Ryu sekarang ingat pada pose itu. Pose duduk meringkuk kakaknya yang menyembunyikan suara tangisan. Diam-diam, tak bersuara, tapi tetap kentara karena kedua bahunya bergetar. Ryu ingat pemandangan itu, meski sudah tiga tahun berlalu
Ryu masih menempelkan matanya pada Nakayama Anzu yang duduk meringkuk. Sesudah mengingat kakaknya yang menangis di kamar Aiko tanpa suara, Ryu membawa sebuah pertanyaan dari kejadian tiga tahun lalu. Mengapa Anzu menangis di kamar Aiko?
Ryu ingin tahu, apakah alasannya masih sama dengan tangisnya saat ini? Tetapi, apa pun itu, Ryu harus menyudahi rasa penasarannya untuk sekarang, karena mereka masih setengah jalan menuju stasiun, sedang hari semakin siang. Ryu tak boleh terlambat sekolah.
Dia menggendong ranselnya kembali. Merogoh plastik belanjaan, lalu mengeluarkan sesuatu. "Nih, s**u cokelat." Dia mengetukkan p****t kemasan s**u kotak pada punggung kakaknya, mengambil perhatian Nakayama Anzu.
Nakayama Anzu mengangkat wajah basahnya pada Ryu, melihat isi telapak sang adik. Dia diam sebentar, seperti butuh waktu untuk mencerna apa yang terjadi. Lantas Nakayama Anzu menggeleng, mengelap seluruh wajahnya dengan leher baju. "Enggak suka cokelat. Birku saja kemarikan."
"Birnya gak ada."
Anzu menoleh lagi, melongo, dan wajahnya terlihat t***l. "Hah?"
"Birnya gak ada," ulang Ryu.
"Kok, bisa? Kamu minum?"
"Enggak, lah!" seru Ryu.
"Terus?"
Ryu cemberut. Ditanyakan bir milik kakaknya, Ryu jadi teringat kejadian sewaktu di konbini tadi, sewaktu Nakayama Anzu mendadak keluar, masuk, dan keluar lagi—membingungkan dirinya.
"Kau sibuk teleponan di luar konbini, dan saat giliranku maju ke kasir, kau belum memberiku uang untuk membayar makanan sebanyak ini." Ryu mengangkat plastik besar di genggamannya.
"Lalu tadi bayarnya gimana?" tanya Nakayama Anzu, bingung.
Ryu melengos, berkata tanpa minat, "Sudah dibayarkan sama laki-laki yang antre di depan kita tadi."
""Hah? Terus birku gimana?"
"Diambil dia, lah."
"Kok, kau biarkan?! Itu, kan, birku!"
"Tapi yang bayar, kan, dia! Kau sibuk teleponan sampai gak memberiku uang! Hampir aku merasa malu karena bawa banyak makanan tapi gak cukup uangnya!" bentak Ryu.
"Eh~" rajuk Nakayama Anzu, memanyunkan bibir, sudah kelupaan kalau dirinya habis menangis, "Tapi birku?"
Ryu berdecak, mulai menyesal sudah merasa iba pada kakaknya. "Sudah, jangan minum bir! Nanti mabuk! Masih pagi!" Dia memaksa Nakayama Anzu untuk memegang s**u cokelat itu. "Minum ini saja! Ayo, berdiri! Nanti aku telat sekolah!"
Nakayama Anzu berdecih, tapi dia mengambil s**u cokelat itu sembari berdiri dan menepuk-nepuk pantatnya. "Kau kayak ayahmu saja."
"Karena aku anaknya." Nakayama Anzu menyimpul senyum atas jawaban Ryu. Ryu yang menyadari senyuman ganjil sang kakak, mencicit, "Kau juga anaknya."
Nakayama Anzu menusuk lubang kotak s**u dengan ujung sedotan. Dia tak berkata apa-apa untuk sebentar. Mulutnya dipakai buat menyedot s**u yang tak disukainya. Dia mengernyit, melepaskan mulut, dan ekspresinya seperti habis mengunyah lemon. Jelek banget.
