan untuk menyusui langsung terpaksa harus pakai s**u formula, apa bapak tidak keberatan?" tidak lama kemudian perawat datang "maaf bu dokter saya menyela, tadi anaknya sudah saya kasih s**u formula soalnya asinya tidak keluar dan anaknya menangis terus" ucap suster itu "ah.. kondisinya seperti itu pak" lanjut sang dokter "iya tidak apa apa dok, bagaimana baiknya saja, saya setuju" "lalu pak karena kondisi bayinya kuning, untuk sementara akan di rawat di ruang NICU agar cepat pulih dan sehat" "baik dok saya mengerti, mohon bantuanya kalau begitu" "bapak tidak perlu khawatir kami akan melakukan yang terbaik" setelah percakapan selesai pria itu kembali ke ruang perawatan untuk menemui istrinya, dalam perjalanan ke ke ruang perawatan sesuai kata suster bayinya ada di ruang NICU kini tengah tertidur pulas malam yang panjang namun penuh keajaiban, kini kebahagiannya telah melengkapi keluarga kecilnya langkah kakinya sampai di ruang perawatan, tempat istrinya menginap pasca melahirkan "sayang... kamu mau minum atau makan sesuatu, karena lahirnya normal kamu sudah bisa makan atau minum" dia berbicara sambil masuk keruangan di dalam tampak sepi, dia mencari ke dalam kamar mandi tapi kosong "apa dia jalan jalan keluar ya?" ucap pria itu saat tidak menemukan istrinya di dalam kamar dia menghubungi ponsel istrinya dan terhubung "sayang kamu dimana? ini udah malam lho.. kamukan masih sakit" .... (hening tak ada jawaban) "sayang..." "maafin aku mas" sambungan telfonnya terputus, tubuh pria itu merosot lemas seketika, berkali kali dia mencoba menghubungi istrinya namun tidak tersambung. matanya menatap ponsel yang ada di tangannya, pikirannya kosong, saat dia berfikir akhirnya rumah tangganya sudah lengkap ternyata itu hanya mimpi buruk bagi istrinya, bagaimana bisa dia pergi meninggalkan anak yang baru saja lahir kenapa bisa seorang ibu setega itu pada anaknya sendiri? bagamana mungkin? pikirannya kalut, hingga pagi tiba dia masih ada di posisi yang sama dia tidak tidur walau hanya sebentar "selamat pagi" sapa suster itu dengan suara ceria, datang bersama bayi mungil yang sudah harum dan rapi, tak mendapat tanggapaan dia bertaya "maaf pak.. dimana ibunya?" ayah muda itu segera bangun dan menyabut anaknya "maaf sus, istri saya kabur, untuk sementara tolong bantu saya merawat anak saya ya" suster itu hanya diam seribu bahasa, tidak tau harus berkata apa hingga akhirnya mengangguk "terima kasih sus, oh ya jam berapa dokternya datang?" "jam 8 pak" "baik terima kasih" baru saja susternya mau keluar bayinya menangis hampir 30 menit, dua orang itu berusaha menenangkan sang bayi tapi gagal akhirnya setelah di beri s**u dia tertidur "sebenarnya dari semalam dia rewel begini pak, baru tenang setelah minum s**u lalu tidur" "mungkin dia tau sus kalau ibunya pergi" ucap pria itu pasrah "yang sabar ya pak" di tempat lain lana yang baru selesai parkir mobil segera menuju ke ruangannya, belum sampai si tujuan ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk "selamat pagi pak zein, ada yang bisa saya bantu?" "pagi, saya minta tolong siapkan berkas untuk perceraian, kalau sudah siap bawa kerumah sakit ya" "... baik pak, saya mengerti, tapi kalau boleh tau, siapa yang mau bercerai pak?" ragu namun dia perlu tau untuk bisa menyiapkan berkasnya "saya yang mau bercerai" ... ... ... "baik pak, segera saya siapkan" jelas itu kabar yang sangat amat mengejutkan, bahkan bagi orang lain sekalipun di mata orang lain mereka adalah pasangan yang sangat serasi, seorang model dan juga putri tunggal pemilik properti terbesar di kota S bertungan dengan direktur yang berhasil menjalankan bisnis 'food & beverage' di usia muda. tahun lalu pernikahan mereka di adakan dengan megah dan meriah tidak lama kemudia hamil dan seharusnya sekarang sudah waktunya melahirkan, tapi kenapa malah cerai??? meski bingung lana segera menyiapkan apa yang di minta bosnya dina yang hari itu datang terlambat sedang mencari lana di ruangannya "kamu sandrina?" dina menoleh ke arah datangnya suara "iya saya sandrina bu" ucapnya sopan "bagus, kamu ikut saya sekarang ya, saya ada urusan mendesak" lana mengambil tas dan kunci yang tergeletak di meja dengan cepat "ayo! tunggu apa lagi" keduanya segera pergi meninggalkan area hotel menuju rumah sakit seperti yang di katakan bosnya di telfon sesampainya di rumah sakit lana dan dina naik ke lantai tiga, mereka bertemu dan berbincang cukup lama laki laki yang bernama zein alfareza yang tidak lain adalah direktur hotel utama meninggalkan rumah sakit setelah menjelaskan semua kronologinya kepada lana karyawan kepercayaannya lana yang syok setelah mendengar cerita bosnya berjalan gontai menuju kursi tunggu dimana dina sedang duduk manis memperhatikan dari jauh "apa ibu baik baik saja?" lana menatap dina dengan tatapan kosong tak selang berapa lama terdengar suara tangisan bayi, suster yang berjaga meminta keduanya untuk membantu menenangkan sang anak melihat bayi kecil mungil itu tubuh lana gemetar hebat, dia adalah wanita singel yang belum pernah mengurus anak dalam hidupnya, bagaimana dia bisa membantu? di tengah ke panikan itu dina menawarkan bantuan dan berhasil, bayinya pun tenang hari itu sungguh hari yang sangat panjang, lana dan dina menghabiskan waktu menjaga si kecil hingga sore tiba, zein datang kerumah sakit dengan ibunya "maaf ya lana, kami banyak merepotkanmu" kata ibu ibu yang masih kelihatan muda dan cantik itu "tidak apa apa bu, saya tidak banyak membantu, oh ya ini dina dia karyawan baru, seharian ini cuma dina yang bisa nenangin babynya" "oh.. syukurlah.. terima kasih ya nak dina, kalau nggak ada kamu, kami nggak tau lagi, tapi kamu kok bisa ngurus anak kecil?" "saya punya adik kecil dirumah biasanya saya bantu ibu saya kalau beliau lagi repot, jadi sudah biasa jagain anak kecil bu" "bagus juga pengalaman kamu jadi bisa bantuin anak saya, makasih lho ya" sayangnya dina hanya mendengar itu sebagai pujian semata tanpa tahu maksud ucapan wanita paruh baya itu, karena rupanya itu bukan sekedar pujian, ada maksud tersembunyi di dalamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN