Malam sudah lewat pukul 20.28 WIB ketika mobil hitam Delon perlahan berhenti di depan gerbang rumah keluarga Atmadja. Lampu depan menerangi halaman luas yang tampak sunyi, hanya suara jangkrik dari kejauhan dan deru samar lalu lintas yang masih terdengar dari jalan besar. Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, Delon melihat sosok perempuan duduk di tepi trotoar, memeluk lututnya erat-erat. Elin. Gaun yang dikenakannya tampak kusut dan kotor di ujungnya, seolah tadi diseret paksa keluar. Rambutnya acak-acakan, sebagian menutupi wajah yang sudah basah oleh air mata. Ia tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan seluruh harga dirinya dalam satu malam. Delon diam di dalam mobil cukup lama, hanya memandangi dari balik kaca depan. Ada sesuatu yang terasa getir di dadanya—campuran ib

