Setelah Detektif King berhasil kabur dari sel tahanan, tepatnya dibantu oleh Uetaro, mereka berdua berlari membabi buta, hilang dari pandangan tiap-tiap personil polisi yang saling sibuk dengan berkas dan kasus yang mereka tangani.
"Hei," sapa Uetaro, sedikit melongo melihat Detektif King yang lahap sekali memasukkan gigitan-gigitan roti dan sandwich ke dalam mulutnya. "Makanlah perlahan, oke?"
Detektif King tak menyahut. Lelaki itu kelewat fokus mengunyah makanan yang memenuhi rongga mulutnya. Tiga piring roti isi berukuran besar sudah hampir berpindah ke dalam perut, tapi Detektif King tak menyadari bahwa dirinya selapar ini sejak semalam.
Detektif King menyeruput iced americano miliknya, menyapu tenggorokan dalam sekali teguk. "Kau tidak makan?" tanyanya kemudian pada Uetaro yang hanya memainkan gawainya sejak piring roti isinya tiba dibawa pelayan.
Uetaro melihat sebuah kilauan pada mata Detektif King ketika dia melepaskan wajah dari layar gawainya. "Buatmu saja. Aku sudah cukup hanya dengan kopi." Lantas roti isinya disambar Detektif King, ditelan habis dan tanpa mengunyah.
Selepas tergesa berlarian seperti semut tadi, Uetaro memimpin pelarian mereka dari gedung Kepolisian Metropolitan Tokyo di Distrik Chiyoda, Tokyo, menuju sebuah restoran di daerah yang sama dan tak jauh dari sana untuk mengobrol.
Yah, itu niatan awal mereka. Uetaro sesungguhnya punya alasan di balik kemunculannya yang tiba-tiba dengan membawa kunci penjara, membebaskan Detektif King dari sana, dan bahkan melanggar hukum. Uetaro punya alasan serius membawa Detektif King ke restoran untuk mengobrol, dan alasannya itu bukan karena ada makanan pengganjal perut atau segelas kopi hangat di depannya, melainkan karena banyak sipil di sana; banyak orang, masyarakat biasa bertandang ke restoran pagi ini untuk meeting kantor atau sekedar menongkrong dengan kawan.
Dan alasan itulah yang membawa Uetaro menuju restoran, tempat di mana warga sipil berada. Tetapi sejak mereka tiba tadi, Detektif King terus saja mengunyah dan belum bisa diajak berbicara serius. Pada akhirnya, Uetaro hanya bisa menunggu Detektif King selesai makan sampai beberapa menit ke depan.
***
Ryu melirik Nakayama Anzu yang masih dalam pose semula. Ekspresi Ryu berangsur berubah. Mulanya kebingungan, lalu menjadi datar, lalu merasa kesal pada entah apa, dan berujung merasa ingin tahu apa yang kakaknya tangisi saat ini.
Mungkinkah… sama dengan apa yang Nakayama Anzu tangisi tiga tahun lalu, ketika Ryu tak sengaja melihat kakaknya menangis tanpa suara agar dikira hanya sedang tidur?
Ah…, Ryu sekarang ingat pada pose itu. Pose duduk meringkuk kakaknya yang menyembunyikan suara tangisan. Diam-diam, tak bersuara, tapi tetap kentara karena kedua bahunya bergetar.
Ryu ingat pemandangan itu meski sudah tiga tahun berlalu.
Tiga tahun lalu.
Hari baru menuju sore, saat Ryu tiba di rumah dengan seragam SMP yang tak berbentuk lagi—kusut dan berantakan. Baru masuk dua langkah dari pintu kedai ramen rumahnya, Ayah sudah menyuruh Ryu untuk segera ganti baju dan membantu kedai ramen yang sedang ramai waktu itu. Ibu menengahi mereka, menyuruh Ryu untuk makan dan beristirahat terlebih dulu. Ayah pun manut saja pada usulan istrinya.
Di anak tangga menuju rumah mereka di lantai dua, Ryu menjawab setengah hati, akan turun setelah ganti baju dan makan nasi. Waktu itu, dia terlalu lelah untuk membantu kedai ramen, karena habis melalui pelajaran Olahraga yang menguras tenaga, jadi janjinya barusan belum tentu akan dia tepati.
Di ruang keluarga yang sepi, Ryu menaruh tasnya sembarangan di lantai. Dia kemudian menuju dapur, membuka kulkas, ingin mencari minuman dingin untuk melegakan hausnya. Tapi matanya menangkap kaleng-kaleng bir yang berbaris di pintu kulkas. Itu bir yang biasa Ayah minum setelah makan malam, dan Ayah selalu melolongkan lenguhan setiap habis menenggaknya.