"Sini, kubawakan." Ryu menarik tali bass case di pundak Nakayama Anzu, tak menunggu izin kakaknya, lalu mencangklongnya di punggung.
Nakayama Anzu juga diam saja memandangi adiknya, sampai akhirnya menceletuk, "Tumben baik?"
Sembari membenahi posisi tali bass case di pundak, Ryu melirik wajah Nakayama Anzu. Melihat kedua kelopak yang membengkak dan hidung yang memerah, Ryu menatap kembali ke jalan, mendengus sangat pelan. "Ayo, ke stasiun."
"Eh, sini tasmu!" Nakayama Anzu menyambar ransel adiknya yang tersampir sembarang di pundak Ryu, lalu memakainya di kedua bahu. Gym bag-nya masih menyamping di tubuh, dan Nakayama Anzu tampak tak terganggu dengan tali tas yang membelit tubuhnya. "Yuk!" ajaknya.
Kedua adik kakak itu lanjut berjalan menuju stasiun, seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya. Nakayama Anzu dengan bawaannya yang lebih ringan, dan Nakayama Ryu dengan bass case dan plastik belanjaan besar di sebelah tangan.
Ekspresi Nakayama Anzu terlihat senang mengemut cokelat yang diberikan Ryu (Nakayama Anzu lebih suka cokelat batang daripada s**u cokelat. Dia menukar s**u di tangannya dengan cokelat milik Ryu)—walau wajahnya tampak bengkak dan seolah baru bangun tidur. Tetapi, dari belasan pejalan kaki yang bertatapan dengan mereka, bisa jadi hanya Ryu yang melihat dengan sekilas, bahwa kakaknya mengigit bibir dan beraut sedih seperti ingin menangis lagi.
Ryu menggaruk tengkuk, mencari obrolan agar pikiran kakaknya dapat teralihkan, walau sementara. "Oh, iya. Kau tadi bilang, kau melamar sebagai musisi kafe? Benaran?"
Nakayama Anzu mengangguk. "Eh, omong-omong,” jedanya, “belanjaan kita betulan dibayari laki-laki ubanan tadi? Kok, bisa, sih? Mau saja membayarkan makanan orang asing. Sudah gitu, kita mengambil banyak makanan, lho. Oh! Kayaknya dia orang berada, ya? Tadi kau lihat, gak, kartu yang diberikannya ke kasir? Dompetnya juga tebal dan banyak kartunya, deh." Nakayama Anzu menggeram, mendadak kesal. "Dasar orang-orang kaya!"
Ryu mengerutkan kening. "Kenapa dengan orang-orang kaya?"
"Bikin iri!"
Ryu sontak tertawa. "Gak jelas," ejeknya. Sepertinya dia sudah baikan, batin Ryu.
Plak! Nakayama Anzu menepuk pundak adiknya kencang. "Apaan, sih!"
Ryu mengangkat sebelah alis, heran pada Nakayama Anzu yang sudah bisa bercanda lagi. Dia terkikik, lalu menarik segaris senyum tipis. Sambil menunggu lampu penyeberang jalan berubah hijau, di tengah kerumun orang yang berkumpul di pinggir trotoar, Ryu bertanya pada Nakayama Anzu, "Kau sudah gak mau masuk universitas?"
Nakayama Anzu tak langsung menjawab. Tatapannya berlabuh pada tiang bermata tiga warna-warni di seberang jalan. Berbagai bunyi derum mobil dan percakapan masuk ke dalam telinga, lalu keluar lagi. Hanya sekadar lewat, tak berpengaruh apa-apa.
Lampu berubah hijau, bibir trotoar seketika ditumpahi badan-badan dan kaki-kaki yang cepat-cepat melintas ke sisi seberang. Nakayama Anzu menendang noda pada aspal yang dikiranya sebagai batu kerikil.
"Itu sudah tak penting," katanya. "Sekarang sudah tidak terlalu penting."
