Kamar rawat tempat Elang terbaring terasa dingin dan kaku, meski pendingin ruangan sudah diatur pada suhu normal. Dinding putih yang steril dan aroma obat-obatan membuat suasana semakin tegang. Di sudut ruangan, Elin berdiri terpaku, matanya menyapu setiap jengkal tempat itu dengan rasa heran yang tak bisa disembunyikan. Ia menatap Elang lekat-lekat—dari kepala hingga kaki—dan tak menemukan satu pun luka atau perban. Dari tampilan luar, Elang tampak baik-baik saja. Tak ada tanda-tanda sakit serius, apalagi cedera. Dengan dahi berkerut, Elin akhirnya menoleh ke arah Delon. “Mas, Elang keliatan sehat-sehat aja. Kok bisa sampai dirawat?” tanyanya dengan nada bingung. Delon yang berdiri di sisi tempat tidur hanya diam. Tatapannya tak beranjak dari jendela, seolah sedang menimbang kalimat y

