15

1995 Kata
Kepala Divisi Shiro kembali menatap pintu lift, menunggunya terbuka dengan mulut si lelaki bersetelan jaket kulit hitam yang merocos terus sejak awal kedatangannya. "Bagaimana dengan pelaku? Apa kalian sudah menemukan identitasnya? Bagaimana dengan motifnya? Sudah ketahuankah? Siapa identitas si pencuri itu? Siapa yang ada di balik topeng Pretty Devil? Kanrikan? Kanrikan? Shiro-kanrikan!" Kepala Divisi Shiro tidak memberi tanggapan apa-apa. Dia berlagak seperti orang tunarungu dan tunanetra, menganggap lelaki asing itu tak ada di sana. Akan tetapi, berbeda dengan Kepala Divisi Shiro yang tak bergeming, dua petugas polisi yang membuntuti si lelaki menahan tubuhnya, mencoba menjauhkannya dari Kepala Divisi Shiro. Dan kali ini dengan kekuatan lebih, karena mereka sudah dipelototi oleh pria bercodet di pipi kiri itu—Shiro-kanrikan. "Hora, anta! Kami akan mengundang para wartawan dalam jumpa pers nanti!" teriak sakah satu petugas polisi, sok tahu. [Hora, anta = hei, kau] "Tolong tunggu saja dan jangan mengganggu penyelidikan polisi!" seru petugas polisi lain yang menghadang lelaki berjaket kulit. "Aku bukan wartawan! Hei khh— lepaskan!" Lelaki itu mencoba melepaskan diri saat kedua tangannya dicekal oleh kedua petugas polisi. "Apa dari penampilanku saja kalian tidak bisa lihat?! Aku bukan wartawan! Aku ada urusan dengan Shiro-kanrikan! Aku bukan wartawan!” pekik pria berjaket kulit lagi. Tiga orang itu, si lelaki berjaket kulit dan dua petugas polisi, saling berdebat sambil meniti lengan, saling menyanggah omongan masing-masing, dan menimbulkan kegaduhan di lorong lift. Suara mereka menjadi perhatian orang-orang lewat yang berlalu lalang. Suara berisik itu membuat Kepala Divisi Shiro menghela napas berat dengan wajah masam. "Kingu-kun," panggilnya, dengan suara dan ekspresi yang lebih tenang, tapi bagi lelaki berjaket kulit bernama Kingu itu, suara Kepala Divisi Shiro terdengar tegas dan mengintimidasinya. Kepala Divisi Shiro melirik dua petugas polisi bawahannya, lantas memberi kode, lalu tangan mereka perlahan melepaskan si terduga wartawan yang dipanggil Kingu itu. "Ya, Shiro-kanrikan!" tanggap lelaki muda itu, agak terharu karena Kepala Divisi Shiro mau berbicara dengannya. Kepala Divisi Shiro memandangi wajahnya sejenak sebelum berkata, "Kingu-kun, aku sudah memperingatimu berkali-kali untuk menyerahkan masalah ini kepada polisi, bukan?" "Aku— aku tidak—" Kingu-kun, atau lelaki berjaket kulit hitam yang memiliki nama King Hanae itu, tergagap, sedikit merasa tak enak pada mantan atasan sekaligus mantan seniornya, Kepala Divisi Shiro. "Aku tidak bermaksud ikut campur, Shiro-kanrikan. Aku hanya… hanya…." Kingu Hanae; Detektif King, tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. "Kau meneleponku larut malam tadi, Kingu-kun. Bahkan kata anggotaku, mereka melihatmu berkeliaran di kawasan Distrik Omotesando tadi malam.” Kepala Divisi Shiro menjeda untuk memperjelas sarkasmenya, “Tidak ikut campur, katamu? Kau jelas-jelas mengikuti kami dan menginginkan informasi, Kingu-kun! Kau bahkan menghampiriku saat ini! Itu semua, apanya yang bukan ikut campur?!" Kepala Divisi Shiro tak menggubris perubahan raut wajah bersalah Detektif King yang sekaligus menunduk itu. Tampang bersalah itu tidak menghadirkan rasa simpati lagi bagi Kepala Divisi Shiro. "Kalian," panggilnya pada kedua petugas polisi yang menonton, berbarengan dengan beberapa orang yang menunggu lift tiba dengan canggung—yang tahu-tahu sudah ramai saja di lorong itu. Kepala Divisi