Membayangkan rasa yang dicecap Ayah, Ryu menelan ludah, tergoda untuk merasakan hal ilegal itu. Apalagi, sebagai bocah yang baru puber, alkohol terdengar keren dan menakjubkan—meski sebenarnya, bocah 14 yang meminum alkohol itu adalah hal yang sangat t***l.
Ryu sudah terlanjur penasaran. Dia menengok sekeliling. Ruang keluarga dan bilik-bilik kamar tampak sepi dan tidak ada siapa-siapa. Ryu pun menutup kulkas denganmembawa sekaleng bir dalam genggaman. Dengan hati yang berdenyut antusias dan gelisah di saat yang sama, Ryu membuka kancing kaleng bir.
Krrk-csss
Ryu menelan ludah lagi mendengar suara yang tercipta dari kancing kaleng yang terbuka. Dia menjilat bibir atas dan bawahnya, bersiap menelan sebuah kesalahan. Kaleng bir dalam tangannya sudah diayunkan mendekat ke mulut yang juga sudah terbuka. Tetapi, belum juga pinggiran kaleng menyentuh bibir, sebuah dentuman pelan hinggap di telinganya.
Boom!
Ryu secepat petir menyembunyikan kaleng bir di belakang punggungnya. Jantungnya semakin memacu lebih kencang oleh perasaan takut dan gelisah. Ryu menoleh cepat ke pucuk anak tangga, menunggu seseorang muncul dari sana. Dia tidak kepikiran untuk menaruh birnya ke dalam kulkas karena sudah terlalu kaget. Jadilah dia hanya mematung di pinggir ruang keluarga.
Tapi kemudian hening, tak ada siapa-siapa yang naik dari anak tangga. Ryu kira, Ayah ataupun Ibu menghampirinya untuk menyuruh turun atau apa. Tetapi tidak. Tidak ada sesiapa pun di sana.
Ryu lantas melangkah ke ruang tamu, ingin memastikan yang didengarnya barusan. Dentuman itu hanya imajinasinya sajakah? Lantas ditepisnya pikiran itu, karena telinganya lagi-lagi menangkap sebuah suara. Bukan dentuman lagi, melainkah suara tangisan yang kecil dan terasa mencekam.
Ha-hantu? pikirnya, teringat sebuah kaidan; cerita seram yang sering teman-teman sekelasnya ceritakan.
Dugaan itu membuat Ryu berkeringat dingin, agak gemetaran. Dia penakut jika sudah menyangkut hal-hal mistis begitu. Tapi tetap saja, demi menenangkan diri, dia ingin tahu sumber suara isakan yang hanya terdengar satu kali itu saja.
Ruang keluarga tak ada siapa-siapa, tak ada suara apa-apa. Dapur, sudah pasti bukan asal suara. Maka, Ryu menyisir satu per satu kamar Ayah dan Ibu—kosong. Dan ketika ingin pergi ke kamarnya setelah mengumpulkan keberanian, Ryu terhenti di sebuah kamar yang pintunya terbuka sedikit.
Kamar berwarna pink-putih dan banyak mainan bayi; kamar Aiko, adik bungsunya. Melihat ada seorang wanita berambut panjang dan kusut di dekat ranjang bayi yang bentuknya seperti peti tinggi, Ryu seketika menggigil ketakutan.
Betulan han-hantu?!
Tapi tak lama, Ryu mengerutkan dahi. Dia merasa, wanita itu terasa terlalu familiar untuk sesosok hantu.
"A-Anzu… -san?" panggilnya pelan dan sopan, bercampur sedikit rasa takut.
Tapi wanita itu tidak menyahut. Ryu mendekat selangkah lagi. Itu benar kakak perempuannya, Nakayama Anzu, yang sedang terduduk meringkuk dan menyandarkan pucuk kepalanya pada papan kayu ranjang Aiko.
Ryu melihat kedua pundak kakaknya gemetar. "Anzu-san?" panggilnya lagi, dan tak berjawab lagi.
Ryu mendekat, tapi segera menyesal karena baru tahu kakaknya sedang menangis. Dia tidak tahu cara menghadapi seorang perempuan yang menangis.
Dia menggaruk kepala, gelagapan ingin keluar kamar atau menghampiri kakaknya lebih dekat. Karena bingung harus apa, Ryu akhirnya bertanya, "Uh… Kak Anzu… gak pa-pa?"
Tak ada jawaban. Ryu, bocah 14 tahun yang baru puber, tak terlalu ambil pusing menghadapi perempuan yang menangis. Memang bingung harus bagaimana, tapi pikirnya, Ryu lebih baik pergi dari sana, membiarkan kakaknya selesai menangis, daripada mengganggu atau menanyakan hal yang akan menyinggung perasaan Nakayama Anzu, dan membuat kakaknya semakin sedih.
