Kepala Divisi Shiro berkata pada kedua petugas polisi, "Kalian tahu apa yang harus dilakukan pada berandal yang mengacau di kantor polisi." Lantas Kepala Divisi Shiro masuk ke dalam lift yang tak lama kemudian menutup dan membawanya pergi.
“Shiro-senpai! Senpai! Shiro-senpai! Senpai! Shiro-senpai! Kau tidak bisa seperti ini kepadaku! Senpai!!”
Sementara itu, Detektif King diseret oleh dua petugas polisi yang membawanya menjauhi lorong lift, sembari berteriak memanggil Kepala Divisi Shiro, seorang Kepala Divisi Kejahatan Besar, sekaligus seniornya sewaktu masih berstatus anggota Kepolisian Metropolitan Tokyo.
Lelaki yang sekarang hanya memakai kemeja—karena shoulder holster beserta pistol BB-nya disita—itu ada di balik jeruji. Iya, Detektif King dipenjara. Oh, bukan karena masalah besar seperti yang dilakukan penjahat ataupun kriminal, melainkan karena Kepala Divisi Shiro yang menyuruh bawahannya begitu; untuk membawa Detektif King ke penjara, sel tahanan, sementara.
Penjara yang ditempatinya itu hanya sebatas sebuah kurungan besi yang panjang dan bersekat di lantai satu, yang biasa dipakai polisi untuk menampung tahanan sementara yang kena ciduk di jalan. Entah karena meresahkan warga, ketahuan mengutil atau mencuri, berkelahi, atau apa pun. Yang penting, mereka ditempatkan di sana guna menenangkan diri dan mengamankan situasi. Dan kalau perlu juga, akan diberikan tindakan serius setelah diwawancarai.
Mereka akan menginap (baca: ditahan) sebentar, dan baru akan dibebaskan setelah anggota keluarga atau wali mereka menebus sejumlah uang atas kerugian yang mereka buat, serta menulis surat pernyataan bermaterai—semacam laporan sekaligus perjanjian, bahwa jika sekali lagi mereka mengulangi perbuatannya, maka siap-siap saja menghadap meja hijau.
Atau jika ada yang mengajukan tuntutan, mereka takkan dipulangkan ke rumah, melainkan dibiarkan menginap lagi untuk malam-malam berikutnya—dipenjara sungguhan dan langsung diproses ke meja hijau.
"Hei!" teriak Detektif King, memanggil sesiapa pun yang tak dia kenali, yang berseliweran di ruangan Divisi Humas, tepat di depan jeruji besi yang Detektif King gelantungi.
Tapi seperti memang sudah lumrah, mereka, para personil polisi itu tidak menoleh. Mereka melanjutkan apa yang mereka kerjakan, tak mau meladeni tahanan sementara yang teriak-teriak di dalam kurungan. Kebisingan itu sudah biasa bagi mereka.
"Hei!" coba Detektif King sekali lagi. "Hei! Keluarkan aku dari sini!" Kali ini digoyang-goyangkannya jeruji besi hingga menimbulkan bunyi dan getaran yang agak bising, mencari perhatian.
Bisa dikatakan berhasil, karena seorang lelaki yang kubikalnya berada dekat penjara sementara itu berdiri dari kursinya, menghampiri Detektif King dengan ekspresi bosan.
"Kau! Tolong keluarkan aku dari sini! Aku bukan penjahat!" Detektif King bersikeras, tak mau melewatkan kesempatan yang mendatanginya.
"Keluargamu atau walimu harus datang sebagai penjamin untuk menebusmu jika kau ingin keluar."
Duk! Detektif King langsung memukul batang besi di depannya. Ingin menyemburkan amarah dan mengatai si polisi berjas dan kemeja rapi itu, tapi terlalu lelah mendengar perkataan khas template prosedur polisi tersebut.
Akhirnya, Detektif King hanya menghela napas pendek, menatap sepatu pantofelnya, dan berkata, "Kau bisa menemukan mereka di rumahku."
"Oh, itu hal yang bagus," kata si polisi. "Kenapa tidak bilang dari tadi? Mau kusambungkan satu panggilan untuk mereka?"
"Tidak." Detektif King menahan berat tubuhnya pada jeruji yang digenggamnya. "Mereka tidak bisa mengangkatnya."