Shiro memberi kode lewat ayunan dagu. Lantas setelah mengangguk, kedua petugas polisi itu menahan masing-masing sebelah tangan Detektif King di belakang tubuhnya. “Hei, apa-apaan ini?! Lepas! Lepaskan tanganku!” Meski Kingu Hanae memberontak lagi, tapi mereka lebih serius kali ini. Borgol yang tercantel pada ikat pinggang mereka sudah berpindah ke pergelangan tangan Kingu Hanae; Detektif King, menguncinya sampai bunyi krek yang membuatnya tidak bisa bergerak. "Hei—! Kalian dengar tidak?! Lepaskan! Lepaskan!" Detektif King mengguncangkan seluruh tubuhnya, mencoba meloloskan pergelangan tangannya meski tahu tindakannya itu tak berarti apa-apa. Detektif King tidak dapat lolos. Pundak dan tubuhnya berayun ke sana-kemari seperti potongan torso tanpa lengan; menyeramkan sekaligus mengundang simpati. "Dengar, tidak?! Lepaskan borgolnya! Lepaskan, kataku!!" "Detektif Kingu Hanae!" Panggilan lantang Kepala Divisi Shiro lantas membekukan pergerakannya. Detektif King menoleh, menatap mantan atasannya dengan tatapan memohon. "Detektif King,” —Kepala Divisi Shiro mengubah caranya memanggil Kingu Hanae; Detektif King— “aku mengerti perasaanmu. Bukankah kau sudah sering mendengarku berkata begitu?" Kepala Divisi Shiro menghela napas. "Tapi kelakuanmu kali ini sudah keterlaluan. Menerobos masuk kantor polisi, ikut campur ke dalam urusan yang bukan ranahmu, dan mengganggu penyelidikan polisi. Kau bisa dipenjara karena tuduhan itu." "Shiro-senpai…." Dan begitu pula Detektif King yang mengubah caranya memanggil Kepala Divisi Shiro dengan sufiks yang lebih akrab, berharap mantan atasannya itu mau mendengarkannya. Atau setidaknya, memberikan simpati bagi Detektif King untuk bergabung dalam penyelidikan polisi terkait Pretty Devil dan atau kasus Insiden Malam Merah. “Tidak.” Kepala Divisi Shiro menggeleng. "Kau adalah warga sipil sekarang, dan warga sipil tak ada sangkut pautnya sama sekali dengan urusan dan pekerjaan penegak hukum beserta kepolisian, Kingu-kun." "Tapi… tapi aku seorang detektif! Bukankah kita bisa bekerja sama untuk membela keadilan seperti dahulu?!" Kepala Divisi Shiro menggeleng tipis. "Kita tidak berada di pihak yang sama, Kingu-kun." Detektif King mengernyit. "Apa maksud Senpai? Aku masih Kingu Hanae yang bekerja denganmu, bekerja bersamamu, dan bekerja untukmu! Bekerja untuk keadilan, Shiro-senpai! Aku masih kouhai yang pernah kauajarkan banyak hal! Apanya yang tidak berada di pihak yang sama?!" urat-urat pada wajah dan leher Detektif King mulai bermunculan. "Kau adalah seorang detektif yang menyelidiki kasusmu sendiri, Kingu Hanae-san.” Kepala Divisi Shiro menatap Detektif King serius, tak ada kesan ingin meneruskan topik pembicaraan tersebut. Garis tatapannya berada di antara marah dan mencoba untuk tetap tenang. “Kingu Hanae… -san?” gumam Detektif King tak percaya pada cara Kepala Divisi Shiro memanggilnya—terlalu formal dan seperti orang asing. Namun Kepala Divisi Shiro tidak menggubrisnya. Dia melanjutkan, “Tindakanmu itu menyalahi aturan polisi. Penegak hukum dan penegak keadilan yang menyelidiki kasus mereka sendiri adalah orang-orang yang menyalahi aturan polisi. Sebab, bukti yang mereka dapat, bukti yang kau dapat hanya akan dianggap sebagai kesaksian dari keluarga korban, Kingu-kun. Dan tentu, itu tidak akan berpengaruh apa-apa di pengadilan. Sia-sia dan tidak berguna." "Shiro-senpai…." Detektif King memohon. "Berhenti memanggilku ‘senpai’. Kau sudah bukan anak didik ataupun bawahanku lagi." Tapi Kepala Divisi Shiro tidak menggubrisnya. Ting! Pintu