Saat orang bersedih, Ryu percaya mereka butuh sedikit waktu untuk menyendiri.
Ryu sudah dua langkah meninggalkan Nakayama Anzu, tapi melihat bagaimana bahu kakaknya bergetar naik dan turun, Ryu menggigit bibir, memilih mengikuti perasaannya untuk berempati.
Dia berdiri di sebelah Nakayama Anzu, menatapnya dengan pandangan iba. Mungkin, saat sedang menyendiri, orang yang menangis juga ingin ditemani.
Ryu menurunkan gengsinya. Dia memandang dinding kamar Aiko, "Kak," panggilnya, menyerahkan kaleng bir yang dipegangnya kepada Anzu dengan semburat merah pada wajah.
Nakayama Anzu mengusap kedua pipinya, menoleh dengan wajah bengkak sehabis menangis. Dia terlalu tak bertenaga untuk berbicara. Hanya melihat saja tanpa bersuara, lalu langsung tahu maksud adiknya.
Nakayama Anzu mengambil kaleng bir yang sudah terbuka dan masih penuh dari tangan adiknya, sedang Ryu melirik sang kakak ketika tangannya sudah kosong, ingin tahu bagaimana reaksinya. Tapi Nakayama Anzu hanya menatap saja.
Ryu merasa aneh melihat wajah kusut kakaknya. Tapi bukan itu maksud tatapan si kakak padanya. Minuman alkohol; Nakayama Anzu masih tujuh belas tahun; serius memberikan alkohol pada kakaknya? Kira-kira seperti itu.
"A-aku gak akan bilang Ayah dan Ibu. Kakak minum saja." Nakayama Anzu beralih pandang pada bir di tangannya. Ryu melihat keraguan dari gelagatnya. "Aku benaran gak akan bilang! Da-dan kata orang-orang dewasa, alkohol adalah obat untuk melupakan sesuatu. Jadi mungkin— Kakak bisa… bisa—"
Nakayama Anzu menenggak birnya sebelum Ryu menuntaskan kalimat. Dia menenggak lima tegukan sekaligus. Ryu menyambar kaleng itu. "Pelan-pelan minumnya! Nanti langsung mabuk, bahaya!" peringatnya, seraya menoleh ke pintu kamar, takut dipergoki oleh orang tua mereka.
Mungkin, alkohol adalah minuman yang dilarang dikonsumsi anak di bawah umur bukanlah aturan omong kosong belaka. Ryu tidak tahu, dia hanya ingin menyampaikan empatinya, walau ternyata berujung salah, karena kakaknya langsung tergeletak di lantai.
Nakayama Anzu merasa pusing, dia mabuk dalam lima teguk. Sempat panik dan bingung lagi harus bagaimana, Ryu mendapati kakaknya mendengkur pelan. Nakayama Anzu tertidur. Merasa iba kembali, Ryu pergi ke kamar kakaknya, lalu kembali membawa sebuah bantal dan selimut.
Ryu mengangkat kepala Nakayama Anzu, menaruhnya di atas bantal, kemudian menyelimuti kakaknya. Agaknya, Ryu merasa gengsi dan malu. Jika Nakayama Anzu tidak dalam keadaan seperti itu, mungkin Ryu tidak akan memberikan perhatian sebanyak itu.
Ryu berniat membuang bir yang dipegangnya ke wastafel, lalu meremukkan kalengnya dan membuangnya di tempat sampah lain—bukan di rumahnya karena Ayah akan marah besar jika tahu dirinya, ataupun sang kakak meminum bir.
Namun, begitu ingin pergi, Ryu mendengar Nakayama Anzu merintih dalam lelapnya. Ryu juga melihat setitik air jatuh dari sudut mata ke pipi kakaknya. Itu membuat Ryu menghela napas, merasa antara kasihan, iba, dan tak tahu harus menghadapi kakaknya seperti apa. Menangis di saat tidur? Bagaimana bisa? Lagi pula, kakaknya itu sedang menangisi apa sampai dibawa ke dalam mimpi?
Di bingkai pintu kamar, Ryu menatap Nakayama Anzu yang tertidur di lantai sekali lagi sebelum pergi. Dia mengedarkan pandang ke segala sudut kamar pink-putih itu. Matanya terhenti pada bayi mungil yang tertidur di ranjang kecil di sebelah Nakayama Anzu.
Ryu tersenyum kecil tanpa sadar. Setidaknya, ada Aiko yang menemani Anzu-san.
Ryu menyudahi kegiatannya. Namun, sebuah pemikiran hinggap di kepalanya, begitu daun pintu hampir dia tutup. Ryu mengintip wajah lelah kakaknya yang mengernyit dalam tidur.
Kenapa Anzu-san menangis di kamar Aiko?