Ryu ingin mendebat, berkata bahwa pendidikan menuju universitas itu penting, seperti yang Ayah dan Ibu katakan, terutama jika Nakayama Anzu tak ingin meneruskan usaha ramen keluarga mereka. Tapi, Nakayama Anzu tampak lemas untuk sebuah perdebatan.
"Lalu, kau ingin bekerja sebagai musisi kafe? Apa Ayah mengizinkannya?"
Nakayama Anzu mengangkat kedua bahu. "Mungkin tidak. Mungkin juga akan. Kalau aku sudah membawa uang ke rumah, mana mungkin ayahmu bakal memarahiku, kan?" Nakayama Anzu tertawa. "Lagi pula, sudah dua tahun ditolak masuk universitas, pasti yang ketiganya juga ditolak."
"Dasar pesimis," ejek Ryu.
"Ini namanya realistis." Nakayama Anzu tertawa.
"Tahu dari mana? Kau, kan, belum mencoba. Siapa tahu kali ini diterima."
"Aku tahu. Aku hanya tahu. Apa, ya, namanya? Firasat? Bukan." Nakayama Anzu menggeleng. "Takdir? Iya, mungkin itu. Ini seperti sudah ditetapkan, Ryu. Tidak bisa diubah lagi."
"Berlebihan," kata Ryu. "Kata siapa takdir tidak bisa diubah?"
"Hahaha. Kau benar. Takdir bisa diubah." Nakayama Anzu tersenyum menatap adiknya. "Dan aku sedang mengubah takdirku. Mungkin lebih tepat jika dibilang mencari jalan pintas."
Kira-kira, Ryu paham maksud kakaknya. Jalan pintas untuk masa depan yang lebih baik; bekerja tanpa gelar sarjana; serabutan, ataupun musisi jalanan.
Ryu mengedik-ngedikkan kedua bahu, menimbang-nimbang berat bass case milik Nakayama Anzu. "Jadi, di mana jalan pintasmu? Kau melamar kerja di mana?"
"Shibuya!" pekik Nakayama Anzu, dengan air muka gembira. "Dekat Shibuya Crossing, dan kafenya bagus, lho. Live concert diadakan setiap malam, dan panggungnya ada di outdoor! Ada juga tempat duduk di indoor, tapi yang di luar ruangan cantik banget! Banyak lampu-lampu gantung gitu!"
"Berarti sifnya malam? Eh, terus kedai ramen Ayah gimana? Kau, kan, ikut bantu di sana?"
"Kan, ada kau!" Nakayama Anzu terkekeh. "Lagian, aku ingin bekerja sesuai passion-ku. Aku lebih cocok menggaruk senar bass, daripada memarut bumbu dapur dan senyam-senyum ke para pelanggan."
Sang adik tak bisa berkata-kata. Ekspresi Ryu terlihat cengo, dan itu membuat Nakayama Anzu tertawa. "Habis mengantarmu, aku juga harus berlatih. Aku sangat sibuk, kalau kau mau tahu."
"Berlatih bass?"
Nakayama Anzu menyimpul seringai asing. "Yah, anggap saja begitu."
***
Ryu merogoh plastik belanjaan, mengambil dua bungkus makanan, lalu menunjukkannya pada Nakayama Anzu. "Sosis atau onigiri?" tawarnya.
“Aku tidak memakan makanan hasil pemberian orang asing,” kata Nakayama Anzu tak acuh.
“Tapi ini sudah dibelikan lelaki berambut putih tadi! Sudah, makan saja!”
“Ya sudah.” Nakayama Anzu menampilkan wajah cemberut yang lucu. Dia mencari sesuatu di dalam plastik besar yang dipegang adiknya itu. "Eh, kan, aku beli sushi box!" Nakayama Anzu menyerobot lubang plastik, tidak menemukan apa yang dicarinya dari tadi. "Mana, mana? Gak diambil cowok ubanan tadi, kan? Oh, ini dia!"
