Keira dan Sheena akhirnya tiba di kamar rawat. Sheena yang mendorong kursi roda pelan-pelan, berhati-hati agar tidak menambah beban pada sahabatnya. Begitu pintu tertutup, hening langsung menguasai ruangan. Hanya suara jarum jam dinding yang bergerak, berpacu dengan dengung lembut pendingin udara. Meski tidak ada kata-kata yang terucap, ketegangan itu terasa jelas, menjalar di udara, merambat seperti sulur liar yang makin lama makin erat. Sheena berdiri di samping kursi roda, tangannya masih menyentuh gagang di belakang punggung Keira. Ia bisa merasakan tubuh sahabatnya yang kaku, bahu yang naik-turun dengan ritme tidak stabil. Sheena tahu—Keira sedang menahan sesuatu. Sementara Keira sendiri, tangannya menggenggam erat sandaran kursi roda. Ujung jarinya memucat, urat di pergelangan tan