"Sibuk bekerja? Atau sedang ada acara?" tanya si polisi, mendadak tertarik dan ingin tahu segalanya.
Detektif King lantas mengangkat wajah, menatap mata si polisi datar dan lurus. "Mereka ada di dalam guci putih di dalam lemari bajuku."
Polisi itu terdiam sebentar, mencerna kalimat lawan bicaranya dengan raut wajah sedikit tak menyangka kalau jawaban itu akan datang. Tidak terduga.. "Oh… maaf atas kehilanganmu." Dia bergelagat aneh, menggaruk tengkuk dan menoleh ke sana-kemari seperti orang kebingungan. "Sebaiknya… aku kembali bekerja." Kemudian dia pergi begitu saja, tidak ke kubikalnya, melainkan entah ke mana, meninggalkan Detektif King dengan perasaan aneh karena kenangan itu kembali datang.
Duk! Detektif King memukul jeruji lagi, kali ini lebih kencang. "Keluarkan aku dulu! Hei! Kau dengar, tidak?! Sialan!"
***
Detektif King terduduk di bangku panjang yang keras dan dingin di dalam sel tahanan dengan perasaan kalah. Dia menunduk dan mengarahkan retinanya pada ujung sepatu. Isi kepalanya sudah bukan lagi ingin segera keluar dan menemui Kepala Divisi Shiro untuk mengeruk informasi tentang identitas Pretty Devil, pun tentang bocoran perkembangan kasus Insiden Malam Merah.
Dia… Detektif King merasa… entahlah, tak ada kalimat yang tepat untuk menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini.
Bukan karena terlalu sedih, terlalu kecewa, atau teralu sengsara. Detektif King tidak merasa sedih-sedih amat. Tidak juga merasa kecewa-kecewa amat. Yang dia rasakan itu… hanya ada sebuah tekanan yang menekan dadanya. Berat, serta tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata. Detektif King tidak tahu apa namanya, dan tidak bisa menggambarkan seperti apa perasaannya.
Tapi Detektif King tidak ingin menangis. Dia tidak bisa menangis. Meskipun bibirnya sudah saling menekan, alisnya sudah menyatu, dahinya sudah berkerut, dan wajahnya sudah ditangkup dengan sebelah telapak guna menghalangi mata sesiapa pun untuk melihat air matanya, tetapi Detektif King tidak bisa menangis.
Ah, untuk apa pula Detektif King menangis? Hanya karena polisi tadi menanyakan keluarganya untuk basa-basi? Atau karena membahas soal keluarganya yang sudah menjadi abu di dalam guci dalam lemari bajunya? Atau… karena merasa sedih saat mendadak kembali mengingat keluarganya sudah meninggal?
Tidak. Detektif King menggeleng, mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Bukan karena alasan itu.
Rasa berat dalam hatinya, serta kemarahan yang dia rasa, Detektif King percaya, bahwa kedua hal itu bukanlah kesedihan yang disebabkan oleh rasa kehilangan orang-orang berharga dalam hidupnya. Melainkan, yang dia rasakan sekarang adalah sebuah kemurkaan sebab keluarganya belum juga mendapatkan keadilan!
Para bede— bah yang mengebom gedung Shibuya 109 tiga tahun lalu belum kunjung tertangkap.
Ini pasti sebuah kemurkaan atas kasus yang buntu dan kurangnya bukti terkuat untuk diajukan ke pengadilan. Ini pasti sebuah rasa putus asa, karena anggota keluarganya menjadi korban pengeboman dan sudah mati jadi abu, sedang para bede*bah sialan itu hidup nyaman berkeliaran di jalanan.
Baji*ngan!
Brak! Detektif King berdiri, menendang bangku besi panjang di dalam sel tahanan itu, tak lagi mampu menampung emosinya.
Beberapa polisi menyuruhnya tenang, mengancam akan benar-benar dibawa ke pengadilan dengan tuduhan merusak fasilitas polisi dan membuat kericuhan.
Duk! Dia menonjok dinding. Sakit, tapi emosi sudah menenggelamkan indranya. Kemarahannya tak juga surut, bahkan saat sebuah bisikan memanggilnya.
