Bar itu setengah sepi. Hanya dentingan gelas, suara saksofon dari pengeras suara tua di sudut ruangan, dan aroma bourbon yang kuat di udara. Lampu temaram jatuh di wajah Delon, menyoroti garis kelelahan di bawah matanya. Kemeja yang tadinya rapi kini sedikit kusut, dasinya terlepas longgar, dan jemarinya menggenggam gelas dengan tekanan yang tidak stabil. Ia menatap cairan amber di depannya — lama, nyaris tanpa berkedip. Setiap tetes yang menempel di bibir gelas seperti mengingatkannya pada semua keputusan yang harus ia telan sendiri. Ia tidak langsung pulang. Ia tidak mau. Bukan karena takut menghadapi Elin, tapi karena sudah muak melihat wajah perempuan itu. Muak pada suara manja yang palsu, pada tatapan penuh perhitungan di mata Elin, dan pada dirinya sendiri — karena harus berpura