Ryu seketika memanyunkan bibir, dongkol. Kakaknya mengangkat-angkat sushi box, seperti pamer pada Ryu. "Tenang saja, Ryu!" Nakayama Anzu menepuk punggungnya. "Aku sudah janji akan mengajakmu ke omakase. Kau bisa makan sushi dan apa pun yang kaumau. Untuk sekarang, bento box yang kubeli buatmu saja, tuh."
Ryu membuka leher plastik, mendapati bento box berisi ayam filet dengan salad. Meski iri pada sushi kakaknya, Ryu akan mengingat-ingat janji Nakayama Anzu, dan bersiap menagihnya terus-menerus setiap hari sampai mulutnya mencicip hidangan omakase.
Nakayama Anzu tak langsung memakan sushi-nya, dia memasukkannya ke dalam gym bag yang sudah penuh sesak, lalu menekan-nekannya, dipaksa masuk. Ryu mendapati pakaian berwarna hitam yang entah itu celana atau baju. "Me-laundry di luar lagi?" tanyanya.
"Iya."
"Kenapa? Kau selalu—" Nakayama Anzu menatapnya, lantas Ryu membenahi panggilannya, "Kak Anzu selalu mencuci baju di luar, padahal mesin cuci di rumah tidak rusak sama sekali." Ryu mendengus tak kentara.
"Karena banyak alasan," Nakayama Anzu menyeret bandul ritsletingnya dengan susah payah, "Tapi kau cukup tahu saja, kalau aku mencuci baju di luar, karena bajuku bisa kembali bersih dan kering hanya dalam waktu satu setengah jam. Laundry coin adalah tempat yang ajaib, kau tahu? Mungkin kita harus bilang pada Ayah untuk memulai bisnis laundromat." Dia menggeleng kagum.
Nakayama Anzu mengambil onigiri yang sedang dibuka Ryu, dia mendapat kernyitan. "Apa? Tadi kau yang menawariku." Nakayama Anzu menggigit onigiri tuna mayo-nya. "Terima kasih, omong-omong." Dia menyengir, lalu matanya melihat ke depan. "Eh, sudah sampai di Stasiun Akasaka! Ayo, Ryu!"
Ryu pasrah mengikuti perubahan suasana hati kakaknya. Mereka masuk ke bibir stasiun, membuka dompet masing-masing, dan mengeluarkan kartu kereta untuk ditempel di pintu masuk stasiun.
Jam digital besar di dekat peron menunjukkan jam delapan kurang dua menit, dan stasiun masih agak ramai dengan orang-orang berjas dan berdasi, juga remaja berseragam sekolah.
Ryu sudah menghabiskan sosisnya, dia dititipi sampah cokelat dan onigiri milik Nakayama Anzu, kemudian membuangnya setengah hati di tempat sampah dekat pos sekuriti, tak lupa menyeruput s**u cokelat yang masih tersisa banyak dari kakaknya hingga habis.
Mereka berdua lalu menunggu di belakang garis kuning, mengantre dengan rapi seperti orang-orang kebanyakan. Tak ada perbincangan untuk sementara. Lalu suara pemberitahuan kedatangan dan keberangkatan kereta di speaker menyapa. Bersamaan dengan itu, Ryu hendak bersiap-siap menyambut kereta mereka, tapi Nakayama Anzu terpaku pada ponselnya yang berdering.
Sebuah telepon. Ryu merasa déjà vu. Setengah penasaran dan setengah khawatir, Ryu ikut memanjangkan leher, mengintip nama pemanggil dari layar ponsel yang kakaknya patut.
"Fukuchi?" gumam Ryu. Kemudian dia melihat wajah Nakayama Anzu yang menoleh padanya. Datar dan lurus. Ryu sungguh tak bisa mengikuti perubahan ekspresinya. Apa kakaknya marah karena dia mengintip?
"Sebentar," kata Nakayama Anzu, lalu meninggalkan antrean, berjalan ke pojok mesin-mesin penjual tiket kereta.
"Anzu! Keretanya!" Ryu memanggil, geram karena tak lama lagi kereta mereka akan tiba, dan Nakayama Anzu malah pergi. Menjawab telepon lagi.
Bagaimana jika dia menangis lagi?