Seiring berjalannya waktu akhirnya aku pun sudah dinyatakan sembuh dan tidak memerlukan terapi lagi. Namun, pesan dokter aku tetap harus berhati-hati. Aku pun merasa senang karena akhirnya aku benar-benar telah sembuh. “Naka … apa kita jadi pergi?” terdengar teriakan ayah lagi. Suara berat pria paruh baya itu seakan menyadarkan aku dari lamunanku. Dengan segera aku pun bergegas keluar kamar karena tidak ingin membuat ayah menunggu lebih lama lagi. “Aku udah siap, Yah,” jawabku begitu melihat ayah sudah berdiri sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Mendengar suara anak angkatnya, membuat pria yang diketahui bernama Herman itu pun langsung menolehkan kepalanya ke asal suara. Matanya melihat Naka sudah berdiri gagah dengan mengenakan setelan jas. “Kamu t