lift akhirnya terbuka. Beberapa orang yang berdiri di lorong dan menonton mereka sejak tadi, serentak menghambur ke dalam lift. "Dan kau yang paling tahu akan hal itu, Detektif King.” Kepala Divisi Shiro pun melengos dari wajah mantan anggotanya, mantan anak didik dan bawahannya. "Shiro-senpai!" Sebelum Kepala Divisi Shiro masuk ke dalam lift dan naik ke dua lantai di atas, dia berkata pada kedua petugas polisi yang berdiri di belakang Detektif King, memnunggu perintah dari Shiro-kanrikan. "Kalian tahu apa yang harus dilakukan pada berandal yang mengacau di kantor polisi." Lantas Kepala Divisi Shiro masuk ke dalam lift yang tak lama kemudian menutup dan membawanya pergi. “Shiro-senpai! Senpai! Shiro-senpai! Senpai! Shiro-senpai! Kau tidak bisa seperti ini kepadaku! Senpai!!” Sementara kedua petugas polisi tersebut mengangguk patuh dan sigap membawa berandal itu, Detektif King yang diseret oleh dua petugas polisi yang membawanya menjauhi lorong lift, berteriak memanggil Kepala Divisi Shiro, seorang Kepala Divisi Kejahatan Besar, sekaligus seniornya sewaktu Detektif King masih berstatus personil dan anggota Kepolisian Metropolitan Tokyo. Tepatnya tiga tahun lalu, satu minggu setelah Insiden Malam Merah yang menewaskan 500 jiwa terjadi, dan serta-merta membuat Detektif King mengundurkan diri. *** "Kak Anzu," Ryu membulatkan maniknya, "Kenapa… kenapa kau menangis?" Lelehan-lelehan lain menyusul di ujung matanya, kemudian turun hingga ke dagu. Nakayama Anzu menatap Ryu, tapi dia tersenyum ketika tetasan lain menjatuhi pipinya. "Kenapa aku… menangis?" Remaja tujuh belas tahun itu tak tahu apa yang mesti dilakukannya ketika melihat seorang perempuan menangis. Nakayama Ryu tidak pernah berada dalam situasi yang memusingkan seperti itu. Pun tidak pernah membuat seorang perempuan menangis. Hidupnya terdengar cupu dan polos, ya? Tetapi memang sungguh, Ryu betulan tidak tahu harus berbuat apa ketika melihat kakaknya, Nakayama Anzu, sedang menangis di sudut dinding dan terduduk dengan kedua tangan memeluk lutut, serta kepala yang dia benamkan di antara lekukan itu. Menenangkannya? Bagaimana caranya? Berkata, "Sudah jangan menangis," begitu? Atau, "Kenapa kau menangis?" Atau, "Kok, tiba-tiba menangis, sih? Aneh banget," seperti itu? Ryu tidak tahu! Dia tidak mengerti! Ryu hanya pernah menenangkan tangisan Aiko. Dan Aiko pun hanya seorang bocah kecil, bukan orang dewasa yang menangisi masalah—yang tampaknya—rumit seperti Anzu! Masa, Ryu harus membelikan Nakayama Anzu balon merah terlebih dahulu? Atau menggendongnya dan mengayun-ayunkan ke sana-kemari agar Anzu tenang? Tidak mungkin, kan? Walau bagaimanapun, Ryu penasaran pada masalah yang membuat kakaknya menangis. Ryu terheran sendiri. Kenapa kakaknya menangis? Kenapa mendadak menangis di pagi hari? Di jalanan?? Maka dari itu, Ryu percaya, bahwa Anzu bukan orang yang akan dengan mudah menangisi hal-hal besar. Dan itu artinya, Nakayama Anzu tidak sedang menangisi sesuatu yang sepele. Sebab Ryu ingat, bahwa kakaknya sudah dua kali dan dua tahun berusaha belajar, tapi Universitas Tokyo mengotot sekali tak ingin menerima kakaknya. Ryu ingat, Nakayama Anzu sampai bergadang untuk mempelajari puluhan lembar soal dan berujung mimisan, bahkan sampai demam tinggi. Tetapi Ryu tak pernah melihat kakaknya menangis sekali pun karena ditolak oleh perguruan tinggi negeri bergengsi itu. Ryu pun merasa tidak mungkin dirinya tidak menyadari bahwa kakaknya menangis diam-diam di kamar, karena Ayah dan Ibu juga selalu mendapati