"Ssstt, oi!" Detektif King melirik dengan picingan tajam ke arah suara, pada jeruji besi, pada seorang lelaki berkemeja putih yang bergelagat mengendap-endap, melirik kanan dan kirinya.
"Kingu!" bisik orang itu, yang lantas membuat Detektif King mengubah ekspresinya menjadi lebih bersahabat dan sedikit terkejut. "Uetaro-kun! Buat apa kau kemari? Kau, kan, Divisi Kejahatan Siber!" pekiknya.
"Ssstt! Jangan kencang-kencang!" Pria berambut pendek yang mungkin hanya sepanjang dua senti saja itu meletakkan telunjuk di bibirnya, menyuruh Detektif King untuk tidak berisik karena beberapa personil polisi ada di dekat mereka, kemudian melambai pada Detektif King, menyuruhnya mendekat pada dirinya yang berdiri di tepi jeruji besi.
"Kau ngapain di sini?" tanya Detektif King lagi, sengaja tak memelankan suaranya, hampir saja membuat beberapa polisi di ruangan besar itu mengalihkan wajah ke arah sel tahanan, kalau saja tumpukan dokumen dan layar komputer mereka tidak mengekang mata.
Pria yang berstatus polisi dan merupakan personil Divisi Kejahatan Siber yang datang mengendap-endap itu bernama Uetaro. Dia melotot sebentar pada Detektif King karena isyaratnya tidak digubris dan malah sengaja bersuara kencang-kencang, sebelum dirinya menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu mengeluarkan sebuah kunci dari saku celana bahannya dan membuka gembok jeruji dengan terburu.
"Cepat!" suruh Uetaro kemudian, berdiri di balik pintu yang terbuka yang sudah dia bobol. Sedang Detektif King, termangu tak mengerti. "Kau mau keluar atau tidak?!" pekik Uetaro kembali.
Detektif King berjalan mendekat ke arah deretan besi, melihat ke arah kubikal-kubikal yang sibuk mengurus tumpukan berkas, monitor komputer, dan laporan-laporan kasus lainnya jauh di depan mata. Semua polisi di sana sibuk dengan urusan masing-masing. Namun, Detektif King tidak beranjak lebih dekat menuju pintu sel tahanan yang sudah terbuka.
Dan hal itu tentu membuat Uetaro kesal setengah mampus. "Cepatlah, Kingu!" Uetaro berjalan cepat meninggalkan sel tahanan menuju bingkai lorong di sudut jajaran kubikal. Dia sudah tak mau lagi membujuk Detektif King yang mungkin sedang berpura-pura tidak mau keluar. Dan cara berjalan Uetaro terlihat aneh, seperti pencopet yang ingin pergi dari pemilik dompet yang baru saja diambilnya.
Sementara itu, Detektif King sekali lagi melihat barisan kubikal sibuk di sana. Kemudian matnaya mengarah pada tahanan-tahanan lain yang mulai ricuh meminta untuk dikeluarkan juga di sebelahnya.
"Kingu!" Teriakan Uetaro-lah yang menyadarkan niat Detektif King. Bagai sudah sadar kembali, lelaki itu lantas cepat-cepat menyusul Uetaro yang sudah di bibir lorong, berlari secepat namun sehalus mungkin supaya tidak ada satu pun personil polisi yang menyadari, bahwa salah satu tahanan sudah pergi—kabur dibantu oleh anggota polisi juga.
Meninggalkan teriakan permohonan tahanan lain untuk ikut dibebaskan, serta polisi-polisi yang sebentar lagi akan menyadari kepergiannya, Detektif King merasa aneh. Dia tersenyum, berlari menyusul hingga akhirnya berada di sebelah Uetaro, dan berkata, "Kau akan diskors karena membantu seorang tahanan melarikan diri! Mungkin juga ditransfer ke desa terpencil! Haha!"
"Ah, diamlah!" pekik Uetaro, segera menyesali perbuatannya.
"Ah— hei, tunggu! Jaket dan pistol BB-ku masih ada pada mereka!" Detektif King hendak berbalik lagi menuju ruangan Divisi Humas.
Tetapi Uetaro dengan cepat berseru, "Sudah kuambil! Cepatlah, Kingu!"
“Haha! Kau sudah gila, Uetaro-kun!”