Nakayama Anzu selalu dalam keadaan baik-baik saja ketika tahu dirinya tak lulus meski sudah berusaha keras. Jika hal besar saja tak Anzu tangisi, apalagi hal kecil, bukan? Semacam itulah yang Ryu percayai. Pada akhirnya, Ryu tidak berbuat apa-apa. Dia hanya menunggu kakaknya selesai menangis. Tetapi, melihat Nakayama Anzu yang duduk meringkuk dengan punggung yang masih menggendong bass case dan gym bag, Ryu agak khawatir juga. Apalagi mereka masih di trotoar, di jalan raya, dan sudah pasti banyak pejalan kaki dan pengendara yang melirik diam-diam kepada mereka, pun terang-terangan menoleh untuk mengetahui sedang apa perempuan itu duduk di pinggir jalan. Terutama kehadiran Ryu yang hanya berdiri di sebelahnya dan tidak berbuat apa-apa. Bisa-bisa, mereka mengira bahwa Nakayama Anzu sedang menangis karean Ryu! Berangkat dengan niat ingin melepaskan kedua tas itu dan menyandarkannya dahulu ke dinding di belakang Nakayama Anzu—dan dengan sedikit rasa canggung dari orang-orang lewat—Ryu malah termangu melihat kakaknya. Gerakannya terhenti di udara saat menjumpai kedua bahu kakaknya yang bergetar naik dan turun dalam gerakan terpatah-patah namun cepat. Nakayama Anzu sedang menangis tersedu, diam-diam, dan tanpa suara. Saat itulah Ryu termenung, dia merasa déjà vu. Seperti pernah melihat kejadian serupa, tetapi lupa tepatnya kapan dan urutan kejadiannya bagaimana. Ryu hanya merasa tak asing pada gelagat kakaknya sewaktu menangis. Meringkuk, tersedu, tanpa suara, dan dengan bahu yang bergetar. Ah, Ryu ingat! Dengan gerakan lambat dan perlahan karena khawatir mengganggu sang kakak, Ryu menjauhkan tangannya dari bass case. Dia lalu menunduk melihat pucuk kepala bercat sebelah belang hitam dan sebelah lagi kuning keemasan seperti Cruella milik kakaknya sejenak. Kemudian tanpa berkata apa pun, Ryu ikut menyandarkan punggungnya pada dinding bangunan seperti Nakayama Anzu. Dia menaruh kantung belanjaan dan tas punggungnya di antara mereka. Ryu tak tahu apa yang harus dia lakukan ketika menghadapi tangisan seorang perempuan. Pun tak tahu kalimat apa yang harus dibunyikan untuk menenangkan perasaan orang yang menangis. Maka dari itu, yang dilakukannya hanyalah ikut menyandar pada dinding, menatap langit pagi yang berangkat semakin siang dan terik sembari menunggu tangisan tanpa suara kakaknya mereda. Dia diam saja, bahkan saat para pejalan kaki makin melirik mereka berdua jelas-jelas. Matanya menyentuh batas kepala pejalan kaki yang berseliweran. Suara kendaraan dan obrolan orang asing juga ditangkap telinganya. Ryu menghela napas. Sementara Nakayama Anzu menangis dan merasa sedih akan sesuatu, dunia masih berjalan seperti selalu, seolah tak berpengaruh apa-apa, pun tak berhenti untuk menunggu kakaknya merasa lebih baik untuk kemudian berjalan kembali, barang satu detik saja. Namun Ryu paham, bahwa begitulah cara kerja dunia. Seperti itulah kehidupan. Tetap berputar walaupun orang-orang di dalamnya tersandung, tertinggal, atau bahkan tak lagi mampu mengikuti perputarannya. Tidak manusiawi, tetapi sangat logis. Sialan, umpat Ryu. Dia melirik Nakayama Anzu yang masih dalam pose semula. Ekspresi Ryu berangsur berubah. Mulanya kebingungan, lalu menjadi datar, lalu merasa kesal pada entah apa, dan berujung merasa ingin tahu apa yang kakaknya tangisi saat ini. Mungkinkah… sama dengan apa yang Nakayama Anzu tangisi tiga tahun lalu, ketika Ryu tak sengaja melihat kakaknya menangis tanpa suara agar dikira hanya sedang tidur?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN